Mejuah-juah
Ternyata topic ini membuat rame juga jambur ini ya.., Buat agi Reh Atemalem Susanti. Pertanyaan mendasar sebetulnya kenapa kam sendiri kecewa kepada adat karo ? kepada orang karo ? atau jangan2 kam juga kecewa sebagai orang karo ??? dan tentu saja ada lebih kecewa lagi ketika ada niat utk berumah tangga dgn calon non karo tapi ortu maksa harus beri marga ? Kalau dari penjelasan kam sebelumnya, sebetulnya kekecewaan kam itu ngga beralasan, karna mungkin ada oknum yg seperti tapi jangan langsung menghakimi adat itu tidak bagus. Kalau menurut saya kalau hanya akad nikah sebetulnya tidak perlu pemberian marga, namun kalau mau dibuat pesta adat itu sudah merupakan keharusan. Memang dalam menghadapi situasi sedemikian bisa membuat puyeng 7 keliling, satu hal sdh ada komitment cinta sementara yg lain rasa hormat kepada orang tua. Tapi percayalah kam, sekeras2nya orang tua akan luluh juga kalau bisa didiskusikan dgn baik. Adi jumpa das e dahkam kai pe labo baci i cakapken = kalau problem dibicarakan dgn emosi dan egois, tidak ada jalan keluar. Pengalaman impal Tarigan ini juga bisa dijadikan bahan renungan, kalau kam sdh yakin dengan pilihanndu jalan terus saja walau apapun rintangan. Bujur, Bp. Ita Ginting _____ From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Penta Sent: 12 Juli 2007 10:55 To: [email protected] Subject: Re: [infokaro] Re: Pemberian marga untuk suku lain.. Haruskah? Sedikit mau menambahin ya, dek.. Kalau kita sudah sampai pada sebuah 'masalah', realitas nya paling tidak ada dua kubu yang punya pendapat yang mau dipertahankan di arena yang sama. Betul kan? Dan kalau dua masalah tersebut tidak ada yang mau KOMPROMI, pasti tidak ada titik temu. Jadi sbenarnya yang paling didahulukan adalah kompromi antara pihak yang bertikai. Idealnya kedua pihak (atau bila lebih, semuanya!) harus menurunkan standar masing-masing dan menerima dari pihak yang lain. Baru.. mudah2 an sampai pada titik temu yang bisa diterima semua pihak.. Dalam kasus kam ini, bila dicermati kasusnya adalah: Orang tua mau supaya calon suami kam itu kan harus dikasi marga. Disini, apakah pihak calon suami itu setuju? Atau kalo keberatan, dalam hal apa dia keberatan? Terus apa kam setuju keberatan dia? Disinilah yang perlu dicari titik temunya. => Kasus kam ini gak begitu jelas dimana penyebab clashnya, tapi kalo dibaca tulisan kam kan, kam pun tidak begitu respect terhadap (adat) karo. Nah, inilah yang perlu diluruskan dulu. Dek, Adat itu ya adat.. sama seperti ada macam2 UU dinegara kita. Manusia itu kan mahluk sosial, berinteraksi antar sesama nya, dalam kelompoknya, dst.. Dalam berinteraksi itu ada norma/kaidah yang mengatur prilaku kita, kalo dalam bernegara ada UU yang mengaturnya, kalo dalam kelompok/suku ada adat.. gitu seterusnya. Adat atau produk hukum lainnya pastilah bagus pada waktu dibuat, mana mungkin dibuat untuk menghancurkan, ya kan? Kalo adek ketemu sama hal-hal yang misalnya para penyelenggara pesta adat lebih sombong, membeda2kan sikaya/miskin dan lain seterusnya.. itu sudah prilaku individu, sebenarnya tidak baik untuk mencampur-adukkannya. Jangan lantas, wah Karo itu tidak baik, gitu.. apalagi tidak bisa dipungkiri kita memang bagian didalamnya, ya kan? Kalo kita bisa perbaiki, mungkin itu lebih bagus.. Jadi intinya, adat itu bagus, adat apapun bagus untuk komunitasnya. Kalo kita bertemu antar komunitas, kita harus bisa menerima mereka, paling tidak ada titik temunya. Baiknya lagi, kalo spt kam itu, kalo dia bersedia, bikin pesta ada karo, dan pesta ada dari budaya calon suami. Jadi berkesan menerima keduanya, kalo satu aja kan dia bisa merasa adat dia dihilangkan. Betul kan? Kompromikan aja.. Itulah resiko pilihan seperti itu. Kalo misalnya adek dapat calon suami Karo, kan tidak ada masalah spt itu.. gitu... :D Bagusnya kan hubungan keluarga orangtua dan anak itu tidak hancur saat sianak membuat keluarga baru. Dari pengalamanku sih tidak enak, dulu aku sering takut, gimana kalo sebelum baikan ada yang meninggal ntah kita, ntah orangtua, aku takut juga, apa benar kelak tidak ada penyesalan.. dilematis.. begini salah begitu salah.. Tapi untung, tidak lama kemudian kita baikan.. Coba kam rundingkan dengan anak-beru, kalimbubu, dst... kasi pengertian sikit2.. supaya ada titik temunya. Cari anggota keluarga yang bisa ber-diplomasi, yang deket dgn ortu. Soal manfaat orangtua angkat, ganti marga itu.. itu tergantung pemikiran kita dek, apakah kita merasa bermanfaat memiliki orangtua angkat? Apakah kita merasa bermanfaat mengikuti prinsip di adat lain sebagai tanda penerimaan kita? Apakah bermanfaat yang lainnya, itu kan dari kacamata masing-masing, tapi yang pasti kalo hidup dalam kedamaian lebih baik daripada tidak damai, ya kan? Masalah uang, kalo adat karo kan biasanya ada 'runggun' (kalo gak lupa), semacam acara rembukan untuk menentukan semua yang berkaitan dengan pesta. Disitu akan dibuat anggaran, dan pesta akan disesuaikan dengan anggaran.. dan biasanya kalo kurang, ada pihak-pihak yang justru mau nalangin, menunjukkan kebanggaannya, dst... ada positifnya juga kan? Segitu dulu ya dek, semoga membantu menambah wawasan kam untuk menimbang-nimbang dan memutuskan nanti.. Selamat bekerja ya. Bujur mejuah-juah, P.Tarigan Reh Atemalem Susanti <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Makasih ya bang... Tapi agak sulit untuk aq (perempuan). Karena aq harus punya wali saat menikah. ....... Kadang ngerasa capek sendiri, mau marah tapi tidak bisa. Takut berdosa sama orangtua. ...... sekali lagi makasih, salam untuk kakak ya.. (siapa namanya bang?) Penta <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Reh Atemalem, Inilah dinamika kehidupan, jangankan kam yang melibatkan banyak orang dalam dua keluarga besar (pihak calon suami dan istri, atau mungkin juga ditambah partisipan lainnya), ini kita yang dimilis ini aja yang mencoba untuk membahas, belum apa-apa sudah terjadi kesalah-pahaman disana-sini. Begitulah, hidup memang banyak sekali bumbu2nya. Tapi justru disitulah makna-nya. Bagaimana cara kita menjalaninya. Aku sharing buat kam ya, karena punya pengalaman kurang lebih bisa sama. Aku menikah dengan seorang Chinese, sekarang kami sudah punya 2 anak. Menikah (pemberkatan -Sakramen Pernikahan Gereja Katolik) tahun 1999. Aku juga tidak mengajari kam ya, cuma kasi pemikiran aja. Karena orangtua dari pihak dari aku waktu itu keukeuh tidak akan merestui pernikahan tsb, setelah konsultasi sana-sini, akhirnya aku memutuskan untuk jalan terus. 'Nekad', kata itu bisa mewakili. Karena aku juga berfikir, kalo sudah dewasa kan sudah harus bertanggung-jawab atas (mempertanggung-jawabkan) tindakan2nya. Kalo aku pribadi sih merasa jodoh itu kan pilihan dengan segala kondisi yang mengikutinya. Karena aku sudah bertekad-bulat, jadi ya maju terus. Akhirnya kami tidak dipestakan, cuma sakramen pernikahan di Gereja saja. Tapi kami mendapat dukungan penuh dari teman2, saudara2 pihak istri, dan teman2 kerja, jadi ya gitu.. ramai juga.. hehe.. Kehidupan rumah tangga kami pasang-surut (biasalah dalam RT), tapi sampai 2 tahun lebih benar-benar lost contact dengan pihak keluarga dari aku. Setelah HUT anak kami yang pertama, doa kami dikabulkan Tuhan, ortu datang. Sama seperti kam, dulu juga gitu, katanya sampai mati tidak akan diakui, dst.. Syukurlah.. sekarang ini sering mereka ke Jakarta untuk ngeliatin cucu-cucunya. Senang lah.. bangga juga ada.. Kita selalu menyambut dengan suka-cita, bahkan sejak akur kembali itu paling tidak tiap bulan kita ngobrol by phone, dengan mantunya.. suruh datang ke Jakarta, suruh ngobrol dengan cucu-cucunya.. wah, senang banget dia.. apalagi kalo sudah dipanggil "Bolang... Nek Karo... " sama cucunya.. wah, senang bgt dia.. Gitu.. kalo aku bilang sih, orang tua itu pelan2 kita kasitahu (kasi pengertian, bukan diajarin!!) pelan-pelan... Lama2 dia juga ngerti.. biar waktu juga berperan.. Itu dulu ya.. karena udah mau pulang, besok disambung lagi.. Oh ya.. istriku juga tidak bermarga saat ini, orang tua mengerti. Karena chinese sendiri sebenarnya sudah ada fam-nya. Tapi lama2 istriku juga ngerti kalo marga juga kalo dikasi juga sbenarnya gak apa2... (tuh kan.. waktu berperan memperbaiki, membuat orang jadi lebih mengerti) Memang susahnya kalo ketemu aliran/adat berbeda gitu.. apalagi tidak dilandasi dengan menerima perbedaan secara utuh.. banyak clash nya... pasti setiap aliran merasa lebih benar, lebih penting, dst.. tapi ya itulah kalo sudah memilih pilihan itu, harus dengan resiko2nya.. jangan bagian enaknya aja.. hehehe Thanks ya sudah membaca. Salam, P. Tarigan Reh Atemalem Susanti <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Maaf kalau postingan saya membuat masalah.. Sebelumnya, saya hanya minta saran. Pasalnya perbedaan pendapat antara saya dan orangtua begitu besar. Orangtua memaksa calon suami diberi marga. Sedangkan saya dan calon sepakat untuk melaksanakan akad nikah saja, tanpa acara apapun. Karena menikah menurut saya didasarkan pada niat yang tulus bukan didasarkan pada marga yang ditasbihkan. Selama ini, saya tidak pernah hormat terhadap orang karo (saya dibesarkan di Lampung). Karena acara-acara adat karo selalu memisahkan si kaya dan si miskin. Di saat pesta, orangtua saya(yang katanya menurut adat sangat dekat dengan si empunya pesta) tidak dianggap karena tidak berharta. Sedang mereka yang tidak terlalu dekat malah duduk dekat penghelat pesta. Rasa tidak hormat makin menjadi, karena abang ipar saya tidak mendapatan manfaat apapun dari "orangtua angkat". Uang yang terbatas dan acara yang berbelit-belit-menurut saya-tidak memberikan manfaat apapun untuk pernikahan. ...... Orangtua bahkan mengancam tidak akan hadir jika saya tetap meneruskan niat. Mereka berkata jika saya berbuat seperti itu maka tidak akan ada orang yang hadir saat mereka meninggal. Ironi memang, tapi saya cukup heran, kenapa orangtua yang begitu terdiskriminasi dalam berbagai event adat masih begitu hormat dengan adat. Maaf kalau harus mengetik dengan bahasa Indonesia, saya meminta teman-teman yang membalas postingan saya mencatumkan terjemahan. (saya tidak paham, tapi berjanji akan belajar bahasa karo) terimakasih _____ Building a website is a piece of cake. Yahoo! Small Business gives you all <http://us.rd.yahoo.com/evt=48251/*http:/smallbusiness.yahoo.com/webhosting/ ?p=PASSPORTPLUS> the tools to get online. _____ Building a website is a piece of cake. Yahoo! Small Business gives you all <http://us.rd.yahoo.com/evt=48251/*http:/smallbusiness.yahoo.com/webhosting/ ?p=PASSPORTPLUS> the tools to get online. _____ Be a better Globetrotter. Get <http://us.rd.yahoo.com/evt=48254/*http:/answers.yahoo.com/dir/_ylc=X3oDMTI5 MGx2aThyBF9TAzIxMTU1MDAzNTIEX3MDMzk2NTQ1MTAzBHNlYwNCQUJwaWxsYXJfTklfMzYwBHNs awNQcm9kdWN0X3F1ZXN0aW9uX3BhZ2U-?link=list&sid=396545469> better travel answers from someone who knows. Yahoo! Answers - Check it out. _____ Get <http://us.rd.yahoo.com/evt=49678/*http:/smallbusiness.yahoo.com/domains/?p= BESTDEAL> your own web address. Have a HUGE year through Yahoo! Small Business.
