Mejuah-juah permilis simehamat
   
  "Artis Tio Fanta Pinem berangkat dari lingkungan pencinta musik, almarhum 
ayah dari Tio Fanta Pinem bergerak dalam seni ndikar sedangkan saudara almarhum 
mengembangkan seni Perkolong-kolong yang juga disebut "BENGKEL PINEM ". 

  Nama Tio Fanta Pinem bisa dikatakan telah lama tercatat dalam lubuk hari kita 
orang Karo. Tio Fanta bersama artis-artis Karo lainnya, telah banyak berjasa 
dalam memperkenalkan dan mendorong perkembangan seni-musik etnis Karo. Kami 
yang berada jauh di luar negeri sangat gembira mendengar adanya konser 
peluncuran otobiografi Tio Fanta, serta mendoakan dan mengharapkan selalu 
sukses bagi beru tambar malem kita ini. 
   
  Beberapa waktu yang lalu Perkumpulan Indonesia di Göteborg menunjukkan 
pakaian adat Karo disebuah museum. Bukan main sambutan orang-orang Swedia 
maupun dari negeri lainnya. Pakaian adat satu etnis yang mereka belum pernah 
dengar dan belum pernah lihat sebelumnya, tetapi bisa menilai keindahannya. 
Teman-teman lainnya di Perkumpulan minta agar lain kali juga bisa ikut dikemasi 
dengan pakaian adat Karo dalam pertunjukan selanjutnya. 
  Sayangnya tudungnya cuma satu, dan tidak banyak persediaan pakaian adat Karo 
yang mungkin dikemas. Karena itu sekali gus saya tanyakan lewat milis ini 
sekiranya ada teman milis ini yang bisa kasih pikiran untuk pesan beberapa 
tudung Karo dari Indonesia yang sederhana dan murah, akan sangat membantu bagi 
Perkumpulan Indonesia di Göteborg untuk selanjutnya memperkenalkan pakaian adat 
etnis Karo didepan publik internasional. 
   
  Dua tahun lalu pernah juga perkumpulan ini mementaskan tari ’piso 
surit’dengan pakaian adat ’ala kadarnya’ pada sebuah upacara peresmian gedung 
museum World Culture Musem. Sambutannya sangat meriah termasuk dari orang-orang 
Indonesia yang ada di Swedia yang juga belum pernah dengar ’Karo’. 
   
  Eddy Surbakti:
  Seni dan Budaya seperti Seni Musik, Tari dan Lukis merupakan Identitas, 
Loyalitas, Solidaritas dalam sistem kekerabatan dalam kehidupan antar sesama 
bangsa dan bahkan bernegara. Seni musik juga dapat menjadi sarana pergaulan dan 
selanjutnya, artis merupakan perpanjang tangan promosi budaya dan daerah Karo, 
. . . kadang-kadang lingkungan Karo sendiri dapat jadi penghambat. 
   
  Beberapa sesimpulan yang sangat hidup dari Eddy Surbakti tentang seni dan 
budaya Karo. Di luar negeri sering ada diskusi tentang budaya sebagai 
penghalang perkembangan dan budaya sebagai pendorong perkembangan. Kalau kita 
angkat sebagai temanya ’Budaya Karo’ sebagai pendorong atau sebagai penghambat? 
   
  Keyakinan saya bahwa pendiskusian dan pembahasan soal ini akan menambah 
perkembangan pemikiran kita tentang budaya kita sendiri, hubungannya secara 
nasional maupun internasional. 
  Dalam hubungan diskusi budaya sebagai penghalang atau pendorong, sebagai 
bahan tambahan wawasan dan pertimbangan dibawah ini saya ikutkan cuplikan 
artikel dari Harian Rakyat, dan lengkapnya bisa dibaca di harian tsb.
  Bujur ras mejuah-juah 
  MUG
   
  Nilai Budaya Mendorong Kemajuan Manusia
Oleh KUSNAKA ADIMIHARDJA
  UMAT manusia terbelah dalam kategori kaya-miskin. Sebagian besar yang miskin 
itu berada di negara-negara berkembang, walaupun di antara mereka ada yang 
berhasil keluar dari kemelut kemiskinan. "Jurang" dalam bentuk "ketimpangan 
sosial" di negara-negara maju yang demokratis sekalipun masih ditemukan. 
Kemiskinan melanda penduduk yang berbeda etnis, agama dan pendidikan. 
   
  Simposium Harvard itu menegaskan kembali pentingnya memahami "nilai-nilai 
budaya" sebagai energi sosial yang mendorong kreativitas dan inovasi masyarakat 
termasuk kelompok etnis dan agama. Di negara-negara berkembang ada kelompok 
yang gagal atau berhasil dari pada yang lainnya itu. Hal itu disebabkan "nilai 
budaya" secara kokoh membentuk kinerja politik, ekonomi, dan sosial suatu 
bangsa. 
   
  Harrison beranggapan "budaya" sebagai faktor "penghambat" dalam pembangunan 
di Amerika Latin--yang selanjutnya--menuai badai protes dari kalangan 
intelektual dan pakar ekonomi Amerika Latin. Namun, di antara para ahli budaya 
Amerika latin ada yang mengakui ketajaman analisis Harrison. Dalam buku 
tersebut Carlos Alberto Montaner mengemukakan: "masih kentalnya perilaku budaya 
kalangan elite di Amerika Latin, seperti komisi, sogok untuk setiap projek, 
korupsi dan klienisme".
   
  Namun, ternyata pengalaman menunjukkan segala inisiatif negara-negra maju 
dalam memacu perkembangan di negra-negara berkembang yang sekarang menggunakan 
rujukan "pasar bebas" ternyata "gagal" mendorong pertumbuhan yang cepat, 
demokratis, kualitas hidup yang meningkat di negar-negara berkembang.
   
  Belajar dari kegagalan itu maka para ahli sosiobudaya di negara-negara Barat 
yang tetap mempertahankan "pendekatan budaya" mencoba mencari upaya lain. 
Mereka sampai kepada kesimpulan ada yang salah dengan pendekatan mereka, yaitu 
mengabaikan nilai-nilai budaya lokal yang merupakan acuan masyarakat lokal 
dalam kegiatan pembangunan. Selanjutnya, mereka menukik kembali kepda pandangan 
yang memberikan "energi segar" sebgaimana dianut Jepang alam mencari solusi 
analoginya dengan etika Protestan-nya Max Weber.
   
  Namun Jepang berhasil dengan amat baik mengambil alih dan mengembangkan ilmu 
pengetahuan, industri dan teknologi Barat. Selanjutnya, inspirasi itu menjalan 
ke Hong Kong. Korea Selatan, Taiwan, Singapura, Malaysia yang menjadikan mereka 
"Macan Asia", yang selanjutnya kini diadopsi oleh India dan Cina yang sedang 
tumbuh menjadi "raksasa" ekonomi Asia.
   
  Model pendekatan budaya yang dianut Jepang digolongkan ke dalam aliran 
modernisasi baru yang bersifat multilinear atau lazim pula disebut sebagai 
aliran neoevolusi. Nilai budaya dipandang bukan sebagai penghambat, namun 
sebagai pendorong pembangunan.
   
  Revitalisasi atau reaktualisasi pendekatan budaya dalam memahami perubahan 
untuk kemajuan umat manusia saat ini tetap relevan, baik melalui pendekatan 
evolusi klasik atau evolusi baru, maupun paradigma "ketergantungan" dalam 
membedah fenomena kemiskinan dan ketidakadilan sosial di negara-negara 
berkembang. Agaknya, merupakan kenyataan sosial yang mendesak, sebagaimana 
dikemukakan Harrison dalam buku yang disuntingnya bersama Huntington, di mana 
ada sekira 6 miliar penduduk dunia yang hidup sekarang, kurang dari satu miliar 
berada di negara-negara maju, lebih dari empat miliar berada di negara-negara 
miskin. Kualitas hidup mereka sangat mencemaskan seperti masih tingginya buta 
huruf serta tingkat pendidikan yang rendah, harapan hidup masih di bawah 60 
tahun, bahkan ada yang di bawah 50 tahun, tingkat kematian anak, bayi dan ibu 
melahirkan masih tinggi, tingkat pertumbuhan penduduk juga masih tinggi sekira 
2,1 persen per tahun.*** 
  Penulis, Guru Besar FISIP dan Ketua LPM Unpad Bandung.
  (Artikel ini secara lengkap bisa dilihat di Pikiran Rakyat, Jumat, 05 Januari 
2007)
   
   
  --- In [EMAIL PROTECTED], Radio karo Access Global <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Seni dan Budaya seperti Seni Musik, Tari dan Lukis merupakan Identitas, 
Loyalitas, Solidaritas dalam sistem kekerabatan dalam kehidupan antar sesama 
bangsa dan bahkan bernegara. 

Seni musik karo seperti Perkolong-kolong, Gendang, entah Band dapat dikatakan 
Identitas dan Loyalitas apabila musik band ini dapat eksis dalam kehidupan Karo 
dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Seni musik juga dapat menjadi 
sarana pergaulan dan melekat dengan sistem kekerabatan masyarakat. 

Selengkapnya... 
  --

       
---------------------------------
Låna pengar utan säkerhet.
Sök och jämför hos Yahoo! Shopping.

Kirim email ke