ORA ONO BAPAK-BAPAKAN KABEH BAPAK BAJINGAN
Kirik Ertanto
Keluarga seringkali dibayangkan lembaga yang menyenangkan.
Namun begitu banyak cerita mengenai konflik, perceraian,
salah satu anggota keluarga pergi meninggalkan rumah,
bahkan pembunuhan antar anggotanya. Kalau pada awalnya
keluarga ditempatkan sebagai lembaga yang menyenangkan
tetapi diakhiri dengan salah satu anggota keluarganya lari
meninggalkan rumah, lalu dimana posisi kekerasan dalam
keluarga. Pemahaman mengenai proses terjadinya kekerasan
dalam keluarga cukup penting untuk diperbincangkan hari
ini, saat semua orang sibuk berbicara mengenai keluarga
sejahtera. Dalam tulisan ini saya akan mendeskripsikan
gejala kekerasan dalam keluarga melalui kasus minggat dan
pulang. Kasus ini saya ambil dari peristiwa yang dialami
oleh seorang anak jalanan.
Pada bagian awal saya akan menunjukkan posisi anak-anak
Jawa tahun 50-an yang ditulis oleh Hildred Geertz, seorang
sarjana wanita dari Amerika. Kemudian saya tuliskan cerita
mengenai pengalaman seorang anak jalanan. Dari perbandingan
yang ada saya mencoba melihat beberapa perubahan yang
terjadi.
ANAK-ANAK DALAM KELUARGA JAWA
Tiga puluh tahun yang lalu, Hildred Geertz menuliskan
pengamatannya terhadap perilaku sosial keluarga Jawa tahun
50-an. Dalam tulisannya dilaporkan bahwa orang Jawa tidak
memiliki konsep keluarga sedarah sebagai kesatuan dan tidak
memiliki istilah khusus untuk pengertian itu. Kata-kata
yang dimiliki adalah sedulur, kulawarga, atau sanak sedulur
yang artinya "saudara" (1985: 28). Lebih lanjut dikatakan,
secara individual terdapat satu kutub persaudaraan yaitu
serangkaian lingkar saudara sedarah yang berbatas
samar-samar dengan yang diluar somah dan berangsur-angsur
lebur di dalam masyarakat luas yang bukan saudara.
Tidak dimilikinya terminologi itu berpengaruh pada
batas-batas keluarga. Orang Jawa memberikan perbedaan
antara "saudara dekat" dan "saudara jauh". Biasanya yang
termasuk lingkar pertama adalah saudara langsung dari ayah
ibu sampai kakek-nenek dan cicitnya. Namun demikian dalam
prakteknya batas-batas ini tidak berlaku dengan tegas.
Akibatnya seorang saudara dekat dapat menjadi saudara jauh,
karena tempat tinggal yang jauh atau karena percekcokan.
Sedangkan saudara jauh, karena tempat tinggal yang
berdekatan atau dapat mengembangkan hubungan pribadi secara
mendalam dapat dianggap menjadi saudara dekat atau menjadi
anggota keluarga. Oleh sebab itu dalam keluarga Jawa
seringkali juga meliputi satu dua orang dewasa atau
anak-anak yang bukan saudara sedarah. Kenyataan semacam ini
berasal dari pandangan orang Jawa yang berurat berakar
bahwa paling terpuji adalah menghindari kecenderungan
perselisihan sehingga membuat hubungan sosial berjalan
lancar, yaitu menaruh hormat.
Gagasan tentang hormat dalam konsepsi orang Jawa diwujudkan
dalam tiga istilah: wedi, isin dan sungkan. Salah satu
tugas keluarga adalah mensosialisasikan konsep itu kepada
anak-anak yang sering dikatakan sebagai durung Jawa dan
durung ngerti. Durung Jawa mengandung pengertian bahwa yang
belum bersangkutan belum mamapu mengendalikan perasaan.
Istilah ini juga sering dikenakan pada orang gila atau
orang dewasa yang tidak mampu beradab sebagaimana mestinya
dalam menghadapi satu situasi sosial tertentu. Durung
ngerti menunjukkan tidak adanya satu dasar untuk memaksa
atau menghukum seseorang atas tindakan yang belum
dimengertinya.
Sejak awal kehidupan anak-anak Jawa belajar isin. Ketika
dia mulai pandai dalam hubungan kemasyarakatan, mulailah
dia diperlakukan sebagai anggota masyarakat dewasa. Saat
itulah dia belajar tentang perasaan sungkan. Menurut
Hildred Geertz, tahu isin hanya tahu kesopanan sosial yang
hakiki akan pengendalian diri dan menghindari celaan,
sedangkan tahu sungkan ialah mampu memainkan langgam sosial
dengan indah (1985: 119). Bagi orang Jawa, siapa saja yang
tidak mampu menguasai perilaku hormat akan dianggap sebagai
"durung Jawa".
Dalam arti tertentu orang Jawa memiliki kesadaran bahwa
dunia anak-anak dan dunia orang dewasa adalah dua dunia
yang berbeda. Bila terjadi komunikasi diantara keduanya
tidak mustahil akan mengakibatkan salah tafsir, salah paham
atau salah tangkap. Melalui perbedaan antara Jawa dan bukan
Jawa diletakkan dasar-dasar toleransi. Maka sejak kecil
anak-anak Jawa dilatih untuk bersikap toleran.
Untuk mengukuhkan peringai orang dewasa, anak-anak dilatih
untuk tidak mendapatkan semua yang diinginkan dan mudah
kecewa. Saudara-saudara yang lebih tua diberi tanggung
jawab untuk menjaga yang lebih kecil. Selain itu dia juga
diarahkan untuk memenuhi keinginan adiknya.
Bila mereka ingkar terhadap tanggung jawabnya, maka mereka
akan menerima hukuman-hukuman. Biasanya hukuman itu
berkisar dati tatapan ancaman, peringatan tajam untuk
mempermalukan sampai pada cubitan-cubitan yang pedas.
Jarang sekali terjadi pemukulan. Para orang tua lebih suka
lebih sering memulai lagi memerintahkan sang anak untuk
mengikuti kaidah-kaidah tertentu yang selayaknya di hadapan
orang lain.
Di samping melakukan tugas sosialisasi, keluarga Jawa juga
melakukan tugas yang lain. Keluarga Jawa mengurus para
anggota keluarga yang tidak dapat mengurus dirinya sendiri
sakit, orang tua dan yatim piatu. Aspek jaminan sosial
dalam keluarga ini merupakan hal penting bagi bekerjanya
masyarakat Jawa secara keseluruhan. Siapa pun wajib
menyediakan tempat bernaung bagi anak-anak yang kehilangan
orang tuanya, baik karena perceraian ataupun mati (Geertz,
1985: 39). Ia memberi ukuran kepatutan dan keluwesan sebuah
keluarga bagi masyarakat.
CERITA DARI JALANAN: MINGGAT DAN PULANG
Belakangan ini, beberapa penelitian dan berita-berita di
surat kabar melaporkan kecenderungan naiknya jumlah
anak-anak jalanan. Diantara laporan-laporan tersebut,
beberapa tulisan mengatakan bahwa salah satu sebab
timbulnya anak-anak jalanan adalah permasalahan di dalam
keluarga. Para anggota keluarga yang terlibat dalam konflik
tidak mampu lagi memecahkan persoalan yang mereka hadapi.
Salah satu akibatnya adalah anak-anak lari meninggalkan
rumah. Di bawah ditulis sebuah cerita mengenai anak jalanan
yang sempat saya dengar.
Menurut pengakuannya Amin sudah dua belas tahun menjadi
anak-anak jalanan. Dia berasal dari sebuah kota kecil di
bagian selatan Jawa Timur. Ayahnya seorang guru SMA,
sedangkan ibunya seorang pemain ketoprak. Kedua orang
tuanya sudah bercerai sejak dia masih kecil. Amin sendiri
tidak tahu secara persis terjadinya peristiwa tersebut.
Menurut cerita yang didengar dari neneknya pada awalnya
mereka hidup dengan bahagia. Situasi menjadi terbalik saat
beredar cerita bahwa ibunya melakukan serong dengan seorang
laki-laki. Perbuatan ini dilakukan oleh ibuny setelah
mendengar bahwa suaminya memiliki wanita simpanan. Rentetan
peristiwa ini mengakibatkan ibunya diceraikan oleh ayahnya.
Seperti pada umumnya keluarga Jawa, sesudah peristiwa
perceraian itu dia dan kedua kakaknya tidak mengikuti ayah
atau ibunya, melainkan dititipkan pada neneknya. Di sana
dia hidup bersama bu lek dan saudara dari pihak ibu yang
lainnya. Kata Amin, masa kecilnya sangat nakal. Dia sering
mengambil uang nenek untuk jajan. Akibatnya bu lek nya
merasa kesal. Oleh sebab itu Amin dikembalikan ke rumah
ayahnya. Saat itu ayahnya sudah menikah dengan wanita lain.
Pada masa hidup bersama ayah dan ibu tirinya,
peristiwa-peristiwa yang dikenang Amin adalah perilaku
buruk dari ibu tirinya. Dia sering diberi makanan basi.
Juga pernah disuruh tidur di kandang ayam. Peristiwa yang
paling membekas sampai sekarang adalah kepalanya yang
dipukul pakai gayung dari batok kelapa yang bekas lukanya
masih ada sampai sekarang. Menurut Amin, ayahnya tidak
mengetahui semua peristiwa yang menimpa dirinya.
Kejadian-kejadian itu membuat Amin merasa tidak betah
tinggal bersma ayah dan ibu tirinya. Saat kakaknya datang
menengok dia mengadu. Lalu dia diambil kembali oleh
neneknya.
Pada mulanya, Amin merasa senang tinggal bersama neneknya
lagi. Dia tidak nakal, bahkan rajin membantu pekerjaan di
rumah. Tetapi ini tidak bertahan lama. Ia merasa bosan
tinggal di rumah sebab penghuni rumah neneknya perempuan.
Ia mulai sering pergi ke rumah tetangga.
Peristiwa-peristiwa ini membuat bu leknya sering marah. Dia
dikata-katai sebagai anak monyet, anak tak tahu diuntung.
Dimarahi semacam itu, tetap membuat Amin tidak jera. Amin
sendiri beranggapan apa yang dilakukan wajar saja karena
dia masih kecil.
Saat itu dia merasa bosan sekali tinggal di rumah. Dia
merasa hanya nenek yang menganggap dia sebagai cucu. Oleh
saudara yang lain ia merasa tidak dianggap sebagai saudara.
Dia adalah anak dari Diran yang cerai dengan Darsih. Amin
merasa tidak betah tinggal dirumah. Dia mulai belajar
minggat, mula-mula tidur di rumah tetangga. Akhirnya
buleknya merasa tidak tahan menghadapi Amin. Kemarahan itu
mencapai puncaknya dengan mengusir Amin dari rumah.
Sesudah peristiwa pengusiran itu Amin ikut nenek dari pihak
ayahnya. Di sana keadaannya dirasakan sama saja. Ia menjadi
bahan ledekan saudara-saudaranya. Dia hanya merasa neneknya
seorang yang memperhatikan dirinya, yang lain membenci.
Bila sedang diledek, neneknya sering membela dengan
mengatakan,"Mbok ojo diece mesakke, bapak ibune wis ra iso
ngurus". Sementara itu, bu leknya yang juga gurunya di
sekolah selalu menjewer telinganya setiap kali ia dianggap
bersalah. Setiap kali mengadu pada neneknya, ia dinasehati,
"Trimak-trimake le, pancen wis dadi nasibmu." Amin merasa
tidak tahan terhadap ledekan-ledekan yanng diterimanya.
Akhirnya dia memutuskan minggat. Sebelum minggat dia
mencuri kalung bu leknya.
Amin pergi meninggalkan kampungnya menuju Malang. Peristiwa
itu terjadi tahun 1980 an. Saat itu usianya sekitar delapan
tahun. Uang penjualan kalung hasil curian habis dalam
beberapa hari saja. Saat itu ia mulai menggelandang. Untuk
makan Amin menjadi tukang lap kaca mobil. Lama kelamaan, ia
merasa bosan. Ditinggalkannya kota Malang menuju Surabaya.
Di Surabaya Amin tidak tahu cara mencari makan. Pada
hari-hari pertama di Surabaya, perutnya sama sekali tidak
terisi nasi. Pada waktu perutnya terasa sedang
lapar-laparnya, dia melihat seorang anak sebaya dirinya
sedang nyemir sepatu di daerah stasiun Gubeng. Lantas
timbul pikiran dibenaknya untuk melakukan hal yang sama.
Sejak saat itu Amin menjadi tukang semir. Penghasilannya
sebagai tukang semir cukup banyak. Uangnya cukup makan,
main ding dong dan nonton film.
Amin tidak hanya menjadi tukang semir di daerah stasiun
saja. Dia juga mulai menyemir di atas kereta. Mulailah ia
mulai menjelajahi kota-kota di Jawa. Sekitar tahun 1982,
Amin datang ke Yogya. Dia menggelandang di Malioboro. Di
sana benyak anak-anak yang seusia dengan dirinya yang
sama-sama jadi tukang semir.
Saat itu mereka sering berkumpul di depan stasiun Tugu. Di
sana mereka juga bertemu dengan pemulung, tukang becak atau
pemuda-pemuda yang nongkrong. Karena sering bertemu
akhirnya Amin dan temannya akrab dengan Medi, seorang
pemulung. Amin merasa teman-temannya di Yogya ramah-ramah.
Berbeda dengan teman-teman yang ditemui di kota-kota lain.
Ini semua membuat dia betah tinggal di Yogya. Satu-satu
yang tidak ramah adalah petugas garukan (penertiban umun).
Mereka inilah yang mengejar-ngejar untuk dimasukkan pada
panti resosialisasi.
Untuk menghindari kejaran para petugas garukan, Medi
mengajak mereka untuk tidur di rumahnya di kolong jembatan.
Mula-mula hanya satu dua orang saja yang mau datang. Tapi
lama-kelamaan banyak juga yang datang. Akhirnya Amin dan
kawan-kawannya yang lain terbiasa untuk pulang ke sana.
Ternyata teman Medi banyak juga, sebagian besar masih
sekolah. Mereka sering mengajak Amin bermain catur,
karambol atau belajar mambaca dan menulis. Karena memiliki
tempat berkumpul salah seorang teman Amin, mengusulkan
untuk membentuk kelompok. Usul ini di setujui akhirnya
mereka menamakan kelompoknya kaum "nDalanan".
Setelah berjalan sekian lama, Irin merasa bahwa mereka
sebenarnya tidak cocok disebut kaum. Alasannya kaum itu
sebutan untuk kelompok yang miskin. Sedangkan menurut dia
hubungan mereka selama ini yang dirasakan lebih cocok di
sebut keluarga. Selama berkumpul dia merasakan bahwa
hubungan yang terbangun selama ini lebih dari sekedar
teman, sudah seperti saudara. Usul Irin ini disetujui oleh
teman-teman yang lain. Sejak itu mereka mengatakan bahwa
saya anggota keluarga "nDalanan".
Tahun 1986 merasa kangen pada ibunya, ia pun pergi
meninggalkan Yogya menuju rumah ibunya. Ia bertemu dengan
ibu, nenek, bu lek dan saudara yang lain. Amin minta maaf
terhadap semua saudaranya. Mereka menerima kembali dan Amin
disekolahkan. Saat Amin baru saja kembali, uang milik adik
keponakannya hilang. Saat itu bu leknya menuduh Amin
sebagai pencurinya. Amin merasa sedih sekali. Dia
mendatangi neneknya untuk pamit karena merasa tidak tahan
dituduh sebagai pencuri. Tapi ditahan oleh neneknya,
katanya," Memang begini nasib hidup ikut orang."
Pada waktu itu, Amin berjanji pada diri sendiri kalau uang
hilang dan dia yang dituduh maka akan pergi selama-lamanya.
Oleh karena ketika uang adik keponakannya ditemukan Amin
minggat lagi. Untuk ongkos dia mencuri uang bu leknya. Amin
kembali ke Yogya. Tapi ada saudaranya yang melihat dan
melapor pada polisi. Amin ditangkap dan ditahan.
Setelah itu Amin terus menggelandang di hampir semua kota
di Jawa. Selama itu hampir semua pekerjaan di jalanan
pernah dilakukan, mulai nyemir, jadi kenek sampai nyopet.
Tahun 1989, Amin kembali lagi ke Yogya, pulang ke keluarga
"nDalanan". Amin mulai berusaha kecil-kecilan bersama
anggota keluarga yang lainnya. Hidupnya mulai dirasakan
tenang.
Tahun 1992, Amin mengirim surat kepada ayahnya. Isi surat
itu antara lain mengatakan bahwa sehabis lebaran dia akan
pulang ke rumah ayahnya untuk minta maaf atas kelakuannya
selama ini. Dia akan pulang bersama temannya, anggota
keluarga nDalanan. Selain itu juga diceritakan bahwa dia
sedang merintis usaha di Yogya. Kata Amin, meski
kecil-kecilan tapi bisa menopang hidup.
Sehabis lebaran, Amin pulang ke rumah ayahnya. Sampai
disana ternyata ayahnya menolak kehadiran dirinya.
Alasannya Amin pernah menjelekkan nama ibunya saat di
wawancara sebuah majalah wanita. Menurut ayahnya tidak ada
anak yang menjelek-jelekkan orang tua. Amin sempat
bersitegang dengan ayahnya. Saat itu ayahnya sempat
memanggil polisi untuk mengusir Amin.
Sampai di Yogya Amin menceritakan pengalaman dirinya saat
pulang bertemu dengan ayahnya kepada beberapa teman.
Mendengar cerita itu, salah sati diantaranya berkata, "piye
yen aku dadi bapakmu, Min". Mendengar kata-kata itu Spontan
Amin berkata," Ora ono bapak-bapakan, kabeh bapak
bajingan."
PENAFSIRAN: DUNIA ANAK-ANAK, DUNIA HUKUMAN
Tindakan Amin minggat dari rumah berakibat dengan
terjadinya pemutusan hubungan antara ayah dan anak.
peristiwa yang sesungguhnya terjadi dan dialami dua belas
tahun yang lalu oleh Amin diberi konteks riwayat hidup
dirinya dalam keluarga. Dalam sebuah percakapan, Amin
sempat menyatakan bahwa ayahnya adalah sumber dari semua
kesengsaraan. Dia menyesali sikap ayahnya yang menceraikan
ibunya. Menurut dia wajar saja ibunya main serong, sebab
ayahnya juga memiliki wanita simpanan. Tidak semestinya
ibunya diceraikan oleh ayahnya. Apalagi saat itu mereka
masih punya anak kecil, yaitu dirinya. Kata Amin kalau saja
orang tuanya tidak bercerai pasti saya tidak seperti ini.
Sikap Amin ini menunjukkan bahwa ia ingin melepaskan
borok-borok yang tumbuh dalam lembaga perkawinan kedua
orang tuanya. Cara pandang ini mewakili pendapat umum
tentang sebuah keluarga terutama dalam hubungan cinta yang
selalu dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa yang
menyenangkan. Seperti saat jatuh cinta, menikah lalu punya
anak.
Sepanjang hidup Amin tidak pernah tinggal bersama orang tua
kandungnya. Sesungguhnya dia hanya pernah tinggal bersama
ayah dan ibu tirinya, itu pun dalam waktu yang singkat.
Dengan ibunya, hanya sesekali bertemu yaitu saat-saat
ibunya datang menjenguk keluarganya. Lalu dasar apakah yang
digunakan Amin untuk membayangkan hidup bersama keluarga
kandung itu menyenangkan ?
Selama ini Amin merasa hanya neneknya yang menganggap dia
sebagai cucunya. Dengan neneknya Amin merasa mendapat
perhatian. Oleh sebab itu dia bisa mengadu kepada neneknya.
Jawaban-jawaban yang diberikan oleh neneknya
jawaban-jawaban untuk seorang "anak" yang sedang menuju
"dewasa". Cara ini juga dilakukan neneknya terhadap cucunya
yang lain. Saat Amin diejek saudara yang lain, ia tidak
menghukum langsung melainkan mengingatkan bahwa tindakan
semacam itu tidak pantas dilakukan di hadapan orang lain.
Posisi inilah yang dianggap Amin akan ditemukan dalam
hubungan saudara kandung.
Hubungan semacam ini tidak ditemukan dalam hubungannya
dengan saudara-saudaranya yang lain. Pengalaman yang
dimilikinya dengan bu lek dan saudara yang lain adalah
dunia hukuman, entah kata-kata, telingga dijewer, dipukul
atau diusir. Status kehadirannya keluarga saudaranya
sebagai anak adalah dalam rangka diurus. Sebab seperti kata
neneknya,"
wong tuwane wis ra iso ngurus." Dalam kerangka
berpikir itu maka diperlukan bentuk
penghukuman-penghukuman.
Pilihan pendidikan semacam itu sesungguhnya bukannya tidak
membawa kerugian. Sebab bila anak-anak bertindak secara
spontan, maka orang tua merasa menjadi tidak aman. Tingkah
laku anak-anak akhirnya dirasakan sebagai gangguan. Dengan
demikian bila mereka diurus yang pertama-tama dilakukan
bukan demi kepentingan si anak sendiri, melainkan yang
mengurusinya.
Ironisnya, menyadari bahwa tingkah laku anak-anak anak yang
selalu tidak terduga ini tidak bisa ditentukan jangka
waktunya, orang tua menggunakan pemukulan sebagai tanda
untuk mengingatkannya. Tindakan itu sering terjadi ketika
orang dewasa tidak mampu lagi menangkap perbedaan antara
dirinya dengan anak-anak. Sementara itu pendidikan semacam
itu tetap juga tidak menjamin apakah si anak menjadi baik.
Munculnya hukuman-hukuman secara fisik menunjukkan
pergeseran dalam pandangan terhadap anak-anak.
hukuman-hukuman fisik itu menandai diseragamkannya
tafsiran-tafsiran terhadap hidup. Sementara orang tua tetap
saja tidak bisa mengatur sepenuhnya. Ia penuh dengan
ketidakterdugaan-ketidakterdugaan. Ingin contoh ?
Saat hidup di jalanan banyak ancaman yang diterima entah
dari teman sendiri atau dari petugas garukan. Untuk
mensiasati mereka membentuk keluarga nDalanan yang
terjadi karena mereka mampu mengembangkan hubungan
perkawanan ke arah "menjadi sedulur". Dalam situasi ini
aspek jaminan sosial dalam membagi perasaan aman dan
masalah-masalah ketenaga kerjaan menjadi terpecahkan. Di
sana mereka menyiapkan diri untuk menjadi "orang dewasa"
tanpa perlu petunjuk-petunjuk dan hukuman-hukuman dari
orang yang dianggap lebih tua.
KATA-KATA AKHIR
Kembali kepada peristiwa pengusiran Amin saat mau minta
maaf atas tingkah laku dirinya selama ini. Ayahnya menolak
karena Amin tingkah lakunya tidak mencerminkan apa yang
disebut "menjadi anak". kata-kata inilah yang menurut saya
menunjukkan pergeseran pandangan dalam pandangan orang Jawa
sekarang. "Menjadi anak" tidaklah lain menjadi makhluk yang
pantas disebut dimata orang dewasa. Karena ia mengandung
kondisi atau prasyarat tertentu. Ini tampak ketika
anak-anak ditempatkan pada posisi pantas dihukum. Ia pun
dipertemukan dengan kepentingan yang lain, kepentingan
keluarga, sekolah dan lainnya.
Belajar dari peristiwa-peristiwa di atas kita dapat melihat
bahwa kekerasan dalam keluarga yang mengakibatkan munculnya
anak-anak jalanan bukan hanya pada kekerasan-kekerasan
secara fisik. Pemaksaan konsep "menjadi anak" juga
merupakan kekerasan karena ia cenderung untuk tidak
mengakui bahwa anak-anak memiliki nalar yang berbeda dengan
orang dewasa.
es ist keine regel ohne ausnahme
er is geen regel zonder uitzondering
______________________________________________________________________
Search, browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel.
http://sg.travel.yahoo.com