Sistem Pengelolaan Transportasi Medan Tertinggal 10-20 Tahun [image:
Cetak]<http://www.analisadaily.com/index.php?view=article&catid=31%3Aumum&id=31520%3Asistem-pengelolaan-transportasi-medan-tertinggal-10-20-tahun&tmpl=component&print=1&page=&option=com_content&Itemid=143>
[image:
Email]<http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_mailto&tmpl=component&link=aHR0cDovL3d3dy5hbmFsaXNhZGFpbHkuY29tL2luZGV4LnBocD9vcHRpb249Y29tX2NvbnRlbnQmdmlldz1hcnRpY2xlJmlkPTMxNTIwOnNpc3RlbS1wZW5nZWxvbGFhbi10cmFuc3BvcnRhc2ktbWVkYW4tdGVydGluZ2dhbC0xMC0yMC10YWh1biZjYXRpZD0zMTp1bXVtJkl0ZW1pZD0xNDM=>
*Medan, (Analisa)*

Berdasarkan pengalaman, kondisi lalu lintas dan transportasi di Kota Medan
makin memprihatinkan. Bahkan, kota ini jauh tertinggal antara 10-20 tahun
dibandingkan dengan kota-kota menengah di Jepang dalam pengelolaan sistem
transportasinya.

“Kemacetan banyak yang memprihatinkan dan jumlah titik kemacetan juga
bertambah,” kata ahli rekayasa dan manajemen transportasi, Dr Ari Krisna
Mawira Tarigan, kepada wartawan di Medan, Sabtu (10/10).

Putra Medan yang kini menjadi peneliti masalah transportasi di Norwegia itu
membandingkan antara Medan saat ini dan lima tahun lalu ketika dia berangkat
belajar ke Jepang. Kondisi lalu lintasnya sudah jauh berbeda.

Sebagai perbandingan, ruas jalan di daerah Kelurahan Tanjung Sari tidak
pernah macet sekitar lima tahun lalu. Namun kini arus lalu lintas di daerah
tersebut mulai dilanda kemacetan yang termasuk parah.

Dalam penilaian doktor (PhD) Perekayaan Perilaku Perjalanan Universitas
Kyoto, Jepang, ini, faktor utama meningkatnya kemacetan itu adalah tidak
seimbangnya antara jumlah kendaraan dan ruas jalan yang ada. Jumlah
kendaraan naik cukup tinggi dalam beberapa tahun terakhir, tetapi
pertambahan ruas jalan yang ada tidak signifikan.

Menurutnya, pertambahan jumlah kendaraan yang cukup tinggi itu bukan hanya
dari angkutan umum dan sepeda motor, tetapi juga kendaraan pribadi.
Di samping faktor ini, factor lain penyebab kemacetan adalah tidak meratanya
pusat pertumbuhan ekonomi di ibukota Sumatera Utara (Sumut) ini. Sampai saat
ini, pusat-pusat pertumbuhan ekonomi masih berada di inti kota.

“Seharusnya, untuk mengurangi atau mencegah meningkatnya kepadatan lalu
lintas di inti kota, maka pusat-pusat pertumbuhan itu didorong ke
daerah-daerah pinggiran (suburb),” jelasnya.

*Transportasi massal*

Menurut Ari yang banyak melakukan penelitian transportasi di negara-negara
Asia dan Amerika Latin ini, termasuk persoalan angkot perkotaan di Bandung
(Jawa Barat), Pemerintah Kota (Pemko) Medan sudah harus segera mengembangkan
moda transportasi massal dalam sistem transportasinya.

“Di banyak negara maju dan berkembang lainnya, moda ini terbukti efektif
menekan kemacetan lalu lintas. Moda transportasi itu juga diminati pemilik
kendaraan pribadi,” ungkapnya.

Untuk bisa menarik minat pemilik kendaraan pribadi, maka moda transportasi
massal, termasuk sejenis busway yang sudah diterapkan di Jakarta, maka
faktor keamanan dan kenyamanan. “Jika pemilik kendaraan pribadi bisa
mendapatkan kedua hal ini, maka moda transportasi massal  akan berkembang di
Medan,” katanya optimis.

Untuk jalan keluar jangka pendek, alternatif yang bisa ditempuh di antaranya
dengan membuat jalur-jalur khusus bagi setiap jenis kendaraan. Sepeda motor,
kendaraan pribadi, angkot dan sepeda harus memiliki jalur masing-masing.
“Banyak kota menengah di Jepang menerapkan jalur-jalur khusus ini dan
terbukti menekan kemacetan lalu lintas,” katanya.

Kondisi lain yang juga harus menjadi perhatian ialah meningkatkan kesadaran
berlalulintas masyarakat. “Selama mental berlalulintas kita belum baik,
pasti akan sulit mengatasi persoalan kesemrawutan lalu lintas di kota ini,”
katanya. *(gas)*
**
http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=31520:sistem-pengelolaan-transportasi-medan-tertinggal-10-20-tahun&catid=31:umum&Itemid=143

Kirim email ke