http://batampos.co.id/Opini/Opini/Perempuan__dalam_Struktur_Sosial.html


      Perempuan dalam Struktur Sosial  


      Jumat, 05 Juni 2009  
      Oleh: Siti Alfiyah, BA
      Guru Agama SMK N 1 Sewon Bantul Yogyakarta. 

      Wacana gender pada perkembangannya pasca pemilu 1999 semakin menyeruak ke 
permukaan. Hal ini dipicu oleh sebuah kenyataan tampilnya Megawati 
Soekarnoputeri sebagai calon presiden dari PDI-P, partai yang memenangi pemilu. 
Maka, perkembangan sosio-politik saat itu sangat sarat dengan wacana gender. 


      Dengan segala implikasi epistimologisnya, tulisan ini mencoba memberikan 
peluang adanya perkembangan kritik terhadap teks-teks agama yang telah 
diputarbalikkan sedemikian rupa dan telah memunculkan struktur sosial yang 
eksploitatif dan diskriminatif, yang dengan sendirinya tidak sejalan dengan 
pesan agama Islam yang paling fundamental, yaitu agama yang menjunjung tinggi 
konsep egalitarian di segala aspek kehidupan. 


      Wacana teologi yang telah menjadi kajian besar terutama di lingkungan 
masyarakat Islam, telah mengakibatkan adanya disorientasi teologis karena 
menguntungkan satu pihak dan merugikan serta mengeksploitir pihak-pihak yang 
lain. Dalam epistimologi kekinian, corak teologi semacam ini muncul karena 
adanya hegemoni sistem pengetahuan dan pemahaman yang "salah" yang -anehnya- 
selalu berada di bawah otoritas kaum laki-laki. 


      Pemikiran di atas ingin mencoba merombak tatanan pengetahuan yang dalam 
wacana perempuan menimbulkan teologi patriarkhi untuk selanjutnya 
diformulasikan menjadi teologi yang bersifat emansipatoris yang dapat 
memberikan langkah eksistensi terhadap kaum perempuan untuk lebih leluasa. Ada 
dua sasaran kritik teologi gender. Pertama diarahkan pada bias 
sosio-antropologis sebagai akibat kuatnya budaya patriarkhi. Kedua pada 
anggapan yang mendasari produk pemikiran teologis tentang posisi dan peran 
wanita, sebelum lebih jauh masuk pada kajian teks-teks kitab suci. Terhadap 
kajian wacana yang disebut terakhir ini, teologi gender menganggapnya sebagai 
wacana yang terbuka, bukan sebagai wahyu dalam bentuk yang sudah jadi, lengkap 
dengan segala asesorisnya, sehingga tidak terbuka pintu bagi manusia untuk 
merekonstruksi. 


      Dengan pendekatan hermeneutika, teologi gender kekinian mengembangkan 
kajian teks yang bersifat historis dan kritis. Dengan langkah-langkah ini 
teologi gender tidak berhenti pada kritik saja, tapi lebih jauh ingin 
menawarkan pandangan dan solusi yang juga bertolak pada agama tentang posisi 
dan peran perempuan yang lebih berimbang dan humanis, yang selanjutnya pada 
tataran praktis-operasional pandangan tersebut akan mengimplikasikan terjadinya 
perubahan sosial (struktural). 


      Dalam kritik teologi gender, kuatnya budaya patriarkhi mengakibatkan 
lahirnya pengaruh yang besar terhadap terbentuknya wacana sosial yang relevan 
dengan kenyataan budaya tersebut, sehingga tidak mengherankan bila eksistensi 
perempuan kurang mendapat perhatian dalam diskursus teologis. Kalaupun diangkat 
menjadi tema-tema pembicaraan teologis, wanita masih seringkali dipersepsi 
sebagai yang subordinat, karena semata-mata ingin mempertahankan superioritas 
kaum laki-laki. Kenyataan ini, misalnya terlihat ketika penafsiran "Zawjaha" 
dalam Al-Qur'an yang diberi arti sebagai manusia kedua yang diciptakan dari 
tulang rusuk Adam. 


      Dalam sejarah penafsiran semacam ini tidak saja berakibat pada mandegnya 
pemikiran teologis yang semestinya terus dikembangkan untuk mencari tentang 
rumusan yang konstruktif tentang posisi dan peran perempuan dimasa depan. Lebih 
penting lagi pemikiran ini juga telah mengakibatkan adanya berbagai 
penyimpangan yang secara fundamental bertentangan dengan misi agama islam 
sebagai agama Rahmatan li al-'alamin yang membebaskan dan mengutamakan kesamaan 
eksistensi personal antara sesama mahkluk. 


      Dari kritik terhadap bias sosio-antropologis tersebut, teologi gender 
juga mengajukan kritik terhadap kesalahan dalam memahami teks-teks kitab suci 
yang disebabkan oleh asumsi dasar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara 
teologis. 


      Menurut Riffat Hasan ada tiga asumsi dasar yang telah lama digunakan 
dalam tradisi pemikiran teologi di lingkungan umat Islam. Pertama: bila mahluk 
yang bernama Hawa diciptakan Tuhan dari tulang rusuk laki-laki, maka dengan 
sendirinya perempuan diyakini sebagai mahluk yang secara ontologis adalah 
sekunder. Kedua: bahwa perempuan -bukan laki-laki- yang merupakan penyebab 
utama tergelincirnya Adam dari surga atau yang kita kenal sebagai dosa manusia 
atau terusirnya manusia dari surga, karena itu semua anak perempuan Hawa harus 
diperlakukan dengan rasa benci, curiga dan -bahkan- hina. 


      Ketiga: bahwa perempuan diciptakan pada dasarnya adalah untuk laki-laki, 
oleh karena eksistensinya hanyalah pelengkap.
      Asumsi di atas telah begitu jauh mempengaruhi pemahaman para ulama 
terhadap teks kitab suci tentang penciptaan manusia yang secara serta merta 
menempatkan laki-laki di atas perempuan. Padahal sejauh yang dapat ditangkap 
dari pesan-pesan kitab suci tidak ada penjelasan tentang perbedaan kualitas 
penciptaan antara laki-laki dan perempuan, walaupun Al-Qur'an menggunakan 
istilah laki-laki dan perempuan, maskulin dan feminin, tidak dimaksudkan untuk 
memprioritaskan yang satu dan merendahkan yang lain, karena pada dasarnya 
hakekat penciptaan mahluk secara eksistensial adalah sama. 


      Tuhan menyebut seluruh umat manusia di muka bumi sebagai khalifah. Dengan 
demikian dalam kehidupan sosial tidak ada perbedaan karena adanya kualitas 
penciptaan secara biologis. Dengan demikian, apa yang ditawarkan dalam kajian 
gender dengan mengambil acuan pada wacana teologi akan memberikan peluang 
tumbuh kembangnya diskursus teologi yang bersifat emansipatoris, tidak saja 
untuk kaum hawa, tapi untuk semua umat manusia. *** 
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke