http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=25088:subur-negeriku-tandus-lakunya-&catid=78:umum&Itemid=139


      Subur Negeriku Tandus Lakunya      
      Oleh : Rosindus Yosef Maria Tae, Pr 



      Kekeringan moral yang melanda negeri ini telah merusak banyak nilai 
'luhur' bangsa ini. Nilai-nilai utama yang kita banggakan sebagai bangsa 
beradab (santun dan bermartabat) raib tak membekas.

      Kini, hampir tidak satu pun prinsip moral yang nampak sebagai 'inang' 
(induk) yang mengawal masyarakat kita. Kita terjebak pada 'kemacetan lalulintas 
peran moral' yang serius. Karena itu, kita bisa mengatakan bahwa "negeri ini 
subur tetapi tandus lakunya". Judul ini, kami angkat sebagai refleksi atas hari 
Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 2009. Kami menilai bahwa ada suatu rantai 
dalam kemerdekaan yang hilang yakni 'terkaparnya' moralitas bangsa ini. 

      "Matinya" Prinsip Moral

      Beberapa minggu terakhir ini kita dikejutkan dengan meledaknya bom di 
Hotel JW. Mariot dan Ritz Carlton oleh teroris, penembakan di Papua, hebohnya 
korupsi di tubuh KPK dan MA, kecurangan dalam pileg, pilpres, dan disinyalir 
bahwa masih berkeliarannya kawanan teroris di negeri ini. Bila kita kaji 
kejadian dan masalah ini, terlihat adanya pelanggaran moral yang "amat keji dan 
tak berperikemanusiaan". Dari situasi ini, terlihat bahwa prinsip moral 
'lumpuh' dan jiwa manusia tumpul' digilas kefanaan yang naif.

      Perbuatan yang menghilangkan nyawa dan dengan sengaja mengambil serta 
merampas hak milik orang lain merupakan pelanggaran terhadap etika dasar yang 
fundamental. Menurut Franz Magnis-Suseno "manusia harus dihormati dalam segala 
situasi". Selanjutnya, Magnis mengatakan bahwa yang dikangkangi oleh para 
pelaku kejahatan dalam peristiwa dan masalah di atas yakni "prinsip sikap baik, 
yakni sikap hati yang positif terhadap orang lain; prinsip keadilan: memberikan 
kepada orang lain apa yang menjadi haknya; dan prinsip format terhadap diri 
sendiri yakni tidak merusak diri dengan hal-hal yang merendahkan martabat diri 
sebagai manusia (1987: 129-140).

      Tandusnya prinsip moral dalam kaitan dengan peristiwa dan masalah di atas 
disebabkan oleh aneka macam hal. Bila bom di JM. Mariot dan Ritz Carlton itu 
adalah bom bunuh diri demi memperjuangkan nilai adikodrati yang vital bagi 
person dan kelompok tertentu; dari sudut pandang prinsip moral, perjuangan 
seperti itu tidak manusiawi dan religius. Karena, orang ini tidak mau menjadi 
tumbal sejati bagi nilai yang dianutnya itu. Tetapi ia menjadikan orang lain 
tumbal untuk kepentingan dirinya. Keadaan ini dari sudut peradaban tergolong 
'barbaristis', "sadistis" dan "sakit rohani" serius.

      Begitupun orang yang oleh kepentingan dirinya, lalu ia mengambil milik 
orang tanpa merasa bersalah adalah mereka yang sudah mengidap penyakit 
'kelekatan' yang naif pada materi. Orang ini merasa bahwa dirinya adalah materi 
itu sendiri (uang, barang, prestise). Karena itu, ia bisa membelenggu semua 
tuntutan moral yang mengawas dan melarangnya demi mewujudkan keinginan 
jahatnya. Orang seperti ini telah tercabut dari sumbunya sebagai manusia yang 
utuh.

      Orang yang suka menjadi 'tikus bejat' ini, oleh Imam Ahmad bin Hambal 
(seorang sufi) adalah mereka yang telah berpaling dari keutamaan-keutamaan 
rohani berikut ini. 1) Suhud (zahid) 'asketisme' dalam arti kehidupan sederhana 
berdasarkan motif keagamaan 2) Meninggalkan segala yang haram (zuhud orang 
awam). 3) Meninggalkan hal yang berlebihan dalam perkara yang halal (zuhud 
orang kwaw-wash). 4) Meninggalkan apa saja yang memalingkan diri dari Allah 
(zuhud orang arifin) (1999: 32-33). Bila sumbu rohani ini padam, maka padam 
pula nurani manusia.

      Nyalakan Kembali Sumbu Prinsip Moral

      Orang yang membunuh dan bersikap curang terhadap orang lain dalam 
masyarakat beradab adalah kelompok 'ampas' (waste) atau 'sampah' yang tidak 
bermanfaat dalam kebersamaan. Mereka ini harus kembali 'dikarantina' atau 
kembali dinyalakan sumbu moralitasnya, sehingga siap menjadi 'manusia bagi yang 
lain dan manusia bagi Allah' junjungannya.

      Prinsip moral yang harus dinyalakan kembali adalah prinsip moral dasar 
seperti disebutkan di atas. Untuk mempertahankan sumbu utama ini agar tetap 
bernyala, orang harus mengintrospeksi dan meretrospeksi diri. Di sana orang 
bertanya entahkah masih ada residu (sisa-sisa) kebaikan yang dapat dijadikan 
dasar pijak untuk membangun kembali keterpecahan moralitas diri ini? Pisau 
bedah yang paling tajam untuk mengerat 'kanker ganas' yang telah lama bersarang 
dalam moralitas orang-orang ini adalah 'metanoia' (pertobatan batin dan kembali 
pada yang benar). Orang harus kembali mengolah nurani dengan ajaran-ajaran 
moral formal, maupun moral agama demi mengubah perilaku yang telah melenceng 
dari yang diharapkan dalam hidup bersama.

      Untuk sampai pada metanoia yang efektif dan efisien, orang perlu kembali 
melihat sikap-sikap moral yang standar. 

      Magnis-Suseno mengajak kita sekali lagi untuk memperhatikan beberapa 
keutamaan ini. Hal pertama, kejujuran, pribadi jujur yakni pribadi yang lurus, 
terbuka dan fair (wajar). Kedua, otentik, asli memiliki pendirian sendiri bukan 
dibisiki, atau meniru yang tidak tepat. Ketiga, memiliki kemandirian moral, 
memiliki pendirian sendiri dan tidak ikut-ikutan. Keempat, keberanian moral, 
orang setia terhadap suara hatinya yang benar. Kelima, kerendahan hati, melihat 
diri sesuai kenyataan, tidak muluk-muluk. Keenam, realistis dan kritis, sesuai 
dengan kenyataan dan tidak tunduk begitu saja pada pengaruh kekuatan dari luar 
diri (1987: 149-150). Entahkah kita masih punya waktu untuk berbenah di masa 
krisis ini dengan tawaran di atas?

      Tentu tawaran ini bukan air penyejuk yang sekali diteguk dahaga pun 
lenyap. Ia membutuhkan suatu proses pendampingan, yang komprehensif untuk 
melihat kembali nilai fundamental dalam kebersamaan itu. Semua pihak tidak 
boleh berdiam diri untuk memberantas kejahatan moral ini. "Siapa yang diam 
tanda setuju" kata pepatah Latin. Di sini, pemerintah, lembaga penegak hukum, 
keamanan, lembaga agama harus terus bahu membahu menegakkan kembali tatanan 
moral yang keburu tandus ini.

      Dalam memerangi terorisme, kejahatan-kejahatan sosial, kita harus 
bergerak bersama-sama. Kita tidak boleh acuh tak acuh terhadap kejahatan yang 
menghancurkan peradaban kita. Jika kita diam dan acuh tak acuh kita pun 
termasuk dalam kelompok yang merusak kedamaian sejati. Martin Luther King 
menasehatkan kepada kita dengan mengatakan "'There comes a time -when silence 
is betrayel" (Ada saatnya ketika diam adalah suatu pengkhianatan). Kita juga 
harus memiliki prinsip seperti ungkapan Latin ini, "Homo sum, humani nihil a me 
alienium puto" (sebagai manusia, saya tidak bisa acuh tak acuh terhadap segala 
yang menjadi kepedulian manusia). Jika kita tidak mewujudkan cita-cita ini 
tatanan damai selalu akan terancam.

      Penutup

      Suara orang-orang yang telah meninggal akibat bom di JW. Mariot dan 
Ritz-Carlton tak pernah akan terdengar lagi. Pembelaan bagi mereka yang kita 
lakukan pun tetap sia-sia.

      Mereka yang telah dimanipulasi oleh para koruptor pun susah mendapatkan 
bantuan hukum yang memadai. Di seputar kita pun tidak ada wadah yang kokoh 
untuk membela suara para korban ini. Bagi mereka yang tidak terbela ini, kita 
bersama St. Agustinus hanya boleh mengatakan "Tempora lenitum est vulnus meum" 
(dalam perjalanan waktu luka-lukaku sembuh"). Tetapi bagi kita yang masih 
memiliki kekuatan rohani (iman, harap, dan kasih) kita masih dapat berharap 
bahwa segalanya akan teratasi.

      Penegakan kembali nilai moral yang telah hancur, memungkinkan kita untuk 
tinggal nyaman dalam negeri ini. Kuncinya ada pada diri kita masing-masing 
yakni dengan menyikapi semua ajaran moral, hukum formal, hukum, agama secara 
tepat. Untuk itu, benahilah terlebih dahulu diri sendiri, maka segalanya akan 
ditambahkan pada waktunya. Dengan demikian, kita bisa berbangga dan mengatakan 
"Subur negeriku subur perilaku orang-orangnya". Bravo Proklamasi Kemerdekaan 17 
Agustus 2009. ***

      Penulis adalah Pastor Keuskupan Sibolga Guru di Seminari St. Petrus Aek 
Tolang-Desa Pandan- Sibolga, Tapanuli Tengah. 
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke