Sumber: 
http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.03.26.20032819&channel=1&mn=1&idx=1

Pers Sering Dimanfaatkan Pemiliknya
          
       Rabu, 26 Maret 2008 | 20:03 WIB
  JAKARTA, RABU- Kebebasan pers yang dinikmati media massa dalam era reformasi 
saat ini cenderung sudah  kebablasan. Fenomena tersebut tak boleh dibiarkan 
berlarut-larut, tapi harus segera dicegah agar tidak terlalu kebablasan. Dengan 
alasan utamanya, bagaimanapun juga kondisi yang 'tak sehat' itu cepat atau 
lambat diyakini akan mencoreng profesionalisme di kalangan pers.

Pakar komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI) Dr Effendi Gazali 
menilai,  seiring dengan bergulirnya arus reformasi, tidak sedikit pemilik 
modal, baik yang paham betul mengenai dunia pers maupun yang tidak, ramai-ramai 
dan termotivasi untuk mendirikan perusahaan media . 

"Celakanya, sebagian pemilik modal dengan menggunakan dalih untuk kepentingan 
tertentu kemudian  "bermain-main" dengan memanfaatkan medianya," kata Effendi 
Gazali yang juga pegasuh Republik Mimpi ini dalam diskusi bertajuk  "Kebebasan 
Pers dan Implikasinya" oleh Forum Kagama Muda, Rabu Rabu (26/3).

Doktor yang dalam tayangan Republik Mimpi sering dipanggil "Dik Pendi" ini 
beranggapan,  para pemilik modal enggan menyediakan dana untuk pendidikan dan 
pelatihan bagi wartawan secara memadai. Akibatnya, banyak wartawan yang 
memberitakan suatu peristiwa atau isu dengan tidak akurat.

"Saya kadang enggan menjawab pertanyaan wartawan lewat telepon, karena 
seringkali apa yang dibicarakan berbeda dengan apa yang diberitakan. Apa yang 
saya katakan, kemudian dikutip, jadinya bukan kalimat saya. Karena itu 
pendidikan dan pelatihan bagi wartawan sangat diperlukan agar wartawan menjadi 
profesional," ungkapnya. 

Dalam diskusi itu hadir pula,  Dr Tjipta Lesmana, pakar komunikasi  UI, 
Dr Rudy Satriyo (pakar hukum pidana UI), serta Dr Wahyu Wibowo (pakar 
komunikasi sekaligus dosen Universitas Nasional).

Salah seorang pengacara senior, Amir Syamsuddin yang ikut dalam diskusi itu 
kemudian mengungkapkan, kini, ada beberapa wartawan yang bekerja secara tidak 
profesional. Dikatakan, tidak sedikit orang yang kemudian mengklaim dirinya 
sebagai jurnalis dan menerbitkan pers. 

"Mereka ini muncul sedemikian rupa tanpa dibekali dengan pengetahuan dan 
keterampilan yang memadai sehingga turut merusak profesionalisme pers. Padahal, 
seorang jurnalis atau wartawan adalah seorang profesional. Mereka melakukan 
terapi sosial dan melakukan kontrol sosial," papar Amir. 
 
Effendi Gazali kemudian memberikan solusinya. Dijelaskan,  untuk mengeliminir 
pemberitaan tendensius yang bisa merugikan kepentingan publik, salah satun 
jalan adalah dengan membentuk Dewan Pers yang kuat, serta memiliki integritas 
yang solid.

"Dengan begitu, kalau suatu ketika ada perusahaan-perusahaan yang menjadi 
'korban' perlakuan pers yang tak fair dan mengadu ke institusi ini, mereka bisa 
 menerima keputusan Dewan Pers," katanya. 

"Saya ingin mengatakan, akurasi, (dan) akurasi, adalah hal yang paling 
terpenting. Ini menjadi persoalan serius bagi individu wartawan kita. Dari 
berbagai riset selama ini, kesejahteraan wartawan memang belum mengembirakan. 
Akan menjadi persoalan serius dan sulit sekali kita berbicara kebebasan, kalau 
masalah akurasi tidak dilakukan," kata Effendi Gazali lagi. (persda network/yat)


Best Regarts

www.dausmedia.cjb.net

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke