DARI MILIS TETANGGA 

-------Original Message-------
 
From: B.DORPI P.
Date: 14.8.2009 2:36:47
To: !B. DORPI P.
Subject: Re.: Tugas Baru CIA: Merekrut Bankir
 
http://www.inilah
com/berita/politik/2009/08/13/141753/tugas-baru-cia-merekrut-bankir/
 
13/08/2009 - 19:48
 
Tugas Baru CIA: Merekrut Bankir
Nusantara HK Mulkan
 


(Istimewa)
INILAH.COM, New York – Nama Central Intelligence Agency (CIA) menjadi
sorotan usai tragedi bom World Trade Center 2001. Apalagi dokumen mengenai
penyiksaan tahanan terkuak. Kini mereka memiliki misi baru: menganalisis
ekonomi global. Ada apa? 
Di era pemerintah George W Bush, CIA memang dikenal sebagai lembaga
intelijen paling ditakuti di dunia. Apalagi setelah Direktur CIA Leon
Panetta, membeberkan misi rahasia antiteror kepada Komite Intelijen Kongres.
Isinya, mantan Wakil Presiden AS Dick Cheney teleh memerintakan misi rahasia
tanpa memberi tahu Kongres. 
Tugasnya memburu, menangkap, dan membunuh para petinggi senior jaringan
Al-Qaeda, yang dituding Bush sebagai dalang serangan 11 September. Lembaga
itu bisa masuk ke berbagai negara tanpa harus membicarakannya dengan duta
besar atau kepala CIA setempat. Bahkan mereka dibolehkan membunuh dan
membiarkan tersangka begitu saja. 
Apakah tugas-tugas itu masih berlaku? Tentu saja. CIA masih harus tetap
mengamati rezim pemerintahan yang dinilai kurang bersahabat dengan AS dan
melacak musuh-musuh Negara Adidaya itu, walaupun dengan cara yang konon
lebih manusiawi. 
Namun, belum juga rencana itu terealisasikan, dinas rahasia tersebut
ternyata telah mendapat tugas baru: menganalisis ekonomi global. Apa pasal? 
Para pejabat CIA menyebut masalah terorisme bukan lagi menjadi ancaman
terbesar AS saat ini. Tapi ada masalah yang lebih mengancam keamanan, bahkan
dianggap ancaman terbesar, yakni krisis perekonomian global.
Bagaimana tidak, krisis ini telah memukul telak AS. Departemen Tenaga Kerja
AS pada tahun lalu mengumumkan jumlah pengangguran mencapai 6,1%. Angka ini
jauh lebih tinggi dari prediksi yang diakibatkan krisis AS. Jumlah ini
meningkat menyusul pemutusan hubungan kerja ribuan tenaga kerja akibat
krisis ekonomi.
Perubahan tingkat strategi kebijakan Kongres terhadap paket kebijakan
penyelamatan ekonomi (RUU Bailout) dengan dana sebesar US$ 700 miliar
ternyata belum mendongkrak kepercayaan pasar. Fase persetujuan atas RUU
Bailout dengan kondisi pasar modal di New York justru melemah. Pasar belum
yakin RUU Bailout mampu mencegah krisis.
Hal-hal itulah yang pada akhirnya membuat CIA merasa harus menjalankan
aktivitas intelijen di bidang ekonomi. Sehingga, cara yang dianggap paling
efektif untuk mengantisipasi hal itu adalah dengan merekrut para bankir Wall
Street. Bukan hanya bagi bankir yang masih aktif, tapi juga yang telah
keluar dari Wall Street.
Dalam iklan di sebuah radio, seperti dilansir situs SPL Center, disebutkan
CIA mencari profesional di bidang ekonomi, keuangan, dan bisnis. Disebutkan,
CIA menawarkan bagi mereka yang bosan dengan pekerjaan sebagai bankir,
sebuah misi rahasia yang lain daripada yang lain.
“Bergabunglah dengan CIA. Jadilah bagian dari misi global kami sebagai
seorang ekonom atau analis keuangan. Buatlah perbedaan yang bernilai bagi
karier dan tanah air Anda,” demikian iklan tersebut.
Calon agen akan menjalani sejumlah tes, yang diawali dengan tes kebohongan.
Hal ini untuk menyeleksi orang-orang yang memiliki motivasi kuat untuk
memikirkan negara dibandingkan mencari uang atau keuntungan lainnya. CIA
bahkan telah mengumumkan rekrutmen besar-besaran dan mewawancarai para calon
agen pada 22 Juni lalu di sebuah lokasi rahasia di New York.
CIA menawarkan bagi kandidat yang memiliki latar belakang sarjana (S1 dan
S2) di bidang ekonomi, keuangan, administrasi niaga, manajemen internasional
 manajemen kejahatan ekonomi, atau ilmu yang terkait. 
Calon agen harus memiliki latar belakang ekonomi makro yang kuat dan
kemampuan analisis keuangan yang sangat baik. Prioritas juga akan
dipertimbangkan bagi mereka yang memiliki pengalaman di luar negeri dengan
kemampuan berbahasa asing yang baik. 
Hasilnya, ada ratusan lamaran dari berbagai latar belakang. Mulai
orang-orang yang baru lulus (fresh graduate) hingga para bankir yang terkena
PHK. Juru bicara perekrutan Ron Patrick memaparkan, gaji awal yang diterima
oleh orang-orang yang lolos tes CIA berada pada kisaran US$ 60 ribu (600
juta) untuk fresh graduate.
Sementara untuk yang lebih senior atau berpengalaman akan mendapat US$ 100
ribu (Rp 1 miliar). Yang lebih tinggi lagi mencapai US$ 160 ribu (Rp 1,6
miliar). Itu belum termasuk berbagai tunjangan lainnya.
Menurut Patrick, CIA menyambut baik lamaran dari pelaku Wall Street yang
reputasinya sempat buruk akibat krisis moneter. Apalagi setelah terungkapnya
gaya hidup mewah dan bonus berjuta-juta dolar yang dipersalahkan sebagai
penyebab terjadinya krisis ekonomi.
Namun, dia yakin bahwa para kandidat yang berlatar belakang Wall Street
dapat mengubah pola pikir mereka. Para calon agen, kata dia umumnya
berkeinginan mengabdi untuk negara, bukan demi kepentingan pribadi. “Inilah
yang membedakan mereka dengan karyawan sebuah perusahaan,” katanya.
Tertarik? 
[E1]
 
 
 
 
 
 
 
 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke