"PAKAIAN TIDUR : TWO IN ONE" UNTUK SUAMI-ISTRI
SIAPA TAHU BISA MENJADI PRODUK UNGGULAN INDONESIA
-------------------------------------------------

     Oleh : Nasrullah Idris

     Motto : Kebesaran suatu bangsa di bidang busana tidak tergantung
warisan busana nenek-moyangnya, tetapi bagaimana keberhasilan mereka
memperbanyak warisan itu sendiri.
******
     Saya punya usul dalam rangka meningkatkan ekspor tekstil ke
mancanegara. Begini :
     Bagaimana kalau dipikirkan tentang kemungkinan memproduksi "Pakaian
Tidur : Two in One". Artinya sebuah pakaian untuk suami- istri yang dipakai
bersama ketika sudah berada di tempat tidur saja. Soalnya kalau sedang
berdiri, duduk, atau berjalan, jelas merepotkan.
     Usulan ini terdorong asumsi bahwa saya sampai sekarang belum pernah
mendengar, apalagi melihatnya. Jadi siapa tahu bisa merupakan prospek
ekonomi kita.
     Kalau terwujud tentu saja letak kancing atau ritsletingnya lain.
Misalkan di samping badan.
     Tinggal sekarang, bagaimana mempertimbangkan faktor medisnya, agar
jangan sampai menimbulkan dampak negatif terhadap fisik, baik yang langsung
dari kainnya atau akibat terlalu lamanya bersentuhan dengan kulit pasangan.
     Ukuran dan disainnya harus dipertimbangkan pula, sehingga membuat suami
maupun istri tidak kagok memakainya.
     Dari aspek psikologis? Jelas bisa memberikan kredit point terhadap
berbagai katagori hubungan suami-istri. Keduanya tidak hanya merasakan
kebersamaan karena tempat tidur, juga pakaian.
     Mumpung belum diproduksi, segeralah rencanakan. Siapa tahu ketika
keadaan ekonomi Indonesia sudah membaik bisa segera memproduksinya.
     Memang akan timbul hambatan, seperti suami atau istri yang ingin buang
air, meskipun baru saja dikenakan.
     Tetapi perlu kita ingat bahwa untuk kondisi cinta kasih totaltidak akan
menjadi masalah lagi. Karena secara tersirat sudah muncul komitmen menjelang
tidur untuk sukarela bangun serta buka pakaian : kapan saja dan berapa pun.
     Walaupun gampang saja mengeluarkan ide tersebut tetapi saya sadar bahwa
masih banyak persoalan lain untuk dibahas dalam ruang lingkupnya.
     Rasanya tidak praktis kalau saya mengajukan ide tersebut setelah
mempertimbangkan dari berbagai aspek mengingat keterbatasan
pengetahuan/keterampilan saya untuk urusan busana, manajemen, dan marketing.
Jadi saya serahkan saja kepada para pembaca untuk menindaklanjutinya sesuai
dengan bidangnya masing- masing.
     Pokoknya kalau prototipenya sudah tercipta akan banyak pasangan
suami-istri bersedia untuk mempraktekkannya.
     Sekali lagi ini hanya untuk ekspor dalam rangka meningkatkan devisa.
     Untuk konsumsi dalam negeri sih jangan dulu mengingat situasi ekonomi.
Lagian pula masyarakat tampaknya akan cuek dengan gituan. Mungkin kata
mereka, mendingan dibelanjakan barang lain yang lebih bermanfaat. Toh tanpa
pakaian itu pun tidak akan apa-apa.
     Malah saya pun tidak berani kalau ditujukan untuk konsumsi dalam
negeri. Mengapa? Karena secara tidak langsung sama saja dengan tidak
menunjang program KB.
     Sekarang begini saja :
     Saya berharap, ada di antara pembaca yang bersedia mengontak Fakultas
Tehnik Industri, dan Fakultas Seni Rupa, pokoknya fakultas terkait. Kemudian
rundingkan dengan pihak sana, kira- kira bagaimana
menerancanakan/menindaklanjutinya.
     Bisa juga dengan langsung menemui sang rektor, yang kalau disetujui,
akhirnya akan memberikan disposisi kepada pihak yang kompeten dalam
kampusnya.
     Itu untuk skop besar.
     Untuk skop kecil suruhlah kerabat para pembaca seperti penjahit untuk
membuatnya berdasarkan patron yang sudah tersedia. Hasilnya dijual kepada
turis asing di tanah air. Minimal sebagai souvenir.
     Saya dengar bahwa di beberapa negara sudah tersedia selimut khusus
untuk suami-istri yang juga dipakai ketika tidur.
     Memang esensinya sama dengan "Pakaian Tidur : Two in One", karena
dipakai bersama.
     Tetapi apa yang saya maksud di atas tetap sebagai pakaian tidur,
sebagaimana yang kita kenal sekarang. Berarti dalam pembuatannya ada unsur
desain/tehnik. Hanya saja dalam hal ini dua pakaian digabungkan menjadi satu
di mana kancing atau ritsletingnya di pasang pinggir.
     Saya mengajukan konsep itu sebagai terobosan bidang tekstil. Karena itu
sekaligus berarti mengantisipasi persaingan di bidang produk tersebut,
sekaligus meningkatkan identitas bangsa juga. Siapa tahu bisa menjadi produk
unggulan.
     Walaupun mungkin saja para disainer/tehnisi internasional sudah
memantaunya, tetapi berhubung belum menjadi tradisi pakaian, apa salahnya
kita yang menindaklanjuti secara serius.
     Masalah produktivitas? Itu bisa dilakukan di luar negeri kalau persedia
modal belum memungkinkan akibat krismon ini. Mirip dengan microchip di mana
produksinya terkadang dilakukan bukan di negara asalnya.
     Tinggal kita sekarang bagaimana merencanakan, mendisain, dan
mengkongkritkannya. Syukur-syukur sekalian dengan pemasarannya.
     Kita manfaatkan SDM kita dalam hal perencanaan. Yaitu para pengambil
keputusan di mana mereka bisa mengolah database busana secara global. Untuk
database, kita manfaatkan pakar "manajemen informasi system" di mana mereka
sedikit-banyak mempunyai berbagai model operasional pencarian informasi.
Bukankah ini dipelajari pada jurusan Informatika?
     Untuk disain kita manfaatkan para perancang busana. Apalagi software
terkait sudah kita miliki seperti Auto-CAD di mana disainer bisa leluasa
membuat model "Pakaian Tidur : Two in One", malah bisa melihatnya dari
berbagai arah, serta ditunjang oleh kontrol rasa, kontrol sosial, dan
kontrol kualitas.
     Setelah dikongkritkan dalam bentuk prototype, ajukanlah ke perusahaan
di LN di mana Hak Cipta tetap ada pada kita.
     Jadi kita dalam hal ini sebagai penjual "Human Capital".
     Tetapi terus terang saja. Konsep ini masih saya anggap mentah. Karena
itu saya lemparkan ke media ini untuk meminta para pembaca
mengkaji/mengunyah sampai terasa asam-garamnya. Mana saja : kelebihan,
tantangan, peluang, dan kekurangannya. Sehingga diharapkan menghasilkan
konsep komplementer alias saling melengkapi. (Nasrullah Idris, bidang studi
: Reformasi Sains Matematika Teknologi)



Kirim email ke