Minggu, 18 Mei 2008 00:59 WIB Kota Rantang Dan
Hubungannya Dengan Kerajaan Aru
WASPADA ONLINE
Oleh Suprayitno
PADA April 2008, Tim Peneliti Gabungan dari Indonesia, Singapura, dan Amerika
Serikat menemukan situs Kota Rantang yang terletak di Kec. Hamparan Perak, Deli
Serdang. Temuan itu berupa keramik, potongan kayu bekas kapal, batu bata dan
nisan. Koordinator kegiatan penggalian situs, Nani H Wibisono dalam salah satu
media Jakarta terbitan 24 April 2008 mengatakan, aneka keramik yang ditemukan
paling banyak berasal dari Dinasti Yuan abad ke-13-14. Selain itu ada keramik
dari Dinasti Ming abad ke-15, keramik Vietnam abad ke-14-16, keramik Thailand
abad ke-14-16, keramik Burma abad ke-14-16, dan keramik Khmer abad ke-12- 14.
Adapun batu nisan yang ditemukan di lokasi bergaya Islam bertuliskan syahadat
tanpa ada angka tahun.
Temuan situs Kota Rantang kembali mengingatkan kita kepada temuan situs Kota
China di Labuhan Deli yang ditemukan pada tahun 1970-an. Yang menarik dari
komentar para ahli sejarah dan arkeologi tentang temuan itu adalah, temuan di
kedua situs itu selalu dihubungkaitkan dengan keberadaan Kerajaan Aru.
Pertanyaannya: benarkah demikian? Bagaimanakah temuan-temuan di lokasi tersebut
berkaitan dengan Kerajaan Aru, dan bisa dipahami oleh publik secara logik?
Tulisan singkat ini berupaya menjawab soalan itu berdasarkan batu nisan Aceh
yang berada di situs Kota Rantang.
Kerajaan Aru
Dimanakah lokasi Kerajaan Aru dan benarkah Kerajaan Aru itu wujud dalam
sejarah Indonesia, khususnya Sumatera Utara. Jika benar, siapakah nama rajanya,
bagaimanakah kehidupan sosial-ekonomi penduduk dan hasil bumi negeri itu.
Pertanyaan ini penting untuk dijelaskan lebih awal sebagai entri point untuk
menjelaskan isu tersebut diatas. Sebagaimana diketahui, catatan atau rekord
tentang Kerajaan Aru sangat terbatas sekali. Menurut Ma Huan dalam Ying Yai
Sheng Lan (1416) di Kerajaan Aru terdapat sebuah muara sungai yang dikenal
dengan fresh water estuary. A.H. Gilles sebagaimana dikutip J.V.G. Mills
menyatakan fresh water estuary adalah muara Sungai Deli. Oleh karena itu
Gilles menegaskan bahwa lokasi Aru berada di sekitar Belawan (3o 47` U 98o 41`
T) wilayah Deli Pantai Timur Sumatera. Di sebelah selatan, Aru berbatasan
dengan Bukit Barisan, di sebelah utara dengan Laut, di sebelah barat
bertetangga dengan Sumentala (Samudera Pasai) dan di sebelah timur berbatasan
dengan
tanah datar. Untuk sampai ke Kerajaan Aru, dibutuhkan pelayaran dari Melaka
selama 4 hari 4 malam dengan kondisi angin yang baik.
Dalam Hsingcha Shenglan (1426) disebutkan lokasi Kerajaan Aru berseberangan
dengan Pulau Sembilan (wilayah pantai Negeri Perak, Malaysia), dan dapat
ditempuh dengan perahu selama 3 hari 3 malam dari Melaka dengan kondisi angin
yang baik. Sementara menurut Sejarah Dinasti Ming (1368-1643) Buku 325
disebutkan bahwa lokasi Kerajaan Aru dekat dengan Kerajaan Melaka, dan dengan
kondisi angin yang baik dapat dicapai selama 3 hari. Semua sumber China itu
mengarahkan bahwa lokasi Kerajaan Aru itu berada di daerah Sumatera Utara,
karena sebelah barat Aru disebutkan adalah Samudera Pasai. Samudera Pasai sudah
jelas terbukti berdasarkan bukti arekologi berupa makam Sultan Malik Al-Saleh
posisinya berada di daerah antara Sungai Jambu Air (Krueng Jambu Aye) dengan
Sungai Pasai (Krueng Pase) di Aceh Utara.
Namun, lokasi pusat Kerajaan Aru yang disebutkan dalam sumber China itu memang
belum dapat dikenali pasti karena, bukti-bukti pendukung lainnya, khususnya
bekas istana, makam-makam diraja Aru dsb. belum ditemukan. Dua lokasi tempat
ditemukannya sisa-sisa keramik China, nisan, dan lain-lainnya sebagaimana
disebutkan di awal tulisan ini belum dapat dijadikan bukti yang kuat.
Hasil-hasil penggalian di kota China (Labuhan Deli) dan Kota Rantang sementara
hanya membuktikan bahwa wilayah itu merupakan wilayah ekonomi yang penting
sebagai tempat aktifitas perdagangan dengan para pedagang asing dari China,
Siam dan lain-lain.
Ada beberapa pendapat tentang lokasi Kerajaan Aru. Groeneveldt (1960:95)
menegaskan lokasi Kerajaan Aru berada kira-kira di muara Sungai Barumun (Padang
Lawas) dan Gilles menyatakan di dekat Belawan. Sementara ada juga yang
menyatakan lokasi Kerajaan Aru berada di muara Sungai Wampu (Teluk
Haru/Langkat). Pendapat terakhir ini tampaknya sesuai dengan keterangan
geografi dari salah satu sumber China di atas, yakni berhadapan dengan Pulau
Sembilan di Pantai Perak Malaysia. Memang apabila ditarik garis lurus dari
Pulau Sembilan menyeberangi Selat Melaka akan bertemu dengan Teluk Haru yang
terletak di Muara Sungai Wampu. Tetapi hingga hari ini didaerah itu belum ada
ditemukan bukti-bukti arkeologis yang dapat mendukung pernyataan tersebut.
Sesuai dengan sistem transportasi zaman dahulu yang masih bertumpu kepada
jalur sungai, dapat kita pastikan bahwa bandar-bandar perdagangan yang sering
berfungsi sebagai pusat sebuah kekuasaan politik (kerajaan) pastilah berada di
sekitar muara sungai. Dalam konteks ini, maka di sepanjang pantai Sumatera
Timur, ada beberapa sungai besar yang bermuara ke Selat Melaka. Misalnya Sungai
Barumun, Sungai Wampu, Sungai Deli, dan Sungai Bedera. Dua sungai yang disebut
terakhir ini bermuara ke Belawan dan sekitarnya (Hamparan Perak). Jika demikian
tampaknya pendapat Gilles lebih masuk akal, apalagi dihubungkaitkan dengan
beberapa temuan-temuan arkeologis di Kota Rantang dan Labuhan Deli.
Tiga buah sungai yang disebutkan terakhir itu juga merupakan jalur lalulintas
penting sepanjang sejarah, setidaknya sebelum penjajah Belanda membangun jalan
raya pada awal abad ke-20, bagi orang-orang Karo untuk berniaga, sekaligus
bermigrasi ke pesisir pantai Sumatera Timur/Selat Melaka. Dalam sejarah Melayu,
ada disebutkan tentang nama-nama pembesar Aru yang erat kaitannya dengan
nama-nama/marga orang Karo, seperti Serbanyaman Raja Purba dan Raja Kembat dan
nama Aru atau Haru juga dapat dikaitkan dengan Karo. Jika informasi ini
dikaitkan, maka pusat Kerajaan Aru memang berada di muara-muara sungai
tersebut. Namun, secara pasti belum dapat ditetapkan, apakah di sekitar Muara
Sungai Wampu (Teluk Haru/Langkat) atau di sekitar Belawan.
Dalam Atlas Sejarah karya Muhammad Yamin, pada sekitar abad ke-15 M wilayah
Kerajaan Aru meliputi seluruh Pesisir Timur Sumatera dari Tamiang sampai ke
Rokan dan bahkan sampai ke Mandailing dan Barus. Jika begitu yang boleh kita
pastikan adalah wilayah Kerajaan Aru berada di sebagian Pantai Timur Sumatera
yang sekarang menjadi wilayah Provinsi Sumatera Utara. Penguasa. Siapakah
penguasa Kerajaan Aru? Dalam Sejarah Melayu karya Tun Sri Lanang (1612)
disebutkan bahwa Kerajaan Aru pada periode 1477-1488 dipimpin oleh Maharaja
Diraja, putra Sultan Sujak
yang turun daripada Batu Hilir di kota Hulu, Batu
Hulu di kota Hilir. Aru menyerang Pasai karena Raja Pasai menghina utusan Raja
Aru yang ingin menjalin hubungan diplomatik dengan Kerajaan Pasai.
T.Luckman Sinar (2007) menjelaskan bahwa Batu Hilir maksudnya adalah Batak
Hilir dan Batu Hulu adalah Batak Hulu. Menurut beliau ada kesalahan tulis
antara wau pada akhir batu dengan kaf, sehingga yang tepat adalah
yang
turun daripada Batak Hilir di kota Hulu, Batak Hulu, di kota Hilir. Dari
nama-nama pembesar-pembesar Haru yang disebut dalam Sejarah Melayu, seperti
nama Serbayaman Raja Purba, Raja Kembat, merupakan nama yang mirip dengan
nama-nama Karo. Sebagaimana kita ketahui di Deli Hulu ada daerah bernama Urung
Serbayaman, yang merupakan nama salah satu Raja Urung Melayu di Deli yang
berasal dari Suku Karo.Tetapi nama tokoh Maharaja Diraja anak Sultan Sujak
masih perlu diperbandingkan dengan sumber lain untuk membuktikan kebenarannya.
Sebutan Maharaja Diraja adalah sebuah gelar bagi seorang raja, bukan nama
sebenarnya dan apakah Maharaja Diraja adalah Raja Aru yang pertama atau apakah
itu gelar dari Sultan Sujak? Kedua pertanyaan ini sukar untuk memastikannya.
Dalam catatan Dinasti Ming, disebutkan, pada 1419 anak Raja Aru bernama Tuan
A-lasa mengirim utusan ke negeri China untuk membawa upeti.Nama tokoh inipun
sukar mencari pembenarannya karena tidak ada sumber bandingannya dan apakah
padanannya dalam bahasa Melayu atau Indonesia. Namun demikian, nama Sulutang
Hutsin yang disebutkan dalam catatan Dinasti Ming dapat dianggap benar karena
dapat diperbandingkan dengan Sejarah Melayu. Sulutang Hutsin adalah sebutan
orang China untuk mengucapkan nama Sultan Husin. Nama Sultan Husin juga telah
disebut-sebut dalam Sejarah Melayu, yaitu sebagai penguasa Aru sekaligus
menantu Sultan Mahmud Shah (Raja Melaka) yang terakhir 1488-1528.
Disebutkan, Sultan Husin pernah datang ke Kampar bersama-sama dengan Raja-raja
Melayu lainnya seperti Siak, Inderagiri, Rokan dan Jambi atas undangan Sultan
Mahmud Shah yang ketika itu sudah membangun basis pertahanan di Kampar karena
Melaka sudah dikuasai Portugis untuk membangun aliansi Melayu melawan Portugis.
Berdasarkan keterangan itu dapat dikatakan bahwa nama Sultan Husin sebagaimana
disebut dalam catatan China dan Sejarah Melayu secara historis dapat
dibenarkan. Dengan demikian hanya itulah nama-nama yang tercatat sebagai
penguasa Aru. Namun nama itu secara arkeologis hingga hari ini belum dapat
dibuktikan, maksudnya belum ada temuan berupa batu nisan atau mata uang yang
memuat nama tersebut.
Sosial Ekonomi
Bagaimanakah keadaan sosial-ekonomi penduduk Aru? Raja Aru dan penduduknya
telah memeluk agama Islam, sebagaimana disebutkan dalam Yingyai Shenglan
(1416). Dalam Hikayat Raja-raja Pasai dan dalam Sejarah Melayu, kerajaan
tersebut diislamkan oleh Nakhoda Ismail dan Fakir Muhammad. Keduanya merupakan
pendakwah dari Madinah dan Malabar, yang juga mengislamkan Merah Silu, Raja
Samudera Pasai pada pertengahan abad ke-13. Oleh karena itu, dapat dipastikan
agama Islam telah sampai ke Aru paling tidak sejak abad ke-13. Kesimpulan itu
diperoleh berdasarkan data arkeologis berupa batu nisan Sultan Malikus Saleh di
Geudong, Lhok Seumawe yang bertarikh 1270-1297, dan kunjungan Marcopolo ke
Samudera Pasai tahun 1293. Kedua sumber itu sudah valid dan kredibel.
Sumber-sumber China menyebutkan bahwa adat istiadat seperti perkawinan, adat
penguburan mayat, bahasa, pertukangan, dan hasil bumi Kerajaan Aru sama dengan
Kerajaan Melaka, Samudera dan Jawa. Mata pencaharian penduduknya adalah
menangkap ikan di pantai dan bercocok tanam. Tetapi karena tanah negeri itu
tidak begitu sesuai untuk penanaman padi, maka sebagian besar penduduknya
berkebun menanam kelapa, pisang dan mencari hasil hutan seperti kemenyan.
Mereka juga berternak unggas, bebek, kambing. Sebagian penduduknya juga sudah
mengkonsumsi susu (maksudnya mungkin susu kambing). Apabila pergi ke hutan
mereka membawa panah beracun untuk perlindungan diri. Wanita dan laki-laki
menutupi sebagian tubuh mereka dengan kain, sementara bagian atas terbuka.
Hasil-hasil bumi negeri itu mereka barter dengan barang-barang dari pedagang
asing seperti keramik, kain sutera, manik-manik dan lain-lain. (Groeneveldt,
1960: 94-96).
Kerajaan Aru telah terwujud pada abad ke-13, sebagaimana beberapa utusannya
telah sampai ke Tiongkok, yaitu pertama di tahun 1282 dan 1290 pada zaman
pemerintahan Kubilai Khan (T.L. Sinar, 1976 dan McKinnon dalam Kompas, 24 April
2008). Ketika itu telah muncul Kerajaan Singosari di Jawa yang berusaha
mendominasi wilayah perdagangan di sekitar Selat Malaka (Asia Tenggara).
Singosari berusaha menghempang kuasa Kaisar Kubilai Khan dengan melakukan
ekspedisi Pamalayu tahun 1292 untuk membangun aliansi melawan Kaisar China.
Negeri-negeri Melayu dipaksa tunduk dibawah kuasa Singosari, seperti Melayu
(Jambi) dan Aru/Haru. Sementara dengan Champa, Singosari berhasil membangun
aliansi melalui perkawinan politik. Pada abad ke-14, sebagaimana disebutkan
dalam Negara Kertagama karangan Prapanca bahwa Harw (Aru) kemudian menjadi
daerah vasal (bawahan) Kerajaan Majapahit, termasuk juga Rokan, Kampar, Siak,
Tamiang, Perlak, Pasai, Kandis dan Madahaling.
Memasuki abad ke-15 Haru tampaknya mulai muncul menjadi kerajaan terbesar di
Sumatera dan ingin menguasai lalu lintas perdagangan di Selat Melaka. Munculnya
utusan-utusan dari Kerajaan Aru pada 1419, 1421, 1423, dan 1431 di istana
Kaisar China dan kunjungan Laksamana Cheng Ho yang muslim itu membuktikan
pernyataan itu. Aru menjadi bandar perdagangan yang penting di mata kaisar
China. Kaisar China membalas pemberian raja Aru dengan memberikan hadiah berupa
kain sutera, mata uang (siling) dan juga uang kertas. Mengikut pendapat Selamat
Mulyana, (1981:18) bahwa negeri-negeri di Asia Tenggara yang mengirim utusan ke
China dipandang sebagai negeri merdeka. Hanya negeri yang merdeka saja yang
berhak mengirim utusan ke negeri China untuk menyampaikan upeti atau
persembahan/surat kepada Kaisar China.
Oleh karena itu dapat dipastikan Kerajaan Aru pada abad ke-15 adalah negeri
yang merdeka dan berusaha pula untuk mendominasi perdagangan di sekitar Selat
Melaka. Oleh karena itu, Haru berusaha menguasai Pasai dan menyerang Melaka
berkali-kali, sebagaimana telah disebut dalam Sejarah Melayu. Menurut Sejarah
Melayu (cerita ke-13), kebesaran Kerajaan Haru sebanding dengan Melaka dan
Pasai, sehingga masing-masing menyebut dirinya adinda. Semua utusan dari Aru
yang datang ke Melaka harus disambut dengan upacara kebesaran kerajaan. Utusan
Aru yang datang ke Istana China terakhir tahun 1431. Setelah itu tidak ada lagi
utusan Raja Aru yang dikirim untuk membawa persembahan kepada Kaisar China. Hal
ini dapat dipahami karena Aru pada pertengahan abad ke-15 sudah ditundukkan
Melaka dibawah Sultan Mansyur Shah melaui perkawinan politik.
Kekuatan Aru juga dilirik oleh Portugis untuk dijadikan sekutu melawan Melaka.
Akan tetapi hubungan Aru dengan Melaka tetap harmonis. Pada saat Sultan Melaka
(Sultan Mahmud Shah) diserang oleh Portugis dan mengungsi di Bintan, Sultan
Haru datang membantu Melaka. Sultan Haru (Sultan Husin) dinikahkan dengan putri
sultan Mahmud Shah pada tahun 1520 M. Banyak orang dari Johor dan Bintan
mengiringi putri Sultan Melaka itu ke Aru. Memasuki abad ke16 M, Kerajaan Aru
menjadi medan pertempuran antara Portugis (penguasa Melaka) dan Aceh. Pasukan
Aceh yang pada tahun 1524 berhasil mengusir Portugis dari Pidi dan Pasai
kemudian menguber sisa-sisa pasukan Portugis yang lari ke Aru. Kerajaan Aru
diserang Aceh sebanyak dua kali yakni pada bulan Januari dan November 1539.
Aru berhasil dikuasai Aceh dan Sultan Abdullah ditempatkan sebagai Wakil
Kerajaan Aceh di Aru. Ratu Aru melarikan diri ke Melaka untuk meminta
perlindungan kepada Gubernur Portugis, Pero de Faria. (M.Said, 2007: 164).
Dengan bukti-bukti itu secara tertulis, jelas Kerajaan Aru memang pernah wujud
di Pantai Timur Sumatera paling tidak sejak abad ke 13 hingga awal abad ke-16.
Namun benarkah istananya terdapat disekitar Belawan (Muara Sungai Deli) atau di
Muara Sungai Barumun di Padang Lawas, masih perlu dikaji lebih teliti dengan
memerlukan banyak bukti.
(wns)
Best Regarts
www.dausmedia.cjb.net