Sulit dipercaya. Saat ini lebih dari 500 video porno buatan Indonesia beredar 
di masyarakat. Baik dalam bentuk VCD, DVD, maupun yang beredar dari ponsel ke 
ponsel.

Lebih mengejutkan lagi, dari 500 lebih video porno yang beredar itu, 90% di 
antaranya dibuat oleh mahasiswa dan pelajar. Sungguh mencengangkan karena 
setiap hari minimal dua film porno baru buatan mahasiswa dan pelajar yang 
beredar di tengah masyarakat melalui internet dan handphone.
 Hasil penelitian Sony Ady Setyawan, seorang mahasiswa asal Yogyakarta ini, 
semakin meyakinkan kita tentang banyaknya video porno buatan mahasiswa dan 
pelajar yang bergentayangan di internet dan dari handphone ke handphone.
 Sebagian besar video porno itu dibuat secara amatiran, berdasarkan keisengan 
belaka. Kebanyakan dari video porno itu dibuat melalui kamera yang ada di 
ponsel. Sedangkan gambar yang direkam mulai dari adegan telanjang sampai 
hubungan seks.
 Tapi yang membuat kekhawatiran semakin menjadi-jadi adalah sudah mulai 
ditemukan video yang menggambarkan adegan perkosaan yang direkam. “Adegan itu 
sengaja direkam untuk kemudian disebarkan,” ujar Sony. Sampai saat ini belum 
diketahui motif dari pembuatan film semacam itu. “Tapi, kita harus waspada. 
Sebab dengan beredarnya film-film kekerasan seks seperti itu, kita sudah masuk 
pada gelombang keempat dalam dunia pornografi, seperti yang terjadi di jepang,” 
Sony menegaskan.
 Sony tidak berlebihan. Teknologi video saat ini sudah melekat hampir di semua 
ponsel. Dengan perangkat tersebut, anak-anak muda banyak yang tergoda untuk 
merekam adegan mesra mereka yang sangat pribadi, bahkan adegan hubungan seks, 
melalui ponsel tersebut.
 Perkara yang bermula dari keisengan itu juga diakui Rini dan Ita, dua remaja 
pelajar di sebuah SMU di Jawa Tengah, yang pernah merekam adegan mandi mereka 
di ponsel.
 “Waktu itu setelah pesta ulang tahun teman, kami berlima mandi bersama. Ada 
teman yang kemudian iseng merekam adegan itu di ponselnya,” tutur Rini. Setelah 
itu gambar tersebut ditransfer ke ponsel masing. Tapi mereka menjadi panik 
ketika pacar salah seorang dari mereka sempat melihat rekaman tersebut.
 Akhirnya kelima gadis remaja itu sepakat untuk menghapus rekaman tersebut 
sebelum menyebar ke mana-mana dan menjadi pembicaraan di antara teman-teman 
mereka. Apalagi ketika ponsel Rini hilang. “Ada yang bilang rekaman yang sudah 
dihapus itu bisa ditampilkan lagi. Sekarang saya dan teman-teman jadi cemas,” 
ujar Rini ketika tampil di Kick Andy. 
 Pengalaman buruk dalam urusan seperti ini juga dialami Femmy Permatasari. 
Bersama Rachel Maryam, Sarah Azhari, dan sejumlah artis gambar mereka ketika 
sedang ganti baju beredar di masyarakat dalam bentuk VCD dan juga melalui 
internet.
 Gambar yang direkam ketika mereka sedang casting untuk sebuah produk iklan itu 
berakhir dengan diseretnya pemilik studio, Budi Han, ke meja hijau. “Tapi, saya 
telanjur shock. Pertama kali lihat rekaman itu saya muntah-muntah dan akhirnya 
harus dirawat di rumah sakit,” ungkap Femmy kepada Andy Noya. 
 Akibat film iu, bukan cuma Femmy yang terpaksa mengundurkan diri dari 
pergaulan, sang suami juga merasa tertekan dan menarik diri dari pergaulan. 
Mereka juga berupaya agar rekaman tersebut tidak dilihat oleh sang anak yang 
masih kecil. “Tapi VCD-nya saya simpan. Suatu hari nanti, ketika dia sudah 
siap, saya akan jelaskan soal ini,” kata Femmy.
 Topik ini kembali ingin mengingatkan kita semua, terutama para remaja, untuk 
berhati-hati tampil di depan kamera. Bermula dari iseng, masa depan bisa hancur 
berantakan. Karena itu, gerakan kampanye yang saat ini sedang digalang oleh 
sejumlah aktivivis perlu mendapat dukungan. Mereka bersama-sama menggerakan 
kesadaran untuk “Jangan Bugil di Depan Kamera!”
     Bantuan Anda dapat disalurkan melalui: 
Bank BCA Puri Indah a/n: PT Media Televisi Indonesia
     No. Rek: 2883016777     
--> 
-->   sumber: www.kickandy.com



       
---------------------------------
Boardwalk for $500? In 2007? Ha! 
Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games.

Kirim email ke