Ada sayangnya ada untungnya kegiatan yang kita lakukan di situs Benteng Putri
Hijau kemarin.
Sayangnya, demikian banyaknya media yang sudah menyatakan akan meliput, hanya
Kompas dan Pos Metro yang tiba di lapangan. Metro TV tidak dapat mengejar waktu
ke lapangan karena masih harus meliput kedatangan korban kapal tenggelam di
Bandara Polonia. TV One datang tapi ke Jl. Putri Hijau, Medan, bukannya ke
Benteng Putri Hijau (salah ngerti). Sayangnya lagi, karena pengurusan media
dikerjakan para mahasiswa, kita lupa satu wartawan Sora Sirulo adalah juga
wartawan Medan Bisnis.
Untungnya, di hari terakhir Ita Apulina teringat temannya sesama wartawan yang
meliput kasus Durin Tonggal (dari Harian Kompas). Dia pun segera meluncur ke
lapangan (setelah meliput kedatangan korban kapal tenggelam di Polonia). Gadis
asal Jawa yang lembut namun tegar dari Harian Kompas ini sungguh mengagumkan.
Dia sendiri bahkan menyumbangkan beberapa pemikiran dalam acara diskusi di
lapangan.
Katanya: "Keprihatinan akan punahnya Benteng Putri Hijau selama ini hanya dari
orang-orang senior (sudah berumur, red.). Ini adalah harapan baru, 30 orang
muda mulai bergerak menunjukkan keprihatinannya." (24 diantaranya adalah
mahasiswa antropologi USU, 2 alumni antropologi USU, 1 alumni Teknik Industri
USU, 1 dosen antropologi USU, 1 mahasiswa Fisika Unimed, 1 alumni ekonomi Univ.
Nomensen, 1 mahasiswa elektro Unpad Bandung yang akan pindah kuliah ke Medan).
Diantara 30 orang itu, 10 adalah pekerja Tabloid SORA SIRULO: J. Ginting
(Pemimpin Umum), Ita Apulina (Pemimpin Redaksi), Karmila Kaban (Dewan Redaksi),
Eddy Surbakti (Ka Biro Kab. Karo), Andreas Bangun (staf redaksi), Hendra G.
Tarigan (staf redaksi), Nuel Tarigan (Ka Biro Deliserdang), Maja Barus (anggota
baru Biro Medan), Rico Simanjorang (anggota baru Biro Medan), Aldo Sitepu
(anggota baru Biro Medan).
Bisa dikatakan, SORA SIRULO adalah 'semangat' dari gerakan ini, dengan
menggunakan fisiknya Study Group of Culture (SGC) yang dikomandoi Kia Sagala.
SGC adalah kelompok diskusi di luar kampus dengan para anggotanya adalah
mahasiswa antropologi USU (lebih 10 anggotanya adalah orang Karo yang 6
diantaranya orang SORA SIRULO termasuk saya sebagai pembina).
Kegiatan di Benteng Putri Hijau terdiri dari: 1. berkeliling situs (dibimbing
oleh Ita Apulina yang telah mengadakan penelitian bersama E.E. McKinnon), 2.
diskusi (dipimpin oleh Herry/ Ketua SGC), 3. makan siang, 4. Puisi dan lagu
keprihatinan. Lagu-lagu pengantar puisi-puisi adalah Bunga Rampe, Marudut,
Tegun Lolo, Berita Cuaca dan Merah Putih.
Kegiatan ini akan dilanjutkan dengan mengamen di jalanan dan cafe-cafe Medan
sambil menggelar poster dan spanduk mengenai keprihatinan atas hancurnya situs
BPH. Tempat, waktu dan sajian ngamen setiap bulannya dapat dilihat di Tabloid
SORA SIRULO setiap edisinya. Kita mengundang semua media yang ada untuk meliput
acara mengamen ini (TV, radio dan media cetak).
Acara mengamen akan menampilkan lagu-lagu Karo, Batak, Melayu dan Indonesia
(iringan gitar), puisi, orasi, tari-tarian Karo ciptaan J. Ginting diiringi
gendang keteng-ketteng/ kulcapi/ surdam/ belobat. Sebisa mungkin, setiap
mengamen disiarkan oleh Radio Karo Access Global (RKAG). Saya dan beberapa
teman akan menciptakan lagu-lagu keprihatinan terhadap BPH dan mudah-mudahan
kita akan mengeluarkan albumnya nanti dalam bentuk VCD.
Dalam waktu dekat, kita akan mengadakan pertemuan dengan arkeolog E.E.
McKinnon, ketua Museum Sumut dan beberapa orang terkait dengan BPH. Sasaran
kita, BPH harus lestari. Mudah-mudahan UNESCO menyambut baik proposal yang kita
layangkan pada mereka dalam waktu dekat.
Semoga Tuhan Memberkati dan, kami harap, kata-kata dan tindakan kami yang tak
akan pernah berujung ini mampu menyentuh hati dan nurani saudara-saudaraku.
Memang kami tidak akan pernah berhenti untuk Karo Enda Ndai, Enda Karo Ndai.
Juara R. Ginting
--- On Mon, 6/10/08, pelangiharum <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sodara-sodara sepenggejapen, kemarin kita (Aku, Bang Juara dan Eddy
Surbakti beserta kelompok Study Group of Culture mahasiswa Antropologi
USU Medan mengadakan aksi damai prihatin dan menangis untuk Benteng
Putri Hijau.
Hari ini, kegiatan aksi dirilis di harian Kompas. Berikut ini link-
nya :
http://www.kompas. com/read/ xml/2008/ 10/06/00203934/
putri.hijau. semakin.rata
Nanti akan kami susulkan fot0 tambahan selama di lapangan.
salam,
ita