Teman-teman Indoz-net semua,
Perkenankanlah saya mem-"forwarded"-kan sebuah
tulisan menarik dibawah ini yang menurut pendapat
saya pribadi sangat mendukung kedua tulisan saya
terdahulu yang dikirim ke [EMAIL PROTECTED],
dan [EMAIL PROTECTED]:
(1). RAMOS HORTA: "Tokoh FRETILIN Kiri"
(Sun, 22 Aug 1999 18: 17: 04);
(2). RAMOS HORTA: "SOEHARTO-NYA INDONESIA"
(Tue, 24 Aug 1999 11: 42: 10).
Selamat membaca dan semoga bermanfaat (Yusuf L. Henuk).
From: [EMAIL PROTECTED]
Date: Tue, 24 Aug 1999 04:01:34 -0400 (EDT)
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Mafia Politik Jose Manuel Ramos Horta
Mafia Politik Jose Manuel Ramos Horta
DR. Abilio Araujo (mantan Presiden Fretilin) menyatakan, "Ramos Horta
merupakan produk dari promosi internasional, ia survive karena
banyaknya masalah. Seperti peluru, ia akan membakar kemana-mana, ke
seluruh Eropa, Australia dan Asia. Jika selesai dengan masalah yang
satu, ia akan membuat masalah yang lain. Ia hanya menjadi agen dari
kampanye Barat untuk menekan Indonesia. Nobel Prize yang diterimanya
hanyalah trade off, bukan untuk masyarakat Timor Timur, tetapi hanya
untuk menentang Indonesia".
Demikianlah kenyataannya. Bukan hanya Araujo yang mantan presidennya
itu -- yang tentunya sangat mengetahui karakter Horta -- yang
beranggapan demikian, tokoh masyarakat Timor Timur,Armindo Soares
Mariano juga menyatakan bahwa Ramos Horta tidak lebih dari seorang
pecundang politik. "Meskipun, ia telah mendapat hadiah Nobel
Perdamaian, sepak terjangnya jauh dari hakekat penghargaan yang
diterimanya", ungkap Mariano yang juga mantan Ketua DPRD I Timor Timur
itu. Ungkapan Mariano itu pun dibenarkan oleh mantan pemimpin Sentral
Komite Fretilin Jose "Mohudu" da Costa.
Dikatakannya, Ramos Horta telah menjadikan rakyat dan Buni Loro Sae
sebagai komoditi yang laku dijual. "Di luar negeri JM. Ramos Horta
mengumpulkan uang dengan mengatasnamakan perjuangan rakyat Timor
Timur, tetapi bantuan itu tidak sedikitpun yang sampai kepada mereka
yang berada di Timor Timur", ujar Mohudu. Wajarlah, jika Francisco
Xavier do Amaral mengklaim Horta sebagai politikus yang sangat licik.
"Ramos Horta merupakan politikus yang licik", kata mantan presiden
Fretilin sebelum Araujo itu.
Kelicikan sang petualang politik Ramos Horta tersebut memang telah
terlihat sejak awal aktivitasnya sebagai anggota redaksi harian A Voz
de Timor, salah satu surat kabar harian yang terbit di Timor Timur
ketika masih dalam jajahan Portugal. Berkat kelihaiannya dalam
memanfaatkan media massa itu, Horta berhasil memperoleh akses terhadap
tokoh-tokoh politik. Dan, bukan tidak mungkin berkat kelihaiannya itu
pula, Horta kemudian memperoleh penghargaan Nobel perdamaian pada
tahun 1996. Rekayasa media massa dalam membangun opini kelompok
masyarakat tertentu -- yang memiliki akses ke panitia Nobel -- membuat
wajah petualang politik itu seakan-akan tokoh "bersih" dalam
memperjuangkan kemerdekaan Timor Timur.
Putra keturunan dari seorang "Portugis Putih" yang dideportasikan
pemerintahnyanya ke propinsi "Timor Portugis" (nama lain propinsi
Timor Timur ketika berada dalam penjajahan Portugal) dengan beribukan
wanita pribumi ini nampaknya dikenal sebagai "pecundang" dan memiliki
sifat ambisius. Ayahnya yang sempat mendapat jabatan Camat pada
pemerintahan Portugis tersebut tidak begitu disenangi penduduk
pribumi, karena sering menggunakan segala cara untuk meraih sesuatu.
Barangkali watak ambisius Ramos Horta turun dari tabiat sang ayah. Dan
watak ambisius itu pulalah yang menggiringnya menjadi "Mafia politik",
yang tidak hanya sekedar melakukan manuver politik melalui forum-forum
diplomasi, tetapi cenderung mengarah kepada propaganda dan terorisme.
Sebagai mafia politik ini, karir politik Horta bermula dari
aktivitasnya di Partai Sosialis demokrat (Associacao Social
Demokratica Timorense) yang didirikannya bersama Francisco Xavier do
Amaral pada tahun 1974 yang bertujuan memerdekakan Timor Portugis.
Kemudian, karena watak ambisius yang dimilikinya, Ramos Horta kemudian
mengubah Partai Sosialis Demokrat tersebut menjadi Frente
Revolucionaria de Timor Leste Independente (Fretilin) atau The
Revolutionary of Independent East Timor yang berarti Front
Revolutioner Timor Timur Merdeka yang berhaluan ke kiri-kirian
(Marxist).
Namun, tujuan partai tersebut tidak sejalan dengan kehendak mayoritas
rakyat Timor Timur yang lebih menginginkan bersatu dengan Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Menyadari kekalahan tersebut, dan menghindari kejaran masyarakat Timor
Timur yang ingin mengadilinya, Ramos Horta melarikan diri ke Portugal.
Dan sejak saat itu pula sang petualang memulai geriliya politiknya,
dan jadilah ia sebagai seorang The World Greatest Manipulator.
Sebagai petualang politik, Horta tidak pernah kehilangan akal. Pada
tahun 1990, dalam pengasingannya di luar negeri, Ramos Horta
memproklamasikan berdirinya Conselho Nacional da Resistencia Maubere
(CNRM) atau Gerakan Nasional Perlawanan Maubere, yang dipimpinnya
sendiri. Perubahan Fretilin menjadi CNRM adalah dalam rangka
mengelabui rakyat Timor Timur terhadap aliran komunis yang dianutnya.
Namun, masyarakat Timor Timur tidak memandang perubahan nama tersebut,
tetapi lebih melihat siapa Ramos Horta, sang ketuanya.
Jika di luar negeri Ramos Horta aktif melakukan diplomasi politik
dengan propaganda-propaganda politiknya, di dalam negeri kelompok CNRM
melakukan aksi-aksi perlawanannya dengan cara mengintimidasi dan
teror-teror yang meresahkan masyarakat Timor Timur. Tertangkapnya
pelaku peledakan bom yang terjadi pada pertengahan September 1997
lalu, membuka tabir dan sekaligus membuktikan keterlibatan Ramos
Horta.
Jajak pendapat dan teror Ramos Horta.
Kini, ketika pemerintah Indonesia membuka diri untuk memberikan solusi
tebaiknya bagi penyelesaian masalah Timor Timur melalui jajak pendapat
yang akan dilaksanakan pada 30 Agustus 1999 mendatang, Ramos Horta pun
tidak tinggal diam. CNRM yang telah cacat di mata masyarakat Timor
Timur dirubah menjadi CNRT (Conselho Naconal Resistencia Timorense).
Dan untuk mengambil hati massa pendukungnya, Ramos Horta harus rela
menyerahkan kepemimpinan partai tersebut kepada Xanana Gusmao yang
sampai saat ini masih menjalani hukuman akibat teror dan pembunuhan
yang pernah dilakukannya terhadap masyarakat Timor Timur.
Namun, sekali pecundang tetap pecundang. Niat baik pemerintah
Indonesia untuk menyelesaikan masalah Timor Timur melalui jajak
pendapat itupun tidak bisa diterimanya. Sebagai pemegang "Nobel
Perdamaian", Horta justru tidak rela melihat masyarakat Timor Timur
hidup dalam kedamaian. Teror dan intimidasi pun terus di- lakukannya.
Dan kali ini tidak main-main. Sang teroris mengancam akan melancarkan
cyberwar dengan menyebarkan virus untuk menghancurkan sarana
komunikasi Indonesia, jika hasil jajak pendapat tersebut dimenangkan
oleh masyarakat yang memang tidak rela lepas dari NKRI.
"Lebih dari 100 remaja jago komputer yang tersebar di Spanyol,
Irlandia, Belgia, Brasil dan AS sedang mengarahkan bidikannya pada
seluruh jaringan komputer pemerintah RI termasuk militer, perbankan,
dan lembaga keuangan lainnya. Dan lebih dari lusinan virus komputer
khusus sedang disiapkan untuk menghancurkan sistem komunikasi
elektronik Indonesia". Demikian ancaman sang teroris, JM. Ramos Horta,
yang dimuat di surat kabar Thailand The Nation dan Sydney Morning
Herald di Australia.
Wajarlah jika masyarakat Timor Timur menilai sosok Ramos Horta tidak
lebih dari seorang pecundang politik yang telah menjadikan rakyat dan
Bumi Loro Sae sebagai komoditi demi kepentingan pribadinya.***
----- End of forwarded message from [EMAIL PROTECTED] -----