Saya kira masalah ini sudah mendunia, dimana2 kata "Macet" sudah tidak asing lagi didengar..memang efect dari teknologi Industri (mobil) adalah demikian karena tidak pernah berhenti mengeluarkan produk baru sedangkan penambahan jalan bisa dibilang statik. Beberapa hal yang sangat menarik didiskusikan adalah masalah mental (Culture) dan pengaturan, saya punya pengalaman mengunjungi beberapa negara yang kebetulan masalahnya sama "Macet" 1. Kuala Lumpur/Singapore, juga sama hanya saja pengaturan dan mental manusianya membuat lebih baik dan mengurangi kemacetan 2. Jakarta, super macet..Tol saja bisa macet....mental dan susah diatur.. 3. Luanda, Angola..sangat tidak teratur (pengaturan dan mental) 4. Dubai, UAE..pengaturan lebih baik..mental manusia masih mudah diatur 5. Kuwait..Macet juga..tapi lebih mengerikan negara kecil tapi paling tinggi kecelakan sedunia (number one)..susah diatur 6. Jordania..Macet..pengaturan jelek dan mental manusainya juga susah diatur 7. Algeria..uish macet banget..Pengaturan jelek dan mental manusianya susah diatur 8. Israel...macet..tapi teratur dan mental manusianya masih gampang diatur 9. Mesir..Weih paling macet sedunia kali...pengaturan amburadul..mental manusianya juga waduh..amit2 10. Paris..Perancis..macet juga hanya saja seperti kebanyakan negara eropah pengaturan dan mental manusaianya membuat lebih baik.
Dari beberapa contoh diatas ternyata saya bisa simpulkan, dominan permasalahan macet adalah dari Pengaturan (manage) dan Culture (mental). Ini hanya pengalaman pribadi saja, belum tentu juga benar, mungkin Bang Ari bisa membahas lebih detail... Salam, Edison Maha ________________________________ From: Ari Krisna Mawira Tarigan <[email protected]> To: [email protected]; [email protected]; [email protected] Sent: Tue, October 13, 2009 6:50:00 AM Subject: [infokaro] FYI-Transportasi Kota Medan Sistem Pengelolaan Transportasi Medan Tertinggal 10-20 Tahun Medan, (Analisa) Berdasarkan pengalaman, kondisi lalu lintas dan transportasi di Kota Medan makin memprihatinkan. Bahkan, kota ini jauh tertinggal antara 10-20 tahun dibandingkan dengan kota-kota menengah di Jepang dalam pengelolaan sistem transportasinya. “Kemacetan banyak yang memprihatinkan dan jumlah titik kemacetan juga bertambah,” kata ahli rekayasa dan manajemen transportasi, Dr Ari Krisna Mawira Tarigan, kepada wartawan di Medan, Sabtu (10/10). Putra Medan yang kini menjadi peneliti masalah transportasi di Norwegia itu membandingkan antara Medan saat ini dan lima tahun lalu ketika dia berangkat belajar ke Jepang. Kondisi lalu lintasnya sudah jauh berbeda. Sebagai perbandingan, ruas jalan di daerah Kelurahan Tanjung Sari tidak pernah macet sekitar lima tahun lalu. Namun kini arus lalu lintas di daerah tersebut mulai dilanda kemacetan yang termasuk parah. Dalam penilaian doktor (PhD) Perekayaan Perilaku Perjalanan Universitas Kyoto, Jepang, ini, faktor utama meningkatnya kemacetan itu adalah tidak seimbangnya antara jumlah kendaraan dan ruas jalan yang ada. Jumlah kendaraan naik cukup tinggi dalam beberapa tahun terakhir, tetapi pertambahan ruas jalan yang ada tidak signifikan. Menurutnya, pertambahan jumlah kendaraan yang cukup tinggi itu bukan hanya dari angkutan umum dan sepeda motor, tetapi juga kendaraan pribadi. Di samping faktor ini, factor lain penyebab kemacetan adalah tidak meratanya pusat pertumbuhan ekonomi di ibukota Sumatera Utara (Sumut) ini. Sampai saat ini, pusat-pusat pertumbuhan ekonomi masih berada di inti kota. “Seharusnya, untuk mengurangi atau mencegah meningkatnya kepadatan lalu lintas di inti kota, maka pusat-pusat pertumbuhan itu didorong ke daerah-daerah pinggiran (suburb),” jelasnya. Transportasi massal Menurut Ari yang banyak melakukan penelitian transportasi di negara-negara Asia dan Amerika Latin ini, termasuk persoalan angkot perkotaan di Bandung (Jawa Barat), Pemerintah Kota (Pemko) Medan sudah harus segera mengembangkan moda transportasi massal dalam sistem transportasinya. “Di banyak negara maju dan berkembang lainnya, moda ini terbukti efektif menekan kemacetan lalu lintas. Moda transportasi itu juga diminati pemilik kendaraan pribadi,” ungkapnya. Untuk bisa menarik minat pemilik kendaraan pribadi, maka moda transportasi massal, termasuk sejenis busway yang sudah diterapkan di Jakarta, maka faktor keamanan dan kenyamanan. “Jika pemilik kendaraan pribadi bisa mendapatkan kedua hal ini, maka moda transportasi massal akan berkembang di Medan,” katanya optimis. Untuk jalan keluar jangka pendek, alternatif yang bisa ditempuh di antaranya dengan membuat jalur-jalur khusus bagi setiap jenis kendaraan. Sepeda motor, kendaraan pribadi, angkot dan sepeda harus memiliki jalur masing-masing. “Banyak kota menengah di Jepang menerapkan jalur-jalur khusus ini dan terbukti menekan kemacetan lalu lintas,” katanya. Kondisi lain yang juga harus menjadi perhatian ialah meningkatkan kesadaran berlalulintas masyarakat. “Selama mental berlalulintas kita belum baik, pasti akan sulit mengatasi persoalan kesemrawutan lalu lintas di kota ini,” katanya. (gas) http://www.analisad aily.com/ index.php? option=com_ content&view=article&id=31520:sistem- pengelolaan- transportasi- medan-tertinggal -10-20-tahun&catid=31:umum&Itemid=143
