-----Original Message-----
From: Satrio
Sent: Thursday, September 02, 1999 9:50 PM
To: Teknologi
Subject: RE: ET: "White People's Role"
Rekan-rekan,
Kalau Tim-Tim merdeka, negeri ini terlalu kecil dan terlalu lemah untuk
hidup sendiri. Apalagi sudah terlalu biasa disubsidi besar-besaran dari RI.
Ketergantungannya pada luar negeri akan sangat besar.
Dari segi pendekatan geopolitik dan geoekonomi, negara tetangga yang paling
bisa berperan bagi masa depan Timtim adalam Australia dan RI. Ekonomi RI
sedang down. Artinya, Australia lah tumpuan harapan yang paling mungkin.
Dalam posisi ini, Australia punya leverage yang jauh lebih besar dan
dominan, sehingga bisa mendikte Timtim untuk memberi keuntungan lebih besar
dalam eksplorasi minyak di Timor Gap (eksplorasi yang butuh biaya, SDM dan
teknologi tinggi, yang dalam saat ini mustahil mampu disediakan Timtim).
Jadi saya setuju pada analisis Rekan Yusuf L. Henuk. Australia tidak mudah
mendikte RI, tetangga yang lebih besar di utara dan kadang-kadang curiga
campur takut pada RI. Australia memanfaatkan situasi ketika RI sedang kacau
ekonomi dan politiknya. Jadi lebih untung bagi Australia jika Timtim
merdeka, apalagi ancaman komunis sudah sirna.
Dan mohon maaf saja, untuk tahap awal pasca kemerdekaan (kalau betul Timtim
merdeka), akan ada periode menyakitkan dalam rekonsiliasi antar Timtim
sendiri yang juga tidak mudah.
Untuk tahap awal, rakyat Timtim juga akan melihat negerinya didominasi asing
(dengan kehadiran Australia dan PBB besar-besaran, ketika RI sudah out atau
dipaksa out). �Prospek ancaman dari militer RI� akan dijadikan hantu, bagi
pembenaran kehadiran asing yang besar-besaran ini. Tentu juga butuh
investasi dan pasokan dana besar-besaran untuk mengganti APBD yang biasanya
disubsidi penuh dari RI.
Segelintir elite politik Timtim lah, para �tuan-tuan tanah�, yang akan
menikmati keuntungan di sini (ratusan ribu rakyat Timtim lainnya tetap
marginal, karena kualitas SDM mereka yang rendah). Karena memang para elite
inilah yang selama ini punya akses dengan kekuatan asing/luar Timtim.
Yang untung juga sejumlah aktivis LSM Timtim, yang akan �bekerjasama� dengan
PBB dan Australia dalam �memberdayakan� rakyat Timtim yang tak pernah
berdaya ini.
Tetapi tentu saja pilihan berpulang pada rakyat Timtim sendiri.
Satrio A.
-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, September 02, 1999 10:22 AM
To: Multiple recipients of list
Cc:
Subject: ET: "White People's Role"
Teman-teman Indoz-net semua,
Kalau kita melihat kembali ke belakang sana, maka
semua kita tahu bahwa Indonesia (RI) berhasil masuk
ke Timor Timur (ET) karena di-"DOPING" oleh Orang
Kulit Putih (OKP), seperti: Gerald Ford (OKP-1) dari
Negeri Indian dan Gough Whitlam (OKP-2) dari
Negeri Aborigin.
Pada kenyataannya, OKP-1 punya alasan agar jangan
ada lagi "Cuba-2" (baca: FRETILIN) di Asia. OKP-2
setuju banget dengan alasan OKP-1 tetapi lebih condong
ke arah "OPEC-2" (baca: TIMOR GAP) sehingga OKP-2-
LAH YANG PERTAMA DI DUNIA INI YANG
MENGAKUI ET MERUPAKAN PROPINSI RI YANG
KE-27. Konsekwensinya, OKP-2 + RI ramai-ramai tanda-
tangan "TIMOR GAP TREATY" IN THE SKY
BETWEEN DARWIN AND DILI. Kemudian, mereka
langsung eksplorasi minyak ramai-ramai IN THE SEA-
SHORE BETWEEN DARWIN AND DILI.
Jelasnya, OKP-2 TELAH BERUSAHA DENGAN SE-
KUAT TENAGA UNTUK TURUN LANGSUNG KE
DILI DALAM JAJAK PENDAPAT PADA 30/8/99
GUNA MEMBANTU MEMPERCEPAT ET MER-
DEKA SEHINGGA EKSPLORASI MINYAK DI
TIMOR GAP BETWEEN DARWIN AND DILI DA-
PAT BERJALAN LANCAR DITAMBAH PEM-
BAGIAN BAGI HASIL YANG LUMAYAN LEBIH
MENGUNTUNGKAN BAGI OKP-2 BILA TIMOR
GAP HANYA DIURUS OLEH OKP-2 + ET SAJA.
In conclusion, "WHITE PEOPLE PLAY A MAJOR
ROLE IN ET THAN RI".
Regards,
Yusuf L. Henuk