"..Ia berjiwa Nasionalis dibuktikan dengan tidak dicantumkannya Marga Sembiring 
Pelawi pada Dirinya dan Anak Cucu Keturunannya..."

mbaca kalimat bage rupana tergoda aku untuk komentar sitik:
Adi menurut penggejapenku, adi lanai make merga labo mis berarti ia berjiwa 
Nasionalis, mungkin lit marenda alasen sideban. Enda adi menurut pemikiren bas 
zaman sigundari ya.. 

Tah lit nai adi kalak karo (ras pe batak sideban) adi pake merga berarti tanda 
la nasionalis, e langa pernah kubegi.


Sibarem, adi lit kata kurang cocok, mindo maaf aku..
Bujur,
P. Tarigan
   
  

Alexander Firdaust <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                   
 
Sejarah Singkat Perjalanan Guru  Pa Timpus
   
  Guru Pa Timpus dilahirkan di Aji Jahe salah satu kampung di Taneh Karo 
Simalem yang sejuk, dingin, nyaman dengan angin pegunungannya. Ia menikah di 
Batu Karang dengan beru Bangun, mendirikan kampung di Perbaji dan memiliki 
seorang anak laki-laki bernama Bagelit. Guru Pa Timpus bertubuh kekar, tinggi, 
gagah, dan berjiwa patriotik seperti seorang panglima. Ia juga seorang Guru, 
yang dalam bahasa Karo berarti seorang ahli dalam berbagai ilmu pengetahuan, 
ilmu obat-obatan, ilmu gaib, dan memiliki kesaktian, namun Ia-nya berjiwa penuh 
kemanusiaan lemah lembut dalam bertutur kata, mempunyai karakteristik yang 
simpatik, berwibawa, berjiwa besar dan pemberani. 
   
  Dengan menuruni lembah-lembah yang penuh mistis, hutan semak belukar dan 
binatang buas, ia mendaki lembah-lembah yang terjal dan curam, dengan 
menelusuri aliran Lau Petani menuju ke satu bandar di hilir sungai Deli untuk 
suatu tujuan yaitu mencoba ilmu kesaktiannya dan belajar pada Datuk Kota Bangun 
seorang Guru dan Ulama besar yang terkenal pada masa itu.
   
  Setelah beberapa lama bermukim ia kawin dengan seorang putri dari pulau 
Brayan keturunan anak panglima Deli, bermarga Tarigan dan sekitar tahun 1590 M, 
ia membuka dan mendirikan kampung dipertemuan dua buah sungai Deli dan Babura 
yang dinamainya dengan ‘Medan’, dari perkawinannya ini lahirlah salah seorang 
putra yang diberinya nama Hafis Muda, dari sinilah silsilah keturunan Datuk 
Wajir Urung 12 Kuta  (Datuk Hamparan Perak), keturunan terakhir dari Generasi 
ke-XV adalah Datuk Adil Freddy Haberham, SE sebagai salah seorang Datuk 4 suku 
dikesultanan Deli.
   
  Guru Pa Timpus telah menjadi milik Masyarakat Kota Medan. Ia berjiwa 
Nasionalis dibuktikan dengan tidak dicantumkannya Marga Sembiring Pelawi pada 
Dirinya dan Anak Cucu Keturunannya.
   
  Pemko Medan telah memberikan penghargaan terhadap Guru Pa Timpus, yaitu 
dengan ditetapkannya Hari Jadi Kota Medan pada tanggal 1 Juli 1590 dan kemudian 
memberikan nama kepada salah satu jalan di petisah dengan nama jalan Guru Pa 
Timpus. 
   
  Apa  yang telah dilakukan Guru Pa Timpus adalah merupakan salah satu sejarah 
bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya, corak dan peninggalan sejarahnya 
telah memberikan warna khas kepada kebudayaan bangsa, serta hasil pembangunan 
yang mengandung nilai perjuangan, kepeloporan yang merupakan kebanggaan 
nasional ini, perlu terus digali dan dilestarikan, dipelihara, serta dibina 
untuk memupuk semangat perjuangan dan cinta tanah air. Perencanaan Pembangunan 
disemua tingkatan haruslah diperhatikan pelestariannya, apalagi pelestarian 
bangunan benda yang mengandung nilai sejarah bertitik tolak dari keagungan Jiwa 
Guru Pa Timpus.
  Kutipan dari: Proposal Pembangunan Monumen Guru Patimpus


Best Regarts
   

---------------------------------
No need to miss a message. Get email on-the-go 
with Yahoo! Mail for Mobile. Get started.
     
                       

 
---------------------------------
It's here! Your new message!
Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar.

Kirim email ke