dear...
pak al...kalo baca tulisan ini, saya jadi mau ke
padang neh...yang kebetulan banyak saudara saya dari
ibu yang ada di sana. kebetulan juga ibu dan adik saya
sedang berada disana sekarang.
untuk ayam pop, ada dua macam, yang di goreng dan di
rebus. tapi soal rasa sama enaknya.tergantung mana
yang anda suka. kalau pakai istilah saya, ini adalah
pecel ayam khas sumatera barat.
ohya, untuk referensi aja buat yang akan ke padang.
kalo anda jalan2 antara padang ke solok. di daerah
sitinjau laut naik keatas sedikit lagi, namanya air
sirah (air merah/darah), ada rumah makan MINTUO, itu
adalah rumah makan paman saya. tempatnya sejuk seperti
di puncak. airnya dingin lansung dari gunung, ada
mushola kecil seperti panggung dari kayu, tempatnya
sederhana...tapi soal masakannya tidak kalah dengan
yang sudah disebutkan dalam cerita dibawah ini.
wah...jadi laper neh...saya juga jadi inget sewaktu
pernah tinggal disana. soalnya saya juga pernah
kedaerah2 yang disebut itu.
yang pasti...gak akan cukup waktu seminggu untuk
keliling2 disana. karena banyak tempat yang layak
untuk di kunjungi.
thanks pak al buat wisata kulinernya ya...

warga cerdas
erwe empatbelas
hc-03

--- almasdi rahman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> KULINER DI RANAH MINANG
> 
> By : Bondan winarno
> 
> Minggu lalu, saya sempat berkunjung ke sekolah saya
> di masa kecil. Pada
> saat terakhir saya tinggalkan di tahun 1958, namanya
> masih Sekolah
> Rakyat Padang Pasir.
> Sekarang sudah berubah nama menjadi SDN 05 Padang 
> Pasir. Letaknya di
> Jalan Padang Pasir, Padang, Sumatra Barat.
> 
> Ketika itu, kami tinggal di Jalan Ir Sukarno, tepat
> berseberangan
>  dengan
> rumah Gubernur. Peristiwa PRRI dan sentimen
> anti-Sukarno membuat nama
> jalan itu  berubah menjadi Jalan Panglima Sudirman.
> Dari rumah, saya
> berjalan kaki menembus padang rumbia sekitar sepuluh
> menit, dan sudah
> tiba di sekolah itu. Sekarang sudah banyak rumah dan
> ada sebuah mesjid
> besar di lintasan itu.
> 
> Kebetulan sekali Ibu Kepala Sekolah melihat
> kedatangan saya, dan malah
> mengundang saya masuk ke dalam. Hari itu sedang
> berlangsung acara
>  wisuda
> kenaikan kelas yang meriah. Alangkah bahagianya saya
> berada di
> tengah-tengah murid sekolah yang pernah menjadi alma
> mater saya 50
>  tahun
> yang lalu.
> 
> Saya tidak melewatkan kesempatan untuk singgah di
> penjual sate di depan
> sekolah. Setengah abad yang silam, satu ketupat dan
> dua sate dengan
>  kuah
> melimpah  harganya hanya 25 sen. Sekarang dua ribu
> rupiah. Sebuah
> kenyataan inflasi yang luar biasa bila diingat bahwa
> di antara lima
> dasawarsa itu pernah terjadi pengguntingan nilai
> uang dari seribu
>  rupiah
> menjadi satu rupiah. Bayangkan, delapan ribu kali
> lipat!
> 
> Semua sate padang yang dijual di Padang adalah
> gagrak Pariaman, sebuah
> kota di Utara Padang. Kuah sate Pariaman berwarna
> oranye kemerahan
> karena mengandung banyak cabe. Sate padang di
> Jakarta kebanyakan gagrak
> Padangpanjang yang berkuah kuning. Beda yang lain:
> sate gagrak Pariaman
> ditaburi kripik sanjay balado (dari singkong atau
> ubi kayu), sedangkan
> gagrak Padangpanjang disajikan dengan krupuk jangek
> (krupuk  kulit)
> lebar yang sekaligus berfungsi untuk menyendok kuah
> yang melimpah dan
> gurih itu.
> 
> Perbedaan sate Pariaman dan Padangpanjang ini juga
> sekaligus
>  menunjukkan
> adanya keragaman masakan di Ranah Minangkabau ini. 
> Masakan Payakumbuh
> punya ciri tersendiri, begitu pula Kapau,
> Batusangkar, dan lain-lain.
> 
> Tentu Anda pernah mendengar nasi kapau. Kapau adalah
> sebuah desa di
> dekat Bukittinggi yang juga punya masakan khas,
> antara lain rendang
> (isinya daging sapi  dan kentang bulat kecil),
> dendeng balado, dan
>  gulai
> itiak lado mudo (bebek cabe muda). Ada dua rumah
> makan di Bukittinggi -
> yaitu RM Simpang Raya dan RM Selamat, keduanya di
> depan Jam Gadang -
> yang menyediakan  rendang khas ini. Sayangnya, dalam
> kunjungan terakhir
> ke Simpang Raya, sedang tidak musim kentang kecil,
> sehingga diganti
> dengan singkong yang dipotong dadu
> dan digoreng. Tentulah tidak seenak versi aslinya. 
> 
> Uni Lis di Pasar Ateh Bukittinggi juga punya rending
> ayam yang dicampur
> dengan kacang merah. Uni Lis - bersaing ketat dengan
> Uni Cah yang
>  pernah
> dikunjungi SBY - adalah lepau nasi kapau paling
> juara. Khususnya untuk
> gulai tambusu (usus sapi diisi kocokan  telur dan
> santan), dan dendeng
> balado. Sayur cubadak (nangka muda) gagrak Kapau
> juga dilengkapi dengan
> kol, kacangpanjang, dan rebung. Dendeng balado Uni
> Lis tidak hanya
> memakai cabe merah, tetapi juga dengan cabe hijau
> dan kacang panjang.
> 
> Soal gulai itiak lado mudo, yang paling terkenal
> adalah di RM Ngarai,
> Jl. Ngarai Binuang, Bukittinggi. Lokasinya persis di
> sisi dasar Ngarai
> Sianok, sehingga tamu juga sekaligus dapat berwisata
> ke sini.  Lado
>  mudo
> adalah cabe muda, yaitu cabe keriting yang belum
> menjadi merah dan
>  masih
> berwarna hijau. Ada lagi RM Sambalado - di antara
> Padangpanjang dan
> Bukittinggi - ada sajian ayam lado mudo dengan cabe
> yang lebih  muda,
> sehingga warna hijaunya pun lebih cantik. Ayamnya
> seperti ayam pop yang
> gurih dan lembut, dengan cabe muda yang juga lembut.
> Rancak bana!
> 
> Naluri pemasaran di RM Ngarai ini juga perlu
> diacungi jempol. Tersedia
> bebek cabe hijau yang sudah beku di  freezer bila
> Anda ingin membawa
> oleh-oleh pulang ke tempat jauh.
> 
> Dalam artikel terdahulu saya pernah menulis tentang
> sentuhan khas di
> dapur ibu-ibu di Nagari Kinari, sebuah desa nan
> rancak di dekat Solok.
> Di nagari ini,  masakan asam padeh (asam pedas) ikan
> ambu-ambu
>  (tongkol)
> selalu mempunyai hint seperti kuah ikan sarden dalam
> kaleng. Sangat
> istimewa! Saya juga jatuh cinta pada pangek pisang
> yang dimakan dengan
> ketan pulen. Luar biasa! 
> 
> Di Kinari, sisa-sisa bagian ayam yang tidak dipakai
> untuk memasak -
> seperti ceker, leher, ati-ampla - dimasak dengan
> batang daun keladi
>  men-
> jadi gulai kemumu yang dijamin akan membuat Anda
> termimpi-mimpi  untuk
> balik lagi ke sana.
> 
> Di antara Kayu Aro - kawasan penghasil teh terkenal
> - dengan Solok, ada
> sebuah lepau nasi Hajah Emi yang juga sudah saya
> tandai sebagai sasaran
> wisata kuliner yang tidak boleh dilewatkan. Sajian
> juara dari lepau
>   ini
> adalah dendeng baracik. Menurut Hajah Emi, sajian
> ini tidak ada di
>  lepau
> lain, karena merupakan resep warisan dari neneknya.
> 
> Saya nyelonong ke dapur untuk melihat bagaimana
> dendeng baracik itu
> dibuat. Ternyata, dendengnya  dibuat dari potongan
> tebal daging bagian
> dada sapi (disebut gajebo di Minang, sandung lamur
> di Jawa). Dagingnya
> sudah layu dalam bumbu, tetapi belum kering,
> dipotong-potong dengan
> ketebalan sekitar dua milimeter, besarnya sekitar
> lima kali lima
> sentimeter.  Anda harus berada di dapur untuk
> menikmati sensasi aroma
> dendeng yang dibakar dengan minyak kelapa. Pasti
> terbit air liur Anda!
> 
> Sementara dendengnya digoreng, Hajah Emi merajang
> lado mudo (cabe muda)
> yang masih berwarna hijau, bawang  merah, dan tomat.
> Dendeng yang sudah
> digoreng kering itu diletakkan di piring, ditaburi
> semua rajangan, lalu
> dikucuri dengan perasan jeruk nipis. Langsung
> dimakan dengan nasi
> hangat. Onde mande, lamaknyo!
> 
> Selain dendeng balado dan de- ndeng baracik, tentu
> Anda juga mengenal
> sajian khas yang disebut dendeng batokok. Sajian ini
> dimulai dengan
> daging sapi goring yang mirip empal. Lalu
> dipukul-pukul dengan palu
> 
=== message truncated ===





       
____________________________________________________________________________________
Looking for a deal? Find great prices on flights and hotels with Yahoo! 
FareChase.
http://farechase.yahoo.com/

-----------------------------------------------------------------
Milis Info dan Diskusi Warga RW 14, Kelurahan Sukahati, Cibinong.
Official Website: http://www.rw14.web.id atau http://www.rw14.org

Arsip Milis RW 14: http://www.mail-archive.com/[email protected]/

Kirim email ke