BNN: Anggota TNI Rawan Jadi "Backing" Bandar Narkoba
Jakarta, (Analisa)
Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (Kalakhar BNN), Made Mangku
Pastika mengemukakan, anggota TNI sangat rawan menjadi "backing" bagi para
bandar narkoba.
Ia mengatakan hal itu di hadapan sekitar 2.500 anggota TNI AD dan anggota
keluarganya di Jakarta, Rabu (24/10). Acara itu dihadiri oleh Wakil Kepala Staf
Angkatan Darat, Letjen TNI Harry Tjahyana.
"TNI menjadi 'backing' supaya (bandar narkoba) dapat aman," katanya.
Ia mengatakan, untuk menjadikan "backing" itu, para bandar pada awalnya
memberikan narkoba secara gratis dan jika sudah kecanduan maka akan menjadi
pembeli lalu melindungi bisnis narkoba.
"Awalnya satu pil gratis, dua, tiga hingga 10 pil gratis. Jika sudah
ketagihan dan tahu rasanya, maka ia akan balik menjadi backing narkoba,"
katanya.
Untuk itu ia meminta kepada semua prajurit TNI dan keluarganya untuk tidak
terlibat dalam penyalahgunaan narkoba.
"Jangan pernah mencoba narkoba," katanya menegaskan.
Selain TNI, polisi juga sangat rawan terlibat dalam kasus narkoba bahkan ada
yang menjadi backing para bandar.
Untuk itu ia meminta kepada para para prajurit dan isteri anggota TNI untuk
memerhatikan para anggota keluarganya terutama jika melihat tanda-tanda yang
lain dari biasanya.
"Ada anak yang tiba-tiba setiap malam sangat rajin membersihkan rumah,
mengepel, mencuci mobil dan menyapu. Kita jangan gembira dulu melihat anak
kayak begini sebab bisa jadi ia giat bekerja karena baru saja mengkonsumsi
narkoba," katanya.
Tanda-tanda atau perubahan perilaku mencolok itu perlu diwaspadai sebab bisa
jadi telah mulai terlibat penyalahgunaan narkoba.
Pada bagian lain, Pastika mengatakan, keuntungan bisnis narkoba cukup
menggiurkan dan dapat berkembang karena menjanjikan keuntungan yang sangat
besar dalam watu singkat.
"Satu pil yang dibuat dengan biaya Rp5 ribu per butir dijual dengan harga
Rp90 ribu bahkan ada yang mencapai Rp150 ribu jika sudah masuk ke tempat
hiburan malam," katanya.
Selain itu, ganja yang harganya Rp200 ribu per kilogram di Aceh dapat terjual
Rp2 juta per kilogram di Jakarta. (Ant)
---------------------------------
Går det långsamt? Skaffa dig en snabbare bredbandsuppkoppling.
Sök och jämför hos Yahoo! Shopping.