MANJA

Ada sebulir rasa haru bercampur takjub
saat ember-ember berisi adukan kerikil split , semen dan pasir
Berpindah dari tangan “tua-keriput” ke tanganku
yang notabene tidak pernah mengangkat benda berat dan kasar.
Hanya tuts lunak keyboard dan gelindingan mouse yang
ringan menjadi kebiasaan sehari-hariku.
Meski ototnya masih terlihat “kuat” tetapi tetap tidak bisa
menutupi “pengalaman hidup” yang sudah dijalaninya.
Apakah hari itu merupakan “pengalaman“ yang sudah sering
dia lewatkan, ataukah memang sudah merupakan “semangat”nya
mengarungi sisa-sisa umurnya?
Yang pasti hari itu adalah “pengalaman” pertamaku
membantu pengecoran dak sebuah masjid.
Rumah Allah, rumah bagi semua umat
di mana generasi penerus khalifah “digembleng” di dalamnya.

Ada sebulir rasa “malu” saat aku lengah menerima kiriman
ember dari tangannya yang masih cekatan.
Dengan teriakan penuh tenaga dia menyemangati
para “sukarelawan” yang mulai terlihat loyo,
tak terkecuali aku, yang pada hitungan setengah jam pertama
sudah “ngap-ngap” tak karuan, jari-jari terasa kesemutan.
Sempat aku bergumam dalam hati:
“ setengah abad juga belum, tetapi semangat kalah dengan yang tua!”
“ manja sekali aku ini, saat yang tua masih getol menggali keberkahan,
aku membiarkan tangan manja-ku bersih dari aliran pahala!”
bersamaan dengan gumaman-ku, aku menyerah kalah.
Turun dari atap dengan tangan dan celana masih bersih dari
ceceran pasir dan semen cair, yang sekaligus menandakan
bahwa belumlah cukup “tenaga” yang kuberikan untuk
salah satu kunci pembuka “keberkahan”.

Maafkan aku ya Allah
tangan-ku belum pantas membuka
“pintu” surga-Mu

Jojo Wahyudi
(dengan bahu tangan pegal-pegal:))

Kirim email ke