Supaya tidak ada orang yang masuk penjara gara-gara berobat ke RS tersebut, maka sebaiknya pindah RS saja.
________________________________ From: dwi eko <[email protected]> To: [email protected] Sent: Thursday, June 4, 2009 13:24:47 Subject: Re: [inti-net] Facebooker ANTI RS OMNI --Pengadilan Prita, Pengadilan Socrates.. sumber www.beritajatim. com Pengadilan Prita, Pengadilan Socrates... Reporter : Oryza A. Wirawan Ibu Prita Mulyasari, selamat pagi. Apa kabar Ibu hari ini? Bagaimana perasaan Ibu, saat harus melangkah memasuki ruangan itu: sebuah ruang dengan tiga hakim yang kita harapkan adil dan bijak-bestari di balik meja besar. Ibu Prita yang baik, saya tidak tahu apa yang bakal terjadi di ruang sidang Pengadilan Negeri Tangerang, Kamis (4/6/2009) pagi ini. Saya membayangkan, Ibu mencium kedua anak Ibu dengan penuh sayang. Mungkin juga haru. Namun, Ibu berjalan masuk ke ruang itu dengan langkah tegap dan kepala mendongak bangga. Karena Ibu tahu, bahwa Ibu tengah menyelamatkan hak semua orang. Hak yang diberi Tuhan sejak lahir: hak berbicara. Saya sudah membaca surat elektronik Ibu yang mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit Omni International. Dan, saya pun bertanya-tanya: mengapa di negeri ini sebuah keluhan tentang pelayanan publik menjadi dosa yang berganjar penjara. Hampir setiap waktu, kita semua mengeluh tentang air yang mampet, listrik yang padam tak tentu waktu, perawat rumah sakit yang galak, dokter yang tak beretika. Keluhan yang seharusnya dipahami bukan sebagai fitnah atau itikad buruk, namun pemaknaan tentang begitu pentingnya sebuah lembaga pelayanan publik yang bermartabat dan menghargai manusia. Keluhan menunjukkan bahwa tempat-tempat pelayanan publik itu masih bekerja, seberapapun buruknya. Dan, justru itu yang penting: tempat-tempat itu masih bekerja karena masyarakat masih mempercayainya. Sebuah keluhan adalah bentuk lain sebuah optimisme, sebuah keyakinan, bahwa yang buruk masih bisa diperbaki. Ibu Prita yang baik, izinkanlah saya bercerita tentang Socrates. Ia seorang filsuf di Athena, Yunani, yang lahir tahun 469 sebelum masehi. Ia seperti lalat yang berputar-putar dan membuat orang gelisah dan kembali mempertanyakan apa yang selama ini dianggap benar. Penguasa mulanya membiarkan Socrates, hingga pada suatu titik: ia tak bisa lagi ditoleransi. Seorang penyair, politisi, dan orator bersatu untuk mendakwanya: "Socrates telah merusak generasi muda, karena tidak mengakui dewa-dewa kota." Pengadilan mengetok palu. Socrates bersalah. Ia bisa saja mendapat keringanan hukuman, jika mau bertobat dan mengakui kesalahan itu. Namun, Socrates menolak. Di pengujung hari, kita semua tahu, Socrates akhirnya mati setelah diperintahkan menenggak secawan racun cemara. Ibu Prita yang baik, Ibu tentu bukan Socrates. Tapi saya percaya: Ibu, Socrates, dan kita semua sama-sama percaya, bahwa asumsi-asumsi yang mendasari sebuah kebenaran masih bisa dipertanyakan. Socrates mempertanyakan kebenaran tentang para dewa, sama seperti halnya Ibu mempertanyakan 'apa yang diyakini Rumah Sakit Omni Intenational sebagai sebuah prosedur yang benar'. Selama bertahun-tahun, dunia kesehatan dan institusi rumah sakit tak ubahnya dewa dalam kehidupan masyarakat modern. Kita datangi mereka, menyerahkan harapan dan doa tentang sebuah kesembuhan. Sebagian besar dari kita akhirnya, syukurlah, tersembuhkan. Namun, sebagian dari kita justru terbunuh harapan di bangsa-bangsal dan kamar-kamar rumah sakit. Tidak, kita tidak sedang memperdebatkan takdir hidup dan mati yang menjadi milik Tuhan. Kita hanya mempertanyakan, mengapa kita sering mendengar rumah sakit yang membunuh harapan pasien-pasien ini sebelum ajal datang? Pelayanan yang buruk, dokter yang tak mampu berkomunikasi dengan baik, kesalahan-kesalahan tindakan medis, perlakuan terhadap pasien yang disesuaikan dengan tebal-tipisnya kocek: semuanya mematikan harapan, justru sebelum Tuhan menentukan apakah mereka bakal tetap hidup atau mati. Perlakuan-perlakuan yang mematikan harapan ini tak pernah diadili secara benar. Di negeri ini, keluhan terhadap mereka yang membunuh harapan itulah yang diadili. Seakan-akan keluhan akan merusak kredibilitas institusi dan dunia kesehatan. Ibu Prita yang baik, saya tidak tahu apa yang bakal terjadi di ruang sidang pengadilan Kamis pagi ini dan nanti. Saya, seperti halnya orang-orang lain, hanya bisa berdoa Ibu akan melalui hari-hari panjang itu dengan tenang. Berharap pedang keadilan tak mengayun ke arah yang salah. Ibu mungkin menangis. Sedikit. Tapi saya yakin, Ibu akan berjalan terus dengan kepala tegak, dengan harapan di hati. Karena yakinlah, Ibu tak akan pernah berjalan sendiri. (*) --- On Thu, 6/4/09, Bima Bhakti Group Indonesia <bimagr...@yahoo. com> wrote: From: Bima Bhakti Group Indonesia <bimagr...@yahoo. com> Subject: [inti-net] Facebooker Gencar Suarakan ANTI RS OMNI To: inti-...@yahoogroup s.com, batavia-news@ yahoogroups. com Date: Thursday, June 4, 2009, 12:52 PM Ini akhirnya membuat babak belur sendiri. Jurusnya mulai berbalik ke penuntut nih. Harusnya, RS yang sensi begini kudu dicabut izin operasionalnya oleh Menkes. Atau diturunin aja statusnya jadi RS khusus karyawan "OMNI" atau jadi Puskesmas aja kali ya ? Facebooker Gencar Suarakan Anti-RS Omni Kamis, 4 Juni 2009 - 10:30 wib Rachmatunnisa - Okezone JAKARTA - Dukungan terhadap Prita Mulyasari tak henti-hentinya mengalir dari berbagai kalangan, termasuk salah satunya dari para pengguna situs jejaring sosial Facebook. Tak hanya menggalang dukungan bagi Prita, Facebooker pun gencar mengajak para pendukung Prita untuk memboikot RS Omni. Dalam pantauan okezone, Kamis (4/6/2009), Causes on Facebook telah menggalang dukungan dari sebanyak 97.541 Facebookers. Jumlah ini jauh melebihi target 7.500 anggota. Atas desakan dari berbagai kalangan termasuk Facebooker, status Prita kemarin berganti menjadi tahanan kota dan hari ini Prita menjalani sidang lanjutan atas kasusnya. Setelah Causes on Facebook berhasil menggalang dukungan bagi Prita, kini Facebooker juga menyuarakan gerakan anti-RS Omni yang terletak di Alam Sutera Tangerang tersebut. Sejak malam sudah ada 6.422 Facebooker yang ikut dalam grup ini. Dalam grup tersebut ditampilkan tulisan "Say No to RS Omni". Berbagai pendapat menghias dinding halaman yang menyatakan dukungan terhadap Prita Mulyasari. Selain itu juga banyak yang menyuarakan boikot kepada warga agar tidak berobat ke rumah sakit ini. Dalam deskripsi grup tersebut ditulis ?Kita tak menentang para dokter. Kita tak menghakimi setiap rumah sakit. Tapi kita mengatakan tidak bagi perlakuan sembarangan pada pasien, seperti kasus RS Omni?. (srn) Pls Join : INTI-NET (INDONESIA TIONGHOA NETWORKS) inti-net-subscribe@ yahoogroups. com http://groups. yahoo.com/ group/inti- net/join LowonganNET - Informasi Lowongan Pekerjaan terbaru, Gratis via email LowonganNet- subscribe@ yahoogroups. com http://groups. yahoo.com/ group/LowonganNe t Iklan Parahiyangan - Iklan-parahiyangan- subscribe@ yahoogroups. com http://groups. yahoo.com/ group/iklan- parahiyangan Batavia-news - Milis Berita dan Features. batavia-news- subscribe@ yahoogroups. com http://groups. yahoo.com/ group/batavia- news Milis Republik-Mimpi - Ikutan diskusi seputar negeri impian republik-mimpi- subscribe@ yahoogroups. com http://groups. yahoo.com/ group/republik- mimpi Milis Rakyat-Peduli - Anda peduli dgn masalah bangsa ini ? rakyat-peduli- subscribe@ yahoogroups. com http://groups. yahoo.com/ group/rakyat- peduli Visit Tionghoanet on the blog : http://tionghoanet. blogspot. com/ [Non-text portions of this message have been removed] New Email addresses available on Yahoo! Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. Hurry before someone else does! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/ [Non-text portions of this message have been removed]
