Selingan nech dari milis sebelah .......

**********************************************


Aku Mulai Lelah Mencintainya. ...


Aku begitu mencintainya. Tak pernah ada orang lain ketika kami berpacaran, juga 
setelah menikah. Duniaku adalah dirinya saja. Tapi kini, aku merasa telah lelah.

Telah 4 tahun aku menikah. Anak satu, 2 tahun. Aku bekerja, suami juga. Kami 
sama-sama berkantor. Pulangku jam 4 sore, dan dia lebih malam, selepas atau
sebelum maghrib. Tapi hal itu tetap membuat kami selalu dapat berkomunikasi, 
aku tak mengabaikannya, dia tak mengabaikanku. Masalahku cuma satu, kadang
aku merasa lelah.

Mengapa lelah? Bukankah di rumah telah ada pembantu, yang juga menjaga dan 
merawat anakku? Ya. Yang kumaksud lelah di sini adalah aku merasa di rumah
tangga ini sendirian. Suamiku terlalu mandiri. Dia tak pernah merasakan 
kesulitan apa pun.

Jika pulang, dia akan bermain sebentar dengan anakku, berbincang atau makan 
malam, lalu suntuk di ruang kerja. Sampai pagi. Dan selalu aku sendirian, 
menonton teve, berbicara dengan pembantu. Lalu tidur. Kadang aku ingatkan dia 
untuk tidur, tapi dia sibuk dengan meja gambarnya.

Tanpa terasa, sudah 4 tahun begitu. Empat tahun nyaris kami tak pernah 
berangkat tidur bersama. Juga bangun bersama. Aku membangunkannya ketika akan 
berangkat, karena aku masuk pukul 7 pagi, dia bisa pukul 8. Begitu terus. 
Terjadwal. Kadang, malam aku dia bangunkan, karena dia ingin "bermesraan" . Dan 
kemudian aku tertidur lagi.

Aku merasa hal itu mulanya biasa. Tapi, ketika bergaul dengan teman-teman, dan 
mendengar cerita mereka yang lengkap tentang suami dan keluarga, aku mulai 
merasa ada yang salah.

Aku jadi sadar, betapa aku bergerak sendiri, suami bertidan sendiri. Soal air, 
listrik, bayaran pembantu, biaya rumah tangga, suami tidak pernah tahu. Benar 
dia selalu memberikan uang belanja yang cukup. Maksud aku, dia tidak pernah 
tahu berapa jumlah kesemua itu. Dia tak pernah tahu apakah telepon telah 
dibayar, listrik telah jatuh tempo, pembantu dapat bonus atau tidak. Semua 
urusanku. Dia tidak tahu harga susu anakku, mainan-mainannya, juga harga 
pakaian-pakaianku. Seperti aku juga, yang ternyata tidak tahu berapa harga 
handphonenya, komputer di ruang kerja, juga laptopnya. Aku juga tidak tahu 
harga sepatunya, bagaimana kredit mobil, kredit rumah, dan lainnya. Semua 
diurus suami.

Aku merasa ini aneh. Merasa aneh setelah aku tahu, bahwa tidak harus begitu 
menjalankan rumahtangga. Harus ada satu nahkoda, agar arah tetap jelas.

Aku jadi ingat, bahwa aku tidak pernah meminta bermesraan duluan. Dan kutahu 
kini, itu tidak wajar. Aku selalu menunggu, kadang sembari terkantuk-kantuk,
sampai dia membangunkanku, untuk bercinta. Aku tak pernah menjadi subjek dalam 
hubungan suami istri kami, tapi objek. Jika suami butuh aku harus siap.

Kusadari kini, aku juga tidak pernah lagi orgasme setelah melahirkan. Dan aku 
tahu itu juga tidak benar. Selama ini aku menerima hal itu, sebagai bagian dari 
fungsiku sebagai istri. Asal suami puas, meregang-regang di atas tbuhku, aku 
pun merasa senang dan puas. Aku lega bisa membuat dia begitu. Itulah caraku 
untuk terus mencintanya. Terkata, dari teman-temanku, itu salah. Aku harus juga 
mendapatkan hal yang sama. Suamiku juga harus memberikan hal itu, sebagai tugas 
cintanya.

Selama ini, dia tak pernah tahu gajiku, dan aku tak memberitahunya. Kuanggap 
itu tak penting. Tapi kini aku tahu, suamiku seharusnya bertanya dan menghargai 
gajiku. Kuingat, selama ini dia memang tak pernah memujiku. Tak pernah 
memujiku. Ini gila. Aku berdandan, memakai baju baru, sepatu, bahkan membelikan 
baju untuk anakku, iya iya, benar, dia tak pernah memuji. Hanya melihat saja.

Aku jadi sadar, bahwa suamiku sesungguhnya tidak pernah masuk dalam 
kehidupanku. Tidak pernah terikut, terkait, bersama. Urusanku itu urusanku 
sendiri. Ajaib. Ya ya, dia bahkan tak pernah tahu kalau keponakanku telah 
bertambah, dan kaget ketika menyadari. Dia tak protes ketika pembantu kuganti. 
Dia tak merasa aneh dengan perabotan rumah yang susunan berganti. Suamiku 
seperti tak menyadarinya. Atau dia tak menganggap penting semua 
perubahan-perubahan itu.

Ya, iya, kini kudasari, kedamaian kami itu bukan hal yang wajar. Sangat amat 
tidak wajar. Bukan kelengangan yang asyik. Kami tak pernah bertengkar bukan 
karena saling memahami. Justru karena kami tak pernah bersama. Kami tak 
bertengkar karena kepentingan kami tak pernah bergesekan. Dia dalam dunianya, 
aku dalam duniaku. Gila, ini sungguh gila. Ini rumah tangga semacam apa? Ini 
bukan cara mencinta seperti yang aku inginkan!

Aku berusaha mendekatkan dunia kami. Sia-sia. Suamiku memang tak dapat terlibat 
atau dilibatkan. Dia milik dunianya, aku milik duniaku. Aku ingat, tak pernah 
sekalipun dia bertanya SMS yang kuterima, teleponm yang kudapatkan. Kukira itu 
karena dia percaya. Tapi tidak, aku sadar kini, itu bukan percaya. Itu tanda 
dia tak peduli. Aku mendapat telepon tengah malam pun, dia tak terganggu. Ya, 
itu tanda bahwa dia memang tak peduli.

Ya Tuhan, sesungguhnya dari apa rumah tanggaku ini dibangun? Di atas pondasi 
seperti apa? Mengapa aku tak menyadarinya, dan merasa semua aman, damai,
sentosa? Mengapa kini aku terbuka, dan merasa betapa hidupku ini begitu datar, 
lelah, dan membosankan? Mengapa aku merasa lelah untuk menjadi istrinya?

Apakah aku meminta terlalu banyak? Rasanya tidak? Aku hanya ingin kami terlibat 
satu-sama lain, dia ada di duniaku, aku pun ada di dunianya. Aku hanya ingin 
menjadkan kami sebagai tim, yang bisa saling memberi dan berbagi, bukan dengan 
pembagian yang semacam kami jalani ini. Apakah aku salah berharap dapat 
berangkat tidur bersama, dipeluk, dan bangun lalu makan bersama? Apakah itu 
tuntutan yang mengada-ada?

Tuhan, bantulah aku mengatasi kelelahan ini, biar aku tetap dapat menjadi istri 
dalam kondisi apa pun, biar aku dapat terus menyelamatkan rumah tangga ini.

Sebagaimana cerita Irma Ramadiani



***

Kirim email ke