-------- Original Message --------
Subject: [mus-albarokah] COMMON ENEMY...
Date: Wed, 25 Jul 2007 10:28:42 +0700
From: Iwan Wibisana <[EMAIL PROTECTED]>

Common enemy
oleh : Djony Edward
Wartawan Bisnis Indonesia

Suatu hari saya menelepon seorang mantan jenderal yang disegani dimasa
Presiden Megawati Soekarno Putri. Dalam percakapan dengan jenderal
tersebut sempat tercetus diskusi ringan, bagaimana pendapat Anda tentang
Partai Keadilan Sejahtera (PKS)? Terutama kaitannya dengan pencalonan
Gubernur DKI Jakarta.

Sang jenderal hanya menjawab singkat, "PKS common enemy (musuh
bersama)." Tanpa hendak bermaksud menjelaskan lebih jauh apa yang
dimaksud common enemy bagi PKS, sang jenderal mengalihkan pembicaraan
dari A hingga Z tentang perkembangan di tanah air.

Bagi penulis, pernyataan common enemy cukup menyentakkan. Karena
pernyataan itu seolah mengingatkan saya pada kemenangan Front Islamic
Salvation (FIS) di Aljazair dan Refa di Turki dalam pemilu setempat yang
kemudian kemenangan itu langsung dijegal oleh militer.

Indikasi serupa sempat muncul saat Nurmahmudi Ismail memenangkan pilkada
di Depok setelah mengalahkan calon incumbent Badrul Kamal. Karuan saja
setelah MA dan PN Jabar memenangkan kader PKS ini jegal melalui
aksi-aksi tak konstitusional, mulai dari demostrasi tak berkesudahan,
aksi tak simpatik anggota DPRD non PKS yang cenderung mendiskreditkan
Nurmahmudi, hingga aksi pengempesan ban mobil sang walikota dan
pelemparan bom molotov mobil kader PKS Depok.

Pernyataan itu juga mengingatkan ketika Zulkieflimansyah bersama
pasangannya Marissa Haque saat mencalonkan diri sebagai Gubernur dan
Wagub Banten. Dimana tiga parpol besar: PPP, PDIP dan Partai Golkar
bersatu untuk melawan kader dari PKS.

Tak kalah pentingnya saat pilkada bupati Bekasi dimana pasangan
Sa'aduddin dan M. Darip Mulyana yang sempat dinyatakan kalah, namun
akhirnya dimenangkan oleh PN Jabar.

Puncak gunung es relasi antara pernyataan sang jenderal tentang PKS
adalah common enemy saat calon PKS: Adang Daradjatun dan Dani Anwar
harus berhadapan dengan Fauzi 'Foke' Bowo dan Prijanto yang juga adalah
sang jenderal militer. Tak tanggung-tanggung Foke-Prijanto didukung 20
parpol yang tergabung dalam Koalisi Jakarta.

Sintesa bahwa PKS adalah common enemy seolah menemukan justifikasi
paling nyata di pilkada DKI Jakarta. Ini juga yang mengonfirmasi mengapa
pilkada DKI Jakarta begitu gegap gempita, riuh rendah dan seolah
memanas, padahal kedua calon belum lagi memaparkan visi dan misi serta
program kerja mereka.

Pilkada DKI Jakarta begitu serius menyusul ada unsur PKS yang pada
Pemilu 2004 menguasai pangsa suara sebanyak 1.057.246 suara atau jika
dipresentir menguasai pangsa suara warga DKI sebesar 22,32%, vis a vis
dengan Koalisi Jakarta yang merepresentasikan lebih dari 70% pemilih
yang terhimpun di 20 parpol pendukung.

Praktis di atas kertas Foke harusnya menang, karena didukung oleh 20
parpol dengan menguasai pangsa suara melebihi syarat untuk menang.
Berikut al. parpol pendukung Foke: Partai Demokrat (20,23%), PDIP
(14,02%), Golkar (9,16%), PPP (8,16%), PAN (7,03%), PDS (5,34%), PBR
(2,90%), PBB (1,45%), maupun PKPB (1,83%).

Maksimalkan kemenangan

Jika mengamati besarnya dukungan atas Foke, maka praktis kemenangan
putra Betawi itu sudah di atas kertas. Tapi pertanyaannya, mengapa
sebegitu besar suara yang dibutuhkan Foke untuk menguasai Jakarta 1?
Padahal untuk sahnya seorang kandidat cuma membutuhkan dukungan suara
15% dari parpol peserta pemilu 2004.

Tentu ada hidden story yang membuat Foke tak terlalu memedulikan aspek
pendidikan politik untuk provinsi tertinggi tingkat rasialnya sekaligus
ibukota negara. Foke ingin memaksimalkan kemenangan setelah sebelumnya
sempat ditolak oleh Ustad Hilmi Aminuddin.

Suatu hari, Ketua DPD RI Ginandjar Kartasasmita bertandang ke kediaman
Ustad Hilmi di bilangan Kali Malang. Setelah diterima dan ngobrol ngalor
ngidul, setengah jam kemudian Ginandjar mohon izin.

"Ustad, mohon maaf. Sebenarnya saya datang ke rumah Ustad dengan adik
saya," demikian papar mantan Mentamben dan Kepala Bappenas di masa
Presiden Soeharto.

"Siapa? Kok tak disuruh masuk?" ungkap Ustad Hilmi.

"Foke, Ustad," tambah Ginandjar.

Pendek kata, akhirnya Foke yang berkeliling setengah jam di gang-gang
sekitar Kali Malang meluncur ke rumah Ustad Hilmi. Singkat kata, dalam
obrolan itu Ginandjar dan Foke minta dukungan dari orang yang paling
disegani di PKS itu.

Apa jawaban Ustad Hilmi? Tentu jauh panggang dari api. Berikut
petikannya, "Wah permintaan dukungan ini telat. PKS sudah memiliki
calon, yakni Adang Daradjatun. Kalau begitu silakan saja berkompetisi
secara sehat."

Itulah sekelumit kisah dimana Foke sempat juga meminta dukungan kepada
PKS, dimana Golkar sebagai inisiator bersama PPP cukup mendapat dukungan
PKS dan PDIP maka sudah mengusai pangsa suara lebih dari 51%. Artinya
tingkat konsolidasi akan lebih sederhana dan lebih mudah.

Namun dengan penolakan yang dilakukan Ustad Hilmi, yang juga
merepresentasikan penolakan PKS, maka hal ini membuat gelisah kubu
pendukung Foke. Maka untuk memastikan ketenangan dan memuluskan
kemenangan digalanglah Koalisi Jakarta yang melibatkan 20 parpol. Peduli
setan dengan aspek pendidikan politik, yang penting bagaimana
memaksimalkan kemenangan. Jadilah PKS sebagai common enemy bagi, paling
tidak, elit politik di DKI. Tapi belum tentu bagi rakyat DKI Jakarta.

Menurut hemat penulis, dinamika yang terjadi dalam proses pencalonan
Gubernur dan Wagub DKI ini, tak lepas dari sikap Koalisi Jakarta yang
menganggap PKS sebagai common enemy. Apalagi jejak rekam PKS yang telah
mengikuti hampir 250 pilkada di Indonesia (dari 297 pilkada yang pernah
digelar), kader PKS berhasil memenangkan di 77 titik pilkada atau lebih
dari 30%.

Kemenangan pilkada yang diikuti kader PKS ada yang dilakukan sendiri,
ada yang berkoalisi dengan elit politik lokal, maupun dengan birokrat
dan pengusaha setempat. Lepas dari semua itu, kiprah parpol yang
memasuki tahun ke-10 berpolitik di tanah air (maklum sebelumnya Cuma
sibuk berdakwah), sudah mampu tampil dengan daya pikat 30% di daerah
pemilihan.

Itu sebabnya, bisa difahami jika terbentuk Koalisi Jakarta yang tak mau
menganggap enteng calon yang diusulkan PKS. Bukan semata-mata siapa
calonnya, tapi justru cara kerja mesin politik PKS yang mampu menembus
jantung hati rakyat.

Ada atau tidak ada pilkada ataupun pemilu, kader PKS terbilang rajin
menyapa atau bahkan berjibaku ikut larut dalam penderitaan yang dialami
rakyat. Fenomena banjir Jakarta, cuma PKS yang dengan sigap membangun 60
titik posko yang melibatkan ratusan, bahkan ribuan kadernya, serta
bantuan sukarela warga, untuk menolong mereka yang terendam banjir.
Posko itu dibentuk dari awal Jakarta terendam banjir hingga tetes banjir
yang terakhir.

Berbeda dengan parpol lain, yang mungkin ada juga yang turun ke lokasi
banjir, namun staminanya tidak selama PKS. Bahkan ada parpol besar yang
cuma memasang spanduk mengucapkan turut berduka atas banjir yang melanda
warga Jakarta.

Bahkan Pemda DKI Jakarta saja, baru meinggu kedua pasca banjir
menurunkan bantuan bertruk-truk sembako dan pakaian serta selimut. Suatu
sikap yang tidak buruk. Tapi jika dilihat dari aspek berlomba-lomba
dalam kebajikan, maka kader PKS lah yang maju dimuka.

Kedekatan PKS dengan warga inilah yang menggelisahkan lawan politik,
karena itu dibuatlah strategi common enemy dengan membentuk Koalisi
Jakarta. Penulis menduga, dinamika politik menjelang penentuan calon
seperti fenomena yang melanda para jenderal: Slamet Kirbiyanto, Djasri
Marin, maupun Agum Gumelar, belum lagi fenomena Rano Karno, Sarwono
Kusumaatmaja, tak lebih dari bagian dinamika yang memperkaya dan
mengarahkan PKS sebagai common enemy.

Plus minus

Oleh karena itu, pilkada DKI cuma memiliki dua calon, yakni pasangan
Foke-Prijanto dan Adang-Dani. Pasangan mana yang oleh banyak pengamat
dan mantan pejabat sebagai pasangan yang memiliki plus minus.

Karena itu muncul ide-ide calon independen guna menampung aspirasi
kelemahan dua kandidat tersebut. Namun kandidat PKS merasa tak keberatan
kalau memang dinginkan, namun kandidat Koalisi Jakarta menolak lantaran
tidak memenuhi kaidah dan ketentuan perundangan yang berlaku.

Foke sebagai calon incumbet, tentu sangat potensial memenangkan pilkada
DKI Jakarta. Karena selain didukung oleh 20 parpol, juga didukung
birokrasi yang saat ini dipimpinnnya. Tambahan pula Foke cuti setelah
ada kepastian Daftar Pemilih Tetap, hasil kerja Dukcapil yang nota bene
masih dikomandaninya.

Pada saat yang sama kader PKS, LSM, pengamat, mahasiswa, dan sejumlah
tokoh mencaci cara kerja penjaringan calon pemilih karena ditengarai
adanya ghost vooter lebi dari 1 juta. Tingkat diskusi pun menemui jalan
buntu, KPUD tetap jalan terus dengan data yang dimilikinya dari hasil
proses yang lemah sekali, kendati mendapat cap penyelenggara pilkada
paling buruk di Indonesia.

PKS tetap ngotot bahwa proses itu tidak aspiratif, arogan, dan
menghalangi kader-kadernya yang belum terdaftar. Kendati KPUD merasa
sudah membuka perpanjangan masa pendaftaran yang juga sebenarnya serba
dibatasi oleh waktu dan tempat pendaftaran.

Apa boleh buat, DKI ke depan harus dipimpin oleh kedua pasangan yang
telah ada, yang dilahirkan dari proses demokrasi yang rendah, bahkan
mengarah pada kartel kekuasaan.

Foke yang juga seorang doktor tata kota memiliki justifikasi akademis
yang memadai, selain kaya raya, dia juga dikenal penderma. Sejumlah
organisasi parpol, organisasi sosial dan olah raga diketuainya, atau
setidaknya menjadi penasihat, menunjukkan supelnya sang calon.

Kelihaiannya dalam melakukan lobby sangat mumpuni, terbukti 20 parpol
dengan sedikitnya didukung 70% pemilih pada 2004, dengan warna-warni
ideologi serta anutan, mampu disatukannya dalam upaya mendukung
pencalonannya.

Namun Foke bukanlah manusia super. Sebab pada saat dia menjadi Wakil
Gubernur dengan segala ilmu dan kepandaian, serta lobbynya, toh tak
mampu mencegah banjir, padahal dia ahli tata kota. Juga tak mampu
membendung meningkatnya angka kemiskinan dan pengangguran di DKI
Jakarta, padahal tekadnya menyejahterakan warga.

Paling tidak itulah hasil polling Lembaga Survei Indonesia (LSI)
pimpinan Saiful Muzani. Dimana dalam surveinya 70% kecewa kepada
pasangan Sutiyoso-Foke atas banjir yang melanda Jakarta, 90% kecewa
karena kemiskinan meningkat, dan 80% kecewa karena pengangguran naik.

Meskipun dalam dialog di Metro TV, Foke berapologi banjir yang melanda
semata-mata karena fenomena alam. Dia tak menjelaskan kenapa kemiskinan
dan pengangguran bertambah di Jakarta.

Sementara Adang Daradjatun tidak terlalu dikenal prestasinya saat
menjabat Wakapolri, ia berpendapat sebagian besarnya bertugas dibidang
intelijen Polri sehingga memang tak terlalu dikenal.

Namun ada yang bertanya, mengapa PKS mencalonkan mantan Wakapolri itu,
sementara sudah menjadi pengetahuan umum mulai dari polisi jalanan
hingga jenderal polisi sulit mencari orang yang bersih. Berbagai
predikat buruk tentang polisi, tiba-tiba saja harus berbaur dengan citra
PKS yang bersih?

PKS sempat memberi penjelasan memang tidak ada orang yang suci, no body
perfect. Dengan merekrut Adang dari kepolisian diharapkan ke depan,
itupun kalau terpilih, paling tidak bisa melakukan reformasi kepolisian
dari dalam. Sebuah spekulasi yang memang harus diuji.

Sementara Prijanto yang merupakan pasangan Foke diketahui sebagai
militer aktif, namun prestasinya pun tak terlalu menonjol. Sedangkan
Dani Anwar adalah mantan ketua fraksi PKS di DPRD, paling tidak
perjuangan sekolah gratis yang diusungnya berhasil menjadi kenyataan,
walaupun pelaksananya Sutiyoso dan Foke.

Kekhawatiran sebagaian warga Jakarta bahwa jika kader PKS menang maka
perjudian dan bisnis hiburan akan diberangus, karena akan diterapkan
syariat Islam. Tuduhan itu dijawab oleh Dani, bahwa di 77 kabupaten,
pemkot dan pemprov dimana kader PKS memenangkan pilkada, tak satupun
yang otomatis diterapkan syariat Islam. Syariat Islam dengan sendirinya
akan terlaksana jika akidah warga dibenahi, dan proses pembenahan akidah
memerlukan waktu.

Lepas dari plus minus sang kandidat, berikut plus dan minus pelaksanaan
pilkada DKI Jakarta oleh KPUD, tanggal 8 Agustus warga harus tetap
memilih. Termasuk memilih golput merupakan satu pilihan, kendati
maknanya hampa sama sekali. Siapakah Gubernur DKI Jakarta ke depan,
jawabnya ada pada nurani Anda!!!


-----------------------------------------------------------------
Milis Info dan Diskusi Warga RW 14, Kelurahan Sukahati, Cibinong.
Official Website: http://www.rw14.web.id atau http://www.rw14.org

Arsip Milis RW 14: http://www.mail-archive.com/[email protected]/

Kirim email ke