--- In [email protected], hendra gunawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Medan (SIB)
>     Seratusan mahasiswa yang tergabung dalam AMPKAM (Aliansi
Mahasiswa Peduli Kampus) Unimed, Senin  (17/9) unjuk rasa ke DPRD
Sumut menuntut pihak Rektorat segera  menghentikan tindakan premanisme
di kampus serta menolak SK Rektor No  215/J39.Kep/PP/2006 tentang
peniadaan dan pembatalan nilai C.
>     Aksi mahasiswa itu nyaris bentrok dengan satuan pengaman DPRD
Sumut,  karena mahasiswa mendesak memasuki ruangan paripurna yang
sedang  digunakan rapat paripurna pembahasan dan pengambilan keputusan
terhadap  pemekaran Kabupaten Nias menjadi 4 kabupaten/kota. Namun
keinginan itu  dapat dicegah agar tidak mengganggu jalannya paripurna.
>     Dalam pernyataannya, mahasiswa mengungkapkan kampus salah satu
lembaga  pendidikan bertujuan untuk memberikan pendidikan, tapi
realitanya  sekarang kampus tidak lagi terfokus pada pendidikan tapi
sebagai sarang  premanisme, terbukti terjadinya berbagai kekerasan
dilakukan pihak  birokrasi kampus terhadap mahasiswa yang menuntut apa
yang menjadi  haknya.
>     Bahkan tindakan yang sungguh memalukan bagi kalangan mahasiswa
maupun  masyarakat yang melihat secara langsung bahwa tindakan itu
dimana  institusi kampus menjadi suatu ajang uji kekuatan otot yang 
mengesampingkan kecerdasan dan intelektual. Ini terbukti dengan 
tindakan para oknum rektorat di Unimed terhadap mahasiswa saat menolak
 SK Rektor tentang peniadaan dan pembatalan nilai C, sehingga
mahasiswa  dipukuli secara fisik hingga babak belur oleh oknum staf,
dosen,  pegawai.
>     Padahal, ungkap mahasiswa yang diterima Koordinator dan anggota
Komisi  E DPRD Sumut Japorman Saragih, Drs Amaano Fau MSi, Ir
Bustinursyah,  Mursito Kabukasuda dan Ristiawati, SK Rektor itu tidak
memihak  mahasiswa, karena mahasiswa dipaksa cepat tamat dan selesai
dari bangku  kuliah tanpa mempertimbangkan tingkat kualitas pendidikan.
>     Karena itu, AMPKAM Unimed menuntut hentikan segala bentuk
kekerasan dan  kembalikan kebebasan berpendapat di kampus, tolak SK
Rektor Unimed,  usut tuntas tragedi dan kekerasan yang terjadi di
kampus Unimed,  berikan pendidikan dan pemahaman kepada seluruh
birokrasi kampus,  realisasikan anggaran pendidikan 20 persen, tolak
tindakan militerisme  dan premanisme di dalam kampus, tolak RHUU BHP
dan tingkatkan fasilitas  belajar di kampus Unimed.
>     Menyikapi hal itu, Japorman Saragih didampingi anggota Komisi E
 menyebutkan, dewan merespon aspirasi yang disampaikan mahasiswa.
Untuk  itu DPRD Sumut melalui Komisi E akan mengundang pihak Rektor
Unimed  guna menyelesaikan persoalan yang dihadapi mahasiswa.
>     Dosen Datangi DPRDSU
>     Setelah aksi mahasiswa usai, beberapa jam kemudian beberapa
dosen dari  Unimed juga mendatangi Komisi E DPRD Sumut seraya
membantah segala  tuduhan mahasiswa, baik soal adanya aksi premanisme
di kampus, aksi  kekerasan maupun pemukulan, sehingga disarankan
kepada dewan agar tidak  `memanggil' Rektor Unimed.
>     "Persoalan yang disampaikan mahasiswa tidak benar, sehingga kami
minta  dewan tidak memanggil pihak Rektor mengklarifikasi masalah ini.
Apalagi  ini menyangkut intern dan berikan kesempatan bagi kami 
menyelesaikannya," ujar perwakilan Dosen Unimed Imran Daulay dan 
permintaan itu disanggupi anggota Komisi E Ir Bustinursyah,
Aliozisokhi  Fau, SPd dan Ristiawati. (M10/t)
>        
> ---------------------------------
> Pinpoint customers who are looking for what you sell.
>



PREMANISME DI KAMPUS SAAT INI MEMANG MENJADI TREND SAAT INI SEJAK
STATUS-NYA DIUBAH MENJADI BHMN UNTUK KAMPUS NEGERI, HAL INI DIGUNAKAN
UNTUK MENCAPAI TUJUAN PIHAK-PIHAK YANG BERKEPENTINGAN SEHINGGA
KEPENTINGAN MAHASISWA DIABAIKAN,.. KAMPUS SAAT INI MENGEJAR TARGET
PROFIT .....!!! 

TERUS BERJUANG KAWAN JANGAN MAU DIAM MELIHAT PENINDASAN

LEBIH BAIK DIASINGKAN DARI PADA HIDUP DALAM KEMUNAFIKAN

HIDUP MAHASISWA



Kirim email ke