> kalau saya melihat konteks cerita itu, maka "maaf" di atas hanya
> untuk kepatutan etika saja. namun saya merasa pada suatu saat, ada
> keadaan yang membuat kita merasa bersalah dengan ikhlas, shg bagi
> saya konsekuensi logisnya, kita juga minta maaf dengan ikhlas pula.
amat:
betul sekali. saya sendiri sebetulnya tidak anti terhadap 'maaf'.
cuma.... ya itu tadi.... maaf lebih sering menjadi perkara etika
saja.
kenapa bisa begitu? ya ..... pada hemat saya, semua orang itu
memerlukan [ke]kuasa[an] toh? nah, minta maap ini berarti
pelecehan terhadap kekuasaan yang dinikmati oleh si peminta maap itu.
karena itu, setiap permintaan maap, paling tidak menurut pengalaman
pribadi saya, mengondisikan [memprasyaratkan] hal-hal tertentu. kalau
minta maapnya kepada tuhan, 'ah... toh tidak semua orang tahu'.
apalagi kalau permintaan maap itu tidak [harus] berkorelasi dengan
pembenahan praksis perbuatan, atau perubahan keyakinan terhadap
sutau konsep yang mendasari suatu perbuatan. [well, i am not quite
sure. ini pengalaman pribadi saja].
karena itu, permintaan maap, bagi saya, lebih berdimensi 'politis'
daripada suatu pengakuan atas suatu kesalahan. selalu ada 'tawar
menawar' antara saya, yang minta maap [tentu saja ini terjadi pada
tataran gagasan], dan yang dimintai maap.
[penjelasan ini seketika dibantah oleh pikiran lain saya, 'what's
wrong with tawar menawar?']
> amat:
> > ya.... paling-paling bilang: sorry, i didn't mean it. jelas maap
> > model yang kayak beginian kadarnya lebih tipis dari kulit ari kacang
> > tanah.
>
> Well belum tentu benar lho: maaf yang model begituan belum
> tentu "kulit ari", karena kita tidak pernah dapat "menjenguk"
> kedalam kalbu peminta-maaf. walaupun di lapangan memang kelihatannya
> apa yang dikatakan mas amat memang lebih sering terjadi.
amat:
itu lah. [habis ini pengalaman pribadi sih].
dan bagi saya, penjelasan sampeyan di atas itu, lebih berpotensi
sebagai rasionalisasi/justifikasi/reduksi [atau istilah lain] agar
saya/kita men-diam-ken [dan tidak 'direpotken' karena
memikirken] kenyataan yang sering terjadi di lapangan sehingga
'permintaan maap' yang kita yakini itu tidak batal [tingkat]
keikhlasannya.
> > lain, misalnya, kalau saya secara serius membunyi-bunyikan
> > sampeyan terus sampeyan jadi thp [the hurting person] kelas berat.
> > ini mah, 'minta maap' aja kagak cukup.
>
> Ini juga belum tentu benar. Jika saya "minta maaf" dan thp juga
> "memberi maaf" semuanya secara ikhlas. saya memasukkan kedalam
> golongan 'minta maaf' yang cukup.
amat:
kalau saja semua orang berpikiran positif seperti sampeyan.....
celakanya, ya itu tadi, maaf punya muatan politis tawar menawar yang
cukup kental. [paling tidak, itu menurut pengalaman hidup saya.
maksud saya: itu yang saya persepsi, pikir, rasakan dan perbuat]
> > ketika saya menghadirkan yu senik dalam thread ini, bukan
> > ke-'aneh'-an yang pertama-tama saya lihat, melainkan suatu penyegaran
> > ingatan. ingatan bahwa saya pernah dihantui oleh ketakutan karena
> > bersalah. ingatan bahwa 'candik ala' di ufuk barat itu adalah
> > pendaran api neraka, neraka yang dipenuhi oleh orang-orang bersalah
> > dan tidak mau minta maap. sungguh sangat kompatibel dengan cerita
> > anak-anak dan buku komik tentang neraka yang saya baca waktu itu.
>
> pengalaman di luar negeri, bagi saya, yang paling hebat, adalah saya
> pernah dicerabut akar kebudayaan saya, kemudian ditempatkan pada
> suatu masyarakat yang mempunyai kebudayaan yang berlainan dengan
> yang saya punyai. hal ini membuat saya "re-engineering" setiap
> nilai-nilai yang saya peroleh dulu. jadi 'candik ala' dlsb menjadi
> lebih sekedar cara memandang sesuatu, dan bukan 'sesuatu/fakta' itu
> sendiri.
amat:
itu lah. celakanya, kita tidak selalu tahu apakah 'candik ala' ini
sekedar cara memandang, pandangan itu sendiri atau sesuatu/fakta.
tapi jelas, ini memengaruhi persepsi [dan tingkah laku]
kita.
demikian juga kalau kita menyebut 'yang tak tergapai' dengan 'sang
maharahim', atau 'sang mahakuasa'. 'sebutan' [yang tentu saja 'not
only a mere sebutan' but a meaningful sebutan] tertentu itu akan
memengaruhi kita dalam 'memetakan' hubungan kita dengannya. mungkin
hal ini analog dengan [bagian dari proses] yang sampeyan sebut
're-engineering'.
> > saya takut. takut memandang matanya. seolah-olah mata itu tahu bahwa
> > saya belum melakukan perintahnya, tahu bahwa saya jarang es te
> > [sembahyang terus] tapi sering em je [maksiat jalan]. takut. takut.
> > takut. dengan sepenuh tenaga kukumpulkan keberanianku untuk memandang
> > matanya. ketika tatapan mata kami beradu, yang keluar dari mulutnya
> > adalah, 'i love you'. how come? orang semacam saya kok
> > di-i-love-you-ni.
>
> sekali lagi ini cara pandang saja. ada: takut-takut-takut,
> hukum-hukum-hukum, kasih-kasih-kasih, dlsb-dlsb-dlsb, semuanya
> tidak dapat untuk mendeskripsi "the no thing."
amat:
itu lah. jadi, bukankah cara pandang ini lalu 'menurunkan' [menafasi]
praksis yang diturunkannya? atau hanya berhenti pada [sekedar] 'cara
pandang' saja?