>From: "Lanita Winata" <[EMAIL PROTECTED]> >To: Subiyantoro <[EMAIL PROTECTED]> >Subject: (Fwd) : cerita sebenarnya tentang Bank Bali >Date: Tue, 31 Aug 1999 14:36:10 +1000 > Pls read this carefully, if you need some informations about bank Bali scandal Rp. 300 M KE REKENING HABIBIE (PERISTIWA): Rudy Ramli mengaku, Presiden Habibie terlibat dalam pembobolan Bank Bali. Badan Intelijen Strategis (BAIS) pun melibatkan diri menghantam calon Presiden dari Partai Golkar itu. Babak baru skandal korupsi Bank Bali mulai terkuak. Sebuah dokumen pengakuan Rudy Ramli beredar. Nama-nama penting seperti Presiden Habibie, Ketua DPA Baramuli, Menteri Keuangan Bambang Subianto, Menteri Pendayagunaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Tanri Abeng disebut-sebut terlibat dalam pembobolan Bank Bali. Selain nama-nama itu, disebut-sebut juga terlibat nama-nama anggota Tim Sukses "Siluman" Habibie: Hariman Siregar dan Marimutu Manimaren (Wakil Bendahara Golkar) adik kandung Marimutu Sinivasan pemilik Grup Texmaco. Tentu, nama Setya Novanto (Wakil Bendahara Golkar) dan Djoko Tjandra (bos Hotel Mulia) disebut-sebut juga dalam pengakuan Rudy itu. Sebelum ini, Djoko Tjandra juga menyeret nama Menteri Kehakiman Muladi dan Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita. Sebelum kasus ini mencuat, sumber Xpos di Departemen Kehakiman mengatakan melihat Djoko Tjandra dan Setya Novanto hilir mudik ke kantor Muladi. Nah, jika dokumen pengakuan Rudy tadi otentik, maka terkuak sudah misteri yang selama sebulan ini menghantui ratusan juta orang Indonesia. Dari pengakuan Rudy itu diketahui, Habibie memperoleh bagian Rp300 miliar untuk menambah pundi-pundi Tim Sukses "Siluman"-nya. Pengakuan soal bagian Habibie ini selaras dengan informasi yang dikumpulkan Xpos bahwa uang sebanyak itu ditransfer ke sebuah rekening atas nama B.J. Habibie di sebuah bank di Jerman dari BNI Kuningan. Sebagian uang lagi memang masuk ke sejumlah rekening pejabat setingkat menteri. Menurut pengakuan Rudy, awal dari skandal ini adalah pertemuan pada 11 Februari 1999 di Hotel Mulia, kawasan Senayan, Jakarta Selatan, hotel yang sebagian sahamnya dimiliki Djoko Tjandra. Pertemuan itu melibatkan salah seorang direktur BB, Baramuli (Ketua DPA), Tanri Abeng (Menteri Negara Pendayagunaan BUMN), Sjahril Sabirin (Gubernur Bank Indonesia), Pande Lubis (pejabat BPPN) dan Setya Novanto (Wakil Bendahara Golkar dan Dirut EGP). Rudi sendiri baru diberitahu hasil pertemuan itu malam harinya oleh Firman Sucahyo, nama salah satu direktur BB itu, ketika mereka makan malam di Restoran Leezzat di Tower Bank Bali. Pertemuan di Hotel Mulia itu dipimpin Baramuli yang pada kesempatan pertama meminta Sjahril Sabirin agar membayar klaim interbank Bank Bali. Sjahril setuju, terbukti dan segera memproses pencairan dana milik BB itu. Proses pencairan, kendati secara lisan disetujui Sjahril pada prakteknya memang membutuhkan waktu yang cukup panjang. Ada banyak prosedur yang harus dilalui. Belum cair dana itu, 9 Maret 1999, Rudy dihubungi seorang pejabat Bank Dunia. Pejabat itu menanyakan apakah ada orang-orang yang menawarkan jasa menagih tagihan BB. "Saya membenarkan," ujar Rudy dalam dokumen pengakuan itu. Tak jelas, apa maksud pejabat Bank Dunia itu, karena orang itu juga tak menghubunginya lagi. Dua bulan kemudian, 12 Mei 1999, Rudy dipanggil Menteri Keuangan, Bambang Subianto, di kantor Departemen Keuangan, Jl Lapangan Banteng. Waktu itu pukul 16.30 Wib. Materi pembicaraan mengenai transaksi antara BB dengan PT EGP dan PT PHL Dalam pertemuan yang berlangsung baru setengah jam itu, Bambang pada pokoknya menanyakan perkembangan penagihan itu dan mempertanyakan transaksi dengan PT EGP yang dinilai Bambang amat janggal. Rudy pasrah dan Bambang berjanji membantu Rudy untuk menyelesaikan masalah ini. Dua minggu kemudian, 25 Mei, Bambang kembali memanggil Rudy. Bambang mengatakan akan mengirim Marimutu Manimaren untuk membantu Rudy. Esoknya, Manimaren menghubungi Rudy dan mengajak bertemu di Apartemen Ascott, apartemen yang jadi salah satu markas Tim Sukses "Siluman" Habibie yang letaknya di belakang Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. Pertemuan berlangsung di flat nomor empat lantai 13. Hariman Siregar, salah satu motor Tim Sukses "Siluman" Habibie sudah menunggu di sana. Mereka, meminta Rudy untuk tak melibatkan PT EGP dalam pencairan piutang itu. Setelah pertemuan itu Rudy menghubungi Djoko menyampaikan permintaan Manimaren dan Hariman. Djoko menolak. Sorenya di Hotel Mulia ada pertemuan lagi, yang hadir: Tanri Abeng, Baramuli, Manimaren dan Djoko Tjandra. Hasil pembicaraan, kunci pencairan itu ada di tangan Menteri Keuangan. Malamnya, Rudy, Djoko dan Manimaren tiba di rumah Bambang. Manimaren dan Bambang pun terlibat pembicaraan serius empat mata. Setelah itu wajah mereka berseri-seri. "Semuanya sudah beres kok. Saya selesai-kan di kantor besok," ujar Bambang. Manimaren menimpali, agar mengurungkan niat ke rumah Habibie karena sudah bisa diselesaikan Menteri Keuangan. Setelah klar, pembicaraan antara Djoko, Bambang dan Manimaren, yang diingat Rudy adalah soal utang Djoko di BPPN. Memang, seperti sudah diumumkan, Grup Mulia memiliki kredit bermasalah dan kini ditangani BPPN. Malam itu pula, setelah urusan rampung di rumah Bambang Subianto, mereka bertiga meluncur ke Hotel Mulia, menemui Tanri Abeng yang menunggu di sana. Dana cair pada 1 Juni 1999 dan masuk ke rekening BB di BI. Rudy sengaja menyingkir ke Singapura dan menginap di sebuah hotel dengan nama samaran. Dua hari kemudian, ia menelpon Manimaren dan Hariman apakah transfer ke PT EGP dijalankan atau tidak. Manimaren menjawab ditransfer saja. Hari itu juga transfer dilakukan ke rekening PT EGP di Bank BNI, Kuningan, Jakarta Selatan. Babak berikutnya, Rudy sempat bertemu Timmy Habibie, adik kandung Presiden yang berjanji akan "membersihkan" transaksi yang agak aneh itu. Berikutnya, skandal ini diketahui pers lewat kasak-kusuk di kalangan elit Golkar. Prajoto, seorang pengamat hukum perbankan akhirnya membeberkannya di sebuah seminar di Jakarta. Dan, meledaklah skandal ini. Namun, yang menarik, agen-agen Badan Intelijen Strategis (BAIS) ikut nimbrung. Mereka menyadap kantor Baramuli dan berhasil mendapatkan rekaman rapat antara Baramuli, Setya Novanto dan beberapa orang lainnya. Hasil rekaman itu memperkuat pengakuan Rudy bahwa Baramuli memang terlibat dalam pembobolan BB. Dalam rekaman rapat itu Baramuli juga menyebut-nyebut mengancam Glenn Yusuf, Ketua BPPN, agar kooperatif. Soalnya, kalau Glenn yang dikenal bersih itu membangkang, Baramuli dan Tanri Abeng bisa-bisa masuk penjara. Rekaman itu tersebar, dimuat berbagai media massa. Baramuli membantah dan menuduh rekaman itu palsu, namun ahli audio dari UGM, Roy Suryo, yang sukses membuktikan keaslian rekaman telepon Habibie-Ghalib, mengatakan rekaman rapat Baramuli itu otentik. Mengapa BAIS ikut campur dan memojokkan Habibie? Ini yang masih jadi pertanyaan. Namun, bergeraknya BAIS menyodok Habibie ini tampaknya ada kaitannya dengan dukungan Mabes TNI pada Megawati Soekarnoputri untuk menggantikan Habibie. Dukungan TNI ke kubu Megawati ini disampaikan oleh Letjen (TNI) Tyasno Sudarto, Direktur BAIS yang telah melakukan pertemuan dengan Megawati. Namun, di luar itu, akankah skandal BB ini mendorong mundurnya Habibie dan para sekundannya seperti Ketua DPA Baramuli dan Menteri Pendayagunaan BUMN? Tampaknya tidak. Sebab Habibie, apalagi, Baramuli, adalah orang bebal.
