Sebagian terbesar masyarakat Indonesia masih memiliki ciri masyarakat
traditional yang kental, antara lain ditandai dengan kekuatan hubungan
perfamilian. Keinginan mempertahankan traditional norms & value serta
irrasionalitas. Dalam masyarakat yang seperti ini timbul gejala komunal
untuk memperjuangkan indigeneous right dan identitas komunal. 

Jadi kalau pemerintah mau belajar pelan-pelan untuk melakukan modernisasi
kaum traditional, salah satu caranya adalah memacu ekonomi rakyat secara
simultan. Jawabannya bukan hanya di Maluku. Sebab nanti orang batak akan
berlari-lari ke Maluku cari kehidupan baru. Ini sangat mengganggu. Kalau
orang Buton, dll banyak keluar dari daerahnya dan lari ke Ambon, itu bukan
kesalahan orang Buton. Itu adalah kesalahan pemerintah yang tidak
memperkuat daya tarik ekonomi Buton. Sulit juga untuk menyalahkan orang
Ambon. Karena kalau begitu kita mengingkari fenomena masyarakat traditional
yang sampai sekarang menjadi acuan ilmu sosiologi modern. 

Pemerintah kita banyak yang mengenyam pendidikan diluar negeri dan berusaha
menyulap sesuatu tanpa memandang biaya sosial, seperti kejadian di Ambon.
Untuk mempermudahnya, ramai-ramai orang
menjerit...provokator...provokator....SARA...SARA.

Mbak Kris, Raras & Betty Pentury, memang betul masih hidup penomena
indigeneous dinegara traditional seperti di INA, tentunya mereka akan
menuntut indigeneous rights. Walaupun pada kenyataannya sudah sulit
mengklaim bahwa ada ras yang benar-benar ras murni.


ANor

----------
> From: Kris Benny <[EMAIL PROTECTED]>
> To: Multiple recipients of list <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Re: Indigeneous Ambonese
> Date: Friday, 12 March 1999 06:48
> 
> Sebenarnya saya sangat binggung, dulu ada pribumi dan non-pribumi
> (Cina), sesudah Cina habis diganyang di Mei 1998, sekarang giliran
> pribumi Ambon dan non-pribumi Ambon, nanti pribumi Timtim dan
> non-pribumi Timtim, pribumi Irian dan non-pribumi Irian, terakhir
> pribumi Jawa (?) dan non-pribumi Jawa.
> 
> Saya ingin mengutip surat pembaca pada Tempo edisi terbaru, dengan
> teriring salam saya untuk semua jenis pribumi yang ada:
> 
> 
> Surat Pembaca Tempo:
> 
> Ambon dan Pribumi 
> 
> Seandainya kawasan Nusantara ini hanya dihuni oleh penduduk pribumi,
> tidak seorang pun bisa menjamin tidak akan muncul kerusuhan, penjarahan,
> brutalisme, kesenjangan sosial, kecemburuan sosial. Sebab, masalah
> pembauran di antara sesama pribumi sendiri kenyataannya masih
> menghasilkan konflik berdarah. Kasus Ambon merupakan salah satu contoh
> aktual yang bisa dikedepankan. Warga non-Ambon diusir oleh warga Ambon. 
> 
> Dengan demikian, pemicu kerusuhan di Ambon bukan persoalan ekonomi
> semata, tetapi lebih disebabkan oleh ketidakmampuan menerima adanya
> berbagai perbedaan. Bila dengan sesama pribumi saja tidak bisa rukun dan
> damai, bagaimana bisa menjalin hidup rukun dan damai dengan kalangan
> nonpribumi.
> 
> Untuk itu, pemerintah dan masyarakat harus menciptakan suasana hidup
> rukun dan damai di antara sesama pribumi, dengan saling menerima
> perbedaan yang ada. 
> 
> Azis Supriyadi 
> Bali Matraman RT 7/10 
> Manggarai Selatan, Jakarta 12860 
> 
> http://www.temponews.com/idx-majalah.htm
> 
> 
> 
> Betty Pentury wrote:
> 
> > Stop killing Indigeneous Ambonese.
> >
> > Regards,
> > Betty Pentury
> > **********************************
> > Betty Pentury
> > School of Biological Sciences A08
> > The University of Sydney, NSW 2006
> > AUSTRALIA
> > Ph: (61 2) 93512932
> > Fax: (61 2) 9351 4119
> > **********************************
> > Visit Fish Ecology Lab on the Web:
> > http://www.wallace.bio.usyd.edu.au/current/index.html
> 

Kirim email ke