Berita yang dikirimkan oleh Alexander Firdaust ini menarik sekali karena memunculkan dua pandangan yang bertentangan. Satunya memperkirakan Sumut mampu swasembada jagung tahun ini. Satunya lagi bilang, itu tidak benar. Saya hendak mengulas apa yang menarik dari berita ini tanpa mengulangi apa yang sudah dikatakan di dalam berita.
Hal pertama yang menarik perhatian saya adalah judulnya. Muncul pertanyaan di benak, apa artinya ini? Secara gamblang dapat diartikan bahwa jagung yang diproduksi di Sumut (wilayah pemerintahan Pempropsu) sanggup memenuhi kebutuhan/permintaan orang-orang/perusahan-perusahaan yang berdomisili di Sumut. Kalaulah tadi yang dikatakan adalah beras, bukan jagung, saya akan merasa lega sekali. Sebabnya, beras adalah kebutuhan hampir 100% penduduk Sumut. Setiap individu yang tinggal di Sumut tergantung langsung pada beras. Bagaimana dengan jagung? Kita bisa menerima bahwa seluruh warga Sumut tergantung pada jagung, tapi bukan ketergantungan langsung dan tidak sevital beras. Ketergantungan warga pada jagung adalah karena warga butuh daging dan telur yang sangat tergantung pada jagung sebagai bahan dasar pakannya. Bila swasembada jagung tidak tercapai, berarti perlu didatangkan dari luar Sumut dan juga berarti harga jagung lebih tinggi. Bila harga jagung naik, logikanya harga telur dan daging juga naik. Orang yang dirugikan adalah yang tidak memproduksi jagung tapi mengkonsumsi telur dan daging. Orang yang diuntungkan adalah yang memproduksi jagung tapi tidak mengkonsumsi telur dan daging. Orang tidak diuntungkan dan tidak dirugikan pula adalah: 1. memproduksi jagung tapi juga mengkonsumsi telur dan daging, 2. tidak memproduksi jagung dan juga tidak mengkonsumsi telur dan daging.. Itu perhitungan Ekonomi Dasar. Sekarang kita masuk ke Sosiologi dengan pertanyaan: Siapakah yang berkepentingan langsung tercapainya swasembada jagung di Sumut? Jawabannya: 1. produsen pakan ternak, 2. para peternak, 3. konsumen telur dan daging. Bukan petani jagung yang umumnya tidak memelihara ternak yang butuh jagung sebagai bahan makanan dan tidak sangat tergantung pada telur dan daging (Sosiologi Pertanian). Sekarang saya berpikir, dalam menyajikan beritapun kita sudah sangat terjajah oleh cara pembahasan Barat yang didasarkan pada situasi Barat. Di negara-negara Barat, umumnya, warganya punya kebutuhan [hampir] sama. Hampir semuanya makan roti (pertanian gandum), telur/daging/susu/ keju (ternak), kenderaan roda empat, kulkas, asuransi, telefon, dll. Tingkat ekonomi petani secara finansial tidak jauh berbeda dengan pengusaha-pengusaha lain, pegawai (negeri/swasta), sopir bus maupun buruh kasar (cleaning service, misalnya). Untuk keadaan homogen (sama) secara ekonomi di Barat, cukup tidaknya produksi jagung memang berpengaruh kepada setiap warga. Hampir tidak ada orang yang tidak minum susu setiap harinya, sebagai contoh kasus. Sedangkan di Sumut, petani umumnya (tidak hanya petani jagung) punya dunia sangat berbeda dengan produsen pakan ternak, peternak yang tergantung pada jagung sebagai bahan makan ternak, dan orang-orang yang sehari-harinya makan daging, telur, keju dan minum susu. Meski ada perbedaan pendapat, antara yang meramalkan adanya swasembada jagung di Sumut dan yang membantahnya, saya melihat issunya hanya relevan untuk para pelaku ekonomi berskala besar, khususnya produsen pakan ternak dan peternak besar yang, sebagian besar adalah keturunan Tionghoa. Perbedaan pendapat mereka lebih diarahkan pada upaya mempengaruhi harga pasar. Umumnya wartawan Medan adalah anak pelaku ekonomi berskala kecil. Makanya saya tercenung membaca berita ini. Main atas sekali dia, bo. Untungnya, Tabloid Sora Sirulo tetap berusaha main bawah, permainan semua anak manusia. Lalu, saya mempertanyakan konsep swasembada. Sumut swasembada sesuatu (dalam hal ini jagung). Apakah sudah dapat dipastikan tidak ada jagung yang dijual ke luar Sumut atau dibeli dari luar Sumut? Katakanlah benar terjadi swasembada sebagaimana dikatakan oleh berita yang sedang kita bahas. Lalu ada yang menjualnya ke luar Sumut dalam jumlah besar-besaran sehingga produksi Sumut tidak lagi memenuhi kebutuhan konsumsi Sumut. Logika Ekonomi Dasar, harga jagung akan meningkat. Petani jagung diuntungkan dan pengusaha bersakala besar yang butuh jagung dirugikan. Bila dibeli dari luar Sumut dalam jumlah besar-besaran (dalam penelitian yang pernah dilakukan oleh Pemred Sora Sirulo , Ita Apulina, ini sering terjadi pada cabai merah yang tiba-tiba datang membludak dari Aceh atau Jawa Barat), berarti petani dirugikan. Adakah sebuah kepastian bisa dijamin oleh Pempropsu (soal Politik dan Pemerintahan serta masalah Hukum) atau kita masih perlu belajar banyak tentang prilaku ekonomi masyarakat kita sendiri (Psikologi, Sosiologi, Antropologi dan Ekonomi dalam arti luas)? Atau, kita masih perlu menjelaskan dan menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia dan khususnya Sumut sangat heterogen? Sehingga, perhitungan Statistik Dasar yang bisa diterapkan pada masyarakat homogen dan punya kepastian hukum serta kecenderungan politik yang dapat diramalkan warganya disadari tidak dapat diterapkan di masyarakat Indonesia yang sebagian besar warganya tidak mengerti "apa sih artinya batas wilayah Sumut dalam hal ini"? (Pertanyaan ini aku yakini sangat dimengerti oleh pakar Statistik seperti bapa Pa Canggah. Tambahi sitek, Pa). Swasembada statistik atau swasembada apa sebenarnya arti swasembada itu? Seperti pernah saya utarakan di milis tanahkaro, saya tetap belum mengerti apa arti swasembada pangan (Ngecap komunis tapi nyuapin kapitalis seperti di jaman Orba?) Juara R. Ginting --- On Sun, 20/7/08, Alexander Firdaust <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Alexander Firdaust <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [infokaro] Sumut Swasembada Jagung To: [email protected], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] Date: Sunday, 20 July, 2008, 11:06 PM Sumber: http://www.seputar- indonesia. com/edisicetak/ sumatera- utara/sumut- swasembada- jagung-3. html Sumut Swasembada Jagung Monday, 21 July 2008 MEDAN (SINDO) – Tahun ini,Sumut diperkirakan mampu swasembada jagung.Produksi jagung yang ditargetkan mencapai 1.002.863 ton akan melebihi konsumsi per kapita dan kebutuhan industri di daerah ini. Kepala Statistika dan Perencanaan Dinas Pertanian Sumut Lusyantini menyatakan, tahun ini Sumut akan memiliki surplus jagung sekitar 173.058 ton karena kebutuhan industri dan penduduk per kapita Sumut hanya sebesar 829.805 ton. ’’Berarti, ada surplus sekitar 173.058 ton. Meski sudah surplus, Sumut belum layak mengekspor jagung karena belum ada jaminan produksi setiap bulan konstan,” papar Lusyantini kepada SINDO di Medan akhir pekan lalu. Agar bisa mengekspor jagung, Sumut harus bisa menjamin produksi jagungnya stabil setiap bulan atau meningkat. ’’Saat ini, produksi jagung di Sumut masih selalu berbeda jauh setiap bulan. Hal ini disebabkan tradisi penanaman jagung di Sumut yang selalu dilakukan pada April atau Mei,”ungkapnya. Dinas Pertanian memperkirakan, dengan jumlah penduduk Sumut yang tahun ini mencapai 12.904.258 orang, menghabiskan 81.555 ton jagung.Sementara itu,kebutuhan untuk industri pengolahan pakan ternak di Sumut diperkirakan mencapai 748.250 ton jagung tahun ini atau 2.050 ton/hari. Lusyantini menambahkan, rencana swasembada jagung tahun ini didukung tren di lingkungan masyarakat yang semakin antusias menanam jagung. Hal ini terbukti dari peningkatan produksi jagung dari tahun ke tahun. Lonjakan produksi jagung didorong harga jagung yang semakin membaik karena kebutuhan jagung dunia semakin meningkat. Saat ini harga jagung di daerah Sumut rata-rata sebesar Rp2.500/kg, sedangkan di Kota Medan sudah mencapai Rp3.000/kg. ’’Negara penghasil jagung kini tak lagi melakukan ekspor. Mereka lebih memilih untuk menggunakannya menjadi biofuel,” tuturnya. Lusyantini mengakui hingga Mei produksi jagung masih 338.376 ton dari 97.067 ha lahan yang sudah dipanen. Meski terbilang masih rendah, dia optimistis swasembada jagung tetap bisa tercapai. ’’Soalnya, panen jagung akan memuncak pada September hingga akhir tahun nanti. Jadi, meski produksi jagung masih jauh dari perkiraan, swasembada jagung tetap bisa tercapai,”ungkapnya. Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Petani Jagung Indonesia (Hipajagin) Jemat Sebayang pesimistis Sumut mampu swasembada jagung tahun ini. Pasalnya, penyakit batang merah pada jagung kini semakin marak, terutama di sentra produksi jagung.Salah satunya berada di Kecamatan Mardinding dan Lau Balang Tanah Karo. ’’Saya pikir mereka mengambil data salah, tidak sesuai kenyataan di lapangan,” ujar Jemat. Selain itu,musim kemarau tahun ini yang lebih panjang dari tahun lalu berpotensi menurunkan produksi jagung di Sumut.Apalagi, musim tanam bulan ini, petani juga masih kekurangan pupuk. ’’Semua tahu bahwa pupuk langka di pasaran. Padahal, tanpa pupuk,produksi jagung terganggu.Dengan demikian, swasembada jagung tentu sulit dicapai tahun ini,” ujarnya.. (watson manalu) Best Regarts www.dausmedia. cjb.net __________________________________________________________ Not happy with your email address?. Get the one you really want - millions of new email addresses available now at Yahoo! http://uk.docs.yahoo.com/ymail/new.html
