Sebenarnya saya sangat binggung, dulu ada pribumi dan non-pribumi
(Cina), sesudah Cina habis diganyang di Mei 1998, sekarang giliran
pribumi Ambon dan non-pribumi Ambon, nanti pribumi Timtim dan
non-pribumi Timtim, pribumi Irian dan non-pribumi Irian, terakhir
pribumi Jawa (?) dan non-pribumi Jawa.

Saya ingin mengutip surat pembaca pada Tempo edisi terbaru, dengan
teriring salam saya untuk semua jenis pribumi yang ada:


Surat Pembaca Tempo:

Ambon dan Pribumi 

Seandainya kawasan Nusantara ini hanya dihuni oleh penduduk pribumi,
tidak seorang pun bisa menjamin tidak akan muncul kerusuhan, penjarahan,
brutalisme, kesenjangan sosial, kecemburuan sosial. Sebab, masalah
pembauran di antara sesama pribumi sendiri kenyataannya masih
menghasilkan konflik berdarah. Kasus Ambon merupakan salah satu contoh
aktual yang bisa dikedepankan. Warga non-Ambon diusir oleh warga Ambon. 

Dengan demikian, pemicu kerusuhan di Ambon bukan persoalan ekonomi
semata, tetapi lebih disebabkan oleh ketidakmampuan menerima adanya
berbagai perbedaan. Bila dengan sesama pribumi saja tidak bisa rukun dan
damai, bagaimana bisa menjalin hidup rukun dan damai dengan kalangan
nonpribumi.

Untuk itu, pemerintah dan masyarakat harus menciptakan suasana hidup
rukun dan damai di antara sesama pribumi, dengan saling menerima
perbedaan yang ada. 

Azis Supriyadi 
Bali Matraman RT 7/10 
Manggarai Selatan, Jakarta 12860 

http://www.temponews.com/idx-majalah.htm



Betty Pentury wrote:

> Stop killing Indigeneous Ambonese.
>
> Regards,
> Betty Pentury
> **********************************
> Betty Pentury
> School of Biological Sciences A08
> The University of Sydney, NSW 2006
> AUSTRALIA
> Ph: (61 2) 93512932
> Fax: (61 2) 9351 4119
> **********************************
> Visit Fish Ecology Lab on the Web:
> http://www.wallace.bio.usyd.edu.au/current/index.html

Kirim email ke