--- In [email protected], Mahda Lena <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> apa maksut ini ya.....
> sepertinya aku kurang paham
> dan apa tujuan ini?
> supaya di kasih tau sama kita-kita.
> 
> Alexander Firdaust <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:                             Jakarta - Indonesia masih jauh 
dari kata krisis pangan. Bahkan gejolak harga pangan dalam negeri 
ternyata relatif adem jika dibandingkan gejolak harga pangan di 
dunia. 
> 
> Dari 4 komoditas yang sudah 'dipalangi' dengan berbagai kebijakan, 
hanya terigu yang gejolaknya lebih tinggi dibandingkan volatilitas 
harga di dunia. 
> 
> Deputi Menko Perekonomian bidang Pertanian dan Kelautan Bayu 
Krisnamurti menjelaskan, sejak September 2007, pemerintah sudah 
berupaya menstabilkan 4 bahan pokok dengan sejumlah kebijakan. Yakni 
meliputi kebijakan beras untuk rakyat miskin (raskin), CPO, kedelai 
dan terigu. 
> 
> Kebijakan untuk raskin adalah berupa tambahan jatah dari 10 menjadi 
15 kg per kepala keluarga per bulan. Kebijakan untuk CPO adalah 
penetapan HPE, kedelai dan terigu melalui penghapusan bea masuk.
> 
> Berdasarkan perhitungan analisa volatilitas harga pangan 
internasional dan dalam negeri, Bayu menjelaskan bahwa terlihat 
gejolak harga dunia tidak memberi dampak  langsung ke harga dalam 
negeri. 
> 
> Bayu menjelaskan, untuk volatilitas harga beras dalam negeri sejak 
September 2007 hingga April 2008 mencapai 2,7%, sementara untuk 
volatilitas harga beras internasional mencapai 24,1%.
> 
> Untuk kedelai, volatilitas harga dalam negeri mencapai 0,6%, 
sedangkan internasional mencapai 5,6%.
> 
> Minyak goreng curah dalam negeri, volatilitasnya mencapai 13,5%, 
dan internasional mencapai 17,2%. Sedangkan minyak goreng kemasan 
relatif tidak besar hanya 9,5%. 
> 
> Volatilitas minyak goreng dalam negeri dan internasional menurut 
Bayu tidak terlalu besar perbedaannya, karena Indonesia merupakan 
eksportir CPO terbesar dunia hingga 80%. 
> 
> "Indonesia menguasai ekspor dunia hingga 80-85%, sehingga perbedaan 
volatilitasnya tidak terlalu lebar," ujar Bayu saat memberikan 
pemaparan di Graha Niaga, Jakarta, Selasa (22/4/2008). 
> 
> Khusus untuk terigu, volatilitas dalam negeri lebih besar yakni 
11,1%, sementara internasional hanya  7,2%. 
> 
> "Ini karena Indonesia mengimpor 90% gandum. Sementara untuk menjadi 
terigu ada timelack untuk memprosesnya," tegas Bayu.
> 
> "Dari data itu mengindikasikan bahwa kebijakan kita mampu meredam 
gejolak harga," imbuh Bayu. 
> 
> Di tempat yang sama, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dan 
Menteri Pertanian Anton Apriantono menepis anggapan bahwa krisis 
pangan telah terjadi di Indonesia. 
> 
> "Kalau ditanya krisis pangan, saya tanya balik, apa bahan pangan 
yang tidak ada. Semua barang kan ada," ujar Anton.
> 
> "Ini barangnya ada, tapi yang di level masyarakat bawah yang 
kurang. Karenanya pemerintah membantu masyarakat bawah antara lain 
melalui subsidi minyak goreng dan raskin," jelas Mendag.
> 
> Dengan subsidi minyak goreng dan raskin sebanyak 15 kg per bulan 
per KK, maka pengeluaran rakyat miskin bisa terbantu sekitar Rp 
20.000 per bulannya.
> 
> "Ini dimaksudkan untuk menjaga daya beli masyarakat, karena 
konsumsi masih merupakan elemen penting  dalam pertumbuhan ekonomi," 
urai Mari. 
> 
> Ia juga menjelaskan, kondisi di Indonesia masih relatif baik jika 
dibandingkan dengan Afrika dan Filipina. Di Afrika, kata Mari, uang 
tak ada, bahan pangan juga tidak ada. Di Filipina, uang ada, tapi 
bahan pangan tidak ada. Sementara di Indonesia, bahan pangan ada, 
sementara uang pemerintah ada untuk bisa membantu rakyat miskin. 
> 
> "Sehingga kalau dilihat dari kedaulatan pangan, Indonesia 
sebenarnya sudah lumayan," pungkas Mentan. 
> 
> ( qom / ddn ) 
> 
> 
> Best Regarts
> 
> www.dausmedia.cjb.net
> mungkin kita baru kenal sekarang ya turang, dan pesan yang kam 
kirim udah agak lama. tapi aku pengen berpendapat ya. menurut saya 
nggak benar kalau kita katakan harga pangan masih cukup terjangkau di 
Indonesia ini. mungkin karena kita tinggal di daerah subur, 
perekonomian kita cukup baik sehingga kenaikan bahan pangan tidak 
terlalu berdampak bagi kehidupan maupun pola makan kita. tetapi 
berangkat dari pengalaman saya sehari-hari (saya tinggal Yogya) 
kenaikan yang menurut menteri itu tidak seberapa ternyata sangat 
berdampak karena banyak warga yang makan hanya dua kali sehari, 
itupun nasinya dicampur dengan tiwul. faktanya daya beli masyarakat 
sangat menurun dan kita terancam dengan kemunculan generasi muda 
kurang gizi. disamping itu jumlah fakir miskin meningkat dengan 
signifikan lebih dari yang sudah-sudah. program2 untuk keluarga 
miskin yang dicanangkan pemerintah tidak banyak membantu karena 
distribusi bantuan yang tidak merata dan pengkorupsian bantuan. 
selayaknya kita cemas dengan situasi ini karena saya tidak melihat 
alasan untuk kita masih merasa lega dengan kenaikan-kenaikan 
tersebut. dalam riset pasar terbarunya PBB mengemukakan kenaikan 
harga pangan akan terus melambung seiring dengan banyaknya percobaan 
pembuatan bahan bakar biofuel yang menggunakan bahan pangan sebagai 
elemen utamanya (misalnya kedelai dan jagung). andaikata saat ini 
harga2 bahan pangan masih terjangkau, kita tinggal menunggu kenaikan 
yang lebih tinggi lagi. yah... konklusinya, kita harus bersiap2 
menghadapi kenyataan; realita yang betul2 terjadi, karena pernyataan 
pemerintah hampir setiap saat bersifat menenangkan tanpa memberitahu 
keadaan yang sebenarnya.             
> 
> ---------------------------------
> Be a better friend, newshound, and  know-it-all with Yahoo! 
Mobile.  Try it now.
>      
>                                        
> 
>        
> ---------------------------------
>  Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist.   Download 
sekarang juga.
>


Kirim email ke