--- Pada Jum, 13/8/10, Yayat Suryatna <[email protected]> menulis:



 
 

 
Astronom: Tak Mudah Pindahkan GMT ke 
Makkah
Nograhany Widhi K - detikNews Jumat, 13/08/2010 12:46 WIB


Foto: Reuters 
Mekah Jadi Pusat Waktu 
Dunia 


Jakarta 
- Tidak mudah memindahkan acuan waktu dari Greenwich Mean 
Time (GMT) ke Makkah. Butuh kesepakatan internasional untuk itu, karena bisa 
menggeser garis bujur nol derajat, waktu serta mengubah 
hari dan penanggalan.
"Proyek jam raksasa Makkah Giant Clock lebih cenderung 
pada proyek yang bersifat seperti proyek mercusuar. Jadi unsur wah-nya yang 
ditonjolkan menjadi jam terbesar di dunia, termasuk gedung tertinggi kedua di 
dunia,"  ujar profesor riset astronomi dan astrofisika dari Lembaga 
Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin.
Hal itu 
dikatakan Thomas saat berbincang denngan detikcom, Jumat (13/8/2010).
Tapi, 
imbuh Thomas, dalam proyek itu tidak ada penawaran konsep soal Arab yang hendak 
menjadi pusat waktu dunia. Makkah yang berbeda 3 jam dari GMT (GMT+3) tetap 
dipakai.
"Pada jam giant clock itu sekadar menggunakan jam itu tapi tidak ada 
konsep apa pun. Itu keinginan sebagian ulama yang ingin menjadikan Makkah 
sebagai rujukan waktu global. Konsep tidak ada bedanya dengan jam konvensional 
yang ada," kata dia.
Untuk menggeser GMT ke Makkah, Thomas menjelaskan, bukan 
perkara yang mudah. Karena menggeser garis bujur nol derajat di Greenwich butuh 
konvensi atau kesepakatan internasional.
"Terkait dengan waktu biasanya 
International Astronomi Union membuat konvensi karena mereka yang jaga waktu 
berdasarkan pengamatan astronomi," jelasnya.
Maka, Thomas menilai sementara 
ini keinginan Arab Saudi yang ingin menggeser GMT cenderung hanya utopia 
(mimpi) 
karena belum ada konsep waktu yang diusulkan. 
"Itu proyek mercusuar, 
membangun jam raksasa yang dapat dilihat dari jarak sekian kilometer, dan pada 
saat azan di Masjidil Haram ada sinyal lampu yang dinyalakan hingga seluruh 
wilayah di sekitarnya melihat jam itu," tuturnya.
Jam raksasa di kompleks 
Masjidil Haram itu berdiameter 45 meter atau setara lapangan sepakbola. Jam ini 
mulai berdetak Kamis 12 Agustus.
(nwk/nrl) 


Tetap update dgn berita DETIK ikuti sms berlangganannya, ktk 
REG DETIK kirim ke 3845 (Telkomsel, Indosat, Three) 





  
  Jawa Post  Jum'at 13Agustus 
  2010 
  Menara Lonceng Raksasa di 
  Makkah 
  MAKKAH - Umat Islam di 
  seluruh dunia bisa menyetel jam tangan mereka saat berada di Makkah. Sebab, 
  lonceng terbesar di dunia yang berada di dekat Masjidilharam
   mulai berfungsi dan 
  beroperasi. Pemerintah Arab Saudi mulai 
  mengujicobakan lonceng tersebut bersamaan dengan bulan puasa atau awal 
Ramadan 
  kemarin (11/8).
"Selama bulan suci Ramadan, lonceng tersebut akan diuji 
  coba secara penuh," kata seorang pejabat Arab Saudi seperti dikutip kantor 
  berita Saudi Press Agency (SPA) Selasa lalu (10/8).
   Bahkan,uji coba direncanakan berlangsung tiga bulan.
Pemerintah Saudi 
  berharap lonceng baru empat sisi tersebut menahbiskan Makkah sebagai salah 
  satu alternatif patokan waktu di luar garis bujur Greenwich.
   Menara lonceng itu 
  bakal berada di puncak gedung pencakar langit setinggi 1.983 kaki (601 meter) 
  dalam kompleks tujuh tower Abraj Al Bait. 
Ketika pembangunannya 
  tuntas, menara tersebut akan menjadi gedung tertinggi kedua di dunia atau 
  hanya kalah oleh menara Burj Khalifa di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), 
  
  yang setinggi 2.717 kaki (828 
  meter). Tetapi, bangunan itu nanti mengungguli menara Taipei 101 di Taiwan 
  yang setinggi 1.670 kaki (509 meter).
   Sedangkan lonceng di 
  menara tersebut mengungguli Big Ben di London, Inggris, sebagai lonceng 
terbesar di dunia.
"Pembangunan dan pemasangan 
  lonceng itu merupakan pekerjaan besar," kata Mohammed Al Arkubi, manajer 
Royal 
  Mecca Clock Tower Hotel, gedung di bawah lonceng. 
Kehadiran lonceng 
  tersebut merefleksikan keinginan umat Islam untuk mewujudkan waktu Makkah 
  (Mecca Mean Time). Itu bisa menjadi alternatif atau menggantikan 
  standar waktu universal, 
  Greenwich Mean Time 
  (GMT), yang digunakan selama 126 tahun terakhir.
Dalam konferensi di Doha, 
  Qatar, pada 2008, para ulama dan cendekiawan muslim mempresentasikan 
  argumentasi ilmiah bahwa waktu Makkah merupakan garis bujur global yang 
  sebenarnya.
   Mereka beralasan Makkah 
  merupakan pusat dunia. Sedangkan patokan waktu GMT diterapkan oleh 
  negara-negara Barat pada 1884.
"Setiap orang tertarik dan sangat penasaran 
  untuk melihatnya. Tetapi, kami sulit mendapatkan informasi tentang lonceng 
  tersebut," kata Hani Al Wajeeh, penduduk Makkah. 
  "Kami berharap lonceng 
  tersebut menunjukkan Makkah sebagai zona waktu utama di dunia," 
  lanjutnya.
Sejauh ini, Bin Ladin Company, perusahaan Arab Saudi yang 
  menjadi pengembangnya, merahasiakan detail lonceng raksasa 
  tersebut.
  Tetapi, lonceng itu berdiri 
  dan terlihat indah dengan dihiasi dua pedang dalam posisi menyilang dan pohon 
  kurma sebagai simbol kenegaraan Arab Saudi. 
Di bagian atas empat sisi 
  lonceng terdapat huruf Arab besar yang berbunyi Allahu Akbar (Allah 
  Mahabesar). Ribuan lampu berwarna melengkapi. 
  Alhasil, lonceng tersebut 
  bisa dilihat hingga jarak 16 mil atau 25 kilometer. Bagian puncak lonceng 
  berbentuk bulan sabit berukuran raksasa dengan diameter 23 
  meter.
Rencananya, sebuah dek atau tempat observasi dibangun di bagian 
  bawah lonceng. Tinggi total lonceng tersebut hingga bagian berbentuk bulan 
  sabit 251 meter.
  Para insinyur dari Jerman dan 
  Swiss sengaja mendesainnya atas permintaan Kementerian Agama Arab Saudi. 
  Proyek itu menelan dana USD 800 juta. 
(AFP/AP/c11/dwi)



<<jamArab1-D.jpg>>

-----------------------------------------------------------------
Milis Info dan Diskusi Warga RW 14, Kelurahan Sukahati, Cibinong.
Official Website: http://www.rw14.web.id atau http://www.rw14.org

Arsip Milis RW 14: http://www.mail-archive.com/[email protected]/

Kirim email ke