amat wrote:
> itu lah. jadi, bukankah cara pandang ini lalu 'menurunkan' [menafasi]
> praksis yang diturunkannya? atau hanya berhenti pada [sekedar] 'cara
> pandang' saja?
tidak ... tidak hanya berhenti pada cara pandang saja, memang sangat
benar cara pandang itu lalu menafasi praksis yang diturunkan, bahkan
kadang-kadang menjadi suatu yang inherent dengan praksis tersebut.
oleh karena itu, kenyataan aneh di lapangan, ... bahwa kebanyakan
dari kita adalah diajari/mempelajari cara beragama; bukan agama itu
sendiri. sehingga efek dari agama terhadap masing-masing orang sangat
berlainan sekali.
PS: kelihatannya banyak persamaan dari kita (atau apapun namanya)
oleh karena itu, saya persembahkan cerita sufi bajakan untuk
anda ... dan seluruh indoz
Salam
-- ** Djoko Luknanto **
Apabila seorang penambang mencari emas, dia harus mengayak
tanah untuk menyaring logam yang berharga itu. Dia memungut
yang berharga dan membuang sisanya. Demikian pula, di mana pun
Anda mencari, apakah itu di timur, barat, utara, atau selatan,
apakah itu umat Hindu, Zoroaster, Kristen, Yahudi, atau Islam,
Anda harus mencari dan memungut hanya suatu yang bernilai,
yaitu emas, khazanah Tuhan, yaitu kebenaran. Selama Anda
mencari melalui semua kitab suci, Anda harus menyisihkan apa
pun yang lainnya, seperti penambang emas membuang kotoran dan
batu-batu. Hanya kekayaan Tuhan yang Anda butuhkan untuk
kehidupan Anda dan untuk kecerahan jiwa Anda.
M.R. Bawa Muhayyaddin