Wah jadi teringat juga puluhan tahun yg lalu.....Sibayak....tiap ada kesempatan 
hanya bisa sampai di kakinya pemandian air panas Raja Berneh

Salam :

 agt 

----- Original Message -----
From: [email protected] <[email protected]>
To: [email protected] <[email protected]>; 
[email protected] <[email protected]>; 
[email protected] <[email protected]>
Sent: Mon Dec 21 20:15:39 2009
Subject: [infokaro] Rame-Rame Mendaki Gunung Sibayak



Mendaki Gunung Sibayak “Tak Lekang Ditelan Zaman” 

Sumber: 
http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=38144%3Amendaki-gunung-sibayak-tak-lekang-ditelan-zaman&catid=94%3Apariwisata&Itemid=26

Oleh: Anthony Limtan

“Pagi itu, keindahan matahari pagi (sunrise) mulai menyemburkan sinar 
disela-sela puncak bebatuan. Semua peserta terlihat sangat lelah. Kucuran 
keringat pun telah berhenti.Tampak pengunjung istirahat dan rebah di antara 
bebatuan.”


Ketika seorang teman mengajak saya melakukan pendakian ke Gunung Sibayak, Tanah 
Karo, secara spontan saya teringat ketika pertama sekali saya menaklukkan 
puncak dengan ketinggian 2094  mdpl pada masa remaja.

Ya sekitar 25 tahun yang lalu. Keinginan untuk mengulangi petualangan itu pun 
menyala kembali sekaligus menguji ketahanan fisik. Saya dan enam rekan sesama 
anggota klub bulutangkis akhirnya memutuskan untuk mengulangi nostalgia itu 
pada liburan kemarin (18/12). 

Setelah santap malam dan istirahat sebentar di salah satu restoran Bandarbaru, 
kami pun tiba  sekitar pukul 23.00 WIB di kaki Gunung Sibayak, tidak jauh dari 
pemandian air panas Lau Debuk-debuk.Di lokasi ini sudah tampak sekitar 200an 
kawula muda dari berbagai grup sudah siap melakukan pendakian.

Iring-iringan pendakian pun dimulai yang diawali dari lokasi Hutan Bambu. Kami 
bertujuh menyalip diantara mereka. Sayangnya, panitia dari berbagai grup tidak 
melakukan koordinasi demi lancarnya proses pendakian. Sejumlah besar pendaki 
diberangkatkan dalam waktu bersamaan di jalan sempit, becek dan bersemak 
belukar. Peserta yang kondisinya tidak prima sudah pasti berhenti berkali-kali 
untuk istirahat, sedangkan perjalanan menuju puncak masih cukup panjang. 

Antrean panjang pun tak terhindarkan. Saya menilai panitia dari salah satu grup 
pendaki gunung itu kurang pengalaman, apalagi grup ini yang membawa ratusan 
peserta  sempat  tersesat (kehilangan  arah) sampai satu jam luntang lantung di 
punggung gunung. Saya juga melihat di antara mereka ada yang pakai sandal, 
sehingga ia harus jatuh bangun beberapa kali ketika melintasi tanah basah dan 
sangat licin.

“Seharusnya peserta yang mendaki dibagi beberapa grup dan tidak berangkat 
sekaligus. Kan  tidak semua kondisi fisik peserta prima, sehingga ketika mereka 
berhenti tidak menghambat peserta yang dibelakang,” papar Suwanto salah seorang 
rekan kami.

Petualangan di malam yang dingin pun tidak terasa lagi menggigil. Kucuran 
keringat mulai merembes di sekujur tubuh. Beberapa rekan berpostur subur harus 
berjuang keras melintasi medan yang sempit, berliku dan mendaki. Sementara 
daun-daun pepohonan hutan terasa begitu segar dan menjadi aroma therapi 
menyejukkan.

Setelah merayap sekitar 3 jam, di punggung Sibayak, dari ketinggian tampak 
kerlap-kerlip lampu kota Berastasi memancarkan keindahan  pada malam hari. 
Sedangkan di antara jalan tikus, lampu-lampu peserta berderat panjang. Deru 
angin menambah pesona Gunung Sibayak layak dikunjungi.

Di Puncak Sibayak sekitar pukul 06.00 WIB, pengunjung dapat menikmati pesona 
dan gugusan bebatuan serta kawah yang mengembuskan asap berbau belerang.  Angin 
masih berhembus dingin. Tapi bersama pergerakan waktu cahaya matahari perlahan 
menyibak selubung hitam langit sehingga warnanya kemudian berganti menjadi biru 
cerah. Punggung gunung dan deretan perbukitan di lerengnya tampak hijau.

Sunrise

Pagi itu, keindahan matahari pagi (sunrise) mulai menyemburkan sinar 
disela-sela puncak bebatuan. Semua peserta terlihat sangat lelah. Kucuran 
keringat pun telah berhenti.Tampak pengunjung istirahat dan rebah di antara 
bebatuan. 

Salah satu rekan kami dari Malaysia, Boniface Choo tidak mau melewatkan momen 
yang langka itu. Begitu bersemangatnya  pria berusia 30-an tahun ini menanti 
sunrise yang mulai mengintip di ufuk Timur. Sedangkan kabut tebal mulai 
menyelimuti kawah Sibayak yang memiliki luas 200 x 200 meter itu. Lautan 
manusia mulai tumpah bersama cahaya lampu. 

Nun jauh di sana, tampak Gunung Sinabung yang memiliki ketinggian 2.451 dpl 
berdiri di antara gunung-lainnya. Awan-awan putih berbalut warna keemasan 
tampak  menyejukkan mata.Sementara sorenya, kita dapat menyaksikan keindahan 
lembayung senja sambil menunggu matahari menuju peraduan di ufuk Barat.

Untuk mengusik rasa dingin yang menusuk, tenda-tenda mulai didirikan, sedangkan 
aktifitas lain dilakukan peserta adalah menghangatkan tubuh dengan membuat 
nyalah api. Wanita-wanita yang sudah lelah kelihatan memilih meringkuk di dalam 
tenda.

Ketika kembali, kami memilih jalan alternatif yang lebih singkat dan medan yang 
lebih ringan. Hanya memakan waktu satu jalan menyusuri jalan setapak di antara 
hutan tanaman rotan kami pun tiba di kaki gunung.

Selain Sibayak, di daerah ini banyak kawasan yang dapat dijadikan tempat 
rekreasi, seperti pemandian air panas Lau Debuk-debuk yang dikelola warga 
setempat, perkebunan sayur yang terhampar begitu indah.

Kawasan Lau Debuk-debuk merupakan daerah pegunungan yang berjarak sekitar 10 
kilometer dari kota Brastagi. Di sini banyak pusat pemandian air panas yang 
dikelilingi lahan-lahan pertanian warga Desa Semangat Gunung. Di kawasan warga 
setempat menjajakan sayur-mayur segar kepada pengunjung dengan harga ekonomis.

Menurut Rajin Tarigan, warga setempat, setiap akhir pekan atau liburan sekolah, 
Gunung Sibayak ramai didaki anak-anak muda. Tidak mengherankan kalau menjelang 
akhir tahun penginapan serta hotel yang berada di kawasan itu terlihat padat.

Meskipun tradisi mendaki Gunung Sibayak telah dilakukan sejak lama, namun 
wisata akhir pekan ini menjadi semacam agenda wajib bagi kawula muda dan tetap 
laris sepanjang masa. Seperti pepatah mengatakan umur boleh tua, namun 
aktifitas mendaki gunung “Tidak akan lekang ditelan zaman.” •••

 <file:///C:/DOCUME%7E1/SAMOED%7E1/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.png> 

Salam Mejuah Juah

Karo Cyber Community
        





______________________________________________________________________________________________________________

Disclaimer :
______________________________________________________________________________________________________________

This message is intended for the lawful recipient(s) explicitly stated in above 
only.
It may contain confidential information prohibited for any Unauthorized use by 
any party
other than the lawful addressee. The message, information and statement 
expressed herein
should also be legally privileged for the lawful recipient(s).

If you are not the intended recipient(s) or person responsible for delivering 
it to the intended recipient(s),
you must therefore be notified not to copy, print, distribute or take any 
action in
reliance on it, directly or indirectly.
______________________________________________________________________________________________________________
Please consider ENVIRONTMENT before PRINTING this email .

Kirim email ke