Selamat deh buat Turnip yang akhirnya berhasil lulus dari STM NEGERI BERASTAGI, karena 3 tahun terakhir ini banyak yang tidak lulus bukan karena gurunya yang sentimen tetapi mungkin menurut saya karena sistem penilaian yang memakai komputerisasi. Tapi kamu gak dendam lagi kan sama ibu guru itu. :)
Salam dari berastagi yang dingin On Fri, 23 Jan 2009 08:59:19 -0800 (PST) Alexander Firdaust <[email protected]> wrote: > Saya Foward dari email K.S.Turnip. yang masuk ke inbox >email saya > > Semoga bermanfaat bagi member milis semuanya :) > > > --- On Fri, 1/23/09, KS TURNIP <[email protected]> >wrote: >From: KS TURNIP <[email protected]> > Subject: STM NEGERI BERASTAGI > To: [email protected] > Date: Friday, January 23, 2009, 8:10 AM > > > > > > > > Perlu evaluasi ulang cara belajar dan mengajar di > STM NEGERI Berastagi. > MAAF...MAAF...MAAF. > Saya sendiri merasakan ada yang kurang beres dengan > cara sebagian guru-guru yang mengajar di sana. > Guru........(Bapak dan Ibu > Guru) > Tugasnya adalah mengajar dan mendidik siswa supaya > memahami tujuan belajar dan tujuan mereka sekolah. > Kita meski maklum lebih dari 80 % siswa yang > bersekolah di sana berasal dari kampung (Kuta-kuta nari) >dengan kondisi sosial > dan ekonomi yang pas-pasan. > Kami sendiri yang seangkatan di tahun 1992 sebagian > besar (artinya lebih dari 50%) bisa menyelesaikan >sekolah dengan cara > bekerja sembari sekolah. Mulai dari jam 2 siang sampai >jam 8 malam kadang sampai > jam 10 malam narik sorong di pajak Berastagi. Sebagian >malah mesti bekerja dari > jam 4 pagi sampai jam 6 pagi (Selasa & Jum'at) di pasar > bunga. Jadi, kalau di pikir-pikir kapan lagi > waktunya untuk belajar. > Seorang anak yang mau masuk STM adalah orang yang > benar-benar berjiwa teknik, kalau disuguhi pelajaran non >teknik biasanya > membosankan dan sering dibenci. Ditambah lagi karena >sikap gurunya > (kebanyakan guru pelajaran umum) yang kurang > bersahabat dan cenderung pendendam. Guru yang begini >biasanya tidak boleh > didebat, sekalipun apa yang dikatakannya kurang tepat. >Saya tidak bisa masuk ke > beberapa perusahaan BUMN yang bonafide karena tidak >memenuhi syarat. Karena > Nilai PMP saya hanya 6,0 padahal nilai minimum yang >boleh mendaftar adalah 7,0. > Tapi saya punya masalah bukan karena tidak bisa ngikutin >pelajarannya. Setiap > ujian harian nilai saya selalu antara 8 s/d 10. Dan >ujian akhir saya sudah yakin > nilai saya tidak kurang dari tujuh (dengan metode >penyelesaian ujian, selesaikan > dulu soal yang termudah, baru soal yang lebuh sulit, >setelah itu soal yang > paling sulit). Pada saat ujian akhir saya yakin 70 % >dari soal itu sudah > saya selesaikan dengan benar. Sewaktu terima ijasah tau >nilai PMP hanya 6.0 saya > coba mendatangi ibu guru yang "pendendam" tadi > dan menanyakan nilai saya yang seharusnya. Tapi dengan >entengnya beliau > menjawab: Kamu tidak dinilai hanya dari kepintaran kamu, >tapi > tingkah laku kamu. Bayangkan, seorang guru PMP dan juga >istri > dari seorang pendeta berkata seperti itu. Saya terpaku >dan diam mengingat saya > telah sering mendebat beliau didalam kelas sewaktu >belajar. Dan ingat ucapannya > dulu : Kamu lulus atau tidak lulus saya yang > menentukan. Kalau saja pada tahun 1992 bukan PEMILU >mungkin kami > hampir setengahnya tidak lulus. Tapi bukan karena >kebodohan atau rendahnya IQ > kami. Tapi ketidak senangan guru guru yang sadis >setengan mati. Rangking kelas 1 > sampai 5 semua anak manis yang disenangi guru, bukan >karena kecerdasannya. > Selama saya di STM Negeri Berastagi, dua kali saya >permalukan mereka. Soal yang > baru yang ditest kepada kelas kami hanya saya dan >seorang teman yang bisa > menyelesaikan dengan benar dan diberi nilai istimewa. >Sedangkan rangking kelas > Juara 1 sampai 5 tidak ada yang mengerti. Ada lagi yang >lebih lucu, Nilai > Pelajaran INSTALASI RUMAH saya juga 6.0, padahal mata >pelajaran INSTALASI MOTOR > LISTRIK yang jauh lebih rumit bisa dapat 8,0 (nilai >istimewa pada saat > itu). Begitulah keadaan disekolah kita itu dulu. >Penilaian siswa antara Like or dislike. Tapi > disamping guru yang tadi saya salut untuk pak guru yang >medidik dengan hati > nurani dan jiwa yang besar. Mereka objektif dalam >memberi nilai. Hasil ujian > tidak dikaitkan dengan kenakalan kita dimasa sebelumnya. >Mereka ini layak > dikenang dan dihormati. Tolong sampaikan salam saya >kalau ada yang ketemu > beliau-beliau yang telah mendidik saya. Mereka adalah : >Bp. Drs. Darwin Ginting > dan Bp. Drs. Syaibun Bangko. > > Jakarta Januari ujung 2009. > > > K.S.Turnip. > > > ------------------------------------------------------------------------------------------------------------ Ikuti Speedy Blogging Competition 2008, ajang kompetisi Blog yang terbuka bagi semua Blogger dengan tema: Seperti Apa Konten Hebat Menurutmu? Dapatkan hadiah utama 1 Buah Notebook Mininote. Informasi lebih lanjut kunjungi http://lomba.blog.telkomspeedy.com ------------------------------------------------------------------------------------------------------------ Sekarang Gratis Nelpon SLJJ Flexi diperluas ke Yogja ------------------------------------------------------------------------------------------------------------ Speedy Gratis internetan unlimited dari pkl. 20.00 s/d 08.00 se-Jabodetabek, Banten, Karawang dan Purwakarta
