Owww permilis, enda sitik kudat info arah website jiran nari... Mari totonken 2
ikat cabai enda gelah la benekena bangsa ta...
Kekayaan Anggoro-Anggodo Melimpah Saat Jadi Agen SDSB
DIALEK
Suroboyoan sering muncul dalam rekaman perbincangan yang kemarin
diputar di sidang Mahkamah Konstitusi. Maklum saja, sang tokoh kunci,
Anggodo Widjojo, serta kakaknya Anggoro Widjojo, yang masih buron,
adalah arek Suroboyo asli yang berkarir dan menjadi pengusaha sukses di
kota Pahlawan itu.
Di kalangan pengusaha Surabaya, nama
Anggodo dan Anggoro Widjojo tidak terlalu dikenal. Namun, jika
disebutkan nama asli Tionghoanya, yakni Ang Tju Nek (Anggodo) dan Ang
Tju Hong (Anggoro), hampir semua pengusaha senior mengenal mereka.
Bahkan, mereka mengetahui dengan citra tertentu kepada duo adik kakak
itu.
Di mata para pengusaha papan atas Surabaya, Ang Tju Nek dan
Ang Tju Hong adalah pengusaha yang banyak berkecimpung di bisnis
ilegal. Bahkan, seorang pengusaha yang cukup dekat dengan keduanya
sejak kecil, mengatakan, mereka dikenal bengal sejak kecil dan remaja.
"Mereka sukanya berkelahi, terutama yang gemuk itu (Anggodo, Red)," ujar
seorang pengusaha senior.
Jika
di kalangan teman remajanya Anggodo dikenal sebagai anak muda yang suka
main pukul, penampilan Anggoro kebalikannya. Pria yang terakhir menjadi
bos PT Masaro Radiokom -perusahaan rekanan departemen dalam proyek
sistem komunikasi terpadu serta Motorola, perusahaan IT terkemuka
Amerika- itu dikenal sebagai pemuda yang cerdas dan tangkas. "Anggoro
lebih kalem. Tapi, dari gerak matanya dia sebetulnya cerdas dan tangkas
dalam bisnis," tambah sumber yang seorang pengusaha itu.
Bakat
bisnis Anggodo dan Anggoro menurun dari papa mereka, Ang Gai Hwa.
Sebagai perantau dari Tionghoa, Gai Hwa di kalangan
pengusaha-pengusaha perintis industri di Surabaya dikenal supel dan
suka bergaul. Gai Hwa bekerja sebagai penjual dinamo di kawasan
Kalimati (kompleks Kembang Jepun Surabaya sekarang, Red) Surabaya.
"Orangnya suka cerita, karena itu dia banyak teman dan relasi,"
jelasnya.
Selain
meneruskan bisnis sang ayah, Anggodo dan Anggoro terus mengembangkan
bisnis keluarga. Sayang, karena sifat bawaan keduanya, lahan bisnis
baru yang dipilih sering menyerempet hal yang melanggar hukum. "Karena
itu, mereka mulai dijauhi kolega-kolega. Padahal, kami menyayangkannya.
Bagaimanapun, mereka saudara sekampung halaman di Tiongkok," ujar
sumber itu.
Salah satu bisnis yang sempat mendatangkan
penghasilan melimpah bagi Anggoro dan Anggodo adalah menjadi agen SDSB
(Sumbangan Dana Sosial Berhadiah), judi yang dilegalkan pemerintah pada
akhir 1980-an. "Apalagi mereka dekat dengan Roby Ketek (nama asli Rudy
Sumampouw, pengusaha terkaya Surabaya 1980-an)," ungkapnya. Kongsi bos
SDSB yang dekat dengann banyak pejabat pusat di Jakarta itu, Anggodo
dan Anggoro mendapat keuntungan melimpah hingga mampu membeli kompleks
perkantoran dan hiburan Studio East di kawasan Simpang Dukuh.
Namun,
pada awal 1990-an, bisnis dua bersaudara itu memasuki masa suram. Sejak
itu mereka tidak terdengar kiprahnya di jagat bisnis Surabaya. Kabar
keduanya baru muncul 10 tahun kemudian, saat mereka mendirikan PT
Masaro Radiokom, dan lebih mengejutkan lagi mereka sukses menjadi agen
pemasaran Motorola, perusahaan telekomunikasi papan atas asal Amerika.
Sejak itu mereka kembali sering muncul di pergaulan pengusaha Surabaya,
meski sebatas acara gathering dan entertainment.
Namun, kelompok
pengusaha senior Surabaya kembali kecewa saat mengetahui bahwa perilaku
Anggodo dan Anggoro tidak berubah. "Ternyata, saat sukses lagi, muncul
sombongnya," ujarnya. Bahkan, di kalangan penikmat dunia malam di
Jakarta dan Surabaya, Anggoro dikenal sebagai pengusaha yang suka
berfoya-foya. "Pernah dia mem-booking 30 cewek sekaligus dan
masing-masing dikasih Rp 3 juta. Cerita ini begitu terkenal. Jika tidak
percaya, cek di bar-bar terkemuka di Jakarta dan Surabaya," ujarnya.
Anggodo pun hanya mengikuti kebiasaan sang kakak.
Minta Maaf ke SBY
Rekaman
pembicaraan yang diduga rekayasa kasus Chandra M. Hamzah dan Bibit S.
Riyanto menyebut-nyebut RI-1 yang lazim dikenal sebagai presiden.
Namun, Anggodo buru-buru mengklarifikasi bahwa tidak ada pencatutan
terhadap orang nomor satu di Indonesia."Saya minta maaf kepada Bapak
Presiden. Tidak ada pencatutan terhadap Bapak Presiden," kata Anggodo
seperti dikutip dari perbincangan di TVOne tadi malam. Dia meminta
maaf jika beberapa hari terakhir presiden terganggu oleh rekaman
tersebut.
Tidak hanya presiden, Anggodo juga meminta maaf kepada
institusi kejaksaan. Sebab, dalam rekaman ikut disebut nama Wakil
Jaksa Agung Abdul Hakim Ritonga dan mantan Jaksa Agung Muda Intelijen
(JAM Intel) Wisnu Subroto. "Dalam paparan ini jelas, tidak ada paparan
terhadap Pak Ritonga," katanya.
Sementara
kepada Wisnu, Anggodo mengaku kenal lebih dari sebagai teman. "Kepada
Pak Wisnu, yang selama ini saya anggap kakak dan memberikan advice,"
ujarnya.
Anggodo membantah meminta bantuan dalam rekayasa
tersebut kepada pejabat kejaksaan, yakni Ritonga dan Wisnu. "Kalau saya
punya perkara, untuk apa lewat orang lain, saya menghadap sendiri."
(kim/fal/iro/ kum)
Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk
Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka
browser. Dapatkan IE8 di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer