http://www.ambonekspres.com/index.php?act=news&newsid=26901

Sabtu, 15 Aug 2009, | 2 

Soermarsono, Golongan Kiri, dan Pergolakan Seputar Proklamasi (1) 



Sepakat Pilih Amir Syarifudin sebagai Proklamator MESKI berjuang habis-habisan 
di pertempuran Surabaya pada 1945, Soemarsono, tokoh utama peristiwa 10 
November itu, sebenarnya putra Temanggung, Jawa Tengah. Ayahnya seorang pemeluk 
Islam yang taat. Bahkan, punya surau di pekarangan rumahnya. Dia anak dari 
istri kedua bapaknya, pegawai mantri cacar di zaman Belanda itu. Saat waktunya 
masuk HIS (setingkat SD), dia ditolak karena ayahnya sudah pensiun. Dianggap 
sudah bukan lagi pegawai Belanda.

Itu berarti, sejak kecil Soemarsono sudah mendapat pengalaman jiwa yang kurang 
enak kepada Belanda. Ketika akhirnya bisa ditampung di sekolah Kristen yang 
juga berbahasa Belanda, dia kembali punya pengalaman kejiwaan yang berat: 
memergoki kepala sekolahnya yang Belanda sedang memangku murid wanita dalam 
keadaan yang tidak pantas diceritakan. Dia langsung jadi pendiam beberapa hari. 
Meski terus menolak menceritakan penyebabnya, akhirnya tidak ada jalan 
menghindar. Anak kecil selalu saja tidak bisa menyimpan kepolosan jiwanya. 

Cerita itu meluas ke keluarga si gadis. Jadinya heboh. Soemarsono ditekan di 
sekolah. Padahal, sudah waktunya penentuan nilai kelulusan. Dia diberi nilai 
jelek dan dipukul. Bahkan, karena begitu marahnya si Belanda, ijazah Soemarsono 
yang hari itu sudah siap diserahkan bernasib tragis. Ketika Soemarsono sudah 
berjalan ke depan kelas untuk mendapat giliran menerima ijasah, si Belanda 
tidak menyerahkannya, melainkan merobek-robeknya. 

Dengan kejiwaan seperti itu, Soemarsono remaja kemudian ke Jakarta, ikut salah 
seorang kakaknya. Dia dikursuskan di berbagai bidang dan akhirnya dapat bekerja 
di bagian arsip kantor keuangan.

Selama tumbuh dewasa di Jakarta itulah, Soemarsono bergaul dengan anak-anak 
muda dari golongan kiri. Pergaulannya lama-lama meluas dan akhirnya kenal 
dengan tokoh-tokoh kiri. Hanya disebut "kiri" karena saat itu PKI (Partai 
Komunis Indonesia) secara resmi dilarang. Yakni sejak pemberontakan PKI pada 
1926. "Kalau dengan Mr Amir Syarifudin, saya bertemunya di gereja," ujar 
Soemarsono. Amir adalah tokoh sentral golongan kiri. Ketua PKI ilegal. Sebab, 
Musso (pimpinan PKI) menyingkirkan diri ke Rusia untuk menghindari kejaran 
Belanda. Tan Malaka, tokoh utama kiri lainnya, sudah dipecat karena dianggap 
tidak sejalan dengan garis partai.

Soemarsono memang aktif ke gereja. Di situlah dia didoktrin oleh Amir bahwa 
seorang Kristen harus aktif di pergerakan perjuangan menentang penjajahan 
Belanda. 
Maka, ketika di kemudian hari dalam pertempuran Surabaya dia lebih tunduk 
kepada Amir daripada kepada Bung Karno, memang riwayatnya panjang seperti itu. 
Demikian juga mengapa Soemarsono menjadi tokoh utama peristiwa Madiun. Juga 
karena dia harus tunduk kepada Amir. Saat itu Amir bersama-sama dengan Muso 
memegang jabatan pimpinan puncak golongan kiri di Indonesia.

Memang harus diakui, di zaman menjelang kemerdekaan pada 1945 itu para pemuda 
dari golongan kiri sangat radikal melawan Belanda -dan kemudian Jepang. Mereka 
bergerak di bawah tanah. Mereka juga berseberangan dengan taktik yang 
dijalankan Bung Karno. Bahkan, mereka kesal kepada Bung Karno yang selalu 
bekerja sama dengan penjajah Jepang.

Waktu itu yang disebut golongan kiri bukan hanya PKI ilegal. Ada semacam "kiri 
luar", "kiri tengah", sampai "kiri dalam". Sjahrir (yang kemudian jadi perdana 
menteri di awal kemerdekaan), Djohan Syahruzah, dan lain-lain termasuk golongan 
kiri luar yang di kemudian hari meninggalkan kelompok kiri mendirikan partai 
sendiri: Partai Sosialis Indonesia (PSI). Ada kelompok Chairul Saleh, Adam 
Malik, dan lain-lain yang tergolong kiri tengah yang kemudian juga meninggalkan 
barisan kiri dengan mendirikan Partai Murba. Lalu, ada kelompok Wikana, Aidit, 
Musso, dan lain-lain (termasuk Soemarsono yang tergolong masih paling kecil) 
tetap di jalur kiri dalam dan kemudian tergabung dalam PKI resmi. Lalu, ada 
lagi kiri lepas yang mencakup nama seperti Tan Malaka dan teman-temannya.

Semua golongan kiri itu ada kalanya bersatu, tapi ada kalanya bermusuhan. 
Posisi Bung Karno sungguh sulit. Apalagi di luar golongan kiri masih banyak 
golongan lain yang juga mengaku peranannya besar. Tambah lagi golongan ini pun 
juga terdiri atas banyak posisi: ada "kanan dalam", "kanan luar", dan "kanan 
tengah". Suasana politik waktu itu memang sangat rumit. 

Tidak ada kelompok tengah yang dominan yang membuat pemerintahan bisa stabil. 
Bung Karno ada di antara kiri dan kanan yang terus bersaing. Berbeda dengan 
sekarang di saat kelompok tengah sudah sangat dominan, meski juga masih 
tercecer di beberapa partai tengah seperti Partai Demokrat, Golkar, dan PDI-P. 
Kalau saja tiga partai ini bisa melebur dalam satu wadah, sejarah Indonesia 
akan sangat berubah. Setidaknya, kalau bisa dimulai dari embrionya dulu: 
bersatu dalam sebuah koalisi.

Saya baru tahu dari penuturan Soemarsono itu bahwa perpecahan Soekarno-Hatta 
ternyata sebenarnya berawal dari kasus dihukum matinya Amir Syarifudin dan 40 
orang PKI di Magelang. Bung Karno tidak rela ada tindakan sekeras itu kepada 
orang-orang yang jasanya juga besar dalam memperjuangkan kemerdekaan. "Kepada 
anak-anak PKI waktu itu, Bung Karno itu tega larane gak tega patine", ujar 
Soemarsono. Maksudnya, tidak apalah kalau sekadar disakiti, tapi jangan 
dibunuh. 

Bung Karno tentu mengetahui peranan golongan kiri dalam memperjuangkan 
kemerdekaan. Tapi, Hatta punya pendapat lain. Para pejuang kiri itu dianggapnya 
hanya jadi pengacau yang menyulitkan pemerintah. Kemerdekaan Indonesia tidak 
segera diakui oleh negara-negara lain, menurut orang seperti Hatta, karena 
golongan kiri masih sangat kuat di Indonesia. Sedangkan negara-negara Barat 
yang diharapkan memberikan pengakuan dan bantuan kepada Indonesia umumnya 
negara-negara antikomunis. Misalnya, Belanda, Inggris, Australia, dan Amerika.

Saya bisa membayangkan sulitnya posisi Bung Karno. Apalagi Bung Karno itu, 
seperti dikemukakan Soemarsono, bisa jadi presiden karena jasa para pemuda 
golongan kiri. Yakni ketika para pejuang bawah tanah itu mulai mendengar bahwa 
Jepang sudah kalah perang di Asia Timur. Mereka memang aktif memonitor siaran 
radio luar negeri meski resminya penjajah Jepang melarang orang Indonesia 
mendengarkan siaran radio.

Saat itulah para pemuda golongan kiri dari berbagai posisi itu sepakat agar 
Indonesia segera menyatakan kemerdekaannya. Mumpung Jepang sudah kalah dan 
Belanda belum punya kesempatan kembali ke Indonesia. Hari-hari sekitar tanggal 
9, 10, 11, 12, 13, 14, 15 Agustus ketika itu adalah hari-hari tidak jelas 
mengenai siapa yang berkuasa di Indonesia.

Maka, perhatian para pemuda tersebut tertuju kepada siapa yang harus 
memproklamasikan kemerdekaan itu. Nama Soekarno, di mata mereka, sama sekali 
tidak masuk dalam daftar orang yang pantas menyatakan kemerdekaan Indonesia. 
Mereka sedang tidak menyukai Bung Karno yang mereka nilai sebagai antek Jepang. 
Dengan cepat, mereka memilih Amir Syarifudin-lah yang akan memproklamasikan 
kemerdekaan Indonesia.
(bersambung)

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke