MASMAT, sebagai tonggak sejarah bagi etnis Karo
" Sifat demokratis dan inklusif, sifat mudah menyesuaikan diri dan sikap
berpegang teguh pada prinsip-prinsip moral dari keluhuran adat dan budaya telah
melahirkan nilai-nilai budaya khas Masyarakat Karo." (sambutan langsung
presiden SBY tanggal 8 juli 2007 di Jakarta dalam upacara MASMAT Malam
Anugerah Seni dan Mburo Ate Tedeh).
"Budaya khas masyarakat Karo" diucapkan oleh presiden SBY, seorang Jawa Pusat
yang pada umumnya buta daerah, buta etnis terus sampai permulaan reformasi, dan
dunia sudah dilanda Revolusi Besar Kebudayaan Etnis (ethnic revival atau
cultural revival), perang etnis, etnic cleansing diikuti oleh berdirinya
negara-negara etno-nasional maupun daerah/propinsi berdasarkan garis etnis atau
garis kultur "budaya khas" etnis tertentu. Perlukah tendensi atau arah
perkembangan ini ditentang atau dilawan? Beberapa diktator dunia telah mencoba
menentang dan melawannya, dan hasilnya ialah bahwa mereka (para diktator ini)
tersingkir, dan nation atau daerah/propinsi otonomi etnis berdiri tegak dengan
megahnya!
Bagaimana SBY sebagai seorang Jawa pusat? Dia mampu belajar dan giat
mengikuti dan menganalisa perkembangan dunia, terlihat dari pidato sambutannya.
Dia juga tentu sudah bertukar pikiran dengan kedua menterinya MS Kaban yang
ber"budaya khas" etnis Karo dan Sudi Silalahi dengan "budaya khas" etnis Batak
atau seperti SBY katakan " nyanyian Batak yang khas telah lama mewarnai
khasanah budaya bangsa kita" ( jelas maksudnya disini bukan nyanyian "khas"
Karo tetapi "khas" Batak). Bukanlah secara kebetulan SBY mengikutsertakan Sudi
Silalahi ke MASMAT, atau . . .
SBY telah berusaha menunjukkan keberhasilan pemikirannya dengan memakai
istilah "khas" Karo dan "khas" Batak, dimana pengertian umum Jawa Pusat selama
ini masih sama dengan pengertian penguasa kolonial tentang etnis-etnis
Indonesia dengan istilah Batak-Karo misalnya, atau seperti pengertian mereka
di Aceh dengan istilah Aceh Gayo atau Aceh Alas untuk mengatakan atau untuk
tidak mengatakan "khas" Gayo atau "khas" Alas dan "khas" Aceh (lebih jauh lagi
antropolog USU Amir Nadapdap bahkan bilang Batak Gayo dan Batak Alas),
seakan-akan etnis-etnis lain di Aceh seperti Gayo, Alas, Singkil, Tamiang dll
tidak mungkin exis tanpa mengikut sertakan istilah Aceh didepan suku mereka.
SBY dengan pemerintahannya tentu tidak mau tertipu sekali lagi seperti halnya
dalam point 1.1.4 persetujuan GAM-NKRI Helsinki dimana daerah-daerah etnis lain
dimasukkan secara diam-diam (tanpa mendiskusikannya lebih dahulu dengan
etnis-etnis bersangkutan) kedalam daerah negara Aceh Nanggroe Aceh
Darussalam. Hal ini tadi mungkin terjadi karena pengetahuan daerah Pusat
terlalu sangat minimal. Orang-orang Jawa Pusat tidak mengerti bahwa di
Nanggroe Aceh ada banyak etnis lain selain etnis Aceh dan etnis Jawa
transmigrasi Orba. Pernah saya bikin pertanyaan, mungkinkah orang Aceh setuju
jika mengganti nama negara Aceh itu (Nanggroe Aceh Darussalam) dengan nama
Nanggroe Gayo Malem Dewa? Nanggroe Alas atau Nanggroe Tamiang? Dimana pemakaian
"berdiri sama tinggi duduk sama rendah" bagi setiap etnis?
Internal-colonialism?
Bagi etnis-etnis minoritas di Nanggroe Aceh ini masih dalam tingkat
perjuangan melepaskan diri dari internal colonialism. Mereka sedang
gigih-gigihnya memperjuangkan propinsi sendiri memisahkan diri dari negara
aceh dengan memperjuangkan propinsi Leuser Antara dan ABAS, dan yang ditentang
sangat keras oleh orang Aceh termasuk dengan alasan persetujuan Helsinki. Semua
etnis-etnis lain diseluruh nusantara ini patut mendukung propinsi-propinsi ini,
dalam rangka perjuangan untuk keadilan sebagai kontradiksi pokok dunia abad
ini. Di Indonesia perjuangan ini harus dimulai di daerah. Di pusat sudah
dimulai oleh Gus Dur dengan mendorong pemisahan dan pendirian berbagai propinsi
atas dasar kultur-budaya daerah, dan sekarang SBY telah lebih jauh memperdalam
pengetahuan daerahnya terlihat dari pernyataan resmi existensi etnis Karo
dalam kehadirannya menyambut MASMAT 8 Juli 2007 di Jakarta.
Bagi SBY sebagai seorang presiden sudah bikin pernyataan yang jelas, bahwa
dia telah mengikuti dan mengakui perkembangan ethnic/cultural revival dunia,
dapat diperhatikan dari kata sambutannya dan dengan tesis "heritage economy"nya
dalam "memasuki gelombang ke-4 peradaban bangsa" serta menandaskan: "Saya yakin
kebudayaan nasional yang tangguh hanya dapat dibentuk oleh pilar-pilar
kebudayaan lokal dan daerah yang kuat." Ini bisa dipahami sebagai perubahan
besar dalam sejarah pemikiran seorang presiden, perubahan pemikiran yang
kompatibel dengan perkembangan dan tuntutan zaman serta baginya sangat teramat
penting dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin satu negeri multi-etnis
atau multi kultur. Pada acara MASMAT dengan bangga presiden SBYmenyatakan bahwa
Karo adalah Karo dengan sebutan budaya "khas Masyarakat Karo". Ini semacam
pengakuan dari atas, pengakuan dari seorang presiden dan telah merupakan satu
tonggak sejarah bagi perkembangan Karo sebagai etnis mandiri.
Bujur melala ras mejuah-juah presiden SBY.
Bujur melala man pencipta dan pelaksana MASMAT.
Bujur melala man kerina seniman, artis, pemusik, ras kerina sierjabaten, si
enggo ikut kerja keras erbahan meriah malam bersejarah MASMAT.
Pemekaran Karo keadilan bagi etnis Karo
Daerah-daerah pada berlomba memekarkan diri. Muncul pro-kontra dengan
sendirinya, karena setiap perubahan apa saja pasti selalu ada yang menentang
alias tidak ingin perubahan. Tidak semua juga perubahan menguntungkan, terutama
jika dilihat dari jangka pendek. Di Sumut, ex Taput cepat sekali memekarkan
diri, sekarang sudah jadi 4 kabupaten, diluar Dairi dan Pakpak Bharat. Tujuan
utama tadi adalah persiapan mendirikan propinsi (Protap) dengan syarat dari
pusat harus ada setidaknya 4 kabupaten dan satu kota, dan perjuangan Protap
masih terus sampai sekarang. Tapsel juga tidak mau ketinggalan, mereka tidak
mau ikut Protap, dan bikin persiapan sendiri mendirikan propinsi Tabagsel,
sudah berhasil memekarkan beberapa kabupaten untuk memenuhi persyaratan
propinsi.
Walaupun perjuangan kedua propinsi ini belum berhasil, tetapi ex 2 kabupaten
ini (Taput dan Tapsel) sudah mendapat keuntungan ekonomi langsung misalnya dari
DAU dan DAK, dana pendidikan serta dana-dana lainnya, yang tadinya dibagikan
menurut jumlah kabupaten, sekarang jelas jadi 4x lebih besar. Sebagai contoh
pernah saya tulis dimilis kita, misalnya dana pendidikan Bagenda ndai kutulis
(Sat Apr 21, 2007 11:41 pm):
"Kalak Karo enggo me ndai sempat ngikuti perkembangan Taput, sada kabupaten
berubah jadi 4 kabupaten. Entah sedih ka nge ndai mulana bupati Taput la
kutteh pastina, tapi jelas gundari ia bersemangat ndukung Protap. Syarat
pemekaran propinsi emkap setidaknya 4 kabupaten dan satu pemko. Jelas bupati
Taput melihat kepentingan Batak Enda Ndai dalam jangka panjang, terlepas dari
kepentingannya sendiri mempertahankan kekuasaan dengan daerah yang jauh lebih
luas tanpa pemekaran.
Enggo melala ka hasil si enggo icapai daerah-daerah enda, terutama ibas
pembagian DAK/DAU. Ibas tahun lalu kabupaten Tobasa (salah satu dari bekas
Taput) di anugrahi dana pendidikan Rp 53 miliar . Kab Karo di anugrahi
dengan jumlah Rp 7,94 miliar (SIB 02 June 2006) . Sekiranya Karo dibagi 3
kabupaten, setidaknya akan dapat 3x7,94 miliar atau sekitar 24 miliar. Kalau
Taput jadi 4x53 miliar atau sekitar 212 miliar. Bedanya sangat jauh, ini
karena:
"in all too many cases, are euphemistically called the developing
countries, development programmes frequently are controlled and administered at
the higher levels by members of the politically dominant ethnic group; and most
of the fruits of such development flow into the pockets of a tiny ethnic elite
or at best, are distributed in a limited manner within the same ethnic group."
(Professor Denis Dwyer University of Keele, UK dalam bukunya Ethnicity and
Development)
Ibas gubernuran Sumut enggo me sitteh uga keberadaan kalak Karo sejak
terbentuknya Sumut sampai hari ini, dengan intermezo sejenak Ulung Sitepu.
Perkembangan dan kemajuan suatu etnis atau grup masyarakat lainnya tergantung
dari JARAK mereka ke kekuasaan, megati kutulisken bas milista. JARAK enda
selain fisik termasuk kang kultur-budayana. Atau bagi sipernah ka itambahken
Joey Bangun: "kepedulian dengan pemerintah negeri ini". Kepedulianta man
pemerintah (pemda/pusat) bagepe kepedulian pemerintah (pemda/pusat) man banta
seluruh rayat. Kepedulian si perpudi enda, eme kapken menyangkut soal KEADILAN.
Janah enda me perjuangenta ndai, ibas perjuangan pemekaran enggo termasuk,
sebab pemekaran daerah-daerah Karo akan mendekatkan JARAK adah ndai, janah
Sumtim atau propinsi Karo, enda me salah sada dalan terpenting menuju keadilan
enda ndai. Keadilan em kap dasar atau syarat utama perdamaian atau suasana
damai antar etnis seluruh Indonesia bagepe seluruh dunia."
Soal keadilan atau ketidakadilan enda nangat kang teridah ibas soal
pendidikan bagepe perguruan tinggi. Ibas pemilihan rektor USU terakhir, lit
sada calon kalak Karo (Masno Ginting). Melala kalak Karo si mungkin mereken
sorana man Pak Masno, tapi la sadape kalak Karo si mereken sorana man bana.
Engkai? Enda me kapken perbahan hegemoni ras dominasi (power) kalak
Tapsel/Mandailing nai-nai nari seh kuatna i USU. Kalak Karo mbiar mereken
sorana man kalak Karo, terutama perbahan sistem pemilihanna enggo i atur kalak
si berpower enda ndai leben.
Gia ibas pemerintahan Sumut enggo berkurang hegemoni turun-temurun kalak
Tapsel/Mandailing, tapi man kalak Karo bali denga dauhna (jarakna) ku
kekuasaan. Lit kin dalan sideban pedeher kalak Karo ku kekuasaan selain
pemekaran?
Dalan siapai kin simehulina gelah keadilan man kalak Karo i Sumut enda
tercapai? Enda me pertanyaan man banta kerina kalak Karo. Pemekaran enda salah
sada dalan nge ngenca, tapi pasti nge labo satu-satunya. Si ukurken dalan
sideban yah.
Pemekaran daerah Karo, enda sesama kita Karo kap je. Bageme ex Taput sesama
Batak, ras ex Tapsel sesama Mandailing. Adi Karo ndai berhasil ngikuti
perkembangan dua kabupaten enda (Taput-Tapsel) janah enggo berhasil mekarken
Karo jadi 3 atau 4 otda, banci kang ikataken labo ndauhsa ndai ketidakadilan
ibas pembagian dana, adi ibagi menurut jumlah kabupaten. Halangenna cuma bagi
sikataken Denis Dwyer idatas, gia enda pe enggo me cukup jadi halangen. Atau
edi sajape enggo mbuesa ketidakadilenna!
Erbage-bage pemekaran. Lit pemekaran memisahkan diri dari daerah etnis lain
atau dari cengkeraman hegemoni/dominasi etnis lain atau daerah lain. Misalna
Alas, Gayo, Singkil, Gorontalo dsb. Bagepe propinsi Karo dari dominasi
Tapanuli/Mandailing di Sumut. Pernah kang ku usulken propinsi Sumtim, maksudku
gelah ngikutken etnis tersingkir Simalungun, Pakpak, Pujakesuma ras Melayu
Delang (Deli-langkat). Adi 3 suku enda ikut dengan sukarela, tentu obsi
propinsi bernama Propinsi Karo tentu lanai relevan, perlu darami gelar sideban,
arih-arih kerina suku. Tapi adi kalak Karo ngenca bersemangat, tentu propinsi
Karo sindeherna. Syaratna ndai, usaha pertama uga memenuhisa emkap 5 daerah
otonom atau 4 + 1 pemkot. Si mungkin emkap Tanah Karo, Singalorlau, Berastagi,
Deli, Langkathulu.
"Ratusan warga dari 10 kecamatan mendatangi DPRD Deli Serdang, Selasa (10/7),
mendukung anggota dewan membentuk dan mengesahkan panitia khusus (Pansus)
pemekaran Deli Serdang, pada 12 Juni 2007 lalu.
Warga tiba di gedung DPRD sekira pukul 10.00 membawa pengeras suara, kemudian
melakukan rorasi. Mereka tegas menghendaki dibentuknya Kabupaten Deli, terdiri
dari 10 kecamatan yakni, Sibolangit, Pancur Batu, Kutalimbaru, Sunggal,
Namorambe, Deli Tua, Patumbak, Biru-biru, STM Hilir dan STM Hulu. "Membentuk
Kabupaten Deli harga mati," kata mereka.
Menurut mereka, 10 kecamatan itu sangat potensi, baik sumber daya manusia
maupun alamnya.
Begitu juga potensi industri yang selama ini tidak diperhatikan dan dikelola
dengan serius.
Aspirasi ini menurut mereka, diperjuangkan sejak 2002. Sudah disampaikan kepada
pemerintahan pusat, bahkan MPR RI sudah mempersiapkan 10 kecamatan sebagai
kabupaten persiapan. Mereka meminta DPRD menindaklanjuti surat Bupati DS No.
136/5341, tertanggal 11 November 2002 menetapkan pemekaran Kabupaten Deli
Serdang menjadi tiga Kabupaten yaitu, Kabupaten Deli Serdang, Serdang Bedagai
dan Kabupaten Deli."
(WASPADA Online. Selasa, 10 Juli 2007 22:22 WIB)
Selain Deli, Langkathulu, Singalorlau, Berastagi enggo melala reh aspirasi
lokal nari.
Untung-rugi pemekaran enda tentu banci denga nge rusur si pelajari terdauhen
ras terbagesen. Tapi secara ekonomi bagi si kuturiken idatas, enggo me pasti
(jangka pendek). Tapi keuntungan terbesar ningku ndai emkap soal KEADILAN man
Karo sebagai etnis, ibas perdalanen ras jaminen perkembangenna 100 tahun
kulebe.
Mejuah-juah kita kerina
MUG
--
Iteruh enda kuikutken salinan lengkap sambutan presiden di acara MASMAT,
sinikirimken Yulianus Liembeng ku milis senimankaro 02 aug 2007
[senimankaro] Sambutan Presiden pada Acara MASMAT
Jakarta Convention Center, Minggu, 8 Juli 2007 Sambutan Malam Anugerah Seni
dan Mburo Ate Tedeh 2007
TRANSKRIPSI SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA MALAM ANUGERAH
SENI DAN MBURO ATE TEDEH TAHUN 2007 JAKARTA CONVENTION CENTRE, 8 JULI 2007
Bismillahirrahmanirrahim, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat malam, Salam sejahtera untuk kita semua,
Mejuah-juah,
Yang saya cintai Saudara MS. Kaban, Saudara Sudi Silalahi,
Yang saya muliakan para Sesepuh dan pada Tokoh Masyarakat Karo, baik Tokoh
Budaya, Tokoh Adat, Pemuka Agama, Pengusaha, Cendekiawan dan berbagai Pemuka,
berbagai cabang profesi masyarakat Karo yang hadir pada malam hari ini, Yang
saya cintai dan saya sayangi Keluarga Besar Masyarakat Karo,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Malam ini kita bersyukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas rahmat dan
karunia-Nya, kita dapat bersama-sama menghadiri Malam Anugerah Seni dan Mburo
Ate Tedeh 2007 di Jakarta Convention Centre. Saya ingin menggunakan kesempatan
yang membahagiakan ini untuk menyampaikan ucapan selamat dan penghargaan yang
setinggi-tingginya kepada Yayasan Bengkel Seni 78, beserta segenap masyarakat
Karo atas terselenggaranya acara ini. Semoga Malam Anugerah Seni ini dapat
memacu kreativitas para seniman dan dapat meningkatkan apresiasi kita terhadap
keanekaragaman seni budaya di tanah air.
Hadirin yang saya hormati, Sungguh merupakan kebahagiaan bagi saya dapat
berkumpul dan ber-silaturahim bersama-sama para Tokoh Adat dan Masyarakat Karo.
Saya mengenal dengan baik masyarakat Karo sebagai masyarakat yang memiliki
kekayaan budaya, tradisi, dan adat istiadat yang khas dan unik, masyarakat yang
teguh dalam pendirian, mandiri dan suka bekerja keras. Diantara para sesepuh
dan senior, ada yang sewaktu saya masih berdinas di TNI, Bapak Arifin Tarigan
salah satu mentor saya yang ikut mendidik saya. Oleh karena itu, saya tahu
karakter seperti ini, ada pada masyarakat Karo, pemimpin-pemimpin yang berasal
dari Karo.
Salah satu karakter masyarakat Karo yang patut kita banggakan adalah
mudah-mudahan tidak salah baca Rakut Sitelu Merga Silima Tutur Siwaloh sebagai
sikap kekerabatan khas yang sangat mengedepankan harmoni, persaudaraan, dan
toleransi. Sifat demokratis dan inklusif, sifat mudah menyesuaikan diri dan
sikap berpegang teguh pada prinsip-prinsip moral dari keluhuran adat dan budaya
telah melahirkan nilai-nilai budaya khas Masyarakat Karo. Dengan karakter
inilah Saudara-saudara, Masyarakat Karo dapat berinteraksi dengan mudah dan
bergaul bersama kelompok etnis lain di seluruh tanah air. Dengan karakter ini
pula, banyak tokoh, baik politik, birokrat, pengusaha maupun akademisi yang
lahir dan berasal dari masyarakat Karo.
Hadirin yang saya muliakan, Kita patut bersyukur, bahwa bangsa kita
dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dengan keanekaragaman budaya yang
diwariskan dari generasi ke generasi. Potensi yang sangat besar itu haruslah
kita kembangkan dan kita kelola sebaik mungkin, agar menjadi kekuatan yang
nyata, kekuatan bangsa kita. Kekuatan yang dapat memberikan kontribusi bagi
pembangunan dalam rangka meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.
Di tengah-tengah terpaan budaya asing yang masuk ke tanah air, kekayaan
budaya bangsa kita harus menjadi pilar utama dalam menangkal pengaruh negatif
yang menyertainya. Kekayaan budaya kita harus menjadi penyaring atau filter
masuknya nilai-nilai budaya asing yang tidak sesuai dengan karakter budaya
kita. Kita memang harus menangkal dan mencegah masuknya nilai-nilai budaya
asing yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kepribadian bangsa kita. Sebab, kita
ingin membangun masyarakat yang hidup di atas kepribadian sendiri, kepribadian
Indonesia. Masyarakat yang kokoh berdiri dan tidak terombang-ambing oleh
perubahan dan kemajuan zaman.
Sementara itu, dalam era globalisasi ini nilai-nilai budaya asing yang
membawa kebaikan dan yang sesuai dengan nilai-nllai budaya bangsa kita, kita
jadikan pendorong dalam proses percepatan pembangunan. Nilai-nilai budaya luhur
yang penerapannya dikemas dalam semangat kekinian akan mendorong kita semua
untuk tumbuh maju dan berkembang. Nilai budaya yang berorientasi ke masa depan
mengandung disiplin yang tinggi dan penuh tanggung jawab, memiliki kemampuan
berinovasi, serta menghargai hasil karya orang lain dan percaya terhadap
kemampuan sendiri adalah nilai-nilai budaya luhur yang harus ditanamkan dan
diwariskan kepada generasi penerus kita selanjutnya. Dengan mengedepankan
nilai-nilai budaya luhur seperti itu, insya Allah kita akan dapat menyongsong
hari esok yang lebih cerah dan menghasilkan budaya kreatif yang penuh inovasi
dan inklusif.
Saudara-saudara,
Perkembangan seni budaya dari berbagai suku bangsa harus kita upayakan, agar
dapat menjadi daya tarik dan nilai jual pariwisata di tanah air. Industri
pariwisata yang tengah kita galakkan tidak mungkin tumbuh dan berkembang, jika
kita tidak dapat mengemas kekayaan seni budaya dalam suguhan karya seni yang
menarik. Di berbagai kesempatan saya jelaskan, dunia sedang memasuki gelombang
ke-4 peradaban bangsa. Pada era seperti itu, kita harus membangun salah satu
cabang ekonomi yang sering saya sebut dengan ekonomi warisan, heritage economy,
yang mengembangkan budaya, seni, kekayaan sejarah dan berbagai warisan yang di
negeri kita ini amat banyak jumlahnya. Kita harus menjemput masa itu dengan
secara cerdas mengembangkan kebesaran yang dimiliki oleh bangsa kita, sehingga
akhirnya bisa membawa kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.
Saya menyambut gembira pagelaran seni budaya Karo yang ditampilkan pada Malam
Anugerah Seni ini. Kita dapat menikmati kekayaan budaya kita yang menarik,
khas, dan unik, yang tidak akan ditemukan di tempat lain. Tarian yang meriah
dan nyanyian Batak yang khas telah lama mewarnai khasanah budaya bangsa kita.
Dan akhirnya Saudara-saudara, mengakhiri sambutan ini, saya mengajak kepada
segenap masyarakat di tanah air untuk melestarikan budaya kita sebagai wujud
penghargaan dan perwujudan cinta tanah air. Saya yakin kebudayaan nasional yang
tangguh hanya dapat dibentuk oleh pilar-pilar kebudayaan lokal dan daerah yang
kuat. Marilah kita tumbuh kembangkan budaya lokal, agar menjadi kekayaan budaya
bangsa.
Kepada para tokoh adat dan budaya di tanah air, saya berharap dapat
mempertahankan dan mengembangkan adat istiadat dalam budaya lokal. Ambillah
nilai-nilai yang positif dan relevan dalam mengatasi tantangan zaman,
ciptakanlah kehidupan yang harmonis, yang akan membentuk sebuah masyarakat yang
kokoh, tangguh, dan penuh toleransi.
Akhirnya, kepada Saudara-saudara penerima anugerah seni pada malam ini, saya
ucapkan selamat. Semoga penghargaan itu dapat terus memacu peningkatan
kreativitas dan karya seni Saudara-saudara. Demikianlah sambutan saya, semoga
Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT senantiasa memberikan bimbingan, petunjuk dan
lindungan-Nya kepada kita sekalian.
Sekian.
Terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media Rumah Tangga Kepresidenan
--
---------------------------------
Går det långsamt? Skaffa dig en snabbare bredbandsuppkoppling.
Sök och jämför hos Yahoo! Shopping.