Sebenarnya dalam setiap kesulitan akan ada kemudahan kalau kita mau mencari 
kemudahan itu. Tuhan memberi kita masalah untuk memberi kita pelajaran. Selama 
ini petani karo terlena dgn kesuburan tanahnya. Juga sebagain petani karo di 
hinggapi keserakahan yaitu ingin hasil panen melimpah, buah besar, harga 
tinggi. Tentu siapapun menginginkannya. Apakah itu salah? Tentu tidak. Tapi 
dalam mencapai tujuan tersebut para petani menggunakan segala cara yaitu 
memakai pupuk kimia secara berlebihan. Misalnya dalam pikirannya kalau saya 
beri jeruk saya 1 kilo urea/batang, dan hasilnya mencapai 10 ton tiap panen 
tentu kalau saya beri urea 2kilo/batang hasilnya 20 ton tiap panen. Ini adalah 
matematika orang serakah dan bodoh. MEreka tidak tahu bahwa sebenarnya yg 
dimakan oleh tanamn bukanlah pupuk urea tsb. Tapi unsur N didalam urea tsb 
harus diuraikan dulu oleh mikroorganisme dalam tanah, setelah itu barulah 
tanaman bisa 'menikmati' pupuk tsb. Terlalu banyak memakai
 pupuk urea menyebabkan tanah menjadi asam, keras dan rusak. Urea yang 
berlebihan akan menjadi racun dalam tanah yg akhirnya menghasilkan zat karbon 
yg akan meracuni tanaman dan sisa urea yg tidak terserap oleh tanah akan 
meresap dalam sumber air kita. Air tanah kita akan tercemar urea. Dalam jumlah 
kecil urea masih bisa diuraikan oleh mikroorganisme dlama tanah tapi kalau 
sudah terlalu banyak urea dalam tanah malah akan membunuh bakteri pengurai tsb 
dan kalau sudah tidak ada lagi bakteri pengurai tsb maka tanah akan menjadi 
keras dan urea dan pupuk lainnya akan menjadi residu.

Kemarin (Rabu, 20-2-228) saya membaca di Harian Analisa ada seorang petani karo 
yg telah membuat racun organik sehingga biaya pemeliharaan jeruk akanlebih 
murah. Memang hasil panen menurun tapi kalau dikalkulasi dengan biaya 
pemeliharaan keuntungan akan lebih banyak. Jadi biaya pemeliharaan hanya tingga 
biaya semprot dan biaya babat saja. Untuk apa panen melimpah tapi biaya juga 
berlipat. 

Di Langkat sebuah kelompok tani malah menggunakan urin kambing atau urin hewan 
untuk menggantikan urea sebagai pupuk dasar. Tapi urin tsb harus diendapkan 
dulu beberapa  waktu.

Di jawa ada seorang professor malah mengembangkan padi dalam pot. Teknik 
pengembangan padi tersebut adalah 100% organik dan malah ahsil lebih meningkat. 
Tidak pakai pupuk kimia, hanya humus dan kompos. padi yang memakai kmopos dan 
humus akan menghasilkan panen sampai 2 kali lipat dan tahan rebah karena akar 
dan batang lebih kokoh. 
Malah dalam satu hektar hanya butuh sekitar 5-7 kg benih, kalau menanam secara 
konvensional dan pakai pupuk kimia harus pakai benih sebanyak +/- 40 kg/ha. 
Untuk satu lubang dengan sistem organik padi hanya butuh 1 anakan 1 lubang!.

Jagan takut harga pupuk naik. Kita harus kreatif dan berpikir. Mari kita bangun 
pertanian organik yang tangguh di Tanah Karo Simalem!
(Dari berbagai Sumber)
Bujur.

Wassalam,

Rudy Surbakti
----- Original Message ----
From: Martin Tarigan <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; [email protected]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, February 19, 2008 10:35:06 AM
Subject: [infokaro] Re: [komunitaskaro] Harga Pupuk dan Pestisida Menjulang, 
Musim Tanam Terancam

Semua orang pasti mau mengeruk keuntungan dari berbagai kebijakan yang 
dikeluarkan pemerintah. Banyak jenis barang yang kadang langka jika terjadi 
perubahan kebijakan menyangkut barang tersebut. 
 
Saya pikir saatnya kita kembali ke alam. Bumi sudah semakin banyak dirusak 
sehingga berbagai bencana terjadi di sekitar kita, langsung ataupun tidak. Mari 
kita kembangkan pengunaan pupuk kompos atau bokashi atau EM 4 yang akan semakin 
mengubah textur tanah labih untuk jangka panjang.
 
Jika diantara kita tahu Parpem GBKP, silahkan kontak teman-teman di Sukamakmur. 
Rekan kita tersebut sudah punya tekad dengan perjuma untuk melestarikan alam 
sengan semboyan "Pertanian Selaras Alam" Ada beberapa butir kesepakatan untuk 
melestarikan alam walau tetap berorientasi kepada usaha profit. Bagaimana 
caranya, silahkan kontak langsung.
 
Bujur

Alexander Firdaust <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
T Karo (SIB)

Tidak diketahui penyebab pasti, distribusi pupuk bersubsidi jenis urea ke Karo 
berkurang dari 16.942 ton (tahun 2007) menjadi 16.710 ton (2008). Ketetapan ini 
sesuai surat Gubernur Sumut Nomor No.521.33/662/ k/2008, tanggal 1 Pebruari 
2008 ditandatangani Gubsu, Drs Rudolf M Pardede.

Hal ini dikatakan Kabag Perekonomian (yang menangani pupuk-red) Pemkab Karo, 
Drs Sabar Peranginangin dan Kepala pemasaran pupuk PT Sriwijaya, Amsimin Gea 
secara terpisah kepada SIB, Senin (18/2) di kantornya Kabanjahe.

Gea dan Peranginangin tidak dapat merinci apa penyebab turunnya distribusi 
pupuk bersubsidi urea ke Karo tahun 2008. Mayoritas warga petani, prihatin 
menurunnya distribusi pupuk bersubsidi ke Karo. “Apakah karena subsidi secara 
nasional terbatas atau tidak, tidak diketahui pasti,” ujar Gea singkat.

Berkurangnya distribusi pupuk bersubsidi dan melambungnya harga di luar pupuk 
bersubsidi dan pestisida akhir-akhir ini di Karo dan di Sumut pada umumnya 
membuat musim tanam (mt) 2008 di Karo rawan dan terancam gagal. Petani akan 
cenderung “memburu” jenis pupuk bersubsidi yang harganya jauh lebih murah dari 
pupuk non bersubsidi. Sedangkan kuantitas pupuk bersubsidi turun.

Tiga jenis kebutuhan utama pertanian digunakan petani, diantaranya NPK, Amaphos 
dan TSP naik lebih dari 100 persen. NPK naik dari Rp145.000,-per/ zak menjadi 
Rp 390.000/zak, (50/kg-red). Amaphos dari Rp125.000,-perzak naik menjadi 
Rp240.000,-per/ zak dan TSP naik dari Rp125.000,-per/ zak menjadi 
Rp320.000,-per/ zak. Akibat kenaikan ini, petani cenderung tidak mampu membeli 
dibandingkan dengan harga jual produksi pertanian yang semakin menurun dan 
belum memiliki pasar yang pasti, ujar Peranginangin.

Akibatnya, pelaksanaan musim tanam tahun 2008 rawan dan terancam gagal. Pupuk 
bersubsidi terbatas dan petani mayoritas tidak mampu membeli pupuk-pupuk non 
bersubsidi karena mahal. Sedangkan setelah gebrakan pengusaha “Karo jambi” 
beberapa tahun terakhir ini penjualan jagung melonjak dari rata-rata Rp1000 
per/kg (biji kering-red) naik menjadi rata-rata Rp1850 per/kg (saat ini 
berkisar Rp2100 per/kg-red) banyak areal lahan-lahan tidur dibuka petani 
menjadi areal pertanian jagung.

“Bertambahnya areal pertanian dari semula lahan tidur ini membuat kebutuhan 
pupuk semakin bertambah. Kondisi ini juga akan mempengaruhi kondisi pupuk saat 
ini. Kemungkinan areal pertanian yang semula dibuka akan kembali terlantar,” 
ujar Peranginangin menduga. (M37/g)

Best Regarts

www.dausmedia. cjb.net



Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search. 




Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.



      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 

Kirim email ke