Reh Atemalem,
Inilah dinamika kehidupan, jangankan kam yang melibatkan banyak orang dalam dua 
keluarga besar (pihak calon suami dan istri, atau mungkin juga ditambah 
partisipan lainnya), ini kita yang dimilis ini aja yang mencoba untuk membahas, 
belum apa-apa sudah terjadi kesalah-pahaman disana-sini.

Begitulah, hidup memang banyak sekali bumbu2nya. Tapi justru disitulah 
makna-nya. Bagaimana cara kita menjalaninya.

Aku sharing buat kam ya, karena punya pengalaman kurang lebih bisa sama. Aku 
menikah dengan seorang Chinese, sekarang kami sudah punya 2 anak. Menikah 
(pemberkatan -Sakramen Pernikahan Gereja Katolik) tahun 1999.

Aku juga tidak mengajari kam ya, cuma kasi pemikiran aja.
Karena orangtua dari pihak dari aku waktu itu keukeuh tidak akan merestui 
pernikahan tsb, setelah konsultasi sana-sini, akhirnya aku memutuskan untuk 
jalan terus. 'Nekad', kata itu bisa mewakili.

Karena aku juga berfikir, kalo sudah dewasa kan sudah harus bertanggung-jawab 
atas (mempertanggung-jawabkan) tindakan2nya.

Kalo aku pribadi sih merasa jodoh itu kan pilihan dengan segala kondisi yang 
mengikutinya. Karena aku sudah bertekad-bulat, jadi ya maju terus. Akhirnya 
kami tidak dipestakan, cuma sakramen pernikahan di Gereja saja. Tapi kami 
mendapat dukungan penuh dari teman2, saudara2 pihak istri, dan teman2 kerja, 
jadi ya gitu.. ramai juga.. hehe..


Kehidupan rumah tangga kami pasang-surut (biasalah dalam RT), tapi sampai 2 
tahun lebih benar-benar lost contact dengan pihak keluarga dari aku. Setelah 
HUT anak kami yang pertama, doa kami dikabulkan Tuhan, ortu datang. Sama 
seperti kam, dulu juga gitu, katanya sampai mati tidak akan diakui, dst..


Syukurlah.. sekarang ini sering mereka ke Jakarta untuk ngeliatin cucu-cucunya. 
Senang lah.. bangga juga ada.. Kita selalu menyambut dengan suka-cita, bahkan 
sejak akur kembali itu paling tidak tiap bulan kita ngobrol by phone, dengan 
mantunya.. suruh datang ke Jakarta, suruh ngobrol dengan cucu-cucunya.. wah, 
senang banget dia.. apalagi kalo sudah dipanggil "Bolang... Nek Karo... " sama 
cucunya.. wah, senang bgt dia..



Gitu.. kalo aku bilang sih, orang tua itu pelan2 kita kasitahu (kasi 
pengertian, bukan diajarin!!) pelan-pelan...

Lama2 dia juga ngerti.. biar waktu juga berperan..

Itu dulu ya.. karena udah mau pulang, besok disambung lagi..
Oh ya.. istriku juga tidak bermarga saat ini, orang tua mengerti. Karena 
chinese sendiri sebenarnya sudah ada fam-nya. Tapi lama2 istriku juga ngerti 
kalo marga juga kalo dikasi juga sbenarnya gak apa2... (tuh kan.. waktu  
berperan memperbaiki, membuat orang jadi lebih mengerti)

Memang susahnya kalo ketemu aliran/adat berbeda gitu.. apalagi tidak dilandasi 
dengan menerima perbedaan secara utuh.. banyak clash nya... pasti setiap aliran 
merasa lebih benar, lebih penting, dst.. tapi ya itulah kalo sudah memilih 
pilihan itu, harus dengan resiko2nya.. jangan bagian enaknya aja.. hehehe


Thanks ya sudah membaca.


Salam,
P. Tarigan



Reh Atemalem Susanti <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                 
 Maaf kalau postingan saya membuat masalah.. 
 
 Sebelumnya, saya hanya minta saran. Pasalnya perbedaan pendapat antara saya 
dan orangtua begitu besar. Orangtua memaksa calon suami diberi marga. 
 
 Sedangkan saya dan calon sepakat untuk melaksanakan akad nikah saja, tanpa 
acara apapun. Karena menikah menurut saya didasarkan pada niat yang tulus bukan 
didasarkan pada marga yang ditasbihkan.
 
 Selama ini, saya tidak pernah hormat terhadap orang karo (saya dibesarkan di 
Lampung). Karena acara-acara adat karo selalu memisahkan si kaya dan si miskin. 
Di saat pesta, orangtua saya(yang katanya menurut adat sangat dekat dengan si 
empunya pesta) tidak dianggap karena tidak berharta. Sedang mereka yang tidak 
terlalu dekat malah duduk dekat penghelat pesta.
 
 Rasa tidak hormat makin menjadi, karena abang ipar saya tidak mendapatan 
manfaat apapun dari "orangtua angkat".
 
 Uang yang terbatas dan acara yang berbelit-belit-menurut saya-tidak  
memberikan manfaat apapun untuk pernikahan. 
 
 ......
 
 Orangtua bahkan mengancam tidak akan hadir jika saya tetap meneruskan niat. 
Mereka berkata jika saya berbuat seperti itu maka tidak akan ada orang yang 
hadir saat mereka meninggal.
 
 Ironi memang, tapi saya cukup heran, kenapa orangtua yang begitu 
terdiskriminasi dalam berbagai event adat masih begitu hormat dengan adat. 
 
 Maaf kalau harus mengetik dengan bahasa Indonesia, saya meminta teman-teman 
yang membalas postingan saya mencatumkan terjemahan. (saya tidak paham, tapi 
berjanji akan belajar bahasa karo)
 
 terimakasih
 
 
 
 
 
        

---------------------------------
Building a website is a piece of cake. 
Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.
     
                       

       
---------------------------------
Building a website is a piece of cake. 
Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.

Kirim email ke