seorang teman pernah bercerita kepada saya tentang perjalanan umrohnya. 
konon dalam perjalanan itu, dia dan keluarganya naik pesawat bersama-sama 
dengan orang lain yang, menurut penglihatan teman ini, kayaknya belum 
'berpengalaman' naik pesawat. ketika jalannya 'nggronjal', segera 
penumpang yang bersama-sama dengan kawan ini berdzikir, reaksi dari calon 
tamu allah yang amat sangat bisa dimengerti. tapi, konon, bukan perasaan 
tentram yang menjalari perasaan teman saya ini. malah sebaliknya: 'ngeri'.

ketika saya masih kecil, rumah di sebelah rumah saya disewa oleh sebuah 
gereja. dalam acara kebaktiannya, bisanya dilakukan sesudah gelap, sering 
terdengar suara tangisan jemaat di sela-sela seruan 'haleluyah'. suara 
tangisan yang diselingi seruan 'haleluyah' di kampung saya, yang kalau 
malam turun tidak ada yang lain kecuali kegelapan dan sesekali anjing 
menyalak, membuat hati ini 'tintrim'.

konon, dalam peristiwa bbq jakarta tahun lalu, nama tuhan juga dibawa-
bawa, diteriakkan keras-keras menyertai perbuatan 'brutal'. 

tuhan yang mustinya mahadamai dan maharahim hadir/dihadirkan dalam 
'bahasa'/representasi yang jauh dari hakekat kemahadamaian dan 
kemaharahiman itu. saya merasa pasti, manusia yang berseru di pesawat itu 
dan juga yang menangis sambil berseru 'haleluyah' itu sedikitpun tak 
hendak menghadirkan tuhannya sebagai 'sosok' yang menakutkan. tetapi kalau 
dalam dzikir di dalam pesawat dan tangisan di kampung saya itu, 
representasi tuhan menjadi sesuatu yang menakutkan, lalu apanya yang 
membuat demikian?

barangkali rasa 'ngeri' dan 'tintrim' yang muncul di peristiwa-peristiwa 
di atas, lebih merupakan kenaifan keberagamaan saya. bisa jadi. atau, bisa 
juga, ketika menceritakan peristiwa di atas, saya tengah dihinggapi 
perasaan 'self rightous', perasaan benar sendiri sehingga peristiwa/hal 
yang bagi orang lain 'biasa' menjadi 'tidak biasa' bagi saya.

anyway, saya teruskan refleksi saya. 

tuhan, kata goenawan mohammad di 'caping' temponya seminggu atau dua 
minggu yang lalu, bersemayam di dalam sepi tapi tidak di setiap kesepian, 
tuhan hadir. ini mengapa, katanya, para trapis menghabiskan sepertiga 
waktunya dalam kesunyian doa dan kerja. kebersemayaman tuhan di tempat 
yang sunyi ini, juga cocok dengan gagasan kang sobary. 'orang bilang, 
derit pintu surau --rumah allah-- yang dibuka pada larut malam seperti itu 
membuat setan lari terbirit-birit' [sobary, mohamad: 'doa', kompas 
30/6/96].   

dalam 'doa'nya kang sobary dan 'diam'[?]nya goenawan mohamad, keheningan 
fisik disoroti dengan cukup intensif. kalau memang tuhan bersemayam di 
keheningan fisik,  orang-orang yang bersemangat mencari tuhan akan beramai-
ramai menyerbu tempat-tempat yang hening dan tempat itu menjadi tidak 
hening lagi, atau dunia ramai akan ditinggalkan oleh orang-orang yang 
mencari tuhan ini.

untuk orang-orang 'normal', tempat yang sunyi, hening bukan tempat-tempat 
yang menarik. mengikuti pertidaksamaan matematika semacam ini, lalu ada 
orang yang mencari tuhan di tempat-tempat yang oleh orang 'normal' 
dianggap 'tidak normal': di penjara, di tempat kerusuhan, di perkampungan 
kumuh, dan tempat-tempat tidak normal lainnya.

kalau begitu di manakah tuhan? di pesawat terbang? di gereja? di mesjid? 
di gunung-gunung yang sepi? atau di dalam sepinya hati tetangga kita yang 
kesepian, ketakutan dan menderita?

Kirim email ke