suara itu mirip suara bara...eh yu senik begitu aku menggelosorkan pantatku di tikar 'kemeling' [berkilat] karena seringnya digelosori, yu senik mendekatiku dengan takzim dan amat sangat sopan. sikap yang belum pernah kubayangken, apalagi sampai mengaharapkannya jadi kenyataan. dan dengan santunnya dia bertanya, 'mau minum apa, pak? kopi atau teh?' untuk beberapa waktu aku terbungkam. kikuk rasanya. mau menggoda, aku tak punya cukup nyali karena memang keseriusannya bukan keseriusan yang dibuat- buat untuk bikin suasana pertemuan kami hangat. nehi. nggak ada ambiance plesetan atawa main-main. seingatku, yu senik tidak pernah memanggilku dengan 'pak'. biasanya either 'kang' atawa 'mas'. sebutan 'kang' itu dia pakai kalau everything is oke oke saja. dia menyebutku 'mas' kalau tengah bergenit-genit padaku atau pengin 'ngerjain' daku. lha kok sekarang dia menyebutku dengan 'pak', tur nada bicaranya itu lho.... jan.... babar blas [sama sekali] tidak menunjukken keramahan khas yu senik. wah... rasanya klasa eh tikar ini seperti digremeti bangsat berpuluh- puluh. bikin nggak kerasan. mau angkat pantat dan kabur, rasa penasaran untuk mengetahui dhodhok selehnya [baca: pokok persoalan] perkara tak mengijinkanku berbuat begitu. 'apakah bapak ngersakaken ngunjuk [baca: ingin minum] seperti biasanya? seperti biasanya, ya?' begitu nada bicara yu senik 'formal'. jelas ini bukan nada bicara yang diformal formalken untuk memenuhi anjuran berbahasa yang baik dan benar. aku cuma mengangguk saja. sebentar kemudian, kebo njerum nasgithel diantarkan oleh menik, tidak seperti biasanya: diantarkan oleh yu senik sendiri. begitu menyelehkan eh meletakkan cangkir berisi kebo njerum plus pocinya yang mengkilap karena sering digosok pake cem ceman teh itu, tangan menik kugapai, 'stt... mbokmu kenapa sih?' 'kenapa toh lik?' tanya menik. 'kok pormal banget. malah panggil aku 'bapak' segala.' 'wah... mana kutahu?', ucapnya setengah berdeklamasi. 'perasaan saya simbok ini normal normal saja tuh.' 'ah... yang bener... mbok coba... kamu inget inget. adakah peristiwa yang gawat, di mana mbok mu pernah menyebut-nyebut nama ku dengan kurang hormat?' beberapa kata terakhir itu kuucapken sambil membayangken diri menjadi pejabat setengah nabi yang membacakan the ten commandments. menik malah cekikikan melihatku pecuca pecucu [maaf, yang ini nggak tahu bahasa indonesianya yang baik dan dibenarken oleh balai pembinasaan bahasa]. 'lho...apa aku lucu pa? kok cekikikan?' 'ih hik ih hik. sampeyan itu lucu banget lho lik. sumprit kalau manggung bareng mas djaduk mesti sampeyan juga payu lho.' 'hus... kalau aku manggung ya...nggak sama mas djaduk toh. ya...mestinya sama likmu kelak.' 'ah...sampeyan kok saru toh lik. maksud saya manggung itu ...pentas bareng mas djaduk gitu lho...' 'ah... wis. kok malah membelokken diskusi. eh...bener? kamu nggak inget babar blas, mbokmu ngrasani aku toh?' 'oh.... iya anu lik. inget saya sekarang. kemarin itu, simbok pecuca pecucu baca tulisan sampeyan. "nik...lihat nih. likmu sekarang jadi kiai. ngojahi tetangganya. wong kok kurang kerjaan" gitu kata simbok'. 'lho? tulisan yang mana itu, nik?' 'itu lho lik. waktu sampeyan jadi kiai mejang pakdhe gaffar. tapi saya pikir simbok bener kok lik.' 'lho? aku kok nggak mudheng?' 'nik..... ini lho ada 'customer' lain.....', yu senik memotong pembicaraanku dengan menik. suasana ramah, riuh dan hangat yang biasanya kudapati di 'ti korner' ini sekarang absen. rasanya jadi sepi. suasana sepi itu membwaku kembali mengingat-ingat apa yang pernah kuwejangken, begitu konon tuduhan mboknya menik yang dilaporken menik kepadaku, kepada kang gaffar. perkara itu perkara porward tentang 'islam' kemarin yang kuambil dari tulisan kang sobary, kira-kira tentang kegelisahan orang-orang yang telah sampai atau mendekati tataran makrifat dalam menjalankan keislamannya. porwardan imil itu menanggapi 'kegelisahan' kang gaffar mengenai keislamnya. sebagaimana dalam dialog antara cak mus dan budiman s hartoyo dalam artikel yang koporwardkan [mohamad sobary: 'islam', di bawah payung agung, mizan 1997] aku juga nggak habis pikir, bagaimana kang gaffar yang menurutku ngelmu islamnya telah katam itu masih 'mempertanyaken' agamanya. aku nggak ngerti kenapa yu senik sampai manyun karena perkara porward 'islam' itu. apa perkaranya? tiba-tiba seperti ada suara yu senik di telingaku. aku sendiri tidak begitu yakin apakah itu suara yu senik beneran atau suara djaduk yang dimirip-miripken seperti suara yu senik. atau jangan-jangan suara yu senik yang disadap dan dikontekstualkan, model sastra kontekstualnya ariel dan arief budiman, dalam kegelisahanku karena terlalu memikirkan manyunnya yu senik? 'eh ngapain sih mas, ngurus-ngurus perkara agama orang lain? apa sampeyan udah suci? udah hesbat?' gila. suara seperti suara yu senik itu, begitu saja kusebut suara itu biar tidak disomasi oleh yu senik, sepertinya terdengar begitu jelas di telingaku. aku curiga. bagaiman tidak curiga? yu senik masih ibut ngurusi 'costumer' lain dan membelakangiku, kok .... atau jangan-jangan yu senik ini mewarisi aji ginengnya nagaraja sahabat prabu anglingdarma? 'tapi itu bukan tulisanku sendiri? aku kan cuma menyampaikannya saja?' gitu protesku. tentu saja dalam batin. 'bener. sampeyan cuma menyampaikannya saja. tapi apakah sampeyan sudah mempertimbangken orang lain?' 'maksudnya?' 'otoritas apa dan siapa yang memberikannya, sehingga sampeyan yang kafir itu cumanthaka mengajari orang lain tentang islam? kalaupun kang gaffar memerlukan pencerahan mengenai keislamannya, apakah sampeyan pantas dan punya lisensi untuk mengajarinya tentang islam?' sialan. aku merasa dicurigai telah melanggar batas kepantasan. suara seperti suara yu senik itu bikin aku geregetan, gemes. rasa gela bercampur jengkel karena tidak dilayani sendiri oleh yu senik bercampur dengan persaan dicurigai. pas. klop. rasa geregetan setengah marah yang selama ini sedemikian rupa kejuga agar tidak ngambra-ngambra, melonjak lonjak hendak lepas dari kendalinya. ah...suara mirip suara yu senik ini benar benar propokator, tukang mengobok-obok, bikin kerusuhan [di] hati saja. kini, karena dimanyuni sama yu senik, tidak hanya wajahku saja yang ikut- ikutan manyun. hati dan pikiranku juga. sialan.... 'look. swer... [wah aku kok jadi keinggris-inggrisan gini?] tak ada niatan untuk mengajari kang gaffar tentang islam. tulisan itu bukan tulisanku sendiri. kalau aku memang tidak pantas, maka aku akan diam dan kalau perlu minta maaf kalau kelancanganku bikin sandungan bagi orang lain.' 'nah...ya kan? bukankah kesiapan untuk minta maap itu menunjukkan bahwa sampeyan memang salah? eh mas... sampeyan musti bersyukur bin berterimakasih kepada guru sampeyan yang telah berhasil menanamken perasaan bersalah di hati sampeyan, sampe sampe sampeyan rela dan menyiapken diri untuk minta maaf atas kesalahan yang belum tentu sampeyan perbuat. hesbat kan?' entah kenapa suara seperti suara yu senik ini lebih kutangkap sebagai sindiran daripada pujian. 'habis kalau memang ada orang tersungging eh tersinggung karena perbuatanku, apakah aku tidak wajib minta maap?'sanggahku membela diri 'tapi kalau sebaliknya, kalau nggak ada orang tersinggung, dan pengandaian ketersinggungan itu cuma alasan sampeyan agar bisa minta maaf agar dianggap orang yang rendah hati, orang yang baik, gimana?' 'jadi? apa jelek, kalau seseorang pengin baik, pengin minta maaf atas kesalahan yang mungkin diperbuatnya?' balasku sengit. 'nggak', tukasnya cepat. 'tapi kenapa kok sampeyan pengin baik? biar dikagumi orang? biar dialem?' 'kok sampai sejauh itu sih? sumprit. nggak pernah terlintas keinginan biar dikagumi itu.' 'ah...yang bener....' 'oke...oke....', aku ingin segera menghindar dari tuduhan tuduhan yang nggak bakalan bisa kuhindari. justru karena tuduhan itu bukan dari polisi ataupun orang lain, tapi dari yu senik. lho tapi bagaimana aku tahu kalau itu yu senik? wong dia membelakangiku gitu lho? jangan-jangan suara itu suara dalam diriku sendiri, yang meniru-niru suara yu senik. wah...gawat nih. bisa bisa disomasi sama yu senik. [aku nggak tahu kenapa kata 'somasi' itu begitu menghantui pikiranku. barangkali ini keberhasilan media dalam memasyarakatkan kosa kata baru itu]. 'tapi apakah keliru kalau seseorang pengin dikagumi?' 'mas, keinginan berbuat baek itu 'sri gunung' lho mas.' 'maksudnya?' 'wong jawa kok nggak tahu ungkapan "sri gunung". ya kayak gunung itu. dilihat dari kejauhan kelihatan asri. tapi begitu didekati, ada sejuta kemungkinan dan misteri. demikian juga dengan keinginan 'berbuat baik'. dilihat dari kejauhan "keinginan berbuat baik", dari dekat menjadi "biar dikagumi", lebih dekat lagi, "nggak ada orang yang lebih hesbat daripadaku", semakin dekat, "i am the ultimate truth. nggak ada orang yang lebih benar daripadaku"' 'tapi kan ya tidak selalu seperti itu.' 'makanya tadi saya bilang, "ada sejuta kemungkinan dan misteri". namanya sajamisteri, ya....jelas tidak 'ngegla' toh. otherwise tidak disebut misteri. karena itu, mas, sampeyan teliti batin sampeyan sendiri apa yang menggerakkan hati dan tangan sampeyan memporward tulisan itu. dan ingat mas, penelitian batin yang jujur itu sangat menggelisahkan.' o....jadi glethek pethele, suara seperti suara yu senik ini tengah mengingatiku toh? legeg kadya tugu sinukarta [diam bagai tugu yang disembah sembah]. aku memutusken untuk tidak berbantah dengan suara yang mirip suara andi ghalib eh seperti suara yu senik ini. tan wruh ing sangkan paran [tak tahu asal muasalnya], yu senik tahu-tahu sudah mendeprok di depanku. aku tergagap. sapaan 'bapak' tadi ternyata telah memalingken seluruh perhatianku terhadap penampilan yu senik. gila. sekarang yu senik bengesan barang. jaritnya telah dimusiumken diganti dengan kathok jlog setret [maksudnya stretch] ketat. 'kok dheleg dheleg mas? memangnya ada yang sedang dipikirken?' 'lho? tadi waktu saya datang, manggil 'bapak' kok sekarang jadi mas? tadi pormal kok sekarang...... memangnya manyunnya sudah kukut?' meskipun senang karena disapa yu senik dengan 'maaaaas', kuserius-seriuskan wajah dan bicaraku. pura-pura tersinggung. 'ah...... sampeyan itu lho.....' yu senik mencubit lenganku. 'mbok lagi...enak lho dijiwit sampeyan itu.' buyar sudah semua sandiwaraku untuk pura pura tersinggung. aku melanjutken, 'wah jan... sampeyan ini, bareng bengesan dan pake kathok jlog setret, ni dyah wara supya lacuba eh ni dyah wala supelaba kalah sama sampeyan....' 'ah...embuh. rak caturan.' yu senik memanyunkan lambenya. eh hem. marahi gemes saja. glosari: sumprit: plesetan dari 'sumpah'. barangkali terjemahan dari 'swear'nya bahasa inggris. manggung: dari kata 'panggung', artinya tempat pentas. manggung: pentas. manggung dalam bahasa jawa artinya 'bernyanyi' untuk burung [terutama perkutut]. dialem: dipuji, disanjung. ngegla: dari bahasa jawa, artinya 'jelas', 'terang benderang', blatantly displayed. payu: laku glethek pethele: intinya. kukut: selesai bengesan: berlipstik kathok jlog: celana panjang bareng: begitu ah embuh. rak caturan: [maaf ungkapan ini nggak bisa saya jelaskan contextually, ada yang bisa bantu?]. marahi: bikin
