Tulisan ini saya teruskan dari milis Komunitaskaro

Best Regarts

www.dausmedia.cjb.net

       
---------------------------------
Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story.
 Play Sims Stories at Yahoo! Games. 
--- Begin Message ---
Teka-teki Sembiring  
TEKA-TEKI SEMBIRING


Dalam kitab konstitusi Dinasti Pardosi, penguasa negeri Barus, 
disebutkan bahwa sumber dari segala sumber hukum di kerajaan 
tersebut berasal dari adat Batak, Bugis, Cheti, Islam dan lain-lain.

Sayangnya dalam kitab konstitusi tersebut tidak disebutkan apa dan 
siapa bangsa Cheti tersebut. Walau dapat dimengerti, melalui 
penjelasan pasal-pasalnya, bahwa orang Cheti itu adalah orang Keling 
atau Bangsa Tamil.

Herannya adalah, tidak ada definisi khusus mengenai orang Tamil dan 
bagaimana kondisi mereka dalam sistem sosial kerajaan. Tidak seperti 
Kerajaan Aceh, yang mengasimilasikan orang Tamil (India) dan Batak 
dalam sistem sosial masyarakat 

Di Bawah pemerintahan Alauddin al-Kahhar (1530-1552) di Aceh 
dilakukan pembagain klasifikasi rakyat atau strata sosial menurut 
suku dan asal usulnya.

Orang-orang Mante-Batak atau penduduk Batak pribumi asli dinamakan 
dengan sukee lhee reutoih (suku tiga ratus), orang-orang India 
dimasukkan ke dalam kaom imeum peuet (kaum imam empat). Sedang para 
imigran dinamakan kaum tok batee (kaum yang mencukupi batu). 
Terakhir sekali dibentuklah kaom ja sandang (kaum penyandang). 

Para imigran Hindu, yang memang terdiri dari empat kasta, tadinya 
tergolong dalam kaum empat yang berdiam di tanah Abee, Lam Leuot, 
Montasiek dan Lam Nga. Mereka akhirnya menganut agama Islam dengan 
pemimpin kelompok yang bergelar imeum (imam).

Namun, di tanah Batak, tidak ada klasifikasi secara resmi seperti 
tersebut di atas. Diyakini orang-orang Tamil, berasimilasi secara 
sukarela dengan adat Dalihan Na Tolu yang menjadi sistem budaya, 
sosial dan adat Bangsa Batak.

Prof. Van Ronkel beranggapan bahwa kata-kata seperti gudang, kuli, 
suasa, kodi, kolam, peti, niaga, bedil dan tembaga, berasal dari 
bahasa Tamil (Het Tamil Element in Het Maleisch oleh Van Ronkel, 
Tijdschr. No. 45 Tahun 1902). Perlu kita ingat bahwa kitab adat 
Batak disebut Kitab Tumbaga Holing. Tumbaga adalah Tembaga yang 
berasal dari bahasa Tamil dan Holing adalah Keling atau sebutan 
untuk Tamil.

Begitu juga dengan kata-kata yang dipakai setiap hari seperti 
marapulai, pualam, cemeti, jodoh, gundu, badai, kolam, belenggu, 
dahaga, kanji, mahligai (ingat makam mahligai di Barus!), talam 
(nama kue), onde-onde, apam dan serabi. Melihat dari variasi 
bahasanya dapatlan kita simpulkan bahwa orang Tamil di tanah Batak 
berprofesi sebagai orang `biasa' atau pedagang.

Beberapa ahli berpendapat bahwa orang Batak Karo, khususnya marga 
Sembiring, merupakan orang yang paling banyak mendapat pengaruh dari 
budaya Tamil ini. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Sembiring 
merupakan keturunan Tamil.

Lucunya, Guru Patimpus putera Si Raja Hita yang merupakan putera 
dari Sisingamangaraja alias Mahkuta alias Manghuntal disebutkan juga 
bermarga Sembiring. Namun penabalan marga dalam sejarah sering 
membingungkan, karena penyusunan dan stratifikasi marga baru 
dilakukan pada zaman Belanda. 

Memang ada yang berpendapat bahwa sebenarnya Tarombo dalam 
masyarakat Batak merupakan kiasan dari konstelasi politik kuno di 
tanah Batak. Misalnya nama Sariburaja dalam salah satu tarombo 
Batak, sebenarnya bukanlah nama orang tapi nama sebuah kerajaan yang 
pernah berkuasa meliputi tanah Batak dan semua Sumatera yakni 
Sriwijaya.

Maka begitu juga nama marga Sinambela. Apakah ini nama orang atau 
hanya gelar saja, saat itu, yang ditujukan kepada seseorang yang 
mempunyai kharisma dan kebiasaan mulia yang selalu membela mereka 
yang teraniaya seperti apa yang ditunjukkan oleh Manghuntal selama 
hidupnya. Dia melunasi utang para korban rentenir, memerdekakan 
budak dan lain sebagainya. Sinambela berarti orang yang selalu 
membela dari anarki kemungkaran dan kemaksiatan

Merujuk dari kenyataan ini patut dipertanyakan penyusunan marga dan 
Tarombo yang dilakukan berdasarkan inisiatif beberapa pegawai 
Belanda di zaman penjajahan. Revaluasi dan riset kembali sangat 
dibutuhkan untuk melihat sisi-sisi sejarah yang digelapkan dengan 
sistem pohon geneologis yang disandarkan kepada anggapan bahwa 
seakan-akan itu sudah baku berdasarkan informasi Belanda. Bisa saja 
80 persen marga dan Tarombo tersebut sudah mendekati kebenaran namun 
terdapat beberapa kelainan yang patut dipertanyakan. Oleh karena 
itulah banyak ahli sejarah Batak menempatkan Tarombo sebagai sumber 
pembanding saja setelah sumber utama dalam penulisan sejarah.

Kembali ke persoalan Sembiring, banyak nama marga dan sub-marga 
rumpun Sembiring seperti Pandia, Meliala dan Cholia, berasal dari 
bahasa Tamil. Begitu juga dengan rumpun Borbor di daerah Toba atau 
Dairi (Lihat karangan Stein Callenfels dalam Oudh, Tahun 1920 hal. 
73) 

Membakar mayat dan menghanyutkannya sebagian dari tulang-tulang di 
sungai umpamanya, menurut Joustra (Meededeelingen Omtrent en 
Opmerkingen naar Aanleiding v.h. Pek Oeloeh of het Doodenfest der 
Marga Sembiring. Tijdschr No. 45 Tahun 1902) adalah kebiasaan marga 
Sembiring yang mungkin berasal dari Tamil.

Bila kita membaca berbagai literatur mengenai struktur masyarakat 
Batak dan kehadiran para imigran dapatlah kita simpulkan bahwa 
Bangsa Batak merupakan bangsa yang terbuka dengan kebudayaan dan 
pengaruh dari luar. Walau secara teritorial mereka sangat menutup 
diri dari hingar-bingar perpolitikan seperti perang dan penjajahan.

Sistem budaya Batak kuno sangat terbuka dengan masuknya keberagaman 
budaya asing sehingga orang-orang Bugis, Melayu, Aceh dan lain 
sebagainya dapat masuk menjadi bagian dari adat Dalihan Na Tolu 
dengan mudah.

Namun, bukanlah berarti bahwa semua kekayaan peradaban Batak berasal 
dari para imigran semata. Seperti banyak orang mengatakan bahwa 
peradaban Batak merupakan dari serapan dari kebudayaan India semata. 
Justru yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana dan apa yang 
menjadi perekat yang menyebabkan orang asing datang dan bermukim di 
tanah Batak dan bahkan menjadi orang Batak dengan marga-marga baru 
mereka.

Diyakini, pluralisme yang ada dalam nilai-nilai sosial Batak, telah 
menjadi faktor utama yang menyebabkan orang-orang asing merasa 
nyaman menjadi orang Batak. Setidaknya inilah yang terjadi pada 
sejarah kuno Batak sebelum datangnya orang Eropa yang menghancurkan 
semua tatanan tersebut.

Faktor lainnya adalah, perkembangnya ilmu pengetahuan seperti yang 
termaktub dalam pustaha-pustaha Batak yang mengundang para ilmuwan 
asing kuno untuk menyerap kebudayan Batak dan dibawa ke negeri 
masing-masing.

Peta dunia ala Ptolemy diyakini merupakan serapan dari pemahaman 
Naga Padoha Batak, saat Ptolemy datang ke tanah Batak di abad ke-2 
M. Begitu juga dengan ekspedisi-ekspedisi maritim Fir'aun di tahun 
2000 SM ke negeri-negeri jauh untuk menggali ilmu. Yang salah satu 
diantaranya diyakini berlabuh di negeri Batak.

Faktor lain tentunya adalah hasil tambang dan perkebunan tanah Batak 
kuno yang khas dan spesifik yang tidak ditemukan di tempat lain. 
Sayangnya, peta-peta jalur laut ke tanah Batak selalu dirahasiakan 
oleh penemunya sehingga tanah Batak menjadi tidak masyhur saat itu. 
Barulah kedatangan pelaut-pelaut Arab di tahun 8 M membuka tabir 
dari kemisterian tanah Batak saat itu.

Namun, konstelasi sosial politik tanah Batak tidak saja terjadi 
antara Batak dan asing tapi juga antara Batak itu sendiri. Khusunya 
antara Toba dengan Karo yang pada akhirnya berhubungan dengan marga 
Sembiring ini.

Karo adalah sub-suku Batak yang telah memisahkan diri secara 
identitas sejak tahun 1200-an dengan nama kerajaan Haru Wampu. Orang 
Karo tinggal di kaki bukit barisan. Orang aseli Karo sebelum adanya 
asimilasi dengan asing masih tersisa di daerah Siberraya dekat 
dengan Deli Tua. Mereka ini disebut Karo Sekali karena mereka 
merupakan orang Karo yang masih aseli. Karo dalam penyebutan bahasa 
Asahan adalah Haro.

Di dataran tinggi, terjadilah invasi dari orang Toba dan Dairi. 
Orang-orang tersebut bermarga Barus, Lingga dan Sitepu yang kemudian 
menetap di tanah Karo. Namun, bagi orang Karo aseli, mereka ini 
bukanlah suku Karo yang aseli sehingga mereka disebut dengan istilah 
Karo-karo.

Mereka ini membuat perkampungan sampai ke dataran rendah dekat Deli 
Tua dan Binjai. Marga Tarigan datang dari Dolok dan Simalungun dan 
juga dari Lehe (Dairi) berjalan menuju Nagasaribu dan Jupar. Satu 
cabang marganya turun ke pesisir timur, Ale-Deli dekat Pulau Brayan, 
dan bahkan sampai ke Siak (W.B. Hollman dalam Nota 1932 
dalam `Adatrechtsbundels", xxxviii, hal 375 etc.

J.H. Neuman menduga mereka pindah bergelombang dari dataran tinggi, 
karena adanya desakan dari orang-orang India Tamil yang datang dari 
arah Singkil dan Barus yang masuk masuk ke tanah Karo dan juga 
karena marga Sembiring diusir dari Aceh. (Bijdrage tot de 
Geschiedenis der Karo Batakstammen", BKI 1926). Ini berarti bahwa 
orang Tamil dan Sembiring adalah beda atau kemungkinannya orang 
Tamil yang terusir tersebut akhirnya menetap di Medan dengan marga 
Sembiring.

Sedangkan marga Ginting datang via Tengging lewat pegunungan (Layo 
Lingga) masuk Tanah Karo. Banyak pula daerah mereka yang diambil 
oleh komunitas Sembiring. Marga Perangin-angin datang melalui Pinem 
dan Layo Lingga. Mereka menuju ke utara, ke Kuta Buluh dan ke 
seberang barat Gunung Sinabung. Juga mereka melintasi pegunungan 
menuju dataran rendah dekat Binjai. Hanya Perangin-angin Batu Karang 
yang datang dari arah Siantar, tapi akhirnya mengaku juga datang via 
Dairi.

Sembiring Kembaren datang melalui Lau Baleng dan via Samperaja 
(Liang Melas), masuk Bahorok di Langkat. Ada juga yang terus ke 
tanah Alas. Invasi yang terakhir adalah dari marga-marga Sembiring 
lainnya yakni Brahmana, Meliala, Depari dan lain-lain yang juga 
melalui jalan tadi agak ke timur menghulu Sungai Biang dan menuju 
arah Siberraya.

Jika ditelusuri cerita dari Perbesi, maka marga-marga Sembiring ini 
baru masuk Dusun Deli dan Serdang kira-kira 150 tahun yang lalu. 
Marga-marga ini sangat sedikit dan tidak pernah menjabat Kepala 
Kampung (Penghulu atau Perbapaan) di Dusun Deli dan Serdang. Jadi 
hampir semua dari mereka ini datang dari Hulu Sungai Singkel dan 
hulu sungai-sungai di sebelah pantai Barat Sumatera.
Labels: Karo
 



--- End Message ---

Kirim email ke