http://batampos.co.id/disini/disni/_Harga_Semen_RI_Termahal_di_Dunia.html


      Harga Semen RI Termahal di Dunia  

      Jumat, 05 Juni 2009  

      REI Tuding karena Kartel, Lapor KPPU


      JAKARTA - Mahalnya harga semen di tanah air membuat pelaku usaha sektor 
properti meradang. Real Estate Indonesia (REI) serta Kamar Dagang dan Industri 
(Kadin) meminta Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyelidiki dugaan 
perilaku kartel industri semen.

      Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Properti dan Kawasan Industri James T. 
Riady mengatakan, tingginya harga semen menyebabkan mahalnya nilai konstruksi 
bangunan yang pada akhirnya merugikan konsumen individual. "Karena itu, 
pencegahan kartel semen dan penurunan harga semen ke tingkat yang lebih wajar 
akan mempercepat pembangunan infrastruktur, industri hilir, dan properti, 
termasuk konsumen," ujarnya di Kantor Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) 
kemarin (4/6).

      Saat bertemu dengan pimpinan KPPU kemarin, James memaparkan data-data 
yang mengindikasikan adanya praktik kartel semen. Di antaranya harga semen yang 
terus naik, sehingga menjadi lebih mahal dibandingkan harga semen di 
negara-negara lain. "Harga semen di Indonesia memang sangat tinggi," katanya.

      Dengan harga rata-rata pada 2008 yang sebesar USD 91 per ton atau setara 
Rp 924.833 (kurs tengah BI Rp 10.163), semen di Indonesia lebih mahal 
dibandingkan negara-negara lain, seperti Malaysia, Tiongkok, Pakistan, India, 
bahkan negara-negara maju seperti Spanyol, Amerika Serikat (AS), maupun 
Prancis. Ironisnya, lanjut dia, harga semen asal Indonesia yang diekspor oleh 
beberapa produsen justru lebih murah dibandingkan harga jual di dalam negeri. 
Menurut data Kadin, rata-rata harga semen yang diekspor hanya di kisaran USD 50 
- 55 (Rp 508.150 hingga Rp 558.965) per ton.

      Harga semen yang terus naik juga dipertanyakan Kadin. Menurut James, 
kenaikan harga tersebut tidak sejalan dengan harga energi (batu bara) yang 
justru cenderung turun. Dia mencontohkan, pada Juni 2008, saat harga batu bara 
mencapai level USD 150 per ton, harga semen di kisaran Rp 38.500 per sak (50 
kilogram).

      Kemudian, saat harga batu bara turun pada Oktober 2008 menjadi USD 92 per 
ton, harga semen justru naik ke Rp 41.750 per sak. Dan ketika Januari 2009 
harga batu bara kembali turun ke USD 57 per ton, harga semen justru melonjak 
hingga Rp 51.750 per sak.

      Ketua Real Estate Indonesia (REI) Teguh Satria menambahkan, terus naiknya 
harga semen juga diduga karena dominasi beberapa produsen. Dia menyebut, di 
antara 9 pabrik semen di Indonesia, pangsa pasar dalam negeri hanya dikuasai 
oleh tiga pabrik, yakni Semen Padang dan Gresik (43 persen), Semen Tiga Roda 
(31,7 persen), dan Holcim (14,1 persen). "Pasar pulau Jawa praktis dikuasai 
ketiga produsen tersebut,'' ujarnya.

      Menurut Teguh, ada pula indikasi kesepakatan harga dan volume produksi, 
sehingga persaingan pasar mengendur. Itu juga indikasi telah terjadi kartel 
dalam industri semen, karena anggota kartel bertindak monopoli. Untuk itu, 
lanjut Teguh, pelaku usaha sektor properti mendesak agar KPPU menyelidiki 
indikasi tersebut. "Tujuannya jelas agar harga semen bisa turun, minimal ke 
kisaran Rp 40 ribu per sak,'' katanya.

      Menurut dia, harga semen memiliki kontribusi 50 persen dari total raw 
material dan 20 persen dari total construction cost. Untuk perumahan sederhana 
(RSS maupun rusunami), kontribusi semen bisa mempengaruhi 25 hingga 30 persen 
dari harga jual properti ke konsumen. ''Karena itu, kalau harga semen turun, 
maka harga perumahan juga bisa ikut turun,'' terangnya.

      Ketua KPPU Benny Pasaribu mengatakan, pihaknya akan mendalami data-data 
yang diajukan Kadin dan REI terkait indikasi praktik kartel semen. ''Kami tidak 
ingin gegabah. Tapi jika melihat substansinya untuk menurunkan harga semen, 
maka ini akan sangat bermanfaat untuk masyarakat konsumen,'' ujarnya.

      Dia menambahkan, posisi produsen dari BUMN dalam struktur industri semen 
cukup besar, yakni Semen Gresik. Karena itu, pihaknya berharap pemerintah ikut 
turun tangan mengarahkan BUMN agar tercipta harga yang terjangkau bagi 
masyarakat selaku konsumen. (owi/wir/fat/jpnn 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke