Sedikit mau menambahin ya, dek..
Kalau kita sudah sampai pada sebuah 'masalah', realitas nya paling tidak ada 
dua kubu yang punya pendapat yang mau dipertahankan di arena yang sama. Betul 
kan?

Dan kalau dua masalah tersebut tidak ada yang mau KOMPROMI, pasti tidak ada 
titik temu. Jadi sbenarnya yang paling didahulukan adalah kompromi antara pihak 
yang bertikai. Idealnya kedua pihak (atau bila lebih, semuanya!) harus 
menurunkan standar masing-masing dan menerima dari pihak yang lain. Baru.. 
mudah2 an sampai pada titik temu yang bisa diterima semua pihak..


Dalam kasus kam ini, bila dicermati kasusnya adalah:

Orang tua mau supaya calon suami kam itu kan harus dikasi marga. Disini, apakah 
pihak calon suami itu setuju? Atau kalo keberatan, dalam hal apa dia keberatan? 
Terus apa kam setuju keberatan dia? Disinilah yang perlu dicari titik temunya.

=> Kasus kam ini gak begitu jelas dimana penyebab clashnya, tapi kalo dibaca 
tulisan kam kan, kam pun tidak begitu respect terhadap (adat) karo. Nah, inilah 
yang perlu diluruskan dulu.

Dek, Adat itu ya adat.. sama seperti ada macam2 UU dinegara kita.
Manusia itu kan mahluk sosial, berinteraksi antar sesama nya, dalam 
kelompoknya, dst..  Dalam berinteraksi itu ada norma/kaidah yang mengatur 
prilaku kita, kalo dalam bernegara ada UU yang mengaturnya, kalo dalam 
kelompok/suku ada adat.. gitu seterusnya.

Adat atau produk hukum lainnya pastilah bagus pada waktu dibuat, mana mungkin 
dibuat untuk menghancurkan, ya kan?

Kalo adek ketemu sama hal-hal yang misalnya para penyelenggara pesta adat lebih 
sombong, membeda2kan sikaya/miskin dan lain seterusnya.. itu sudah prilaku 
individu, sebenarnya tidak baik untuk mencampur-adukkannya. Jangan lantas, wah 
Karo itu tidak baik, gitu.. apalagi tidak bisa dipungkiri kita memang bagian 
didalamnya, ya kan? Kalo kita bisa perbaiki, mungkin itu lebih bagus..

Jadi intinya, adat itu bagus, adat apapun bagus untuk komunitasnya. Kalo kita 
bertemu antar komunitas, kita harus bisa menerima mereka, paling tidak ada 
titik temunya. Baiknya lagi, kalo spt kam itu, kalo dia bersedia, bikin pesta 
ada karo, dan pesta ada dari budaya calon suami. Jadi berkesan menerima 
keduanya, kalo satu aja kan dia bisa merasa adat dia dihilangkan. Betul kan? 
Kompromikan aja.. Itulah resiko pilihan seperti itu. Kalo misalnya adek dapat 
calon suami Karo, kan tidak ada masalah spt itu.. gitu... :D

Bagusnya kan hubungan keluarga orangtua dan anak itu tidak hancur saat sianak 
membuat keluarga baru. Dari pengalamanku sih tidak enak, dulu aku sering takut, 
gimana kalo sebelum baikan ada yang meninggal ntah kita, ntah orangtua, aku 
takut juga, apa benar kelak tidak ada penyesalan.. dilematis.. begini salah 
begitu salah.. Tapi untung, tidak lama kemudian kita baikan.. 

Coba kam rundingkan dengan anak-beru, kalimbubu, dst... kasi pengertian 
sikit2.. supaya ada titik temunya. Cari anggota keluarga yang bisa 
ber-diplomasi, yang deket dgn ortu.


Soal manfaat orangtua angkat, ganti marga itu.. 
itu tergantung pemikiran kita dek, apakah kita merasa bermanfaat memiliki 
orangtua angkat? Apakah kita merasa bermanfaat mengikuti prinsip di adat lain 
sebagai tanda penerimaan kita? Apakah bermanfaat yang lainnya, itu kan dari 
kacamata masing-masing, tapi yang pasti kalo hidup dalam kedamaian lebih baik 
daripada tidak damai, ya kan?

Masalah uang, kalo adat karo kan biasanya ada 'runggun' (kalo gak lupa), 
semacam acara rembukan untuk menentukan semua yang berkaitan dengan pesta. 
Disitu akan dibuat anggaran, dan pesta akan disesuaikan dengan anggaran.. dan 
biasanya kalo kurang, ada pihak-pihak yang justru mau nalangin, menunjukkan 
kebanggaannya, dst... ada positifnya juga kan?

Segitu dulu ya dek,
semoga membantu menambah wawasan kam untuk menimbang-nimbang dan memutuskan 
nanti..  Selamat bekerja ya.
Bujur mejuah-juah,

P.Tarigan


Reh Atemalem Susanti <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                 
 Makasih ya bang...
 Tapi agak sulit untuk aq (perempuan). Karena aq harus punya wali saat menikah.
 .......
 Kadang ngerasa capek sendiri, mau marah tapi tidak bisa. Takut berdosa sama 
orangtua.
 ......
 sekali lagi makasih, salam untuk kakak ya.. (siapa namanya bang?)

Penta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
                             Reh Atemalem,
Inilah dinamika kehidupan, jangankan kam yang melibatkan banyak orang dalam dua 
keluarga besar (pihak calon suami dan istri, atau mungkin juga ditambah 
partisipan lainnya), ini kita yang  dimilis ini aja yang mencoba untuk 
membahas, belum apa-apa sudah terjadi kesalah-pahaman disana-sini.

Begitulah, hidup memang banyak sekali bumbu2nya. Tapi justru disitulah 
makna-nya. Bagaimana cara kita menjalaninya.

Aku sharing buat kam ya, karena punya pengalaman kurang lebih bisa sama. Aku 
menikah dengan seorang Chinese, sekarang kami sudah punya 2 anak. Menikah 
(pemberkatan -Sakramen Pernikahan Gereja Katolik) tahun 1999.

Aku juga tidak mengajari kam ya, cuma kasi pemikiran aja.
Karena orangtua dari pihak dari aku waktu itu keukeuh tidak akan merestui 
pernikahan tsb, setelah konsultasi sana-sini, akhirnya aku memutuskan untuk 
jalan terus. 'Nekad', kata itu bisa mewakili.

Karena aku juga berfikir, kalo sudah dewasa kan sudah  harus bertanggung-jawab 
atas (mempertanggung-jawabkan) tindakan2nya.

Kalo aku pribadi sih merasa jodoh itu kan pilihan dengan segala kondisi yang 
mengikutinya. Karena aku sudah bertekad-bulat, jadi  ya maju terus. Akhirnya 
kami tidak dipestakan, cuma sakramen pernikahan di Gereja saja. Tapi kami 
mendapat dukungan penuh dari teman2, saudara2 pihak istri, dan teman2 kerja, 
jadi ya gitu.. ramai juga.. hehe..


Kehidupan rumah tangga kami pasang-surut (biasalah dalam RT), tapi sampai 2 
tahun lebih benar-benar lost contact dengan pihak keluarga dari aku. Setelah 
HUT anak kami yang pertama, doa kami dikabulkan Tuhan, ortu datang. Sama 
seperti kam, dulu juga gitu, katanya sampai mati tidak akan diakui, dst..


Syukurlah.. sekarang ini sering mereka ke Jakarta untuk ngeliatin cucu-cucunya. 
Senang lah.. bangga juga ada.. Kita selalu menyambut dengan suka-cita, bahkan 
sejak akur kembali itu paling tidak tiap bulan kita ngobrol by phone, dengan 
mantunya.. suruh datang ke Jakarta, suruh ngobrol dengan cucu-cucunya.. wah, 
senang banget dia.. apalagi kalo sudah dipanggil "Bolang... Nek Karo... " sama 
cucunya.. wah, senang bgt dia..



Gitu.. kalo  aku bilang sih, orang tua itu pelan2 kita kasitahu (kasi 
pengertian, bukan diajarin!!) pelan-pelan...

Lama2 dia juga ngerti.. biar waktu juga berperan..

Itu dulu ya.. karena udah mau pulang, besok disambung lagi..
Oh ya.. istriku juga tidak bermarga saat ini, orang tua mengerti. Karena 
chinese sendiri sebenarnya sudah ada fam-nya. Tapi lama2 istriku juga ngerti 
kalo marga juga kalo dikasi juga sbenarnya gak apa2... (tuh kan.. waktu  
berperan memperbaiki, membuat orang jadi lebih mengerti)

Memang susahnya kalo ketemu aliran/adat berbeda gitu.. apalagi tidak dilandasi 
dengan menerima perbedaan secara utuh.. banyak clash nya... pasti setiap aliran 
merasa lebih benar, lebih penting, dst.. tapi ya itulah kalo sudah memilih 
pilihan itu, harus dengan resiko2nya.. jangan bagian enaknya aja.. hehehe


Thanks ya sudah membaca.


Salam,
P. Tarigan



Reh Atemalem Susanti  <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
                             Maaf kalau postingan saya membuat masalah.. 
 
 Sebelumnya, saya hanya minta saran. Pasalnya perbedaan pendapat antara saya 
dan orangtua begitu besar. Orangtua memaksa calon suami diberi marga. 
 
 Sedangkan saya dan calon sepakat untuk melaksanakan akad nikah saja, tanpa 
acara apapun. Karena menikah menurut saya didasarkan pada niat yang tulus bukan 
didasarkan pada marga yang ditasbihkan.
 
 Selama ini, saya tidak pernah hormat terhadap orang karo (saya dibesarkan di 
Lampung). Karena acara-acara adat karo selalu memisahkan si kaya dan si miskin. 
Di saat pesta, orangtua saya(yang katanya menurut adat sangat dekat dengan si 
empunya pesta) tidak dianggap karena tidak berharta. Sedang mereka yang tidak 
terlalu dekat malah duduk dekat  penghelat pesta.
 
 Rasa tidak hormat makin menjadi, karena abang ipar saya tidak mendapatan 
manfaat apapun dari "orangtua angkat".
 
 Uang yang terbatas dan acara yang berbelit-belit-menurut saya-tidak  
memberikan manfaat apapun untuk pernikahan. 
 
 ......
 
 Orangtua bahkan mengancam tidak akan hadir jika saya tetap meneruskan niat. 
Mereka berkata jika saya berbuat seperti itu maka tidak akan ada orang yang 
hadir saat mereka meninggal.
 
 Ironi memang, tapi saya cukup heran, kenapa orangtua yang begitu 
terdiskriminasi dalam  berbagai event adat masih begitu hormat dengan adat. 
 
 Maaf kalau harus mengetik dengan bahasa Indonesia, saya meminta teman-teman 
yang membalas postingan saya mencatumkan terjemahan. (saya tidak paham, tapi 
berjanji akan belajar bahasa karo)
 
 terimakasih
 
 
 
 
 
        

---------------------------------
Building a website is a piece of cake. 
Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.
     
            
        

---------------------------------
Building a website is a piece of cake. 
Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.
     
            
        

---------------------------------
Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.  
     
                       

 
---------------------------------
 Get your own web address.
 Have a HUGE year through Yahoo! Small Business.

Kirim email ke