Mendaki Gunung Sibayak “Tak Lekang Ditelan Zaman”
Sumber:
http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=38144%3Amendaki-gunung-sibayak-tak-lekang-ditelan-zaman&catid=94%3Apariwisata&Itemid=26
Oleh: Anthony Limtan
“Pagi itu, keindahan
matahari pagi (sunrise) mulai menyemburkan sinar disela-sela puncak
bebatuan. Semua peserta terlihat sangat lelah. Kucuran keringat pun
telah berhenti.Tampak pengunjung istirahat dan rebah di antara
bebatuan.”
Ketika seorang teman mengajak saya melakukan pendakian ke Gunung
Sibayak, Tanah Karo, secara spontan saya teringat ketika pertama sekali
saya menaklukkan puncak dengan ketinggian 2094 mdpl pada masa remaja.
Ya
sekitar 25 tahun yang lalu. Keinginan untuk mengulangi petualangan itu
pun menyala kembali sekaligus menguji ketahanan fisik. Saya dan enam
rekan sesama anggota klub bulutangkis akhirnya memutuskan untuk
mengulangi nostalgia itu pada liburan kemarin (18/12).
Setelah
santap malam dan istirahat sebentar di salah satu restoran Bandarbaru,
kami pun tiba sekitar pukul 23.00 WIB di kaki Gunung Sibayak, tidak
jauh dari pemandian air panas Lau Debuk-debuk.Di lokasi ini sudah
tampak sekitar 200an kawula muda dari berbagai grup sudah siap
melakukan pendakian.
Iring-iringan pendakian pun dimulai yang
diawali dari lokasi Hutan Bambu. Kami bertujuh menyalip diantara
mereka. Sayangnya, panitia dari berbagai grup tidak melakukan
koordinasi demi lancarnya proses pendakian. Sejumlah besar pendaki
diberangkatkan dalam waktu bersamaan di jalan sempit, becek dan
bersemak belukar. Peserta yang kondisinya tidak prima sudah pasti
berhenti berkali-kali untuk istirahat, sedangkan perjalanan menuju
puncak masih cukup panjang.
Antrean panjang pun tak
terhindarkan. Saya menilai panitia dari salah satu grup pendaki gunung
itu kurang pengalaman, apalagi grup ini yang membawa ratusan peserta
sempat tersesat (kehilangan arah) sampai satu jam luntang lantung di
punggung gunung. Saya juga melihat di antara mereka ada yang pakai
sandal, sehingga ia harus jatuh bangun beberapa kali ketika melintasi
tanah basah dan sangat licin.
“Seharusnya peserta yang mendaki
dibagi beberapa grup dan tidak berangkat sekaligus. Kan tidak semua
kondisi fisik peserta prima, sehingga ketika mereka berhenti tidak
menghambat peserta yang dibelakang,” papar Suwanto salah seorang rekan
kami.
Petualangan di malam yang dingin pun tidak terasa lagi
menggigil. Kucuran keringat mulai merembes di sekujur tubuh. Beberapa
rekan berpostur subur harus berjuang keras melintasi medan yang sempit,
berliku dan mendaki. Sementara daun-daun pepohonan hutan terasa begitu
segar dan menjadi aroma therapi menyejukkan.
Setelah merayap
sekitar 3 jam, di punggung Sibayak, dari ketinggian tampak
kerlap-kerlip lampu kota Berastasi memancarkan keindahan pada malam
hari. Sedangkan di antara jalan tikus, lampu-lampu peserta berderat
panjang. Deru angin menambah pesona Gunung Sibayak layak dikunjungi.
Di
Puncak Sibayak sekitar pukul 06.00 WIB, pengunjung dapat menikmati
pesona dan gugusan bebatuan serta kawah yang mengembuskan asap berbau
belerang. Angin masih berhembus dingin. Tapi bersama pergerakan waktu
cahaya matahari perlahan menyibak selubung hitam langit sehingga
warnanya kemudian berganti menjadi biru cerah. Punggung gunung dan
deretan perbukitan di lerengnya tampak hijau.
Sunrise
Pagi
itu, keindahan matahari pagi (sunrise) mulai menyemburkan sinar
disela-sela puncak bebatuan. Semua peserta terlihat sangat lelah.
Kucuran keringat pun telah berhenti.Tampak pengunjung istirahat dan
rebah di antara bebatuan.
Salah satu rekan kami dari Malaysia,
Boniface Choo tidak mau melewatkan momen yang langka itu. Begitu
bersemangatnya pria berusia 30-an tahun ini menanti sunrise yang mulai
mengintip di ufuk Timur. Sedangkan kabut tebal mulai menyelimuti kawah
Sibayak yang memiliki luas 200 x 200 meter itu. Lautan manusia mulai
tumpah bersama cahaya lampu.
Nun jauh di sana, tampak Gunung
Sinabung yang memiliki ketinggian 2.451 dpl berdiri di antara
gunung-lainnya. Awan-awan putih berbalut warna keemasan tampak
menyejukkan mata.Sementara sorenya, kita dapat menyaksikan keindahan
lembayung senja sambil menunggu matahari menuju peraduan di ufuk Barat.
Untuk
mengusik rasa dingin yang menusuk, tenda-tenda mulai didirikan,
sedangkan aktifitas lain dilakukan peserta adalah menghangatkan tubuh
dengan membuat nyalah api. Wanita-wanita yang sudah lelah kelihatan
memilih meringkuk di dalam tenda.
Ketika kembali, kami memilih
jalan alternatif yang lebih singkat dan medan yang lebih ringan. Hanya
memakan waktu satu jalan menyusuri jalan setapak di antara hutan
tanaman rotan kami pun tiba di kaki gunung.
Selain Sibayak, di
daerah ini banyak kawasan yang dapat dijadikan tempat rekreasi, seperti
pemandian air panas Lau Debuk-debuk yang dikelola warga setempat,
perkebunan sayur yang terhampar begitu indah.
Kawasan Lau
Debuk-debuk merupakan daerah pegunungan yang berjarak sekitar 10
kilometer dari kota Brastagi. Di sini banyak pusat pemandian air panas
yang dikelilingi lahan-lahan pertanian warga Desa Semangat Gunung. Di
kawasan warga setempat menjajakan sayur-mayur segar kepada pengunjung
dengan harga ekonomis.
Menurut Rajin Tarigan, warga setempat,
setiap akhir pekan atau liburan sekolah, Gunung Sibayak ramai didaki
anak-anak muda. Tidak mengherankan kalau menjelang akhir tahun
penginapan serta hotel yang berada di kawasan itu terlihat padat.
Meskipun
tradisi mendaki Gunung Sibayak telah dilakukan sejak lama, namun wisata
akhir pekan ini menjadi semacam agenda wajib bagi kawula muda dan tetap
laris sepanjang masa. Seperti pepatah mengatakan umur boleh tua, namun
aktifitas mendaki gunung “Tidak akan lekang ditelan zaman.” •••
Salam Mejuah Juah
Karo Cyber Community