Saya Foward dari email K.S.Turnip. yang masuk ke inbox email saya 

Semoga bermanfaat bagi member milis semuanya :)


--- On Fri, 1/23/09, KS TURNIP <[email protected]> wrote:
From: KS TURNIP <[email protected]>
Subject: STM NEGERI BERASTAGI
To: [email protected]
Date: Friday, January 23, 2009, 8:10 AM



 
 


Perlu evaluasi ulang cara belajar dan mengajar di 
STM NEGERI Berastagi.
MAAF...MAAF...MAAF.
Saya sendiri merasakan ada yang kurang beres dengan 
cara sebagian guru-guru yang mengajar di sana.
Guru........(Bapak dan Ibu 
Guru)
Tugasnya adalah mengajar dan mendidik siswa supaya 
memahami tujuan belajar dan tujuan mereka sekolah.
Kita meski maklum lebih dari 80 % siswa yang 
bersekolah di sana berasal dari kampung (Kuta-kuta nari) dengan kondisi sosial 
dan ekonomi yang pas-pasan.
Kami sendiri yang seangkatan di tahun 1992 sebagian 
besar (artinya lebih dari 50%) bisa menyelesaikan sekolah dengan cara 
bekerja sembari sekolah. Mulai dari jam 2 siang sampai jam 8 malam kadang 
sampai 
jam 10 malam narik sorong di pajak Berastagi. Sebagian malah mesti bekerja dari 
jam 4 pagi sampai jam 6 pagi (Selasa & Jum'at) di pasar 
bunga. Jadi, kalau di pikir-pikir kapan lagi 
waktunya untuk belajar.
Seorang anak yang mau masuk STM adalah orang yang 
benar-benar berjiwa teknik, kalau disuguhi pelajaran non teknik biasanya 
membosankan dan sering dibenci. Ditambah lagi karena sikap gurunya 
(kebanyakan guru pelajaran umum) yang kurang 
bersahabat dan cenderung pendendam. Guru yang begini biasanya tidak boleh 
didebat, sekalipun apa yang dikatakannya kurang tepat. Saya tidak bisa masuk ke 
beberapa perusahaan BUMN yang bonafide karena tidak memenuhi syarat. Karena 
Nilai PMP saya hanya 6,0 padahal nilai minimum yang boleh mendaftar adalah 7,0. 
Tapi saya punya masalah bukan karena tidak bisa ngikutin pelajarannya. Setiap 
ujian harian nilai saya selalu antara 8 s/d 10. Dan ujian akhir saya sudah 
yakin 
nilai saya tidak kurang dari tujuh (dengan metode penyelesaian ujian, 
selesaikan 
dulu soal yang termudah, baru soal yang lebuh sulit, setelah itu soal yang 
paling sulit). Pada saat ujian akhir saya yakin 70 % dari soal itu sudah 
saya selesaikan dengan benar. Sewaktu terima ijasah tau nilai PMP hanya 6.0 
saya 
coba mendatangi ibu guru yang "pendendam" tadi 
dan menanyakan nilai saya yang seharusnya. Tapi dengan entengnya beliau 
menjawab: Kamu tidak dinilai hanya dari kepintaran kamu, tapi 
tingkah laku kamu. Bayangkan, seorang guru PMP dan juga istri 
dari seorang pendeta berkata seperti itu. Saya terpaku dan diam mengingat saya 
telah sering mendebat beliau didalam kelas sewaktu belajar. Dan ingat ucapannya 
dulu : Kamu lulus atau tidak lulus saya yang 
menentukan. Kalau saja pada tahun 1992 bukan PEMILU mungkin kami 
hampir setengahnya tidak lulus. Tapi bukan karena kebodohan atau rendahnya IQ 
kami. Tapi ketidak senangan guru guru yang sadis setengan mati. Rangking kelas 
1 
sampai 5 semua anak manis yang disenangi guru, bukan karena kecerdasannya. 
Selama saya di STM Negeri Berastagi, dua kali saya permalukan mereka. Soal yang 
baru yang ditest kepada kelas kami hanya saya dan seorang teman yang bisa 
menyelesaikan dengan benar dan diberi nilai istimewa. Sedangkan rangking kelas 
Juara 1 sampai 5 tidak ada yang mengerti. Ada lagi yang lebih lucu, Nilai 
Pelajaran INSTALASI RUMAH saya juga 6.0, padahal mata pelajaran INSTALASI MOTOR 
LISTRIK yang jauh lebih rumit bisa dapat 8,0 (nilai istimewa pada saat 
itu).  Begitulah keadaan disekolah kita itu dulu. Penilaian siswa antara Like 
or dislike. Tapi 
disamping guru yang tadi saya salut untuk pak guru yang medidik dengan hati 
nurani dan jiwa yang besar. Mereka objektif dalam memberi nilai. Hasil ujian 
tidak dikaitkan dengan kenakalan kita dimasa sebelumnya. Mereka ini layak 
dikenang dan dihormati. Tolong sampaikan salam saya kalau ada yang ketemu 
beliau-beliau yang telah mendidik saya. Mereka adalah : Bp. Drs. Darwin Ginting 
dan Bp. Drs. Syaibun Bangko.
 
Jakarta Januari ujung 2009.
 
 
K.S.Turnip.


      

Kirim email ke