Refleksi : Tinggi gunung seribu janji, 
               lain di bibir lain di hati
               Berani sumpah tapi tak digenapi
               Hingga datang hari mati
               
               Itu tutur berita dan cerita
               Janji pembawa derita
               
               

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/06/01/OPI/mbm.20090601.OPI130477.id.html

Tinggi Gunung Seribu Janji

MESKI pemilihan presiden tinggal menunggu bilangan hari, para pasangan yang 
bakal bertarung belum juga menawarkan program kompetitif untuk merebut hati 
calon pemilih. Semuanya berhenti pada simbolsimbol umum yang dibesut begitu 
rupa sehingga menjadi seolaholah program. Padahal, pada hakikatnya, simbol 
baluran itu tak lebih dari sekadar tonggokan janji. 

Sudah sejak sebelum masa kampanye, memang, masingmasing pasangan langsung 
menggebrak, terutama di tataran pencitraan. Deklarasi, misalnya, tak luput 
dipautkan dengan imaji yang hendak dicapai. SBY-Boediono berpentas megah di 
Gedung Sabuga, Bandung. JKWin memilih panggung serba sederhana di Tugu 
Proklamasi, Jakarta. Sebaliknya, putri sang Proklamator berteater kolosal di 
tempat pembuangan sampah Bantar Gebang, Bekasi. 

Semuanya sahih belaka. Dengan catatan: program me­reka yang sesungguhnya tetap 
tak kunjung terbaca. Calon pemilih pada umumnya baru diperkenalkan dengan 
sloganslogan besar yang memerlukan rincian. Situasi ini dapat menimbulkan 
pertanyaan yang lumayan mengkhawatirkan: janganjangan para calon itu memang tak 
punya program! 

Setelah Orde Baru tumbang, dua pemilihan presiden berlangsung relatif tenang 
dan damai. Satu di antara dua pemilihan itu merupakan pemilihan langsung, yang 
mendudukkan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla sebagai presiden 
dan wakil presiden. Jika kita percaya kepada dialektika, seyogianya pemilihan 
presi­den yang akan datang, 8 Juli nanti, terselenggara lebih matang dan lebih 
dewasa ketimbang pemilihan terdahulu. 

Harapan itu tentulah tak berlebihan. Tetapi, melihat suasana "pemanasan" yang 
berbuncah terutama pada pekanpekan terakhir ini, tampaknya ada faset yang 
sebaiknya dicermati. Memasuki masa kampanye yang sesungguhnya, yang pertama 
kita harapkan adalah suasana damai dan sehat. Semestinya para kandidat paham, 
kompetisi yang mereka hadapi adalah kompetisi untuk demokrasi dan keadilan, 
bukan sematamata demi merebut kekuasaan. 

Karena itu, perang slogan dan "gorengmenggoreng" istilah sebaiknya dijauhkan 
dari arena kompetisi. Istilah "neoliberalisme", misalnya, memang bisa digoreng 
begitu rupa sehingga "makhluk" ini menjadi bahan stigmata yang menakutkan. 
Padahal pembicaraan tentang neoliberalisme memerlukan telaah yang jernih dan 
adil. Sebagai contoh, "ekonomi kerakyatan" sebetulnya bukanlah lawan yang padan 
dari neoliberalisme. Lawan yang lebih tepat adalah "politik 
kerakyatan"-ungkapan yang justru tak diingat oleh para kontestan. 

Adalah politik kerakyatan yang me­lahirkan tindakantindakan ekonomi yang 
membuka sebesarbesar peluang dan manfaat untuk semesta rakyat. Namun, apa boleh 
buat, bahkan setelah Orde Baru ambruk, politik kerakyatan itu tinggal menjadi 
angan rinduan. Reformasi memang mengubah banyak hal. Tetapi tetap menjadi 
pertanyaan apa­kah ia juga mengubah watak kekuasa­an menjadi lebih mendahulukan 
kemaslahatan rakyat. 

Tentu sulit masuk akal jika pada pemilihan tahun ini para kompetitor masih 
percaya pada model "kampanye hitam" untuk memenangi persaingan. Sebab, lebih 
dari pemilihanpemilihan presiden terdahulu, pemilihan kali ini tidak saja harus 
lebih damai dan lebih adil, tapi juga lebih cerdas. Pemilihan umum harus 
dimaknai secara hakiki, yakni sebagai sarana untuk meningkatkan peradaban dan 
kebudayaan. 

Menjual program yang tak masuk akal, misalnya, tak akan memberikan apaapa 
kepada pemilih, kecuali luka hati dan kekecewaan berketerusan. Contoh yang 
paling simpel adalah "program" mencetak sawah berjuta hektare. Soeharto pernah 
melakukan ini di lahan gambut di Kalimantan. Hasil sawah sejuta hektare itu 
belepot­an. Karakteristik lahan gambut sangat berbeda dengan sawah di Jawa, dan 
rupanya inilah yang alpa dikaji le­bih dalam ketika itu. Mencetak sawah 
kaitberkait dengan masalah bendung dan jaringan irigasi-dan notabene sumber 
air-serta pengadaan sarana produksi padi (saprodi) yang meliputi benih, pupuk, 
penangkal hama, dan seterusnya. Pokoknya, tak semudah menghitung tanduk 
kambing. 

Sampai saat ini, sebetulnya, masingmasing pasangan belum terlambat berbenah 
diri. Menjelang hariH, rakyat menuntut kampanye yang sehat, adil, jernih, dan 
cerdas. Iklan dan promosi para kontestan memang sudah mulai bertebaran di 
berbagai media, dengan ruparupa tampil­an. Iklan dan promosi itu tentulah 
berusaha menghimpun dan mengarahkan kesadaran kolektif massa menuju sasaran 
pilihan. Tapi, harap diingat, di dalam kesadaran kolektif itu tersimpan juga 
ingatan kolektif para calon pemilih terhadap rekam jejak para tokoh yang sedang 
berkompetisi.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke