M.K. Roziqin wrote: > Ada file ttg program riil masing2 calon ngak Pak. Mungkin kita bisa > lihat kira2 yg lebih mantap yang mana? Sekalipun tidak ikut memilih, > memperhatikan pilkada Jakarta tetap saja menarik karena biasanya Jakarta > menjadi barometer politik nasional.
Iya, sepertinya hanya saya yang masih milih di pilkada jakarta, Apakah ada lagi? :) Untuk program bisa baca di: http://www.adang-dani.com/ http://www.bangfauzi.com/ Ini saya cuplik, profilnya saja: --------------- Riwayat Hidup : FAUZI BOWO (Calon Gubernur DKI Jakarta 2007-2012) Ia pemimpin yang bijak dan bersahaja. Saat ini Ia menjabat Wakil Gubernur Propinsi DKI Jakarta. Putra daerah asli Betawi ini dijagokan beberapa kalangan baik dari partai politik yang tergabung dalam Koalisi Jakarta, organisasi masyarakat (ormas), serta antar etnis, lintas agama dan kelompok kelompok termasuk Badan Musyawarah (Bamus) Betawi. Doktor Ingenieur dari Fachbereich Architektur/Raum Und Umweltplanung-Baungenieurwesen Universitat Kaiserlautern Republik Federasi Jerman, 2000, ini seorang pekerja keras dan berdisiplin. Banyak bekerja sedikit bicara. Ketika Ia menjabat sebagai Sekwilda hingga Wakil Gubernur DKI Jakarta saat ini, Bang Fauzi sapaan akrab Fauzi Bowo, tidak banyak bicara. Ia sangat bersahaja dalam menempatkan diri sesuai dengan posisinya. Pria kelahiran Jakarta , 10 April 1948 ini, lebih memilih berkarya daripada banyak bicara. Lahir dan dibesarkan di ibukota Jakarta dari keluarga Betawi yang berpendidikan. Sempat masuk Fakultas Teknik Universitas Indonesia 1966/1967, sebelum kemudian melanjutkannya di Technische Universitat Brunschweig, Jerman. Dari universitas ini Ia meraih gelar Sarjana Arsitektur, bidang Perencanaan Kota dan Wilayah. Beberapa tahun kemudian, Ia melanjutkan pendidikan arsitekturnya pada Universitat Kaiserlautern, Jerman, dan memperoleh gelar Doktor Ingenieur (Ing) dengan predikat Cum Laude, dengan tesis tentang pola tata ruang kota Jakarta. Suami dari Hj. Sri Hartati dan ayah dari tiga orang anak, kemudian mendalami pendidikan pemerintahan dan kepemimpinan dengan mengikuti Sespanas (1989) dan Lemhanas (2000). Ia memiliki hobi membaca dan fotografi. Sejak mahasiswa Ia juga sudah aktif dalam berbagai organisasi. Ketika di UI Ia salah seorang aktivis KAMI Fakultas Teknik UI (1966/1967). Saat kuliah di Jerman , Ia juga aktif dalam organisasi Persatuan Pelajar Indonesia di Jerman Barat. Selain organisasi kemahasiswaan, Ia juga aktif sebagai anggota Dewan Pertimbangan Pemuda KNPI Pusat 1982-1984. Ia juga aktif di Kosgoro dan Golkar. Bahkan Ia sempat menjabat bendahara DPD Golkar DKI selama 10 tahun (1983-1993). Nama : Dr. Ing H Fauzi Bowo Temat/Tgl lahir : Jakarta, 10 April 1948 Agama : Islam Isteri : Hj. Sri Hartati Anak : Tiga (3 putri) Jabatan : Wakil Gubernur DKI Jakarta Pendidikan - 1996-1997 : Teknik Arsitektur Fakultas Teknik UI - 1968-1976 : Sarjana Teknik Arsitektur Perencanaan Kota dan Wilayah dari Technische Universitat Braunschweig, Republik Federasi Jerman - 1987 : Sepadya - 1989 : Sespanas - 2000 : Doktor Ingenieur dari Fachbereich Architektur / Raumund Umweltplanung - Baungenieurwesen Universitat Kaiserlautern Republik Federasi Jerman, - 2000 : Lemhannas KSA VIII Karir - 1976 : Asisten Ahli Tech. Univ. Braunschweig - 1977 - 1984 : Dosen UI - 1979 - 1982 : Pelaksana tugas Kepala Biro Kepala Daerah DKI - 1982 - 1986 : Pejabat sementara (Pjs) Kabiro Kepala Daerah DKI - 1986 - 1988 : Pejabat Kabiro Kepala Daerah DKI - 1993 - 1998 : Kepala Dinas Pariwisata DKI - 1998 - 2002 : Sekretaris Wilayah Daerah (Sekwilda) DKI Jakarta - 2002 - 2007 : Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengalaman Organisasi - 1996 - 1997 : Aktivis KAMI Fakultas Teknik Universitas Indonesia - 1966 - 1967 : Aktivis Persatuan Pelajar Indonesia di Jerman Barat - 1982 - 1984 : Anggota Dewan Pertimbangan Pemuda KNPI Pusat Jabatan Informal 1. Ketua DPW Nahdlatul Ulama (NU) DKI 2. Ketua Badan Narkotika Provinsi (BNP) DKI 3. Ketua PGJI (Persatuan Gerak Jalan Indonesia ) 4. Ketua KPAD (Komite Penanggulangan AIDS Daerah) DKI 5. Ketua Badan Musyawarah Masyarakat Betawi (Bamus Betawi) 6. Ketua KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia ) DKI 7. Ketua Perhimpunan Masyarakat Melayu Baru Indonesia (Mabin) 8. Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) DKI 9. Ketua Masyarakat Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI) Riwayat Hidup : PRIJANTO (Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta 2007-2012) Dibalik kebersahajaan seorang Prijanto, purnawirawan TNI ini juga merupakan sosok yang sangat religius dalam kehidupannya sehari-hari. Pria kelahiran Ngawi Jawa Timur, 26 Mei 1961 ini sejak kecil hingga kini masih rajin melakukan ritual puasa sunnah Senin-Kamis serta rutin melaksanakan ibadah sholat malam (tahadjud). Prijanto merupakan anak ketujuh dari sembilan bersaudara lahir dari pasangan Sumantri Wignjowijandjono dan Sumirah. Sang ayah merupakan seorang guru agama Islam di Ngawi serta merupakan pegawai kantor Pendidikan Agama di Karesidenan Madiun. Prijanto kecil dikenal sebagai anak yang pandai bergaul dan memiliki banyak teman, namun untuk menjaga dari hal-hal negatif orangtuanya terus membekali Prijanto dengan ilmu agama. Sebagai seorang guru agama, ayahanda Prijanto bahkan turun langsung menggembleng anak-anaknya dengan selalu menggelar pengajian di rumah. "Kadang-kadang pengajiannya dilakukan dirumah, kadang di rumah tetangga. Yah, hitung-hitung sambil membangun silaturahmi dengan lingkungan," ujar Prijanto. Dalam pengajian itu, Prijanto kecil juga mengajak serta teman-teman bermainnya untuk bersama-sama menimba ilmu agama dari sang guru yang notabene adalah ayahnya sendiri. "Sejak kecil ayah saya selalu menanamkan bahwa dalam hidup ini bekal paling penting adalah agama. Ini mutlak dan perlu. Tidak bisa ditawar-tawar," jelas pria yang pensiun dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal TNI itu. Hingga saat ini, lanjut Prijanto, dirinya tetap berusaha istiqomah dan tetap berusaha konsisten mengikuti aturan agama. "Ketika ada godaan untuk sedikit menyimpang, saya ingat Firman Allah dalam surat Yasin ayat 12. Dalam surat itu kita diingatkan bahwa setelah kita dimatikan Allah SWT, maka nanti kita akan dihidupkan dan diminta pertanggungjawabannya atas perilaku ketika kita masih di dunia. Disana kita tidak akan mungkin menutup-nutupi segala sesuatu karena Allah pasti melihat dan mencatat segala perilaku kita semasa hidup. Inilah yang saya tanamkan juga kepada anak-anak serta prajurit saya di lapangan," terang Prijanto. Beberapa teman satu SMA menuturkan, sosok Prijanto merupakan pribadi yang sederhana, namun juga sangat dermawan. "Pandai bergaul dan tidak pilih-pilih teman. Dia bergaul dengan semua kalangan," ujar Dr Ir Kardono, sahabat dekat Prijanto semasa di bangku SMA Negeri I Ngawi, Jawa Timur. Dikisahkannya, Prijanto di mata para sahabat adalah sosok yang sempurna. "Dia agamis, bisa bergaul pintar, jujur dan polos. Kita dulu lima sekawan seringkali jalan-jalan. Tapi dulu kalau kita jalan-jalan selalu naik sepeda, bahkan dari Ngawi sampai ke Surabaya kita pernah tempuh bareng," kenang Kardono yang kini bekerja di Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Soal nilai pelajaran di sekolah, Prijanto cukup pintar dan berprestasi walaupun bukan menjadi peringkat pertama. Prijanto muda, menurut sahabat karibnya itu, dikenal sangat menguasai mata pelajaran ilmu ukur. ruang. "Menjelang kelulusan, Prijanto sempat bercerita dirinya ingin masuk sekolah militer, namun orangtuanya berharap agar dirinya tidak jadi tentara. Karena itu ia masuk kampus IKIP," cerita Kardono. Walau demikian, Prijanto diam-diam tetap berusaha untuk bisa kuliah di Akademi Militer. Menurutnya, menjadi seorang prajurit merupakan sebuah kebanggaan setiap anak muda saat itu. "Apalagi saya lihat kakak-kakak saya banyak yang jadi tentara, ada di Angkatan Darat dan Angkatan Laut," beber mantan Asisten Teritorial Mabes TNI Angkatan Darat itu. Namun demi menghormati harapan sang ayah yang ingin tidak semua anaknya 'lari' ke militer, maka selepas SMA, Prijanto melanjutkan kuliah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang Fakultas Keguruan Eksakta pada tahun 1970. Belum tuntas menyelesaikan pendidikan di kampus calon guru itu, angan-angan Prijanto untuk menjadi seorang tentara justru makin menggebu. Akhirnya tahun 1972 Prijanto pindah ke AKABRI dan selesai pada tahun 1975. Biasa hidup bebas dalam lingkungan perkuliahan di IKIP, pertama kali menjalani pendidikan kemiliteran Prijanto mengaku kaget. Ketatnya aturan dan disiplin yang tinggi menjadi alasan kekagetannya. "Untung sejak kecil orangtua telah menanamkan kedisiplinan sehingga saya cepat bisa beradaptasi," imbuh suami Widyastuti itu. Nama : Prijanto Pangkat : Mayjen TNI Temat/Tgl lahir : Ngawi, 26-05-1951 Lulus ABRI : 01-12-1975 Suku : Jawa Agama : Islam Gol. Darah : A Jabatan : ASTER KASAD Kesatuan : MABES TNI AD Pendidikan: 1. SD : 1963 2. SMP : 1966 3. SMA : 969 Pendidikan Militer 1. SUSSARGAB : 1976 2. SUSSARPUR : 1985 3. SESKOAD : 1990 4. SESKO ABRI : 1997 5. LEMHANAS : 2006 Pendidikan khusus 1. SUS PA TURBAK ARHANUD : 1980 2. SUSJURPAL.70 : 1981 Tanda Jasa 1. SL. Kesetiaan VIII 2. SL. Kesetiaan XVI 3. SL. Kesetiaan XXII 4. BY. Kepnarya 5. BY. Yudha Dharma Nararya 6. SL. Dwijasista Penugasan Operasi Ops. Seroja Tim-Tim : 1978 Penugasan Luar Negeri 1. KKLN : 1978 China 2. KKLN : 2006 Jerman Kepangkatan 1. Letda : 1975 2. Lettu : 1978 3. Kapten : 1981 4. Mayor : 1988 5. Letkol : 1991 6. Kolonel : 1998 7. Brigjen : 2003 8. Mayjen : 2006 Jabatan 1. DANTON : 1976 2. DANRAI : 1979 3. KASI-2/ops YONARHANUDRI : 1983 4. GUMIL AKMIL : 1987 5. WADANYON DEMON AKMIL : 1989 6. PS. Kabagbinsat ARH PUSENART : 1990 7. Kabagbinsat ARH PUSSENART : 1991 8. DANYON ARHANUDSE-6 DAM JAYA : 1992 9. PADYALAT SOPSDAM JAYA : 1993 10. KASPRI PANGDAM JAYA : 1995 11. KASMEN ARHANUDSEDAM JAYA : 1995 12. PAMEN DAM JAYA : 1997 13. DANMEN DAM JAYA : 1997 14. KOORSPRI : 1998 15. DANREM JAYAKARYA DAM JAYA : 1999 16. PAMEN AHLI KASAD BID SOSBUD : 2000 17. DANDENMA MABESAD : 2002 18. KASGARTAP JAKARTA : 2003 19. KASDAM JAYA : 2005 20. ASTER KASAD : 2006 Keluarga Status Kawin : Kawin Jumlah Anak : 2 orang Istri : Widyastuti Endang S Anak : 1. Whisnu Putro 2. Putri ------------- Bang Adang, Polisi Reformis Biografi Bang Adang Drs. Adang Daradjatun, profil ini pernah dikenal masyarakat luas, sebagai Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (16 Juli 2004). Sebagai mantan sosok orang nomor dua di jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia, akan cukup menarik menyimak bagaimana perjalanan karir yang ia lalui sampai kemudian bisa mencapai pada posisinya tersebut. Berikut adalah riwayat perjalanan karir Bang Adang yang kini merentas jalan menjadi Calon Gubernur DKI Jakarta. Cita-cita awal yang akhirnya tercapai Pangkatnya adalah Komisaris Jenderal Polisi, jabatan terakhir yang beliau emban adalah Wakapolri. Drs. H. Adang Daradjatun, yang dilahirkan di Bogor 13 Mei 1949 ini sudah akrab dengan dunia hukum sejak dini. Karena Ayah beliau adalah seorang yang juga berkecimpung di dalam dunia hukum, yaitu sebagai Jaksa. Meski semula, cerita Drs. Adang, Ayahnya menginginkan dirinya untuk menjadi dokter, insinyur dan cita-cita kebanyakan orang tua jaman dulu pada umumnya. Namun, Adang tetap bersikukuh pada keyakinannya, kalau ia ingin jadi polisi yang baik dan benar. Alhasil, Ayahnya pun tidak memaksa lagi, setamat SMA di Bandung, rencana sang Ayah yang semula meminta Adang untuk masuk ITB atau UNPAD, urung, karena Adang masuk ke Akademi Kepolisian. Ini terjadi tahun 1968 sampai tiga tahun kemudian Adang berhasil menyelesaikan pendidikan AKABRI dan tahun 1971 pangkat Letda Polisi pun disandangnya. Sebelumnya, Adang menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Pertama di Jakarta. Ia sempat masuk ke SMA 1 Budi Utomo Jakarta, namun tidak selesai karena penugasan sang Ayah ke Bandung, kemudian Adang menyelesaikan pendidikannya di SMA 3 Bandung. Perjalanan karir Tahun 1971, jabatan yang pertama kali ada di pundaknya adalah sebagai Inspektur Dinas Komando Sektor Kota 711 Jakarta Pusat. Setahun berselang, Drs. Adang diberi tanggung jawab untuk menjabat sebagai KASI Pengawasan Keselamatan Negara (PKN) Komando Sektor Kota 711 Jakpus. Dari Jakarta Pusat, berpindah ke Jakarta Utara, yaitu pada tahun 1975, Drs. Adang kembali diberi kepercayaan dan amanah untuk menjabat sebagai Kasi Sabhara Komando Sektor Kota 722 Jakarta Utara. Tahun 1976, adalah untuk pertama kalinya, Adang berada di balik Menhankam Pangab, jabatannya adalah sebagai Ajudan. Selepas tugas sebagai ajudan terselesaikan dengan baik, pada tahun 1980, pangkat di pundak Adang sudah bertambah lagi, kini namanya dilengkapi gelar atau pangkat Kapten Polisi. Drs. Adang ditugaskan untuk menjadi Kapolsek Kebayoran Lama Jakarta Selatan. Kemudian Adang bertutur-turut menjadi: * KASUBBAG ANEV SRENA POLDA METRO JAYA TAHUN 1983. * KAROOPS POLRES JAKSEL POLDA METRO JAYA TAHUN 1983. * WAKAPOLRES JAKSEL POLDA METRO JAYA TAHUN 1984. * KABAG SOSBUD DIT INTELIJEN DAN PENGAMANAN POLDA METRO JAYA TAHUN 1986. * KABAG SOSPOL DIT INTELIJEN DAN PENGAMANAN POLRI TAHUN 1987. * KABAG PENGAWASAN SENJATA API DAN BAHAN PELEDAK DIT INTELPAM POLRI TAHUN 1989. * KADIT INTELIJEN DAN PENGAMAN POLDA MALUKU TAHUN 1990. * WAKASUBDIT PENGAWASAN SENJATA API DAN BAHAN PELEDAK DIT INTELPAM POLRI TAHUN 1992. * INSTRUKTUR UTAMA / GADIK PERGURUAN TINGGI ILMU KEPOLISIAN TAHUN 1993. * PERWIRA PEMBANTU III / PERENCANAAN PROGRAM DAN ANGGARAN SRENA POLRI TAHUN 1994. Boleh dikatakan sejak permulaan tahun 1997 adalah catatan sejarah yang membingkai tubuh Polri, di tahun inilah Polri resmi memisahkan diri dari TNI. Saat itu, tahun 1997, Adang sudah menjadi Brigadir Jenderal Polisi. Dan tugas serta tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya tidak mudah, karena dirinya diberi amanah untuk menjadi Wakil Asisten Perencanaan dan Anggaran Kapolri, tepatnya tanggal 1 April 1997 dan tiga bulan kemudian menjadi Asisten Perencanaan dan Anggaran Kapolri, tepatnya 5 Juli 1997. Kemandirian POLRI dengan memisahkan diri dari TNI mendapatkan reaksi yang sangat positif dari masyarakat. Masyarakat menganggap, selama ini POLRI ada di bawah bayang-bayang TNI. Namun pada perjalannya kemudian tahun 2002, saat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 disahkan, kemandirian POLRI dan kesejahteraan institusi sangat terlihat jelas perbedaannya. Drs. Adang menguraikan, misalnya saja untuk anggaran yang dikucurkan dari Pemerintah melalui APBN teralokasikan untuk menunjang operasional Polri. "Mobil-mobil patroli tidak tampil jelek lagi, bukan?" cetus Jenderal Adang, pria dengan logat Sunda kental ini ketika menuturkan. Jenderal yang berpembawaan ramah dan bersahaja ini menegaskan, bahwa visi dan misi Polri sebagai pengayom dan pelindung masyarakat bukan sekedar slogan semata, tetapi jelas pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari oleh anggota polisi itu sendiri dan masyarakat. Contohnya cerita Adang, dulu, ketika ia masih menjabat Kapten Polisi dan menjadi Kapolsek di Kebayoran Lama, kedekatannya dengan masyarakat cukup terpelihara dan intens berinteraksi. Ia tidak memposisikan dirinya terlalu tinggi dan enggan menyapa masyarakat sekitar wilayah yang dikepalainya. Bukan sekali dua kali, H. Adang, begitu ia biasa dipanggil oleh masyarakat yang dulu mengenalnya dengan dekat, terutama warga Kebayoran Baru Jaksel - duduk bareng dan ngopi bersama warga, menyapa bapak pedagang dan ibu-ibu di pasar. Semua keakraban itu menjadi kenangan dan kesan tersendiri bagi Adang, bahwa Polisi seharusnya memang menjadi sosok yang disegani, bukan ditakuti. Lantas, mengapa tertarik menjadi polisi? Pertanyaan yang umum diajukan seperti itu, pasti beliau jawab dengan tegas, "Karena saya pribadi yang konsisten terhadap ucapan, konsekuen terhadap langkah, disiplin," jawaban demikian ia berikan, jelas berkorelasi dengan karakter polisi yang menuntut untuk konsisten, disiplin dan konsekuen. Diajak berbicara tentang visi dan misi, penerima penghargaan - Satya Lencana Kesetiaan 24 Tahun, Satya Lencana Dwidya Sistha, Satya Lencana Karya Bhakti, Satya Lencana Ksatria Tamtama dan Satya Lencana Jana Utama - ini bertutur, ia berkiblat pada visi dan misi Polri yang dituangkan dalam buku Reformasi POLRI. Ada tiga point atau tiga hal penting yang menjadi titik tolak perubahan di tubuh POLRI yaitu Instrumental, Struktural dan Kultur. Tiga pilar ini harus ditegakkan demi terwujudnya misi POLRI untuk melakukan reformasi, perubahan menuju masa depan POLRI yang lebih baik. Tiga pilar ini dirumuskan setelah POLRI melakukan jajak pendapat, tukar informasi, menampung aspirasi dari publik melalui DPR, LSM dan mahasiswa, kemudian dilakukan analisa mendalam dan diformulasikan ke dalam buku Reformasi POLRI. Berbicara mengenai perubahan Instrumen, TAP MPR Nomor VI/MPR/2000 adalah jawabannya, di dalam TAP itu dijelaskan tentang peran dan kedudukan POLRI, kemudian menyusul Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 yang dasarnya adalah kemadirian POLRI dan upaya POLRI untuk membangun citra diri sebagai penjaga keamanan dan ketertiban di masyarakat dan pengayom rakyat. Sedangkan perubahan mengenai Struktural, yang dimaksud disini adalah POLRI diberikan struktur kewenangan yang begitu luas, dimana dalam hal ini seluruh kinerja POLRI dipertanggungjawabkan oleh Kapolri langsung kepada Presiden. Yang paling penting adalah pilar ke tiga, yaitu tentang perubahan pada kultur POLRI. Menurut Adang, inilah yang terbilang agak sulit. Karena perubahan kultur adalah menghapuskan paradigma dan pola berpikir lama yang sekian lama diyakini oleh para anggota POLRI yang lebih memperlihatkan pada sikap "berkuasa" dan "arogan". Paradigma atau cara pandang POLRI yang baru diharapkan dapat menjadi modal untuk masa depan POLRI yang lebih menempatkan anggota POLRI sebagai mitra-nya rakyat. Kesan angkuh dan tidak tersentuh hukum sebetulnya tidak benar sama sekali. Karena polisi, menurut Adang juga manusia biasa yang tidak luput dari khilaf. Seyogyanya untuk hal ini peran masyarakat juga diperlukan. Jika ingin menghindari adanya oknum polisi yang melakukan korupsi, kolusi dan menerima suap dalam kehidupan sehari-hari, jangan serta merta menyalahkan polisi, karena masyarakat juga lah yang terkadang membuka jalan dan memberikan peluang bagi para oknum untuk berbuat curang. Bukan pola berpikir atau aturannya yang tidak ketat dan tidak mengikat, tapi yang melenceng adalah segelintir oknum yang menyelewengkan otoritas. Sesungguhnya, masih banyak anggota POLRI yang benar-benar menjadi sahabat masyarakat dan berada di jalur yang benar. Mengatasi tindakan yang tidak terpuji oleh oknum POLRI di lapangan, Drs. Adang menjelaskan, ada upaya perbaikan citra diri di tubuh POLRI yang telah dan akan terus dilakukan dengan melakukan upaya pengawasan yang terus menerus dan menerapkan sanksi terhadap pelanggaran hukum disiplin, kode etik dan hukum pidana. Adang memberi contoh, jika seorang anggota polisi diharuskan hadir untuk apel jam 8 pagi, kemudian ia datang terlambat, maka diberlakukan hukum disiplin, selanjutnya jika masyarakat yang merasa diperlakukan sewenang-wenang oleh polisi, katakanlah ketika menjalani pemeriksaan atas kejahatan yang dituduhkan tetapi masih berstatus tersangka, tetapi sudah dicaci maki, atau diperlakukan kasar dan tidak menyenangkan, maka oknum polisi tersebut sudah terkena pelanggaran kode etik. Yang terakhir adalah pidana, yaitu tindakan kepada anggota polisi yang diduga menerima praktik suap, penyalahgunaan senjata api dan sebagainya. -------- Bang Adang, Polisi Reformis Biografi Bang Adang Drs. Adang Daradjatun, profil ini pernah dikenal masyarakat luas, sebagai Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (16 Juli 2004). Sebagai mantan sosok orang nomor dua di jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia, akan cukup menarik menyimak bagaimana perjalanan karir yang ia lalui sampai kemudian bisa mencapai pada posisinya tersebut. Berikut adalah riwayat perjalanan karir Bang Adang yang kini merentas jalan menjadi Calon Gubernur DKI Jakarta. Cita-cita awal yang akhirnya tercapai Pangkatnya adalah Komisaris Jenderal Polisi, jabatan terakhir yang beliau emban adalah Wakapolri. Drs. H. Adang Daradjatun, yang dilahirkan di Bogor 13 Mei 1949 ini sudah akrab dengan dunia hukum sejak dini. Karena Ayah beliau adalah seorang yang juga berkecimpung di dalam dunia hukum, yaitu sebagai Jaksa. Meski semula, cerita Drs. Adang, Ayahnya menginginkan dirinya untuk menjadi dokter, insinyur dan cita-cita kebanyakan orang tua jaman dulu pada umumnya. Namun, Adang tetap bersikukuh pada keyakinannya, kalau ia ingin jadi polisi yang baik dan benar. Alhasil, Ayahnya pun tidak memaksa lagi, setamat SMA di Bandung, rencana sang Ayah yang semula meminta Adang untuk masuk ITB atau UNPAD, urung, karena Adang masuk ke Akademi Kepolisian. Ini terjadi tahun 1968 sampai tiga tahun kemudian Adang berhasil menyelesaikan pendidikan AKABRI dan tahun 1971 pangkat Letda Polisi pun disandangnya. Sebelumnya, Adang menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Pertama di Jakarta. Ia sempat masuk ke SMA 1 Budi Utomo Jakarta, namun tidak selesai karena penugasan sang Ayah ke Bandung, kemudian Adang menyelesaikan pendidikannya di SMA 3 Bandung. Perjalanan karir Tahun 1971, jabatan yang pertama kali ada di pundaknya adalah sebagai Inspektur Dinas Komando Sektor Kota 711 Jakarta Pusat. Setahun berselang, Drs. Adang diberi tanggung jawab untuk menjabat sebagai KASI Pengawasan Keselamatan Negara (PKN) Komando Sektor Kota 711 Jakpus. Dari Jakarta Pusat, berpindah ke Jakarta Utara, yaitu pada tahun 1975, Drs. Adang kembali diberi kepercayaan dan amanah untuk menjabat sebagai Kasi Sabhara Komando Sektor Kota 722 Jakarta Utara. Tahun 1976, adalah untuk pertama kalinya, Adang berada di balik Menhankam Pangab, jabatannya adalah sebagai Ajudan. Selepas tugas sebagai ajudan terselesaikan dengan baik, pada tahun 1980, pangkat di pundak Adang sudah bertambah lagi, kini namanya dilengkapi gelar atau pangkat Kapten Polisi. Drs. Adang ditugaskan untuk menjadi Kapolsek Kebayoran Lama Jakarta Selatan. Kemudian Adang bertutur-turut menjadi: * KASUBBAG ANEV SRENA POLDA METRO JAYA TAHUN 1983. * KAROOPS POLRES JAKSEL POLDA METRO JAYA TAHUN 1983. * WAKAPOLRES JAKSEL POLDA METRO JAYA TAHUN 1984. * KABAG SOSBUD DIT INTELIJEN DAN PENGAMANAN POLDA METRO JAYA TAHUN 1986. * KABAG SOSPOL DIT INTELIJEN DAN PENGAMANAN POLRI TAHUN 1987. * KABAG PENGAWASAN SENJATA API DAN BAHAN PELEDAK DIT INTELPAM POLRI TAHUN 1989. * KADIT INTELIJEN DAN PENGAMAN POLDA MALUKU TAHUN 1990. * WAKASUBDIT PENGAWASAN SENJATA API DAN BAHAN PELEDAK DIT INTELPAM POLRI TAHUN 1992. * INSTRUKTUR UTAMA / GADIK PERGURUAN TINGGI ILMU KEPOLISIAN TAHUN 1993. * PERWIRA PEMBANTU III / PERENCANAAN PROGRAM DAN ANGGARAN SRENA POLRI TAHUN 1994. Boleh dikatakan sejak permulaan tahun 1997 adalah catatan sejarah yang membingkai tubuh Polri, di tahun inilah Polri resmi memisahkan diri dari TNI. Saat itu, tahun 1997, Adang sudah menjadi Brigadir Jenderal Polisi. Dan tugas serta tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya tidak mudah, karena dirinya diberi amanah untuk menjadi Wakil Asisten Perencanaan dan Anggaran Kapolri, tepatnya tanggal 1 April 1997 dan tiga bulan kemudian menjadi Asisten Perencanaan dan Anggaran Kapolri, tepatnya 5 Juli 1997. Kemandirian POLRI dengan memisahkan diri dari TNI mendapatkan reaksi yang sangat positif dari masyarakat. Masyarakat menganggap, selama ini POLRI ada di bawah bayang-bayang TNI. Namun pada perjalannya kemudian tahun 2002, saat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 disahkan, kemandirian POLRI dan kesejahteraan institusi sangat terlihat jelas perbedaannya. Drs. Adang menguraikan, misalnya saja untuk anggaran yang dikucurkan dari Pemerintah melalui APBN teralokasikan untuk menunjang operasional Polri. "Mobil-mobil patroli tidak tampil jelek lagi, bukan?" cetus Jenderal Adang, pria dengan logat Sunda kental ini ketika menuturkan. Jenderal yang berpembawaan ramah dan bersahaja ini menegaskan, bahwa visi dan misi Polri sebagai pengayom dan pelindung masyarakat bukan sekedar slogan semata, tetapi jelas pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari oleh anggota polisi itu sendiri dan masyarakat. Contohnya cerita Adang, dulu, ketika ia masih menjabat Kapten Polisi dan menjadi Kapolsek di Kebayoran Lama, kedekatannya dengan masyarakat cukup terpelihara dan intens berinteraksi. Ia tidak memposisikan dirinya terlalu tinggi dan enggan menyapa masyarakat sekitar wilayah yang dikepalainya. Bukan sekali dua kali, H. Adang, begitu ia biasa dipanggil oleh masyarakat yang dulu mengenalnya dengan dekat, terutama warga Kebayoran Baru Jaksel - duduk bareng dan ngopi bersama warga, menyapa bapak pedagang dan ibu-ibu di pasar. Semua keakraban itu menjadi kenangan dan kesan tersendiri bagi Adang, bahwa Polisi seharusnya memang menjadi sosok yang disegani, bukan ditakuti. Lantas, mengapa tertarik menjadi polisi? Pertanyaan yang umum diajukan seperti itu, pasti beliau jawab dengan tegas, "Karena saya pribadi yang konsisten terhadap ucapan, konsekuen terhadap langkah, disiplin," jawaban demikian ia berikan, jelas berkorelasi dengan karakter polisi yang menuntut untuk konsisten, disiplin dan konsekuen. Diajak berbicara tentang visi dan misi, penerima penghargaan - Satya Lencana Kesetiaan 24 Tahun, Satya Lencana Dwidya Sistha, Satya Lencana Karya Bhakti, Satya Lencana Ksatria Tamtama dan Satya Lencana Jana Utama - ini bertutur, ia berkiblat pada visi dan misi Polri yang dituangkan dalam buku Reformasi POLRI. Ada tiga point atau tiga hal penting yang menjadi titik tolak perubahan di tubuh POLRI yaitu Instrumental, Struktural dan Kultur. Tiga pilar ini harus ditegakkan demi terwujudnya misi POLRI untuk melakukan reformasi, perubahan menuju masa depan POLRI yang lebih baik. Tiga pilar ini dirumuskan setelah POLRI melakukan jajak pendapat, tukar informasi, menampung aspirasi dari publik melalui DPR, LSM dan mahasiswa, kemudian dilakukan analisa mendalam dan diformulasikan ke dalam buku Reformasi POLRI. Berbicara mengenai perubahan Instrumen, TAP MPR Nomor VI/MPR/2000 adalah jawabannya, di dalam TAP itu dijelaskan tentang peran dan kedudukan POLRI, kemudian menyusul Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 yang dasarnya adalah kemadirian POLRI dan upaya POLRI untuk membangun citra diri sebagai penjaga keamanan dan ketertiban di masyarakat dan pengayom rakyat. Sedangkan perubahan mengenai Struktural, yang dimaksud disini adalah POLRI diberikan struktur kewenangan yang begitu luas, dimana dalam hal ini seluruh kinerja POLRI dipertanggungjawabkan oleh Kapolri langsung kepada Presiden. Yang paling penting adalah pilar ke tiga, yaitu tentang perubahan pada kultur POLRI. Menurut Adang, inilah yang terbilang agak sulit. Karena perubahan kultur adalah menghapuskan paradigma dan pola berpikir lama yang sekian lama diyakini oleh para anggota POLRI yang lebih memperlihatkan pada sikap "berkuasa" dan "arogan". Paradigma atau cara pandang POLRI yang baru diharapkan dapat menjadi modal untuk masa depan POLRI yang lebih menempatkan anggota POLRI sebagai mitra-nya rakyat. Kesan angkuh dan tidak tersentuh hukum sebetulnya tidak benar sama sekali. Karena polisi, menurut Adang juga manusia biasa yang tidak luput dari khilaf. Seyogyanya untuk hal ini peran masyarakat juga diperlukan. Jika ingin menghindari adanya oknum polisi yang melakukan korupsi, kolusi dan menerima suap dalam kehidupan sehari-hari, jangan serta merta menyalahkan polisi, karena masyarakat juga lah yang terkadang membuka jalan dan memberikan peluang bagi para oknum untuk berbuat curang. Bukan pola berpikir atau aturannya yang tidak ketat dan tidak mengikat, tapi yang melenceng adalah segelintir oknum yang menyelewengkan otoritas. Sesungguhnya, masih banyak anggota POLRI yang benar-benar menjadi sahabat masyarakat dan berada di jalur yang benar. Mengatasi tindakan yang tidak terpuji oleh oknum POLRI di lapangan, Drs. Adang menjelaskan, ada upaya perbaikan citra diri di tubuh POLRI yang telah dan akan terus dilakukan dengan melakukan upaya pengawasan yang terus menerus dan menerapkan sanksi terhadap pelanggaran hukum disiplin, kode etik dan hukum pidana. Adang memberi contoh, jika seorang anggota polisi diharuskan hadir untuk apel jam 8 pagi, kemudian ia datang terlambat, maka diberlakukan hukum disiplin, selanjutnya jika masyarakat yang merasa diperlakukan sewenang-wenang oleh polisi, katakanlah ketika menjalani pemeriksaan atas kejahatan yang dituduhkan tetapi masih berstatus tersangka, tetapi sudah dicaci maki, atau diperlakukan kasar dan tidak menyenangkan, maka oknum polisi tersebut sudah terkena pelanggaran kode etik. Yang terakhir adalah pidana, yaitu tindakan kepada anggota polisi yang diduga menerima praktik suap, penyalahgunaan senjata api dan sebagainya. ------- Biografi Bang Dani H. Dani Anwar lahir di Jakarta adalah anak dari pasangan Muhammad Aspali Bin Abduraman (alm) dari Gang Kiapang dan Bani Binti H. Daud Bin Busama dari Kebon Pala Tanah Abang. Kakek Dani, (alm) Haji Daud, biasa dipanggil Kong Daud, dikenal masyarakat Kebon Pala sebagai seorang pengajar agama dan Imam Rawatib di Masjid. Di rumah Kong Daud itulah ibunda Dani membuka usaha kelontong sehari-hari untuk mencukupi keperluan anak tercintanya. Karena semenjak kecil, Dani telah ditinggal oleh sang ayahanda. Rumah Kong Daud tidak hanya sangat berkesan bagi Dani, tetapi juga bagi banyak pemuda dan aktifis. Selain tempat bertemunya aktifis Pelajar Islam Indonesia (PII), tabloid Salam, pimpinan Bang Zaenal Muttaqien yang pernah menjadikan rumah tersebut sebagai pusat sirkulasinya, juga menjadi pertemuan politik, tempat diskusi, Taman Pendidikan Al-Qura-aan dan tempat pengajian bulanan Majlis Ta'lim kaum wanita. Ibunda Dani, Hj. Bani seolah menjadi ibu kedua bagi banyak kalangan. Dani, yang biasa dipanggil Dadang oleh sahabat dan rekan-rekannya, sejak kecil telah terbiasa terlibat dalam berbagai perkumpulan dan kegiatan. Klub sepakbola Macan Betawi Club (MBC) dan pecinta alam menjadi di antara sekian banyak minatnya. Dani menamatkan pendidikan dasarnya di SD Islam Miftahudin, Kebon Kacang Raya Tanah Abang pada tahun 1981 dan SMP Negeri 35 Gambir Jakarta Pusat pada tahun 1984. Setelah itu melanjutkan ke SMA Negeri 7 Gambir Jakarta Pusat dan selesai pada tahun 1987. Dalam keaktifannya mengorganisir kegiatan rohani Islam (Rohis), Dani pernah menjadi ketua Rohis pada tahun 1987. Di masa itu bahasa Perancis dan kegiatan beladiri Taekwondo menjadi di antara hal-hal yang disukai Dani. Selesai menamatkan SMA, Dani mendaftarkan diri ke Institus Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta di Fakultas Syari'ah. Tahun 1988, Dani pindah ke jurusan Tarbiyah, Fakultas Ilmu Pendidikan di Institut yang sama. Kesibukannya juga bertambah karena pada saat yang sama, Dani sudah mulai mengajar privat dari rumah ke rumah. Dani yang beristrikan Rohimatussa'diyah ini juga mengorganisir kegiatan pada segmen remaja masjid dan pendidikan alternatif keagamaan. Awal tahun 90-an ia mendirikan Forum Komunikasi Remaja Masjid Tanah Abang (F-Koremta) dan aktif di LPPTKI-BKPRMI Jakarta Pusat, sebuah lembaga yang berjuang untuk pemberantasan buta huruf Al-Qur-aan. Ayah dari Reza Baihaqi ini juga aktif di Pemuda Muhammadiyah cabang Tanah Abang Satu Jakarta Pusat dan pernah menjadi ketua umum selama beberapa tahun. Bersama Ahmadin (juga aktifis PII) serta Igo Ilham (sekarang anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta Dapil Jakarta Selatan), Dani mendirikan Yayasan Ihsanul Amal yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan. Pada massa itu pula Dani pernah berdagang pangsit, menjual kambing dan mengajar TPA untuk membiayai rumah tangganya. Semasa era Reformasi tahun 1998, Dani dipilih sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Keadilan Jakarta Pusat pertama dan diembannya hingga tahun 2002. Tahun 2002-2006 Dani dipercaya menjadi salah seorang Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKS. Semenjak tahun 2006, Dani terpilih sebagai salah satu anggota Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) PKS DKI Jakarta. Hasil pemilu 1999 mengantarkan Dani menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi DKI Jakarta. Meskipun baru berusia 30 tahun dan merupakan anggota termuda kedua, Dani dipercaya menjadi sekretaris komisi bidang perekonomian (Komisi B) periode 1999-2004. Pada tahun 2003 Dani terpilih menjadi anggota dewan oleh forum wartawan karena kevokalannya dalam berbagai isu. Pada tahun 2004, Dani kembali dipercaya oleh PKS dan konstituen pemilih sebagai anggota DPRD daera pemilihan Jakarta Pusat. Dani ditunjuk menjadi ketua sementara DPRD sampai ketua definitif terpilih. Tangal 20 Oktober 2004, Dani terpilih sebagai ketua Komisi E yang membidangi permasalahan pendidikan kesehatan, tenaga kerja dan pelatihan, pemuda dan olah raga, kebudayaan, pemberdayaan masyarakat dan sosial-budaya serta pemakaman. -- Salam A. Yahya Sjarifuddin ----------------------------------------------------------------- Milis Info dan Diskusi Warga RW 14, Kelurahan Sukahati, Cibinong. Official Website: http://www.rw14.web.id atau http://www.rw14.org Arsip Milis RW 14: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
