sumber www.beritajatim.com
Pengadilan Prita, Pengadilan Socrates...
                   Reporter : Oryza A. Wirawan
Ibu Prita Mulyasari, selamat pagi. Apa kabar Ibu hari ini? Bagaimana
perasaan Ibu, saat harus melangkah memasuki ruangan itu: sebuah ruang dengan 
tiga hakim yang kita harapkan adil dan bijak-bestari di balik meja besar.

Ibu Prita yang baik, saya tidak tahu apa yang bakal terjadi di ruang sidang 
Pengadilan Negeri Tangerang, Kamis (4/6/2009) pagi ini. Saya membayangkan, Ibu 
mencium kedua anak Ibu dengan penuh sayang. Mungkin juga haru.

Namun, Ibu berjalan masuk ke ruang itu dengan langkah tegap dan kepala 
mendongak bangga.
Karena Ibu tahu, bahwa Ibu tengah menyelamatkan hak semua orang. Hak yang 
diberi Tuhan sejak lahir: hak berbicara.

Saya sudah membaca surat elektronik Ibu yang mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit 
Omni International. Dan, saya pun bertanya-tanya: mengapa di negeri ini sebuah 
keluhan tentang pelayanan publik menjadi dosa yang berganjar penjara.

Hampir setiap waktu, kita semua mengeluh tentang air yang mampet, listrik yang 
padam tak tentu waktu, perawat rumah sakit yang galak, dokter yang tak 
beretika. Keluhan yang seharusnya dipahami
bukan sebagai fitnah atau itikad buruk, namun pemaknaan tentang begitu 
pentingnya sebuah lembaga pelayanan publik yang bermartabat dan menghargai 
manusia.

Keluhan menunjukkan bahwa tempat-tempat
pelayanan publik itu masih bekerja, seberapapun buruknya. Dan, justru
itu yang penting: tempat-tempat itu masih bekerja karena masyarakat
masih mempercayainya. Sebuah keluhan adalah bentuk lain sebuah
optimisme, sebuah keyakinan, bahwa yang buruk masih bisa diperbaki.

Ibu Prita yang baik, izinkanlah saya bercerita tentang Socrates. Ia seorang 
filsuf di Athena, Yunani, yang lahir tahun 469 sebelum masehi. Ia seperti lalat 
yang berputar-putar dan membuat orang gelisah dan kembali mempertanyakan apa 
yang selama ini dianggap benar.

Penguasa mulanya membiarkan Socrates, hingga pada suatu titik: ia tak bisa lagi 
ditoleransi. Seorang penyair, politisi, dan orator bersatu untuk mendakwanya: 
"Socrates telah merusak generasi muda, karena tidak mengakui dewa-dewa kota."

Pengadilan mengetok palu. Socrates bersalah. Ia bisa saja mendapat keringanan 
hukuman, jika mau bertobat dan mengakui kesalahan itu. Namun, Socrates menolak. 
Di pengujung hari, kita semua tahu, Socrates akhirnya mati setelah 
diperintahkan menenggak secawan racun cemara.

Ibu Prita yang baik, Ibu tentu bukan Socrates. Tapi saya percaya: Ibu, 
Socrates, dan kita semua sama-sama percaya, bahwa asumsi-asumsi yang mendasari 
sebuah kebenaran masih bisa dipertanyakan. Socrates mempertanyakan kebenaran 
tentang para dewa,
sama seperti halnya Ibu mempertanyakan 'apa yang diyakini Rumah Sakit Omni 
Intenational sebagai sebuah prosedur yang benar'.

Selama bertahun-tahun, dunia kesehatan dan institusi rumah sakit tak ubahnya 
dewa dalam kehidupan masyarakat modern. Kita datangi mereka, menyerahkan 
harapan dan doa tentang sebuah kesembuhan. Sebagian besar dari kita akhirnya, 
syukurlah, tersembuhkan. Namun, sebagian dari kita justru terbunuh harapan di 
bangsa-bangsal dan kamar-kamar rumah sakit.


Tidak, kita tidak sedang memperdebatkan takdir hidup dan mati yang menjadi 
milik Tuhan. Kita hanya mempertanyakan, mengapa kita sering mendengar rumah 
sakit yang membunuh harapan pasien-pasien ini sebelum ajal datang?

Pelayanan yang buruk, dokter yang tak mampu berkomunikasi dengan baik, 
kesalahan-kesalahan tindakan medis, perlakuan terhadap pasien yang disesuaikan 
dengan tebal-tipisnya kocek:

semuanya mematikan harapan, justru sebelum Tuhan menentukan apakah mereka bakal 
tetap hidup atau mati.

Perlakuan-perlakuan yang mematikan harapan ini tak pernah diadili secara benar. 
Di negeri ini,  keluhan terhadap mereka yang membunuh harapan itulah yang 
diadili.

Seakan-akan keluhan akan merusak kredibilitas institusi dan dunia
kesehatan.

Ibu Prita yang baik, saya tidak tahu apa yang bakal terjadi di ruang sidang 
pengadilan Kamis pagi ini dan nanti. Saya, seperti halnya orang-orang lain, 
hanya bisa berdoa Ibu akan melalui
hari-hari panjang itu dengan tenang. Berharap pedang keadilan tak
mengayun ke arah yang salah.

Ibu mungkin menangis. Sedikit. Tapi saya yakin, Ibu akan berjalan terus dengan 
kepala tegak, dengan harapan
di hati. Karena yakinlah, Ibu tak akan pernah berjalan sendiri. (*)

--- On Thu, 6/4/09, Bima Bhakti Group Indonesia <[email protected]> wrote:

From: Bima Bhakti Group Indonesia <[email protected]>
Subject: [inti-net] Facebooker Gencar Suarakan ANTI RS OMNI
To: [email protected], [email protected]
Date: Thursday, June 4, 2009, 12:52 PM



















Ini akhirnya membuat babak belur sendiri. Jurusnya mulai berbalik ke penuntut 
nih.

Harusnya, RS yang sensi begini kudu dicabut izin operasionalnya oleh Menkes. 
Atau diturunin aja statusnya jadi RS khusus karyawan "OMNI" atau jadi Puskesmas 
aja kali ya ?



Facebooker Gencar Suarakan Anti-RS Omni

Kamis, 4 Juni 2009 - 10:30 wib

Rachmatunnisa - Okezone



JAKARTA - Dukungan terhadap Prita Mulyasari tak henti-hentinya mengalir dari 
berbagai kalangan, termasuk salah satunya dari para pengguna situs jejaring 
sosial Facebook. Tak hanya menggalang dukungan bagi Prita, Facebooker pun 
gencar mengajak para pendukung Prita untuk memboikot RS Omni.



Dalam pantauan okezone, Kamis (4/6/2009), Causes on Facebook telah menggalang 
dukungan dari sebanyak 97.541 Facebookers. Jumlah ini jauh melebihi target 
7.500 anggota.



Atas desakan dari berbagai kalangan termasuk Facebooker, status Prita kemarin 
berganti menjadi tahanan kota dan hari ini Prita menjalani sidang lanjutan atas 
kasusnya.



Setelah Causes on Facebook berhasil menggalang dukungan bagi Prita, kini 
Facebooker juga menyuarakan gerakan anti-RS Omni yang terletak di Alam Sutera 
Tangerang tersebut.



Sejak malam sudah ada 6.422 Facebooker yang ikut dalam grup ini. Dalam grup 
tersebut ditampilkan tulisan "Say No to RS Omni".



Berbagai pendapat menghias dinding halaman yang menyatakan dukungan terhadap 
Prita Mulyasari. Selain itu juga banyak yang menyuarakan boikot kepada warga 
agar tidak berobat ke rumah sakit ini.



Dalam deskripsi grup tersebut ditulis ?Kita tak menentang para dokter. Kita tak 
menghakimi setiap rumah sakit. Tapi kita mengatakan tidak bagi perlakuan 
sembarangan pada pasien, seperti kasus RS Omni?. (srn)



Pls Join : INTI-NET (INDONESIA TIONGHOA NETWORKS)

inti-net-subscribe@ yahoogroups. com

http://groups. yahoo.com/ group/inti- net/join



LowonganNET - Informasi Lowongan Pekerjaan terbaru, Gratis via email

LowonganNet- subscribe@ yahoogroups. com

http://groups. yahoo.com/ group/LowonganNe t



Iklan Parahiyangan - Iklan-parahiyangan- subscribe@ yahoogroups. com

http://groups. yahoo.com/ group/iklan- parahiyangan



Batavia-news - Milis Berita dan Features.

batavia-news- subscribe@ yahoogroups. com

http://groups. yahoo.com/ group/batavia- news



Milis Republik-Mimpi - Ikutan diskusi seputar negeri impian

republik-mimpi- subscribe@ yahoogroups. com

http://groups. yahoo.com/ group/republik- mimpi



Milis Rakyat-Peduli - Anda peduli dgn masalah bangsa ini ?

rakyat-peduli- subscribe@ yahoogroups. com

http://groups. yahoo.com/ group/rakyat- peduli



Visit Tionghoanet on the blog :

http://tionghoanet. blogspot. com/































[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke