tulisan ini (artikel majalah gatra on-line, minggu ini) cukup menarik bagi saya, bukan saja karena menyangkut masalah perempuan tapi tulisan ini dikisahkan dan ditulis oleh kaum laki2. semoga kita, kaum laki2 khususnya, lebih mampu merenungi 'hakekat perempuan' yang tidak hanya sekedar digolongkan 'makhluk pemberani', tapi lebih sebagai manusia yang pantas dihargai sebagai mana manusia laki2 lainnya, tanpa harus 'mebunuhnya' untuk kesekian kali lagi buat membuktikan 'keberanian' mahkluk yang dinamakan 'perempuan'. selamat hari kartini, selamatkan kaum perempuan, insyaallah semua akan selamat! salam, raras =====forward============ Rahman Arge* Perempuan Makhluk Pemberani KAUM perempuan terbunuh berulang kali! Kata-kata itu diucapkan oleh paman saya. Ia seorang pelaut Makassar, yang lebih dari separuh usianya dihabiskan dalam dunia petualangan. Istrinya banyak. Anak-anaknya bertebaran di banyak negara. Lebih dari 70 tahun kini umurnya; dan ia seakan masih siap hidup semata untuk berkata kepada siapa saja: "Hargai perempuan!" Perempuan bahkan telah terbunuh buat pertama kalinya, sejak awal ia mengeak sebagai bayi. Dan sang paman tadi mencontohkan dirinya sebagaimana ia kecewa ketika tahu bayinya lahir sebagai perempuan. Dunia terlalu keras, menurut Paman, dan hanya cocok buat kaum laki-laki. Karena itu, perempuan terbunuh oleh rasa kecewa lelaki. Ironisnya, Paman sendiri tak bisa lepas dari perempuan. Ia akui bahwa dengan mengawini banyak perempuan, dan membiarkan anak-anaknya lahir semaunya, ia melihat dirinya sebagai makhluk-maha-penakut. Maka, "rasa kuasa" yang bertengger di tangan laki-laki penakut amat berbahaya. Ia bagai monster haus yang meneguk air laut tapi tak pernah terpuaskan. Ya, perempuan terbunuh berulang kali; dan sebagai pendosa, Paman berpesan: "Surga memang ada di telapak kaki perempuan!" Paman meletakkan empatinya pada korban-korbannya, dan oleh rasa bersalahnya, ia menyebarkan pesan-pesan moralnya. Ia kini tinggal bersama salah seorang anak perempuannya yang punya 10 anak di pedalaman Bugis. Paman menyaksikan betapa ladang dan sawah peninggalan leluhur makin tak kuasa menadah banyak nyawa dan harapan. Hidup makin susah di desa. Paman tak perlu tahu apa yang ditulis Holzner dan Saptari tentang tingginya kepadatan penduduk Asia dibandingkan dengan Afrika, sehingga akses ke "tanah" makin sulit. Dan tanah Bugis (Indonesia) adalah bagian dari akses sulit secara stuktural itu. Ketika menantunya tiba-tiba menyerah terhadap keadaan desa yangmakin tak menjanjikan apa-apa, dan suami anaknya itu berangkat ke Pelabuhan Pare-pare, dan berburu kerja di Nunukan Tawao, Paman mulai menyimak dari dekat kedahsyatan perempuan. Setelah persediaan habis dan si menantu belum juga mengirim apa-apa dari rantau, ia menyaksikan anaknya yang menanggung 10 anak itu bekerja di luar apa yang dikerjakannya di rumah selama ini. Paman membayangkan, kenyataan itu terjadi pada perempuan-perempuan yang menjadi istrinya. Lebih-lebih, ketika cucu pertamanya yang berusia 16 tahun, anak perempuan tamatan SMP, suatu ketika berkata kepada ibunya: "Ibu,saya akan ke kota Ujungpandang mencari kerja! Ibu tak boleh sendiri menghidupi saya dan adik-adik." Itu dikatakannya pada saat seorang anak perempuan 16 tahun mestinya menikmati masa-masa yang terlindungi keluarga. Ya, buat sekian kali, mereka terbunuh: terbunuh oleh rasa ngilu kekecewaan dan oleh represi lingkungan terhadap dirinya. Pada saat orang tak pernah usai memperbincangkan masalah jender tentang "kodrat" wanita yang, secara biologis ataupun psiko-sosiologis, terbedakan dari dunia kaum lelaki, orang pun lupa "misteri" di balik itu. Begitu banyak jenis tugas dan peran lelaki diambil alih perempuan, dan bisa! Tanpa kaum perempuan berhenti menjadi perempuan. Sebaliknya, lelaki adalah absurd untuk dibayangkan bisa melahirkan anak, lantaran memang tak mungkin. Mencari pekerjaan di kota yang dilakukan cucu paman saya di desa Bugis itu sama dengan anak-anak perempuan Jawa Tengah, yang membuat Dr. Masri Singarimbun (almarhum) terharu. "Betapa berani anak-anak gadis umur 13-15 tahun dibawa cukong-cukong ke Jakarta; menyerahkan diri kepada orang-orang yang tak dikenalnya untuk mencari kerja," katanya. "Alangkah beraninya orang-orang miskin itu dibandingkan dengan kita golongan menengah ini," katanya lagi. Penduduk Indonesia terdiri dari 51% perempuan, 80%-nya berada di desa. Anak-anak perempuan itu beserta orangtua mereka bukannya tak memiliki rasa cemas dan takut. Terutama tentang kesucian anak perawan berhadapan dengan dunia asing yang niat-niatnya tak terduga. Tapi, rasa takut itu menyelinap jauh ke bawah sadar, ketika harapan tentang hidup yang layak membayang. Tentu, di antara mereka telah dan bakal ada yang jatuh dan kalah bagaikan kerumunan laron. Tapi, kehidupan terus mengalir, dan kita tidak tahu, adakah perubahan sistem Orde Baru ke sistem Orde Reformasi ini akan segera mengurangi -jika tidak menghapus-laron-laron yang jatuh atau kalah. Yang jelas, dunia mencatat, di luar sistem apa pun, perempuan adalah misteri tak terduga, makhluk pemberani yang mentransenden sebagai manusia plus. "Remember Nasiroh". Anak gadis tenaga kerja wanita Indonesia asal Desa Pasirerang, Cianjur, Jawa Barat, yang siap dipancung hukum Arab Saudi, lantaran membunuh majikan yang berusaha memerkosanya. Perempuan. Mereka bukan sekadar wahana reproduksi untuk melahirkan. Sekaligus, mereka dilahirkan untuk membuat kehidupan bernilai. * Wartawan dan budayawan _________________________________________________________ Do You Yahoo!? Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com
