Teman-teman Indoz-net semua,


Perkenankanlah   saya  menggunakan media kita ini
untuk   menanggapi  tulisan Bung   Andi  dibawah ini
yang   saya    beri   judul:   "Negeriku:  Kapan Tanpa 
Rusuh?"   Karena   memang saya tidak tahu dengan
pasti: "Negeriku: Kapan Tanpa Rusuh?".

Date sent:      Sun, 9 Jan 2000 02:07:15 +1100 (EST)
Send reply to: [EMAIL PROTECTED]
From:             Andi <[EMAIL PROTECTED]>
To:               Multiple recipients of list <[EMAIL PROTECTED]>
Subject:        Re: Kiat Mengawali 'Rusuh'?

ANDI:
> Sebagai seseorang yg menyukai perdamaian, saya pikir isu ini  
> tidak perlu    saya   tanggapi   lebih   jauh   sesudah ini. Mudah-
> mudahan   sdr. Yusuf  dapat memberi tanggapan yg tuntas dan 
> memuaskan keingintahuan saya.

YUSUF:
 Saya pribadi senang sekali karena ternyata Sdr. Andi seorang 
 yang menyukai perdamaian  tidak  seperti sangkaan saya  ter-
 dahulu ketika   membaca   tanggapan   tulisan  anda  didalam 
 menanggapi  tulisan   saya.   Selanjutnya, saya   mohon maaf
 karena saya tidak dapat memberikan suatu  tanggapan   yang 
 tuntas dan memuaskan keingintahuan anda.

ANDI:
> Sdr. Yusuf yg baik, bagi saya  pernyataan  anda memang 
> berkesan  mempertanyakan  peran  mayoritas umat Islam 
> dalam memandang kerusuhan. Memang benar umat Islam 
> adalah   mayoritas   di   negeri ini, tapi bagaimana dengan 
> umat agama lain? Anda menyebut tentang citra Indonesia,
> bukankah itu tugas kita semua tanpa memandang agama-
> nya? Mengapa dalam mengajukan pertanyaan  anda perlu
> mengaitkannya   dengan   fakta Islam  sebagai mayoritas, 
> bagi   saya   itu yg jadi pertanyaan bagi anda. Lain halnya 
> apabila  justru   di   Indonesia ini HANYA terdiri atas umat 
> Islam, mungkin lebih mudah saya pahami. Mudah-mudahan 
> sdr. Yusuf   dapat   menjelaskannya lebih jauh, karena tang-
> gapan anda hanya  menekankan pernyataan anda sebelum-
> nya tapi belum menjelaskan. Misalnya tentunya  anda  bisa    
> memberi  masukan   seperti   kerusuhan yg dimaksud, ber- 
> hubung contoh yg saya ajukan (Aceh dan Maluku) ternyata    
> anda anggap tidak relevan.

YUSUF: 
 Sdr. Andi yang juga baik, saya   pribadi  memang terkesan
 mempertanyakan peran  mayoritas   umat  Islam dalam me-
 mandang   kerusuhan   di Indonesia.  Alasan pribadi   saya
 didasarkan kepada kenyataan bahwa  kalau mayoritas umat
 Islam di Indonesia betul-betul bersatu, maka mereka dengan
 mudah  dapat   merangkul     umat    agama   lainnya   yang
 tergolong    minoritas.   Tapi   kenyataannya,  tidak MUDAH 
 seperti   yang   saya bayangkan sehingga saya hanya dapat
 bertanya: "Negeriku: Kapan Tanpa Rusuh?".

 Selanjutnya,  berhubung   karena   Sdr. Andi  mengharapkan
 adanya penjelasan   dari saya, maka   saya     hanya   dapat 
 katakan  bahwa:   penjelasan saya TERSIRAT  dalam tulisan
 menarik dibawah ini yang ada  kaitanya dengan contoh yang
 diajukannya (Aceh dan Maluku):

From: "Robert Baowollo" 
To: [EMAIL PROTECTED] 
Subject: AMIN RAIS, GUS DUR DAN SOLUSI KERUSUHAN 
             MALUKU 
Date: Wed, 05 Jan 2000 07:37:34 PST 

AMIN RAIS, GUS DUR DAN SOLUSI KERUSUHAN MALUKU 
Oleh Robert B. Baowollo 

1. Amin Rais, tokoh reformasi dan pejuang konsep negara federasi, 
telah melakukan kewajibannya  sebagai  intelektual  untuk memper-
kenalkan   wacana   demokrasi   modern dan konsep pemerintahan 
federal yang dianggapnya pas untuk Indonesia, setidaknya sebagai 
jalan   keluar  dari blunder demokrasi akibat dominiasi penguasa di 
pusat  yang terlalu besar atas daerah selama ini. Tetapi Amin Rais 
lupa, bahwa  ia sama  sekali tidak memiliki landasan pengetahuan 
tentang kualitas   dan    kesiapan mayoritas demos (rakyat) dalam 
konteks realitas budaya dan sosial mereka, sehingga tiupan angin 
reformasi   dari   mulutnya   lebih   merupakan  puting beliung yang 
menerjang semua kemapanan berpikir dan hidup, bahkan lebih dari 
itu, merusak   apa   yang   baik,   yang   menjadi   identitas  kultur 
komunitas Indonesia dalam memperlakukan demokrasi. 

Gus Dur adalah orang lahir dan berjuang dari dalam dan bersama 
demos itu, dengan  semangat  dan  citarasa    demos   Indonesia, 
tetap   pada  cita-cita civil society dan nilai-nilai kemanusiaan uni-
versal   tanpa kehilangan jati diri. Gus Dur sangat percaya, bahwa 
dibawah   luapan   kekerasan dan kemurkaan (termasuk akibat di-
bakar-bakar oleh suntikan api "reformasi asal  reformasi"),  masih 
tersimpan milik asli manusia dan bangsa manusia, yaitu akalbudi, 
kejernihan  nurani  untuk membedakan yang bathil dari yang baik, 
untuk   mengutamakan yang utama dan mengabaikan yang nama-
nya kepentingan sesaat. 

2. Amin  Rais terus saja "mengobok-obok" Gus Dur dan Mega. Ia 
tidak rela bersatu jalur untuk menyelesaikan prioritas presiden dan 
wakil presiden terpilih: Ketika Gud Dur dan Mega mati-matian ber-
bicara tentang negara kesatuan dalam tataran "menjaga semangat 
persatuan dan menghindari pertarungan  untuk  saling   membunuh 
agar   bisa   berpisah   SAAT   INI,   suatu  hal yang dinilai sebagai 
ancaman PALING KONKRIT", Amin justru   mengoceh-ria  dengan 
kepintarannya   pada   level   intelektual-kognitif,  tanpa   mau tahu 
bahwa semua   pihak   sedang   berupaya   memenangkan empati 
orang Aceh, orang Ambon, dan orang Timor Timur. Amin   menjadi  
pongah  di  atas  puncak  kursi wakil rakyat, dan tidak jernih   dan 
mawas diri dalam berkata dan berpendapat, apakah semua desah   
nafasnya   mendinginkan   rakyat -   termasuk   saya - atau justru 
sebaliknya! Amin sepertinya  mau mencari  popularitas   gampang  
dengan   memanfaatkan penderitaan   Gus   Dur dan  Mega dalam  
memikul   beban warisan Suharto-Habibie atas masalah Aceh dan 
Ambon. 

3. Amin Rais menganggap soluasi   yang ditawarkan Gus Dur 
kepada Aceh dan Maluku sebagai pemberian "blanko kosong" 
mencerminkan sebuah penilaian apriori yang sedikitpun  tidak 
mencerminkan   intelektualisme   seorang   profesor Dr. Amin  
Rais. Kita ingat: Habibie  pernah menaifkan dan  menisbihkan   
peran   ilmu   sosial   dalam    desain   kebijakan   pendidikan 
Indonesia   dan memaksa-merobotkan seluruh sistem pendidi-
kan nasional menurut Deutsche Vorstellung-nya. Saya sangat   
percaya   bahwa  Habibie sama   sekali   tidak   paham filosofi 
pendidikan yang sedemikian ruwet itu. Nampaknya Amin juga 
sama: setelah   mendukui posisi  puncak politik ia merasa diri 
bisa menaifkan   dan   menisbihkan  pendekatan   kerakyatan,  
pendekatan      akar     rumput,     pendekatan   sosial-budaya,  
pendekatan   dengan  memakai nilai-nilai  yang   hidup   dalam 
nurani manusia dan komunitas   setempat. Kalau  Amin   tidak 
paham sosiologi   dan   antropologi     manusia    Maluku  atau 
manusia Aceh, sebaiknya belajar  bersikap  ilmiah: tutup mulut 
dan  tidak   mengomentari   suatu pendekatan dari disiplin ilmu 
lainnya. 

4. Tetapi kalau Amin Rais menyangkal tudingan saya ini berarti 
Amin  membenarkan   hipotesis    bahwa  ia   sedang   bermain   
politik dengan   memakai   isu   Aceh, Ambon dan daerah mana   
lagi  untuk   ambisi   dan   kehausan obsesi politiknya. Mungkin  
juga   karena   kesalahan   kita bersama   membawa-bawa gelar 
dan  status akademik  Prof.  Dr.  Ir. SH, MBA, MM, dan lain-lain 
ke   dalam   urusan   yang  tidak   ada   kaitannya dengan gelar-
status   tersebut   sehingga   menyesatkan     masyarakat yang 
gampang   tergoda  untuk percaya pada  pendapat  seorang ber-
gelar PROFESOR! 

5. Ambon dan Aceh kini sangat panas,  bahkan  terlalu panas. 
Kalau mau memberi kontribusi   bagi  penyelesaian   kawasan 
panas, sebaiknya kita  berkepala dingin.  Sudah banyak orang 
yang tertekan  dan  tersiksa  oleh panasnya politik orang pintar 
dan berkuasa di atas sana. Bersikap diam dan tidak ikut mem- 
perkeruh   suasana     kiranya    merupakan   sumbangan yang 
sangat optimal, juga bagi Amin Rais. Tentu   lebih  bagus   lagi
kalau kita   merapatkan   diri   kepada Gus Dur dan Mega yang 
tengah    memikul beban berat,   bertanya kepada mereka, apa 
yang bisa kita buat SECARA    BERSAMA-SAMA   untuk  me- 
memadamkan   api   angkara murka yang    tidak terkendali itu. 
Amin  Rais bisa menilai sendiri,   bahwa   tanggapan   dan   pe-
nilaiannya atas  upaya  yang telah dilakukan Gus Dur terhadap 
Aceh  dan  Ambon mencerminkan ketidak pahaman Amin Rais 
sendiri. 

Dalam semangat keterbukaan dan kesadaran akan tanggungjawab 
bersama, dalam semangat persaudaraan, opini ini saya sampaikan 
kepada Mas Amin Rais. 

Terimakasih, Selamat Hari Raya Idul Fitri. Maaf lahir batin. 

Robert B. Baowollo 
Institut fuer Erziehungswissenschaft 
Universitaet Hamburg 
Von-Melle-Park Hamburg. 
   
ANDI: 
> Saya menulis tanggapan ini jelas tidak dengan niat memulai
> rusuh, saya  harap   sdr. Yusuf   tidak   membiarkan apalagi
> mendorong kita dalam kerusuhan baru. Bila benar saya salah
> dalam interpretasi, tolong anda jelaskan.

YUSUF:
  Saya dapat katakan bahwa anda salah dalam menginterpretasi
  tulisan saya dimana sekali lagi saya tegaskan bahwa: "Dengan
  segala   hormat, saya hanya dapat   katakan bahwa saya tidak
  mengatakan     bahwa    umat   Islam-lah    biang keladi dari ke-
  kerusuhan di Indonesia".   Maaf     kalau    penjelasan   singkat
  saya ini tidak memuaskan anda.

ANDI: 
> Untuk sdr. Bambang, terima kasih  banyak  untuk masukan dan 
> saran anda. Saya akui   kalau   jam terbang saya dalam hal ber-
> debat di lingkungan   global   seperti  internet masih belum apa2
> dibanding sdr. Yusuf. Selama ini   saya   mengamati  tulisan2 di
> mailis   ini juga  untuk belajar bagaimana cara bertukar pendapat 
> yg baik. Mungkin  memang  dalam  menulis waktu itu saya agak
> terbawa perasaan, after all I'm only human. Tapi saya anggap itu
> proses belajar berdemokrasi  bagi saya. Sekali lagi terima kasih
> atas tanggapan anda.

YUSUF: 
  Bung Bambang, saya   juga   patut berterima kasih kepada anda 
  yang   telah meluangkan waktu untuk menasihati saya dan Bung
  Andi. Akhirnya,  saya mengucapkan: "Selamat   Hari   Raya Idul
  Fitri. Maaf lahir dan batin".

Salam,

Yusuf L. Henuk

Kirim email ke